
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Braaak...
"Kakak! Kak ... Kak Devan," Zivanna memangil nama Devan berulangkali dengan keringat mengucur dari pelipisnya.
Saat ini gadis itu sedang terbaring lemah di rumah sakit setelah melakukan tindakan operasi tadi malam. Ya ... Zizi telah menjalani operasi pengangkatan sel kanker yang baru saja mulai tumbuh dalam tubuhnya.
"Kakak ...!" jerit Zizi yang sudah terbangun dari mimpi buruknya.
"Zi ... Kamu kenapa? Apa kamu bermimpi buruk lagi?" tanya wanita setengah baya mendekati ranjang tempat Zivanna baring masih dengan selang infus pada tangannya. Tadi dia memang pergi keluar untuk membeli kebutuhan mereka berdua.
"Ibu, ak--ak--aku bermimpi lagi," ucap Zizi terbata di iringi air matanya. Ini bukanlah kali pertama wanita itu bermimpi buruk tentang suami yang sudah menyiksanya.
"Tidak apa-apa itu hanyalah mimpi. Kamu jangan seperti ini. Kasihan anak mu pasti ikut merasakan apa yang ibunya rasa." wanita baya tersebut terus mengelus kepala Zizi yang masih baring belum bisa duduk untuk di peluknya.
"Iya Bu, terima kasih sudah mau menolong ku." ucap Zizi benar-benar merasa bersyukur bisa bertemu dengan wanita tersebut saat dirinya pergi meninggalkan rumah sakit.
Flashback on....
Saat ini Zivanna sedang duduk di halte bus yang tidak jauh dari depan rumah sakit. Tidak tau arah dan memiliki uang, membuatnya duduk di sana beberapa menit sebelum bertemu dengan wanita baya yang membawanya pergi meninggalkan kota Y dan memulai hidup baru di tempat yang baru pula.
Bila tetap bertahan di rumah sakit dia takut Devan akan datang lalu memaksa untuk mengugurkan bayi dalam kandungannya yang masi berumur dua Minggu. Meskipun Dokter Kaivan sudah mengatakan akan membawa Zizi pulang kerumahnya. Tetap saja Zivanna merasa takut, karena walau bagaimanapun Devan lebih berhak membawanya pulang dan melakukan apa saja padanya.
"Aku akan pergi kemana? aku juga tidak memiliki uang." tertunduk sedih sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Sayang jangan bersedih ya? Maafkan ibu harus membawa mu pergi dari ayah mu. Kita tidak bisa hidup bersamanya lagi, ayah mu juga sudah memiliki calon istri yang baru." bercerita pada janin yang dia kandung karena bingung tidak memiliki tempat untuk mengadu.
"Mungkin untuk beberapa waktu kamu akan ikut menderita karena ibu tidak memiliki uang sepeser pun. Tapi jangan takut meskipun kita hidup susah ibu akan tetap memperjuangkan mu sampai lahir ke dunia ini agar bisa bertemu ibu." Gadis muda itu memang sudah bertekad akan tetap mempertahankan anak yang di kandung walaupun nyawa taruhannya.
"Baiklah kita harus pergi sekarang, nanti takutnya kakak dokter mencari keberadaan kita." kata Zizi berdiri dan pergi meninggalkan halte tersebut. Namun, belum sampai empat meter dia hampir tertabrak oleh mobil yang terlihat sudah lumayan tua.
Saat Zizi masih menutup mukanya karena merasa takut. Dia merasa ada yang menyentuh pundaknya. Lalu Zizi pun membukakan mata dengan pelan karena dia kira mungkin kah sudah tertabrak oleh mobil tersebut.
"Nak ... apa kamu tidak apa-apa?" suara wanita yang menyentuh bahunya.
Mendengar nya Zizi pun langsung saja melihat kearah sumber suara. Terlihat ada seorang wanita setengah baya yang lebih tua dibandingkan dengan ibunya.
"Apa kamu tidak apa-apa?" ulang nya untuk kedua kali.
"Tidak, tidak apa-apa! Saya baik-baik saja Nyonya." jawab gadis itu cepat sambil menggelengkan kepala.
