
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Setelah selesai makan siang bersama majikan nya. Zizi mulai mengerjakan tugas membersihkan Apartemen miliki pasangan Dosen Ski dan istrinya. Kedua pasangan ini entah mengapa begitu baik kepada gadis muda itu.
Apalagi setelah mengetahui kenyataan pahit hidup Zizi yang tengah mengandung di usia baru delapan belas tahun. Tadinya begitu tahu hal itu mereka langsung melarang Zizi untuk bekerja. Namun, karena gadis itu memohon dan berjanji apabila dia lelah akan istirahat. Maka dari itu Zizi masih tetap bekerja.
Begitu mengetahui Zizi hamil Ski langsung mengatakan bahwa tanpa gadis itu bekerja Ski tetap akan membantu membayar semua biaya kuliah Zizi atas permintaan dari istrinya juga. Tapi karena Zizi tetap memaksa ingin bekerja jadinya Ski dan istrinya tidak bisa melarang.
"Zi istirahatlah dulu jangan terlalu lelah." ucap istri Dosen Ski melihat gadis itu terus bekerja.
"Iya terimakasih kak, kalau sudah lelah aku akan istirahat." jawab Zizi tetap tersenyum meskipun sudah lelah.
"Zi apa kakak boleh tau kemana suamimu pergi? Maaf bukannya kakak ingin ikut campur urusan pribamu, tapi kakak hanya penasaran bagaimana mungkin ada laki-laki yang membiarkan istrinya banting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri padahal kamu sedang hamil." tanya wanita itu karena Zizi memang tidak mengatakan siapa dan kerja apa suaminya.
Kalau saja tadi Zizi tidak muntah-muntah saat mencium bau ayam goreng maka mereka tidak akan tahu kalau gadis muda itu tengah berbadan dua.
"Tidak apa-apa kak, kakak tidak bersalah jadi jangan minta maaf. Suamiku belum tahu kalau aku sedang hamil. Rencananya setelah pulang dari sini aku akan memberi tahu suamiku. Kalau kerja apanya, aku juga kurang tau" jelas Zizi tidak ingin membicarakan kejelekan Devan pada orang lain.
"Iya baiklah kakak percaya kepadamu tapi kamu harus ingat satu hal apabila membutuhkan sesuatu maka katakan pada Kak Sky atau kepada kakak ya."
"Sekali lagi terimakasih kak, kalian begitu baik kepadaku. Aku berjanji bila ada apa-apa akan mengatakan pada kalian berdua." Zizi benar-benar merasa bersyukur bisa bertemu orang baik di kota yang tidak memiliki sanak saudara.
Andai saja Ibu Ellena tahu keadaan putrinya seperti saat ini sudah bisa dipastikan wanita baya itu lebih rela kehilangan sang suami daripada hidup putrinya harus hancur.
Hampir setiap malam Zizi selalu berkomunikasi dengan ibunya melalui telepon genggam dan mengatakan bahwa dia sangat bahagia hidup bersama Devan.
Padahal kenyataan yang sebenarnya hidupnya sangat menderita. Oleh karena itulah Ayah Dion tidak menyuruh anak buahnya menyelidiki kehidupan Devan dan Zizi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu kakak mau melihat anak kakak dulu ya. Ingat jangan terlalu lelah." peringat istri Ski sebelum pergi dari sana. Yang hanya di angguki oleh Zizi lalu dia kembali lagi melanjutkan pekerjaannya.
Sampai pada jam delapan malam barulah semua pekerjaan itu siap. Zizi pun sudah mandi dan berganti pakaian bersih di kamarnya yang sudah di siapakan oleh Miranda istri Ski.
"Kak maaf aku pamit pulang dulu ya ini sudah malam. Besok jika aku tidak bekerja paruh waktu, pasti aku akan main ke sini lagi." pamit gadis itu kepada Ski dan istrinya yang sedang menonton TV di ruang keluarga.
"Kamu pulangnya di antar kakak saja ya Ini sudah malam, tidak baik seorang perempuan keluar sendirian apalagi kamu sedang mengandung." ucap Miranda seraya berdiri menghampiri Zizi.
"Tidak usah Kak terimakasih! Aku akan naik kendaraan umum saja." tolak nya semakin merasa malu dengan kebaikan pasangan suami istri itu. Dari awal melihat Zizi, Ski langsung bercerita pada istrinya bahwa di kelasnya ada gadis yang bisa masuk kuliah di Universitas Gunadarma tapi tidak mampu membayar biayanya.
