Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Sebuah tanda tangan.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Jika Anda berani menyentuh mereka, seujung rambut saja. Maka Saya akan menghabisi nyawa Anda dengan tangan Saya sendiri." hardik Devan menahan emosi setelah Bara menyebut anak dan istrinya mati karena takut.


Begitu pula dengan Felix dan Andes. Mereka sudah siap mengarahkan senjata api mereka sejak tadi. Tinggal menunggu perintah dari Tuan mudanya saja.


"Hem, baiklah! Kalau begitu cepat tanda tangani berkas itu. Maka Saya akan pergi dari sini." Anak buah Bara langsung mengantarkan sebuah map ke hadapan Devan, lalu memberinya beserta dengan pulpen.


Jalan yang biasanya ramai. Malam ini tidak ada satupun yang lewat. Penyerangan ini sudah direncanakan dari kemarin. Makanya mereka bebas ingin berbuat seperti apa saja.


"Jadi hanya karena membutuhkan sebuah tanda tangan, Anda membuat penyambutan seperti ini. Padahal jika Anda mau, Saya akan menyambut kedatangan kalian, dirumah Saya dengan terhormat dan tidak perlu menjatuhkan korban jiwa." seru Devan tidak menanda tangani berkas tersebut. Tapi dia malah menutup nya kembali.


"Tuan Devan, jangan pernah main-main dengan Saya. Cepat tanda tangani berkas itu dan kalian boleh meninggalkan tempat ini." ancam Bara semakin tidak suka.


"Ha ... ha ... Anda tidak usah mengancam seperti ini Tuan Bara." Devan tertawa sumbang pada Bara dan sekutunya. Lalu setelah itu dia bicara lagi.


"Saya akan menandatangani nya. Tapi biarkan semua mobil kami lewat. Setelah itu, Saya berjanji akan menuruti permintaan Anda." tawar Devan yang ingin Zizi dan anaknya diselamatkan lebih dulu.


"Bagaimana bila Saya tidak mau?" balas Bara tidak mau membiarkan ada yang melewati tempat tersebut. Saat ini mobil Devan dan para pengawalnya sudah di kepung dari arah depan dan belakang. Pasukan Bara sudah tahu, kalau di dalam mobil yang saat ini dijaga dengan ketat. Ada nyawa yang begitu berharga.


"Jika Anda menolak, maka kalian semua juga akan mati sia-sia, karena sampai mati pun, Saya tidak akan menuruti kemauan kalian." seorang Devan Atmaja tentu tidak akan mau diberi tekanan oleh musuhnya.


"Sekarang Anda pilih! Saya kasih waktu dua menit. Membiarkan mobil mereka semua pergi dari sini. Atau kita lanjutkan lagi penyerangan ini." lanjut Devan yang bergantian memberi ancaman.


"Baiklah! Tidak masalah." Bara yang membutuhkan kebebasan dan kembalinya saham yang sudah di beli oleh Atmaja group. Menyetujui permintaan Devan.


"Biarkan mereka lewat!" perintah Bara pada para anak buahnya.


Lalu setelah mendapatkan aba-aba kalau mereka di suruh pergi. Sekertaris Jimi langsung memerintahkan semua pengawal untuk kembali ke mobilnya masing-masing.


"Ayo tinggalkan tempat ini!" ucap Sekertaris Jimi pada sopir mobil yang membawa dia dan nona mudanya.


"Jimi, apa maksudmu. Kita harus menunggu Devan. Bagaimana mungkin kalian meninggalkan dia hanya dengan dua orang pengawal." teriak Zizi begitu mobil tersebut meninggalkan lokasi.


"Tuan muda akan menyusul, setelah kita pergi dari sini Nona. Anda tidak perlu khawatir. Felix dan Andes tidak akan membiarkan dia terluka." jawab Sekertaris Jimi menyakinkan.

__ADS_1


"Jimi, hentikan para pengawal. Suruh mereka membantu Devan. Biar kita saja yang pergi dari sini" sergah Zizi agar para pengawal membantu Devan. Meskipun dia membencinya. Bukan berarti membiarkan Devan mata begitu saja.


"Maaf, Nona muda. Keselamatan Anda jauh lebih penting." apapun makian nona mudanya. Sekertaris Jimi tidak memperdulikannya. Telinganya bagaikan tuli, yang dia butuhkan adalah cepat membawa Zizi ketempat aman lebih dulu. Setelahnya baru dia akan kembali ketempat tadi.


"Ibu, Ayah nana?" tanya Reyvano terbangun mendengar ibunya menangis.


"Putra ibu sudah bangun?" Zizi cepat-cepat menghapus air matanya. Agar Reyvano tidak bertanya kenapa dia menangis. Namun, sayangnya anak itu sudah bangun sejak tadi.


"Ibu, ayah nana? Ibu napa dangis?" tanya Rey mendongak keatas lalu menghapus air mata ibunya.


"Ibu menangis karena sebentar lagi kita akan sampai." dusta Zizi dan tidak menjawab kemana ayah anak nya.


"Nda boeh dangis. Ley aja nda dangis." ucap Rey melupakan ayahnya sesaat. Namun baru saja Zizi merasa lega. Anaknya sudah menanyakan pertanyaan yang serupa.


