Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Mau punya adik.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Setelah makan siang di Restoran mewah. Barulah Devan membawa anak dan wanita yang saat ini masih sah menjadi istrinya pergi ke taman bermain. Sudah hampir dua jam mereka menaiki berbagai permainan.


Lalu setelahnya Devan membawa mereka membeli es krim sesuai kesukaannya masing-masing. Devan dan Reyvano putranya, menyukai rasa coklat. Sedangkan Zivanna menyukai rasa setroberi.


Hari ini mereka benar-benar menikmati kebersamaan yang masih mereka miliki.


Meskipun hanya untuk sesaat. Devan ingin putranya merasakan kebahagiaan saat bersama kedua orang tuanya, karena setelah hari ini. Mungkin semuanya akan berubah. Tidak akan sama lagi.


"Andai aku bisa memutar waktu, maka dari dulu kami sudah hidup bahagia."


Ucap pria itu didalam hatinya sambil menatap Zizi dan Reyvano secara bergantian.


"Ayah, tenapa?" tanya Rey melihat ayahnya seperti sedang melamun.


"Tidak ada apa-apa. Ayah hanya lagi bahagia." jawab Devan pindah duduk di samping putranya.


"Apa masih mau bermain?" sekarang bergantian Devan yang bertanya pada putranya.


"Nda, dah tapek!" setelah bermain sepuasnya ternyata membuat si tampan lelah dan tidak ingin bermain lagi.


"Sudah capek! Cepat sekali? Ayolah, kita bermain atau pergi kemana lagi. Selagi ayah masih libur," kata Devan merasa belum puas bermain dengan anak dan istrinya.


"Nda, Ley nda mau ain agi dah tapek." tolak Rey tetap tidak mau. Sebetulnya dia bukan capek bermain, tapi bingung ingin bermain apalagi, karena semua permainan sudah mereka coba. Hanya saja untuk mengajak pergi ketempat lain, dia belum bisa untuk menerangkan pada ayah kesayangannya.


"Agh, Rey tidak seru! Kita masih memiliki banyak waktu untuk pulang kerumah." Devan bagaikan anak kecil yang merengek mengajak orang tuanya bermain.


"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan ke taman kota. Disana nanti Rey bisa memberi ikannya makan. Disana juga ada ayunannya, tapi itupun kalau tidak ada perubahan. Soalnya sudah lima tahun aku tidak kesana lagi " ucap Zizi setelah menghabiskan es krimnya.


Wanita itu makan es krim tidak sama seperti anak dan suaminya, yang dalam waktu beberapa menit, sudah berhasil menghabiskan satu mangkuk es krim.


"Apakah boleh, eh tidak! Maksud Kakak apakah kamu tidak apa-apa kita pergi kesana?" tanya Devan tersentak kaget.


Sebetulnya dia memang sangat ingin pergi membawa istrinya dan buah hatinya ke taman ibu kota. Namun, dia takut Zivanna tiba-tiba marah tidak karuan lagi, karena menggigat masa lalu mereka.


"Tentu saja tidak apa-apa. Anggap saja ini demi si tampan kita." seru Zizi tersenyum bahagia.


Semenjak mereka kembali dipertemukan. Baru hari inilah Devan melihat senyum Zivanna yang sama seperti dulu. Disaat mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Apabila Devan libur atau sengaja meliburkan dirinya untuk bertemu sang kekasih.


"Kenapa malah diam? Let's go!" tidak menunggu anak ataupun suaminya. Zizi langsung berjalan lebih dulu layaknya seorang gadis, karena dia tahu. Meskipun dia tidak membawa putranya. Ada Devan yang akan membawa si tampan mereka.


"Apakah dia baik-baik saja?"


Gumam Devan sebelum dia mengendong si buah hati yang juga menatap kepergian ibunya.


"Ayah--- Ibu na pelgi," tunjuk Rey kearah sang ibu.


Mendengar ucapan putranya. Devan tersenyum dan berkata. "Tidak apa-apa, ayo kita susul ibu." ucapannya berjalan menyusul Zivanna.