"Maaf, tadi sopir Saya tidak melihat kamu yang ingin menyeberang." katanya merasa bersalah karena hampir saja mobil mereka menabrak orang.
"Tidak perlu minta maaf Nyonya. Saya juga bersalah tidak melihat kiri-kanan dulu sebelum menyebrang." sahut Zizi yang juga tahu tidak berhati-hati.
__ADS_1
"Baiklah terima kasih kalau begitu. Sekali lagi tolong maafkan kami." lalu wanita tersebut melihat penampilan Zizi yang boleh di katakan sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, gadis itu memakai baju pasien, tidak mengenakan alas kaki dan terlihat matanya sembab bekas menangis.
Siapapun yang melihatnya pasti tahu kalau gadis tersebut sedang tidak baik-baik saja. Sehingga membuat wanita baya itu pun bertanya. "Maaf kamu mau pergi kemana? Sepertinya kamu pasien di rumah sakit ini? Kenapa malah berjalan keluar seperti ini?"
"Saya ... sudah sembuh Nyonya. Sekarang Saya mau pergi---"
Zivanna tidak bisa menyebutkan kemana dia akan pergi, karena tidak pernah berbohong membuatnya bingung akan menjawab bagaimana. Sedangkan wanita itu tersenyum yang hampir tidak bisa di lihat oleh orang lain dan kembali lagi berkata.
"Bila kamu tidak memiliki tujuan, maka ikutlah bersama Saya, karena Saya sendiri juga tidak memiliki keluarga." tawar nya tanpa basa-basi.
"Apa! Bagaimana Nyonya bisa tahu kalau Saya tidak memiliki arah dan tujuan?" Zizi yang polos langsung bertanya tanpa merasa takut kalau orang yang ada di hadapannya memiliki niat jahat.
Wanita tersebut kembali tersenyum. Sebelum menjawab pertanyaan gadis polos di hadapannya. "Saya bisa tahu karena Saya pernah berada di posisi kamu. Bagaimana apa kamu mau ikut bersama Saya? Jangan takut Saya bukanlah orang jahat."
"Saya---"
"Tidak usah di paksakan bila kamu ragu. Tapi maaf sebelumnya, Saya tidak bermaksud merendahkan kamu. Tapi Saya hanya ingin menolong saja. Ini ada sedikit uang tolong kamu terima agar kamu memiliki bekal untuk sampai pada tempat yang di tuju." masih tetap tersenyum karena dia tahu seperti apa rasanya saat tidak memiliki siapa-siapa.
"Tidak Nyonya, Saya tidak mau menerima uang ini. Tapi ... Saya ingin ikut bersama nyonya saja." cicit Zizi merasa malu juga meskipun wanita itu sendiri yang mengajaknya.
"Em keputusan yang bagus. Namun, ada saratnya bila kamu ingin ikut bersama Saya." ucap wanita tersebut dengan hati yang sangat gembira andai gadis itu mau memenuhi saratnya.
"Sa--sarat?" tanya Zivanna dengan terbata. Dia tiba-tiba saja merasa ada sinyal bahaya setelah wanita itu meminta sarat darinya.
"Iya sarat! Bila kamu ingin ikut bersama Saya. Saya ingin kamu memangil ibu bukan Nyonya seperti saat ini." langsung menampilkan senyumnya karena raut wajah Zizi saat takut sama seperti putrinya yang sudah tiada dari dua tahun lalu.
"Ha--hanya itu?" Zizi semakin dibuat tidak percaya lagi mendengar nya.
"Saya, Saya sangat mau," Zizi langsung saja memeluk wanita baya tersebut diiringi dengan air matanya lagi. Dia tidak perduli wanita itu mengangap nya seperti apa. Namun, untuk saat ini bagi Zizi wanita tersebut adalah Dewi penolongnya.
Disaat dia sedang binggung akan kemana, karena tidak memiliki bekal sama sekali. Malah ada orang yang datang menawarkan dirinya. Bahkan orang itu memintanya memangil dengan sebutan ibu. Sudah bisa dipastikan kalau wanita tersebut adalah orang baik.
