Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Tamu di rumah suami.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Dalam perjalanan pulang menuju rumah yang di tempati oleh Zivanna saat ini.


"Jim, urus semua pengawal yang terluka. Berikan mereka tunjangan sampai mereka sembuh. Kalau untuk Andes berikan saham sebanyak enam puluh persen. Agar ada jaminan untuk istri dan anak-anaknya." ucap Devan yang masih belum percaya kalau pengawal setianya harus meregang nyawa malam ini.


"Baik Tuan muda. Besok pagi Saya akan membuat surat kuasa penyerahan saham di salah satu anak perusahaan Atmaja. Untuk yang lainya Saya sudah menyuruh Zico memberikan mereka tunjangan." jawab Sekertaris Jimi yang selalu menjalankan tugas dengan baik. Sebelum Devan memberikan perintah terkadang dia sudah melaksanakannya.


"Bagus, besok aku juga akan berangkat ke pemakamannya. Jadi atur saja bagaimana yang menurutmu baik." terkadang Devan hanya bisa menyerahkan semuanya pada Sekertaris Jimi. Meskipun bos, bukan berarti dia selalu benar.


"Untuk itu kita lihat besok pagi saja, Tuan muda. Bila memungkinkan Saya akan segera menghubungi Anda untuk menghadiri pemakamannya." ujar Jimi belum bisa memutuskan saat ini karena dia bingung juga masalah mana yang akan ditangani lebih dulu.


Bila Devan akan berangkat ke pemakan Andes. Itu berarti dia harus menyiapkan keamanan lagi. Sedangkan malam ini mereka baru saja mengalami penyerangan.


"Eum, terserah saja. Aku merasa bersalah pada anak dan istrinya, karena ingin menolongku Andes harus kehilangan nyawanya. Bila tidak hadir mengantarkan dia ke peristirahatan terakhirnya, aku merasa seperti orang yang tidak tahu terima kasih." sesal Devan yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong nyawa para anak buahnya.


"Untuk urusan itu Anda tidak perlu merasa bersalah, karena pekerjaan mereka memang memiliki resiko dengan nyawanya sendiri. Makanya gaji mereka sepuluh kali lipat dari pengawal biasa." Jimi mengerti kalau tuan mudanya pasti merasa bersalah. Apalagi saat ini Devan juga memiliki istri dan anak. Pasti merasakan seperti apa rasanya menyayangi keluarga.


Namum, harus bagaimana lagi, waktu tidak bisa diulang kembali. Semuanya sudah terjadi. Sebelum di rekrut menjadi pengawal. Mereka semua sudah dijelaskan resiko perkejaan tersebut.


Saat Devan dan Sekertaris Jimi masih mengobrol. Mobil yang di sopiri oleh pengawal Atmaja group, sudah berhenti di depan rumah mewah yang baru di tempati malam ini oleh pemilik aslinya. Lalu Sekertaris Jimi turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil buat Devan seperti biasa.


"Silahkan Tuan Muda." ucap Sekertaris Jimi saat pintunya sudah dibuka.


"Iya, terima kasih." jawab Devan turun dari mobilnya. Lalu mereka berdua masuk kedalam rumah bersama-sama. Baru saja Devan tiba di ruang keluarga Zivanna sudah datang menyambut kedatangannya.


"Devan!" lirih Zizi langsung memeluknya dengan sangat erat. Sehingga membuat Devan meringis menahan sakit pada bahunya.


"Aauh!" rintih pria itu mencoba menahannya. Agar sang istri tetap memeluknya seperti saat ini. Pelukan yang dia rindukan semenjak empat tahun terakhir.


"Devan, ka--kamu kenapa?" Zizi melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuh mereka karena ingin melihat apa yang membuat Devan seperti menahan sakit.


"Kakak tidak apa-apa, hanya terluka sedikit." jawab Devan sembari tersenyum kecil. Untuk menyakinkan bahwa dia tidak apa-apa.


"Luka? Dimana?" karena rasa khawatirnya Zizi melupakan kalau dia dan Devan sedang memiliki masalah.