Bagitu mereka tiba didekat mobil. Ternyata Zivanna sudah duluan masuk kedalam mobil. Jadi Devan dan putranya langsung masuk, karena pintu mobil untuknya sudah dibukakan oleh Sekertaris Jimi.


"Jim, dari sini ketaman kota berapa menit?" tanya Devan sambil melirik jam pada pergelangan tangannya.


"Mungkin sekitar tiga puluh menit, Tuan muda." jawab Sekertaris Jimi yang juga melihat jam mewah miliknya.


"Eum baiklah! Kita berangkat kesana." kata Devan sambil memindahkan Reyvano pada pangkuan istrinya.

__ADS_1


"Sama ibu dulu, ya! Ayah mau melepas jas Ayah dulu." ucap Devan melepas jas yang dia pakai sejak tadi. Jadi saat ini dia hanya memakai kameja putih dan dasinya saja.


Baru setelah itu, dia memindahkan lagi Reyvano ke pangkuannya. "Apabila Rey mau sesuatu bilang ayah, ya?" ucapannya sambil mengelus kepala sang putra. Reyvano tidak menjawab, tapi hanya menganggukkan kepalanya.


"Jika kamu mengantuk, maka tidur saja. Nanti bila sudah sampai, Kakak akan membangunkan mu." melihat Zivanna menguap berulang kali. Devan pun menyuruh istrinya untuk tidur.


"Eum, baiklah! Aku tiba-tiba saja mengantuk." kata Zivanna mulai memejamkan matanya. Tidak sampai lima menit. Zizi benar-benar sudah tidur dengan nyenyak.


Lalu dengan pelan pria itu menarik tubuh Zizi agar menyandar pada pundaknya. Meskipun luka bekas tusukan dibahunya masih terasa sakit. Devan menahanya, karena hari ini dia ingin menjadi sandaran untuk Zizi dan juga Reyvano.


"Kakak sangat berharap ada sebuah keajaiban yang terjadi pada hubungan kita. Mudah-mudahan sebelum pengajuan kita diterima, kamu bisa merubah pendirian untuk berpisah."


Gumamnya sambil ikut memejamkan mata. Untuk merasakan kebahagiaan dan sakit secara bersamaan.


*


*


Sesuai perkiraan Sekertaris Jimi. Kurang lebih tiga puluh menit. Mobil mereka sudah sampai di taman ibu kota, yang sudah di sterilkan keamanannya oleh pengawal Atmaja group.


Begitu Sekertaris Jimi mengirim pesan kalau tuan muda dan keluarga kecilnya akan kesana. Beberapa mobil sudah berangkat mendahului mobil mereka. Tujuannya adalah untuk mengamankan tempat tersebut.


"Zi, ayo bangun kita sudah sampai," pangil Devan membagungkan sang istri. Sedari tadi dia dan Reyvano tidak tidur. Mereka berdua hanya saling bercanda.


"Huem... kita sudah sampai?" seru Zizi sambil menguap. Sebetulnya dia masih mengantuk. Namun, karena ingin membahagiakan putranya dia pun mau pergi ke taman yang memiliki kenangan dia dan Devan.


Semasa mereka pacaran. Kalau tidak menonton bioskop, jalan-jalan di Mall dan ke pantai yang tidak terlalu jauh dari rumah nenek Devan. Maka mereka berdua selalu ke taman yang mereka datangi sekarang.


"Iya, kita sudah sampai. Ayo turun! Nanti setelah melihat danau, rasa kantuknya juga akan hilang." kata Devan sambil keluar dari mobil bersama si tampan yang selalu berada dalam gendongannya.


Lalu Zivanna pun menyusul turun karena pintu mobil untuknya sudah dibuka oleh Sekertaris Jimi.


Deg ...


Begitu melangkah masuk kedalam taman tersebut. Jantung Zizi langsung berdegup kencang. Namun, sebisanya dia tahan demi membuat Reyvano senang bisa merasakan apa yang selama ini belum pernah dia rasakan.


"Kenapa? Jika tidak sanggup, maka jangan memaksakan diri. Kita bisa pulang ataupun mencari tempat lainnya." Devan berhenti karena melihat Zizi hanya diam saja.