"Mulai sekarang kamu adalah putri ku. Jangan sungkan karena kita sudah menjadi keluarga. Sekarang ayo kita masuk kedalam mobil lebih dulu. Kita masih memiliki banyak waktu untuk bercerita." ajak nya seraya menarik lembut kedalam mobil. Dapat di lihat tangan Zizi masih terlihat pucat dan masih ada bekas jarum infus yang baru dia lepas beberapa menit yang lalu.
Tiba di dalam mobil, wanita tersebut langsung meminta sopirnya menjalankan mobil meninggalkan tempat itu dan berhenti di butik kecil yang tidak terlalu mahal harga gaunya. Lalu dia pun mengajak Zivanna masuk dan memilihkan beberapa gaun untuk gadis tersebut.
"Ibu, aku rasa ini terlalu bagus." kata Zizi yang mau menolak sebuah dress yang cocok untuk gadis seusianya.
Entah seperti apa jalan pikiran wanita itu yang namanya saja mereka belum saling kenal. Namun, seolah-olah keduanya sudah memiliki sebuah ikatan.
"Tidak apa-apa, malam ini kita akan langsung meninggalkan kota ini. Anggap saja ini gaun perpisahan antara kamu dan kota yang sudah membuat mu memilih jalan untuk pergi." jawabnya tersenyum simpul.
Tidak mau lagi membantah, Zizi hanya diam saja terserah wanita yang di sebutnya ibu ingin membeli gaun mana saja. Asalkan dia bisa pergi jauh dari kehidupannya yang bagaikan neraka.
Setelah membayar dan Zizi sudah menganti pakainya. Mereka berdua kembali lagi ke mobil menuju tempat yang akan di kunjungi wanita baya tersebut.
Selama mereka dalam perjalanan. Zivanna mulai bercerita sendiri apa yang sudah terjadi padanya tanpa wanita itu bertanya lebih dulu. Sehingga membuat wanita itu semakin nekat membawa Zizi pergi bersamanya.
Begitu urusan nya selesai. Wanita tersebut langsung saja membawa Zizi pergi bersamanya ke kota yang jaraknya lumayan jauh dari kota Y. Hanya saja mereka tidak perlu menaiki pesawat ataupun kendaraan lainnya.
__ADS_1
Maka dari itu tiem yang di kerahkan oleh sekertaris Jimi tidak bisa melacak keberadaan Zivanna meskipun mereka sudah mencari ke berbagai tempat.
Setibanya di kota tempat tinggal mereka yang baru, Zizi pun menceritakan bahwa dia memiliki penyakit sel kanker dan juga mengatakan kalau saat ini dirinya tengah berbadan dua.
Tidak menunggu waktu berhari-hari wanita yang baru Zizi ketahui namanya Eris. Langsung menemui dokter yang pernah mengobati almarhum anaknya lalu meminta untuk mengobati Zizi, dan di sinilah mereka sekarang di rumah sakit suasta yang tidak terlalu besar. Namum, memiliki cara pengobatan yang proporsional seperti dokter-dokter di rumah sakit ternama lainnya.
Flashback off...
"Jangan selalu berterima kasih. Bukanya kamu adalah putri ibu." balas Eris tersenyum melihat Zivanna yang sudah tidak menangis lagi.
Eris adalah seorang janda yang tidak memiliki suami maupun anak. Suaminya sudah meninggal dunia dari tiga tahun lalu. Dua tahun setelah kepergian sang suami, anaknya yang seumuran dengan Zizi juga pergi meninggalkan.
Dia hanya seorang pemilik toko kue biasa. Namun, kue buatannya sangat enak jadi tidak heran dia masih bisa bertahan di kota besar yang semuanya serba mahal bagi orang-orang kecil bila tidak memiliki pekerjaan tetap.
"Aku berjanji Bu, mulai saat ini tidak akan mengingat laki-laki jahat itu lagi. Aku hanya ingin pokus membesarkan anakku dan tidak memulai semuanya dari awal." kata Zizi yang memang sudah bertekad akan melupakan Devan suaminya.