"Ada di bahu. Kenapa kamu belum tidur, ini sudah jam setengah dua malam." Devan melirik jam pada pergelangan tangannya. Namun, saat dia mengangkat sedikit tangannya. Zivanna melihat kalau kameja Devan basah oleh darah.


"Darah! Apa lukanya tidak diobati? Ayo biar aku periksa lukanya." Zizi langsung menarik Devan duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri dan melupakan pertanyaan sang suami yang menanyakan kenapa dia belum tidur.


Sedangkan Jimi yang berada dibelakang mereka hanya diam. Tapi dia tetap belum meningalkan tempat itu. Dari kemarin malam Jimi tidur hanya hitungan jam. Memiliki kedudukan tinggi sepertinya ternyata membuat dia harus bekerja dengan extra agar semuanya tetap berjalan dengan baik.


"Astaga, lukanya sangat parah." seru Zizi merasa kaget begitu Devan membuka bajunya.


"Apa Nona membutuhkan sesuatu biar Saya ambilkan?" tawar Sekertaris Jimi. Padahal tanpa bertanya saja, dia sudah tahu kalau nona mudanya membutuhkan kotak obat P3K atau sebagainya.


"Iya tolong ambilkan perban yang baru. Perban ini tidak bisa dipakai lagi karena sudah terkena darah. Sama air hangat dan handuk juga. Biar aku mengelap dipinggiran luka ini." titah Zizi yang berniat akan membersihkan punggung Devan yang terkena tetesan darah.

__ADS_1


"Baik Nona." Sekertaris Jimi yang siap mengambil kotak obat langsung berhenti saat mendengar Devan menyerukan namanya.


"Jimi, bawa kotak obatnya keatas saja." setelah menyuruh Jimi membawa barang tersebut. Devan menoleh kearah istrinya.


"Ayo kita kekamar. Nanti Rey bangun. Pasti dia akan menagis bila melihat kita tidak ada disampingnya." langsung berdiri lebih dulu dan mengulurkan tangannya untuk membantu Zizi berdiri. Akan tetapi wanita itu tidak mau menerimanya. Dia memilih untuk berdiri sendiri.


"Ayo!" Zivanna yang melupakan jika Rey sedang tidur mengiyakan saja.


"Hem! Ayo." ajak Devan hanya bisa bersabar. Apa yang Zizi lakukan saat ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan perbuatannya di masa lalu. Satu hal yang Devan ketahui malam ini. Yaitu Zizi sebetulnya masih perduli padanya. Terbukti begitu dia datang, wanita itu langsung memeluknya dan sekarang ingin mengobati lukanya.


Begitu tiba di dekat tangga. Zivanna menoleh kearah belakang. Untuk memastikan keadaan Devan yang berjalan dibelakangnya. Niat hati ingin membiarkan saja. Akan tetapi Zizi, tetaplah Zizi. Gadis cantik yang sangat memperdulikan orang-orang disekitarnya.


"Kenapa berhenti? Naiklah duluan. Biar Kakak berjalan sendiri." ucap pria itu melihat sang istri berhenti di bawah kaki tangga.


"Ayo aku bantu!" Zizi langsung mengandeng tangan Devan karena takut pria itu terjatuh saat menaiki tangga. Devan yang mendapatkan kesempatan bisa digandeng sang istri, malah dengan sengaja berpura-pura kesakitan. Padahal dia tidak merasakan apapun.


"Apa masih kuat?" Zivanna bertanya khawatir karena Devan memeluk pinggangnya. Bukan lengannya lagi.


"Jalan saja Kakak masih kuat." jawab Devan seakan-akan dia benar-benar sedang sekarat. Zizi yang tidak tahu kalau suaminya mengambil kesempatan dalam kesempitan, membiarkan pinggangnya di rangkul sampai tiba di penghujung tangga.


Untuk sampai ke lantai atas saja mereka berdua membutuhkan waktu sampai sepuluh menit. Bagaimana tidak, Devan sengaja memperlambat langkahnya.


Cek ... lek ...


Begitu pintu kamar tersebut di buka. Zizi dan Devan melihat putra mereka masih tertidur dengan nyenyak. Mungkin karena anak kecil memiliki insting lebih kuat. Makanya Reyvano betah saja berada di tempat baru karena rumah tersebut memang milik orang tuanya.