Belum apa-apa, Zivanna sudah termanggu. Apalagi bila mereka sampai pada pinggiran danau tempat Rey bisa memberikan ikannya makan.


"Aku, aku tidak apa-apa! Ayo kita langsung ke danau saja." Zizi tersenyum kecil untuk menunjukkan kalau dia baik-baik saja.


"Baiklah! Tapi--- Bila kamu tidak kuat, katakan saja. Maka kita akan pergi dari sini." papar Devan merasa khawatir. Demi putra mereka, bukan berarti Devan harus mengorbankan perasaan Zivanna.


"Ley au tulun duga." pinta si kecil yang ingin berjalan sendiri. Lalu mau tidak mau, Devan menurunkan si buah hati. Tapi dia tidak melepaskan tangan kecil putranya. Takutnya Reyvano malah berlarian seperti anak kecil lainnya.


Melihat hal tersebut. Zivanna yang tadi berada di belakang tubuh suaminya. Berjalan maju untuk mensejajarkan tubuhnya dan tubuh Devan. Lalu dia pun memegang tangan kiri putranya.


Mereka bertiga berjalan serempak. Semua orang yang juga menghabiskan waktu bersama keluarganya. Menatap kagum pada ketiga anak manusia yang berbeda usianya.


Padahal dibalik kebahagiaan dan kebersamaan mereka bertiga. Hati mereka sedang hancur berkeping-keping. Hanya Reyvano yang tidak hancur hatinya, karena anak tersebut belum mengerti permasalahan kedua orang tuanya.


Bila dia sudah paham. Mungkin Reyvano lah yang paling terluka. Sedari lahir hidup jauh dari sang ayah. Namun, baru saja mereka bertemu. Perpisahan itu harus terjadi lagi.


"Wah, tempatnya sudah banyak berubah, ya?" seru Zivanna begitu mereka mulai mendekati danau buatan.



"Iya, biasanya setiap kembali ke rumah ayah. Kakak selalu datang kesini." Devan tersenyum kecil, mengingat kegilaan yang dia lakukan selama empat tahun belakangan ini.


Presdir Atmaja group itu seperti orang gila yang menghabiskan waktunya duduk di ayunan taman dan mengelilingi danau berulang kali. Itu semua hanya untuk melepas rasa rindunya pada Zivanna.

__ADS_1


"Jadi kamu sering datang kemari?" tanya Zizi menoleh kearah suaminya. Namun, kakinya tetap melangkah pelan mengikuti langkah kaki anak mereka.


"Ibu, ada bebek na." sela si kecil menunjuk arah kereta bebek yang berada di dalam danau tersebut.


"Sini Ayah gendong saja, biar Rey bisa melihat dengan jelas." kata Devan berjongkok mengendong si tampan lagi. Setelah itu barulah dia menjawab pertanyaan sang istri.


"Benar, Kakak selalu datang ketempat ini."


Mendengar jawaban Devan. Wanita itu langsung menyergit keningnya, lalu kembali bertanya. "Dengan siapa?" tanyanya dengan perasaan tidak menentu.


"Mau bilang sendirian saja, tapi Kakak datang bersama Sekertaris jomblo itu. Lalu para pengawal Atmaja. Namun, mereka seperti saat ini. Tidak terlalu dekat dengan Kakak." jawab pria itu sambil matanya mengarah kearah para orang-orangnya yang berjaga dari jarak tidak terlalu jauh dari mereka bertiga.


Untung saja Sekertaris Jimi tidak mendengar gelar barunya. Kalau tidak, bisa-bisa dia benar-benar malas mencari pasangan, karena menyukai gelar Jomblonya.


"Oh, aku kira bersama---"


"Ayah tulun lagi," ucap Rey minta diturunkan begitu mereka sampai pada tempat yang mereka tuju. Yaitu kolam yang terhubung pada danau. Disana banyak anak-anak seumuran Rey yang juga memberikan ikan-ikan itu makan, karena tujuan tempat tersebut, adalah agar para orang tua bisa menghabiskan waktu bersama putra-putrinya.


Namun, karena tempatnya begitu asri. Tidak sedikit, muda-mudi yang menjadikan tempat berpacaran. Sama seperti yang pernah Devan dan Zizi lakukan dulu.