"Ayah pelgi nana?" tanyanya untuk ketiga kali.


"Ayah Tuan muda sedang bekerja, nanti dia akan menyusul kita." jawab Sekertaris Jimi karena Zizi hanya diam belum menjawabnya.


"Telja tali uang?" Reyvano langsung minta diturunkan dari paha ibunya dan maju kedepan mendekati sekertaris pribadi sang ayah.


"Benar, ayah tuan Muda sedang mencari uang yang banyak. Biar bisa menaiki permainan seperti waktu itu. Tuan Muda mau kan, pergi jalan-jalan lagi?" Sekertaris Jimi mengangkat Rey keatas pangkuannya. Agar anak itu tidak menanyakan Devan walau hanya untuk sementara.


"Au, Ley au aik obil-obilan agi, Om." seru Rey dengan wajah berbinar-binar.


Zivanna yang mendengar dari kursi belakang hanya bisa menangis. Meskipun dia menjerit meminta Jimi untuk memberikan perintah. Tetap saja, suaranya tidak akan di dengar.


Dua puluh menit kemudian. Mobil iring-iringan tersebut sudah memasuki ibu kota Y. Tiba di pusat ibu kotanya. Dua mobil berbelok ke arah rumah sakit untuk mengantarkan rekannya yang masih selamat. Sedangkan mobil lainnya tetap mengikuti Sekertaris Jimi.


"Kita akan kemana Sekertaris Jimi?" tanya Zizi sudah memangil dengan sebutan, sekertaris lagi. Tadi disaat dia marah, hanya menyebutkan nama saja.


"Kita akan kerumah baru Nona. Setelah itu Saya akan menyusul Tuan Devan." jawab Jimi yang masih memangku Reyvano.


"Eum, kalau begitu setelah tiba, kalian langsung pergi saja. Saya bisa mengurus diri Saya sendiri."


"Baik, Nona muda. Nanti ada Bibi Marta yang akan membantu Anda." Jimi langsung meng iyakan karena dia juga mengkhawatirkan keadaan bos nya.


Sehebat apapun pengawal Devan. Tentu saja Jimi masih mengkhawatirkan nya. Sebetulnya, tadi bukan mereka tidak mampu melawan musuhnya. Hanya saja takut Zizi yang menjadi incaran para musuh.


"Apa ini tempatnya?" tanya Zizi begitu mobil mereka sudah berhenti di sebuah rumah mewah.

__ADS_1


"Benar, ini tempatnya. Ayo kita turun." Jimi sudah turun lebih dulu sambil menggendong tuan muda kecilnya.


Zizi pun ikut menyusul karena pintu mobil bagian belakang sudah dibukakan oleh pengawal yang mengikuti mereka dari belakang.


"Terima kasih." ucap Zivanna dengan sopan meskipun pada anak buah suaminya.


"Sama-sama, Nona. Silahkan ikuti Sekertaris Jimi." titahnya mempersilahkan. Sebab Jimi sudah berjalan masuk kedalam rumah.


"Sekertaris Jimi. Anda sudah datang." sambut Bibi Marta tersenyum bahagia melihat gadis yang dianggap anak olehnya sekarang sudah kembali.


"Nona!" tidak memperdulikan Sekertaris Jimi lagi. Wanita paruh baya itu langsung memeluk Zizi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Nona muda. Akhirnya Anda kembali."


"Iya, Bibi. Saya kembali." jawab Zizi membalas pelukan tersebut.


"Ehem, maaf Nona. Kami akan pergi sekarang." Jimi berdehem karena dia tidak bisa menunggu kedua wanita itu selesai berpelukan.


"Aghkk! Iya, cepat pergilah!" seru Zizi melepaskan pelukan mereka.


Lalu Sekertaris Jimi pun menurunkan Rey di atas sofa dan bicara dengannya. "Om, mau pergi menjemput ayah tuan muda. Jadi tunggu disini, temani ibu. Tuan muda kecil tidak boleh menangis." ucap Jimi memegang kedua bahu Rey yang hanya menggunakan kepalanya.


"Bibi Marta. Jaga Nona, urus semua keperluannya. Saya akan pergi sekarang." tidak menunggu jawaban Bibi Marta. Sekertaris Jimi langsung saja keluar dari rumah tersebut, karena dia akan menyusul Devan yang belum tahu seperti apa keadaannya saat ini.


"Apa sudah ada kabar?" tanya Sekertaris Jimi setelah duduk didalam mobil.


"Belum, mereka semua tidak bisa dihubungi." jawab si sopir sekaligus pengawal Atmaja group.


"Semoga tuan muda baik-baik saja." ucap Jimi penuh harap.


*BERSAMBUNG* ...


.


.


.


.

__ADS_1


...Bila ada typo yang bertebaran. tolong di maafkan, ya.🙈🙈 Dan maaf juga, bila komen dari kalian semua, ada yang tidak di balas. Bukanya Mak sombong, tapi terkadang lupa.😂 Sama jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya. Biar Mak author semangat juga nulisnya.😭😭😭🤧...


Terima kasih.🙏😘😘


__ADS_2