Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Ingin Berdamai


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Baru membaca satu lembar buku pertama saja, sudah membuat Devan merasa semakin sesak. Kalau dia tidak membutuhkan petunjuk untuk mencari sang istri. Rasanya Pria itu tidak sanggup untuk membaca bab selanjutnya.


Tidak di baca dia penasaran dengan apa saja yang di tulis oleh Zizi pada buku harian tersebut. Sahinga berangkat kuliah pun di bawanya juga. Mungkinkah semua yang terjadi padanya sehari-hari di curahkan pada buku Diary kecil itu.


Entahlah! Mungkin karena penasaran juga Devan kembali lagi membacanya. Rasa sakit dihatinya sudah bagaikan luka yang di taburi air garam. Perih tapi tak terlihat. Setelah merasa lebih baik Devan kembali lagi membaca lembaran selanjutnya yang berjudul.


Hari bahagia ku!


"Hai coba lihat, aku sangat cantik kan? Tentu saja aku cantik, karena hari ini adalah hari bahagia ku. Hari di mana aku akan dinikahi oleh orang yang dicintai. Kalian tidak tahu kan, kalau dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Iya, cinta terakhirku! Bila jodoh kami sudah habis, itu berarti sudah saatnya aku pergi dari hidup nya.


Hem... kenapa aku jadi sedih ya? Ah mungkin karena aku menggigat kisah ibu dan Ayah Aron. Mereka berdua di pisahkan oleh maut, bukan karena ibu atau ayah ku yang ingin berpisah. Aku pun akan meminta hal yang sama pada Tuhan. Aku ingin di pisahkan oleh maut saja. Agar tidak ada hati yang tersakiti karena pengkhianatan.


Kata ibuku em... bila sakit dikhianati, sampai mati mungkin luka itu tetap ada bekasnya. Namum, bila sakit hati karena di tinggal pergi untuk selama-lamanya. Orang yang kita tinggal tersebut masih bisa mendapatkan kebahagiaan dengan yang lain. Dia akan bahagia tanpa membawa bekas luka.

__ADS_1


Berhubung ini hari bahagia ku. Aku ingin membuat satu buah permohonan! Tuhan... bila jodoh kami sudah tidak ada, maka tolong bawa aku lebih dulu, agar aku bisa bersama dia walaupun hanya namanya saja. Aku tidak ingin bila dia yang pergi meninggalkan aku lebih dulu.


Apa kalian tahu kenapa aku mempunyai permintaan seperti itu? Hem!.. karena aku tidak ingin kehilangan dia. Aku tidak ingin kehadirannya digantikan oleh orang lain. Walaupun hanya namanya saja.


Tapi bila aku yang pergi lebih dulu darinya. Maka namanya akan selalu abadi bersama ku. Jadi sudah tahu kan alasannya."


Devan telah selesai membaca satu lembar kertas dari buku catatan harian istrinya. Sakit, sakit tersebut kembali menderanya. Semua yang di curahkan gadis itu bagaikan sebuah pukulan besar bagi Devan Atmaja.


"Kenapa setelah kamu pergi, baru aku menyadari kesalahanku!" seru Devan kembali menahan sesak di hatinya.


"Apa kamu sudah lama memiliki penyakit tersebut? Hanya saja kamu tidak pernah memberitahu siapapun. Sekarang kamu ada dimana? Jangan lari dari masalah. Mari kita berdamai, aku akan melupakan masalah kedua orang tua kita." Menagis menyesali perbuatannya. Andai ada orang lain yang menyaksikannya maka orang tidak akan percaya bila Devan menagis karena di tinggal seorang wanita.


Kamera cctv di seluruh ibu kota telah di periksa satu-persatu. Hanya untuk mendapatkan petunjuk gadis tersebut terakhir kali berada di mana. Tapi tetap saja mereka hanya mendapatkan rekaman sampai di depan halte Bus.


Setelah itu rekaman Zizi tidak dapat dilacak. Dia pergi naik mobil pribadi atau umum dan atau juga berjalan kaki. Yang di tunjukkan oleh sekertaris Jimi tadi hanya rekaman saat gadis itu mencabut jarum infus pada tangannya, lalu saat berjalan keluar dari kamar rawatnya dan sampai terakhir kali dia berjalan sampai ke halte Bus. Tiba di halte tersebut, Zizi tidak langsung pergi. Tapi dia sempat duduk di sana beberapa menit.