"Itu bagus! Tapi lupakan perlahan jangan terlalu kamu paksakan, karena bila terlalu keras berusaha. Dia bagaikan sebuah pukulan yang sewaktu-waktu bisa mengenai kita sendiri." wanita bernama Eris pun berjalan kearah sofa dan menyimpan barang-barang yang di belinya tadi di atas meja kaca.
"Kata dokter yang memeriksa mu tadi, setelah luka bekas operasi nya kering. Kamu sudah boleh pulang dan hanya perlu berobat jalan saja."
"Benarkah! Wah rasanya aku sudah tidak sabar ingin segera sembuh agar bisa membantu usaha roti milik ibu." kata Zizi dengan semangat yang baru.
"Iya benar sekali, bagi ibu yang penting kamu sembuh dulu. Kalau pekerjaan akan selalu ada, jadi jangan takut tidak kebagian." Eris tertawa karena Zivanna benar-benar sangat mirip seperti putrinya. Hanya saja wajah mereka tidak mirip karena Zizi jauh lebih cantik dan memiliki kulit putih.
Sebuah takdir mempertemukan mereka berdua di tempat yang tidak di sangka-sangka. Zizi yang membutuhkan bantuan dan tempat untuk mengadu langsung mau di ajak pindah dari kota Y.
...****************...
Sementara itu di ibu kota X. Devan sedang menyusuri tempat yang sering dia datangi bersama Zizi. Sudah melihat empat tempat, Namun, sosok Zivanna tidak juga dia temukan. Meskipun hal itu tidak mungkin, tapi Devan tetap mencoba mencari. Agar dia tidak menduga-duga sebelum kembali ke kota Y. Kota tempat dia membangun perusahaan nya sendiri.
Rencananya dia akan tinggal di rumah sang ayah untuk beberapa hari kedepan, karena ingin mencari istrinya yang kemungkinan berada di kota X. Mengingat Zizi hanya pernah tinggal di sini. Jadi peluang dia kembali sangatlah besar.
"Kemana lagi kakak harus mencari mu Zivanna. Tolong kembalilah! Jangan hukum aku seperti ini." seru Devan menarik rambutnya kebelakang.
Semenjak Zivanna pergi, penampilan Devan benar-benar sangat kacau. Tidak ada lagi tampilan memukau yang selalu menjerat para wanita. Saat ini Pria tersebut hanya membutuhkan istrinya kembali dan dia akan meminta maaf atas semua yang sudah dia lakukan.
Seharian ini Devan tidak ada mengisi perutnya dengan makan ataupun minuman. Dia tiba-tiba tidak haus atau pun lapar. Sekarang jam pun sudah menunjukkan pukul tiga sore, tapi Pria tersebut masih terus mencari di berbagai tempat.
Bahkan Devan juga sudah menemui satu persatu sahabat Zizi di masa sekolah. Namun, mereka semua mengatakan sudah tidak ada kabar dari Zivanna selama beberapa hari terakhir.
Hal itulah yang membuat Devan sangat sulit menemukan keberadaan sang istri, karena Zizi tidak membawa HP dan juga tidak membawa kartu identitas.
"Zizi ... tolong pulang lah. Kemana lagi aku harus mencari mu." kembali mengoceh. Sedari tadi HP Devan terus berdering, tapi tidak di angkat nya. Apalagi setelah melihat siapa nama yang tertera. Fiona nama itulah yang terus-menerus menghubungi nya tidak pernah berhenti.
"Mau apalagi dia?" dengan malas Devan mengangkat sambungan tersebut.
📱 Fiona : "Dev ... kenapa tidak mengangkat telepon dari ku?" seru Fiona dari sebrang sana.
📱 Devan : "Ada apa? Aku sedang sibuk." jawab Devan dengan malas.
__ADS_1
📱 Fiona : "Sibuk bagaimana? Apa kamu sibuk mencari wanita sialan itu?"
📱 Devan : "Fi--- Jaga ucapan mu! Dia adalah istri ku." bentak Devan menahan emosi.