"Mau menunggu disini, apa mau ikut Kakak menemani Rey memberi ikannya makan?"


"Aku juga ikut," jawab Zizi berjalan mengikuti suaminya ketepian danau tersebut. Lalu setibanya disana mereka memberikan ribuan ikan itu makan. Teriak bahagia Reyvano membuat kedua orang tuanya juga ikut tertawa bahagia.


Hal sederhana. Tapi begitu membahagiakan bisa melihat putra mereka tertawa bahagia. Sehingga si tampan semakin terlihat begitu menggemaskan.


"Ayah, Ibu . Itan na banak cekali." seru Reyvano berteriak senang. Seumur-umur, Rey memang baru melihat ikan yang berjumlah ribuan bahkan jutaan. Jadi wajar bila dia seperti itu.


Biasanya untuk bisa ke taman bermain saja. Dia harus diajak dulu oleh para tetangga mereka, karena ibunya sibuk mencari uang. Zivanna bisa saja libur berjualan. Namun, takut bila pelanggan mereka pergi ke toko lain.


"Iya, ikannya sangat banyak!" yang dijawab oleh Devan. Sejengkal saja pria itu tidak membiarkan putranya menjauh, bila bukan bersamanya.


"Itan na puna adik tama tatak kan?" si kecil kembali menunjuk-nunjuk ikat yang beramai-ramai muncul dihadapan pengunjung. Reyvano mengira kalau ikan-ikan itu bersaudara.


"Iya, ikanya punya kakak dan adik. Itu lihatlah, adik-adiknya masih banyak." Devan bergantian menunjuk kearah ikan-ikan kecil yang baru berdatangan.


"Hole adik itannya banak. Ley au puna adik banak duga, tayak Itan, Yah." pinta bocah tersebut yang langsung membuat ibunya tersedak air liurnya sendiri.


Uuhukk...


"Ibu tenapa? Talau maman na nda boeh tepat-tepat. Dadinya batuk." celetuk Rey yang tidak tahu kesalahannya. Padahal sudah jelas ibunya tidak sedang makan.


"Zi ... Kamu kenapa?" Devan yang belum mengetahui kesalahannya ikut bertanya.


"Tidak kenapa-kenapa! A--aku, aku akan menunggu dipingir saja. Kalian bermainlah sepuasnya." tersenyum kaku. Lalu Zivanna langsung meninggalkan suami dan anaknya.


"Ibu nda mau puna adik banak tayak Itan, Yah." Rey kembali lagi asal bicara. Namun, kali ini apa yang dia ucapkan adalah benar.


"Mungkin iya, ibumu tidak mau punya adik banyak seperti ikan." Devan tersenyum, karena sedari tadi dia tidak tahu kalau Zivanna tersedak gara-gara adik kecil yang diinginkan putranya.


"Ayo kita kasih ikanya makan lagi." ajak pria itu kembali menaburkan makanan ikan yang sudah disediakan oleh pengelola taman tersebut.


Tadi mereka berhenti karena ada jatah waktunya. Tidak sembarangan asal tabur, karena bila tidak dikasih waktu, bisa-bisa ikanya mati kekenyangan.


Sedangkan Zivanna duduk diatas ayunan sambil melihat kedua laki-laki yang seharusnya masih sama-sama berarti dalam hidupnya. Namun, karena kesalahan yang tidak bisa dia maafkan. Jadilah hanya Reyvano yang begitu berarti bagi hidupnya.


"Kenapa sudah selesai?" tanya wanita itu melihat Devan dan Reyvano sudah berjalan kepinggir mendekati dirinya.


"Rey ingin bermain ayunan juga." jawab Devan ikut menduduki ayunan yang kosong disebelah istrinya. Saat ini dia memangku buah hatinya. Tapi lima tahun lalu, Zivanna lah yang duduk diatas pangkuannya.


Di tempat itu jugalah. Dia dan Zizi melihat sepasang suami-istri yang bermain bersama anaknya. Lalu keduanya langsung memilihkan nama untuk anak mereka kelak, dan nama tersebut disematkan untuk nama putra mereka.

__ADS_1


__ADS_2