Bila dipikir secara normal uang untuk masuk kuliah disana sangat mahal tapi Zizi memiliki uang. Namun, ketika untuk membayar yang lainnya gadis itu tidak punya. Jikalau dia memang tidak mampu kenapa harus kuliah di Universitas mahal. Itulah yang menjadi teka-teki Dosen Ski.
Berbeda kalau masuknya melalui beasiswa mereka tidak memikirkan uang bulanan yang sampai puluhan juta perbulan nya. Meskipun Ski terlihat cuek dengan kehidupan pribadi Zizi tapi dia curiga kalau gadis itu bukanlah dari kalangan biasa. Tidak hanya pakaian saja yang bermerek dari tampilan Zizi pun dia sudah tahu kalau gadis itu pasti bukan gadis sembarangan.
"Tapi... aku pulang kerumah Tuan Devan kak. Ibu meminta aku pulang kesana." dusta Zizi yang tidak bisa mencari alasan lain.
"Tidak apa-apa Kak Ski pasti akan mengantar dimana pun tempat tinggal mu.' Iya kan sayang?" Miranda meminta persetujuan dari suaminya.
"Iya benar sekali. Ini sudah malam ayo kakak antar. Kakak juga ingin tahu di mana rumah Devan majikan mu." seru Ski memberikan anaknya pada sang istri. Yang akhirnya Zizi hanya bisa pasrah tidak bisa menolak niat baik dari dosenya.
Selama dalam perjalanan Zizi hanya diam tidak berani bicara duluan apa bila Ski tidak bertanya padanya. Begitupun dengan Ski pria itu tengah menduga-duga apa yang ada dalam pikirannya. Walaupun Ski tidak sehebat Devan dalam berbisnis tapi lelaki itu bukanlah orang bodoh yang bisa percaya begitu saja pada hal di depan matanya.
"Apa ini rumahnya?" Ski pura-pura bertanya begitu mereka sudah mendekati kediaman Devan.
"Agh iya kak ini rumah Tuan Devan. Tolong turunkan di depan pagar saja. Maaf aku tidak bisa mengajak kakak masuk karena ini bukan rumah ku." Zizi masih memanggil kakak apabila di luar jam kuliah atas permintaan Ski dan istrinya sendiri.
"Hm tidak apa-apa kakak juga mengerti. Kalau begitu turunlah kakak akan pulang setelah kamu masuk." kata Ski sambil berlalu turun untuk membukakan pintu mobil untuk Zizi.
"Sekali lagi terimakasih kak. Besok jika tidak sibuk aku akan main ke Apartemen untuk membantu kak Miranda." seru Zizi menyalimi tangan Ski hal yang dulu dia lakukan pada Devan.
"Siapa kamu sebenarnya Zi? Kakak sangat yakin jika kamu bukan gadis biasa, tapi kenapa ada laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti suamimu. Semoga saja dugaan kakak tidak benar."
__ADS_1
Ucap Ski didalam hatinya yang melihat bagaimana para penjaga sedikit menunduk hormat saat Zizi berjalan masuk. Setelah itu barulah Ski pergi dari sana.
Sedangkan Zizi sendiri melanjutkan langkahnya masuk kedalam rumah di mana tempat dia menghabiskan air matanya.
"Syukurlah Nona sudah pulang," Bibi Marta langsung memeluk tubuh Zizi begitu melihat gadis itu sudah masuk kedalam rumah.
"Memangnya ada apa, Bi? Bukanya ini masih jam sembilan malam." tanya Zizi sedikit heran. Biasanya dia pulang jam sepuluh malam tapi Bibi Marta tidak secemas sekarang.
"Nona, Bibi mohon apapun yang tuan katakan nanti tolong jangan menjawabnya. Nona cukup diam saja agar tuan tidak murka."
"Murka kenapa aku kan tidak melakukan kesalahan." jawab gadis itu merasa tidak melakukan yang aneh-aneh.
"Masalahnya tidak bisa Bibi katakan sekarang. Tapi Nona harus berjanji tidak akan membantah saat tuan marah ya. Sekarang Nona muda sudah di tunggu di kamar oleh Tuan Devan. Jadi berhati-hatilah Bibi mohon." seru wanita baya itu hampir menangis.
"Bibi tidak perlu khwatir, aku akan baik-baik saja. Aku keatas dulu ya, Bi." pamit Zizi berjalan menaiki tangga satu persatu dengan membawa susu hamil dan berbagai macam makanan ringan di tangannya.
BERSAMBUNG....😂😂🏃🏃🏃
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 🤗 Agar Mak author semangat juga buat nulisnya.
Like.
Vote.
Vaforit.
__ADS_1
Komen.
Dan hadiah nya. Terimakasih.😘😘