Saat sebelum gadis itu keluar dari kamar rawatnya. Dia juga melihat kearah cctv yang ada di dalam kamar tersebut. Nampak kalau dia masih sempat tersenyum samar. Senyum yang sama saat dia melihat Devan dari balkon kamar yang sedang mencumbui Fiona. Tatapan kecewa seorang wanita yang sudah lelah.


Lalu setelahnya dia langsung pergi meskipun masih terlihat Zizi berjalan sangat pelan karena pada kaki sebelah kirinya memang mengalami cedera akibat Devan mendorongnya terlalu kuat.

__ADS_1


Menurut Devan dia tidak sekuat itu mendorong Zivanna. Tapi sepertinya cedera itu terjadi karena Zizi ingin melindungi perutnya agar tidak membentur sesuatu. Pria tersebut baru tahu kalau kaki istrinya sampai cedera seperti itu. Sebab saat itu Dokter Kai tidak memberitahu nya.


Setelah lima belas menit kemudian Pria tersebut kembali lagi membuka lembaran ketiga dari buku itu. Hal pertama yang di bacanya adalah.


Aku tak mampu menahan sakit ini


"Hari ini, adalah hari pertama aku berada di rumah suamiku. Hari di mana penderitan sudah terbentang luas di depannya. Apa kalian tahu? Tadi malam aku merasakan sakit hati dan juga sakit pada pisik ku. Kemarin semuanya masih terasa sangat indah. Dimana aku masih bisa melihat tatapan cintanya untuk ku. Namun, semuanya berubah dalam satu malam. Miris kan? Tentu saja iya, tapi aku harus kuat mungkin kakak sedang ada masalah dengan rekan kerjanya.


Tadi malam, dia membawaku menghadiri sebuah pesta mewah untuk orang-orang kaya sepertinya. Semula semuanya baik-baik saja, meskipun dia tidak mau berjalan masuk membawa ku. Aku tidak masalah, karena kakak mengatakan bila kami berjalan bersama, maka akan ada kesempatan bagi musuhnya untuk menyakiti aku.


Tentu saja aku percaya dengan ucapan suamiku sendiri. Tapi setelah hampir setengah jam kemudian. Suara MC menyebutkan namanya untuk naik keatas podium. Ah... dia tampan sekali! Meskipun aku berada jauh dari podium tersebut tapi pandangan ku tidak lepas menatap nya.


Di dalam hati, aku merasa adalah wanita yang paling beruntung bisa menjadi istrinya. Namum, keberuntungan itu tidak lama, karena saat pidato dia menyebutkan nama perempuan lain bukan aku. Jujur saja, saat suamiku mengatakan kalau dia berhasil karena dukungan dari seorang perempuan. Membuat jantung ku berdegup kencang, karena mengira perempuan tersebut adalah aku.


Nyatanya gadis itu bukanlah aku, tapi... Fiona! Nama yang sangat cantik sama seperti orangnya. Tidak tahan melihat kemesraan yang mereka tunjukkan membuat ku pergi meninggalkan hotel mewah itu. Lalu duduk di taman sambil menagis.


Tidak lama saat aku masih menangis, datanglah seorang pria yang kira-kira masih seumuran dengan ku. Dia memberikan aku sebuah saputangan untuk mengelap air mata dan juga inggus ku. Dia adalah orang pertama yang mengobrol bersama ku setelah berada di ibu kota Y.


Asik mengobrol bersama nya, membuat kami melupakan kalau waktu sudah larut malam. Lalu tidak lama setelahnya pengawal kakak ku datang, dan mengajak kembali ke mobil di mana kakak sudah menunggu ku. Aku pun menurut karena sudah melupakan rasa sedih tadi.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan pulang ke rumah mewahnya. Kakak tidak berbicara sepatah katapun. Dia hanya menampilkan muka galak nya. Begitu tiba di rumah besar tersebut. Kakak meninggalkan aku di luar rumahnya. "


__ADS_2