"Maaf, aku tidak tahu ini kamar siapa. Tadi Bibi Marta yang membawa kami kesini." kata Zizi yang hanya mengagap dirinya tamu dirumah suaminya sendiri.


Dia tidak ingin kejadian lima tahun lalu harus terulang kembali. Dimana Zivanna mengira akan memiliki tempat terbaik di rumah suaminya. Akan tetapi kenyataan dan impiannya berbeda jauh.


Cup, cup, cup. Muuuaaah!


"Ayah kira tidak bisa lagi melihatmu sayang." seru Devan mencium anaknya berulangkali.


"Maaf, Nona. Ini barang yang Nona perlukan." ucap Seketaris Jimi hanya berdiri di depan pintu. Dia tidak berani untuk melangkah masuk.


Zivanna yang menyadari hal itu, berjalan lagi kearah pintu dan menerima bascom beserta kotak obat yang dia perlukan.


"Terima kasih Seketaris Jimi." Zizi berkata dengan tulus karena sudah memerintahkan orang yang jauh lebih tua darinya.


"Tidak perlu sungkan, Nona. Ini memang tugas Saya." jawab Sekertaris Jimi sedikit menundukkan kepalanya.


"Jimi, pergilah istirahat. Besok pagi-pagi baru kamu mengurus masalah tadi. Telpon saja beberapa orang untuk mengurus malam ini." kata Devan yang tahu kalau Sekertaris Jimi sudah lelah sama seperti dirinya.


"Iya, Tuan Muda. Saya sudah melakukannya sejak kita berada di rumah Dokter Kaivan. Kalau begitu Saya permisi dulu. Selamat beristirahat, bila membutuhkan sesuatu hubungi saja, Saya." pamit Jimi pergi dari sana karena dia memang sangat ingat istrirahat.


Melihat Sekertaris Jimi sudah pergi. Zivanna pun menutup pintu kamar tersebut. Lalu dia berjalan mendekati sofa yang sedang Devan duduki saat ini.


"Coba berbalik kesana. Biar aku bersihkan lukanya." titah Zizi ingin membersihkan tubuh Devan lebih dulu.


"Eum," pria itu hanya mengangguk dan berdehem kecil.

__ADS_1


"Mungkin sedikit sakit, tapi kamu harus kuat menahanya. Agar darahnya tidak mengering, jadi harus dibersihkan sekarang.." Zivanna mulai menempelkan handuk yang sudah dicelupkan kedalam air hangat. Lalu dia mulai mengelap dengan pelan. Dari satu sisi ke sisi yang lainnya.


"Aauuh!" Devan kembali meringis kesakitan saat Zizi membersihkan disisi lukanya yang baru saja dijahit satu jam lalu. Seharusnya bila Zivanna tidak memeluknya tadi. Maka luka tersebut akan baik-baik saja.


"Maaf, tahanlah! Ini tinggal sedikit lagi." kata wanita itu ikut meringis kesakitan. Padahal dia hanya membersihkan lukanya saja.


"Aaghk! Aduh, kenapa rasanya sakit sekali." Devan malah semakin mengaduh kesakitan.


"Aku juga tidak tahu. Tunggu sebentar, aku cari alat untuk mengipasnya. Mungkin karena obat biusnya habis. Jadi sekarang baru terasa sakit." Zivanna langsung berdiri mencari barang yang bisa dia jadikan kipas. Setelah mencari-cari dia mendapatkan buku diatas meja. Lalu dia gunakan untuk mengipas luka suaminya.


"Diam seperti ini, biar aku kipasi!" Zizi kembali duduk dan mengipasi luka di bahu sang suami.


Sedangkan Devan diam-diam lagi tersenyum sambil menikmati agin dari kipasan sang istri.


"Kakak tahu didalam hatimu pasti masih memiliki perasaan kepada Kakak, Zi. Hanya saja, semua itu sudah ditutupi oleh rasa sakit yang pernah kakak berikan pada ketulusan cintamu. Kakak benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan dirimu. Sehingga membuat putra kita ikut menderita."


Gumam Devan didalam hatinya.


