
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Untuk beberapa saat Devan terdiam tidak bisa berkata apa-apa setelah ayahnya menyebutkan kalau yang bersalah adalah ibu kandungnya.
"Ayah!" hanya itu kata yang mampu dia ucapkan.
"Iya benar! Ibumu yang sudah mengkhianati pernikahan kami. Aku tidak menyangka di saat aku berjuang diluar sana untuk memberikan kehidupan yang layak untuk kalian. Dia malah menghambur-hamburkan uang yang aku dapatkan." meskipun sakit Ayah Dion tetap harus menceritakan kepada anaknya.
"Apa kamu pikir perusahaan Atmaja tidak pernah mendapatkan guncangan? Apa kamu pikir perusahaan yang di tinggalkan oleh kakek mu tidak pernah mengalami krisis? Atmaja group pernah hampir gulung tikar. Disaat itu aku sibuk pergi kesana-kemari mencari bantuan. Kamu seorang pengusaha, pasti tahu bagaimana kita bisa mendapatkan bantuan di saat kita sudah hampir tidak memiliki apapun." saat mengatakan itu terlihat Ayah Dion menghela nafas berat. Pertanda betapa beratnya dia menceritakan hal tersebut.
Sementara itu Devan tetap hanya diam di ikuti air mata yang membuat dia semakin terluka untuk kesekian kalinya. Tidak lama ayahnya kembali lagi melanjutkan cerita masa lalu.
"Orang-orang yang tadinya memuji Atmaja group saat masih maju. Namum, setelah mereka mendengar barita di seluruh siaran televisi bahwa Atmaja sudah bangkrut. Mereka menjauhi aku, jangankan untuk membantu. Sekedar kenal saja mereka tidak mau." lirih Pria baya itu yang hampir meneteskan air matanya.
"Jika ibumu tidak menghabiskan uang tabungan selama aku memimpin Atmaja, maka perusahaan tidak akan mengalami masa sulit seperti itu. Apa kamu tahu apa yang ibumu lakukan saat aku susah? Dia malah bersenang-senang dengan selingkuhannya di Apartemen milik ku."
"Ayah! Sudahlah jangan ceritakan lagi, aku mohon!" Ibu Ellena merangkul lengan suaminya agar tidak melanjutkan cerita itu lagi, karena selain orang tua Ayah Dion. Ibu Ellena adalah orang yang paling mengetahui masalah nya.
Sebab pada saat Atmaja bangkrut beliau sedang menjabat sebagai sekertaris Ayah Dion. Wanita itu tidak mengundurkan diri seperti rekan kerjanya yang lain, tapi dia tetap berjuang membantu Ayah Dion agar Atmaja bisa berdiri seperti semula.
Semua perjuangan mereka berdua membuahkan hasil. Tidak sampai dalam waktu tiga bulan, perusahaan bisa berjalan normal dan berdiri semakin kokoh hingga saat ini.
"Tidak sayang! Hari ini Devan harus tahu semuanya." Ayah Dion tersenyum kearah sang istri menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa, dan hanya bisa di setujui oleh istrinya itu.
"Jika kamu sudah mencintai seseorang, pasti tahu rasanya di khianati. Di saat aku terpuruk, harus menerima perselingkuhan Istriku. Tapi meskipun aku sudah di khianati oleh ibumu, masih berusaha memberinya kesempatan kedua. Namum, ibumu tidak berubah, maka dari itu aku sampai menampar nya." melihat Devan yang seperti sekarang membuat lelaki baya itu menyesal tidak menceritakan sedari awal.
__ADS_1
"Kami memang tidak pernah bertengkar apabila kamu sedang ada di rumah, karena aku tidak ingin kamu terluka. Namum, di luar kuasa ku, hari itu kamu kembali dari sekolah lebih awal dan menyaksikan pertengkaran tersebut. Apa kamu pikir aku tidak menyesal kamu harus menyaksikan itu semua?" air mata yang beliau tahan akhirnya lolos juga.
Bagaimana mungkin Pria tersebut tidak meneteskan air matanya, saat dia dan Marisa sudah sering bertengkar. Devan remaja selalu di suruh menginap di rumah orang tuanya. Agar anaknya tidak mengetahui pertengkaran tersebut.
"Atas dasar apa kamu memiliki dendam pada Ibu Ellena dan membalaskan dendam mu pada Zizi?" tanya Ayah Dion yang benar-benar tidak menyangka bahwa putranya bisa berbuat sekejam itu.
"Ayah! Ak--ak--aku, tidak tahu kalau apa yang ibu katakan sebelum pergi dari rumah adalah kebohongan." menunduk merasa bersalah dan juga menyesali apa yang sudah terjadi.
"Memangnya apa yang dia katakan?" tanya Ayah Dion dengan serius.
"Ibu... mengatakan kalau semuanya terjadi karena ayah memiliki hubungan dengan karyawan ayah di perusahaan."
"Apa? Wanita itu! Lalu kamu percaya begitu saja? Apa pernah kamu melihat ayah dekat dengan seorang wanita walaupun hanya sekedar rekan bisnis?" mengusap wajahnya dengan kasar, yang tadinya sedih menjadi emosi seketika.
"Ayah, aku bukannya tidak percaya pada Ayah. Tapi di hari aku mengetahui kalau kalian sudah berpisah, aku mendatangi perusahaan. Begitu aku masuk untuk menuju ke kantor Ayah, aku mendengar para karyawan menyebutkan kalau kalian bercerai gara-gara ada orang ketiga."
"Devan! Oh ya Tuhan! Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu menilai aku seburuk itu." seru Ayah Dion kembali memijit pelipisnya.
"Apa yang kamu lihat tidak sama dengan yang kamu pikirkan. Hari itu Ayah ingin menjelaskan padamu, tapi kamu sudah berlari keluar." Ayah Dion yang baru tahu sudah terjadi kesalah pahaman besar, kembali lagi berbica seperti semula.
"Lalu apa maksudmu menanyakan masalah ini? Apa setelah tahu kebenarannya baru kamu akan mencari Zizi?"
"Tidak! Aku tidak perduli siapa yang salah dan benarnya. Meskipun Ibu Ellena yang bersalah aku akan tetap mencari istri dan anakku. Aku benar-benar menyesal sudah berlaku buruk pada Zizi." Devan menjawab dengan yakin. Dia bertanya hanya ingin memastikan seperti apa yang istrinya tulis.
"Jadi Zizi sedang mengandung?" terdengar suara Ibu Ellena bergetar saat menanyakan keadaan putrinya.
"Iya Bu, Zizi sedang mengandung anak kami. Seperti yang aku ceritakan tadi. Tapi aku mohon jangan pisahkan aku dengan nya." tanpa aba-aba Devan bersujud di kaki Ibu Ellena. Wanita yang sudah dia sakit putrinya.
"Ibu tolong, tolong maafkan aku! Aku tidak akan memiliki niat balas dendam kalau mengetahui pakta yang sebenarnya."
__ADS_1
"Devan berdirilah! Kembali duduk di sofa. Jangan seperti ini, kamu tidak sepenuhnya salah." ucap wanita tersebut memegang bahu Devan agar tidak bersujud di kakinya.
"Devan ayo kembali ke atas sofa, akan Ayah ceritakan mengapa Ayah tidak jujur padamu." imbuh Ayah Dion membantu anaknya berdiri lalu di dudukan di atas sofa.
"Hari itu Ayah dan Ibu Ellena sedang berada di perusahaan. Kalau tidak salah saat jam makan siang. Lalu tiba-tiba Marisa datang dan meminta satu permohonan pada Ayah." lelaki baya itu pun mulai menceritakan mengapa dia tidak bicara jujur pada Devan.
Flashback on...
Di dalam kantor Atmaja group.
"Ellena... Aku berencana akan mengatakan pada Devan semuanya. Aku tidak ingin dia membenci ku suatu hari nanti karena mendengar berita di luaran sana." ucap Ayah Dion pada sekertaris nya. Saat ini mereka baru selesai memeriksa beberapa dokumen kerja sama dengan Perusahaan lain.
"Menurut ku pilihan yang tepat. Devan memang harus mengetahui nya. Lebih baik dia mengetahui dari ayahnya sendiri dari pada dari orang lain." jawab Ibu Ellena yang bila saat sedang berdua memang tidak bicara pormal. Berjuang bersama membuat hubungan keduanya semakin dekat, tapi hanya sebagai sahabat.
Tok....
Tok...
"Siapa?" Ayah Dion bertanya pada Ibu Ellena.
"Entahlah, aku juga belum tahu."
"Masuk!" titah lelaki itu yang juga penasaran, karena dari resepsionis tidak ada pemberitahuan kalau dia memiliki tamu.
Cek... lek...
Begitu pintunya di buka, terlihat Marisa mantan istrinya yang datang.
"Marisa!" gumam ayah Dion yang di ibaratkan luka di hatinya kembali lagi berdarah, setelah melihat wajah wanita yang masih dia cintai.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*....