Apa masih sakit?" bertanya karena sudah lebih dari sepuluh menit Devan masih diam saja.


"Sudah lebih baik. Terima kasih!" seru Devan berhenti sesaat lalu kembali melanjutkan lagi. "Pasangkan saja perban nya. Setelah itu kamu istirahat duluan."


"Iya, lalu apa kamu tidak mau istirahat?" tanya Zizi sambil memasang perban yang baru .


"Istirahat, tapi sebentar lagi."


"Kalau begitu aku akan tidur sofa. Kamu tidur saja diatas ranjang bersama Rey. Tadi, sebelum tidur dia menanyakan mu lagi." kata Zizi menyimpan kembali peralatan bekas mengobati luka suaminya di atas meja yang berada dihadapan mereka.


"Tidak, kamu saja yang tidur bersamanya. Biar Kakak disini. Lagian Kakak juga tidak bisa berbaring dengan nyaman karena luka ini." sela Devan yang sebetulnya sangat ingin mereka tidur bersama. Namun, apalah daya, sudah ada dinding pembatas diantara mereka.


Meskipun Zivanna masih baik dan perhatian padanya. Tapi Devan mengetahui kalau dibalik itu semua. Zizi membuat sebuah tembok sebagai pembatas hubungan mereka.


Bisa ditebak saat Zivanna mengatakan minta maaf sudah tidur dikamar yang mereka tempati sekarang. Padahal rumah tersebut sengaja Devan bangun untuk sang istri. Namun, Zizi hanya mengagap kalau dia adalah orang asing dari rumah itu.


"Tidak, aku saja yang disini. Kamu tidak pernah tidur di atas sofa. Kalau aku sudah biasa tidur dimana saja. Asalkan bisa memejamkan mataku. Termasuk didalam kamar mandi sekalipun." tolak Zizi dengan menyebutkan kata kamar mandi. Agar Devan menggigat malam pertama pindah ke rumah mewah suaminya. Zivanna harus tidur didalam kamar mandi, dengan keadaan terluka dan pakain yang basah.


Deg ...


"Zizi ... Kakak mohon jangan seperti ini. Kamu bukan tamu di rumah ini. Apa yang Kakak miliki, adalah milikmu juga." seru Devan merasa sakit hati luar biasa harus mendengar ucapan Zizi, karena sampai saat ini, Devan sendiri masih belum bisa melupakan kejadian malam itu.


"Aku hanya tidak ingin melewati batas ku. Jadi aku mohon, mengertilah! Aku kembali ke kota ini hanya ingin menyelesaikan masalah diantara kita." imbuh Zivanna sembari berdiri dari sofa untuk mengambil bantal dan selimut.


Baru beberapa saat lalu Devan merasa memiliki harapan pada hubungan mereka. Akan tetapi kata-kata Zizi kembali menghempaskannya dari tempat tertinggi.


"Baiklah, Kakak akan tidur bersama anak kita. Bila kamu tidak nyaman. Biar Kakak pergi dari sini." Devan kembali mengalah. Dia belum siap membahas masalah perceraian mereka. Meskipun cepat atau lambat pasti akan terjadi.


"Tidak perlu kemana-mana, aku tidak apa-apa dengan kehadiranmu disini. Asalkan saat Reyvano bangun dia melihat wajahmu." cegah Zizi yang tidak ingin Devan pergi dari sana. Semua yang dia lakukan sekarang, hanyalah demi Reyvano. Anak yang sudah memberikan dia kehidupan disaat takdir baik tidak berpihak padanya.


"Pergilah tidur bersama Reyvano. Aku juga mau tidur sekarang." ulang Zizi yang sudah membawa selimut dan bantal.


Tidak ingin membuat perdebatan baru. Devan berjalan saja kearah ranjang. Lalu tidur miring sambil menatap wajah buah hatinya.

__ADS_1


"Mungkinkah keluarga kita akan bersatu, Nak! Maafkan ayah, sayang. Semua ini karena kesalahan ayah yang telah menyakiti kalian."


Ucap Devan didalam hatinya, setiap menatap wajah sang putra, membuat Devan semakin merasa bersalah.


__ADS_2