
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Melihat betapa takutnya Zivanna kalau dia akan menyakiti atau membawa kabur putranya. Membuat Devan menghela nafas panjang. Padahal untuk saat ini, jangankan menyakiti buah hatinya. Memikirkan perbuatannya yang pernah menolak kehadiran Reyvano saja sudah membuat Devan menyesal. Hatinya sakit setiap menatap wajah polos putranya.
Dia selalu dihantui rasa bersalah kala mendengar kata ayah yang disematkan untuk nya. Ayah seperti apa yang ingin melenyapkan anaknya sendiri. Padahal Zivanna hamil juga karena ulahnya. Itulah rasa sesal yang selalu berputar dibenaknya.
Apalagi sekarang, Reyvano selalu menempel padanya. Padahal baru kemarin siang mereka bertemu. Bila diperlukan Devan rela menukar nyawanya dengan nyawa sang putra.
Selama dalam perjalanan menuju kediaman Zivanna. Devan dan Zizi tidak ada yang bicara. Keduanya hanya larut dengan pikirannya masing-masing. Namun, meskipun mulutnya diam. Tangan Devan selalu mengelus kepala sang putra.
Begitu pula dengan Zivanna meskipun tidak bicara. Tapi dia sering mencuri-curi pandang seperti apa Devan memperlakukan Reyvano. Itu dia lakukan ketika Devan tidak melihat kearahnya.
Sehingga membuatnya sedikit lega. Mungkin saja Devan benar-benar tulus menyayangi anak mereka. Itulah yang Zizi pikirkan sekarang.
"Ayo turun!" ajak Devan saat mobil tersebut telah sampai. Tidak bicara, Zizi hanya mengangguk dan langsung turun karena pintu mobil sudah dibuka oleh para pengawal yang menyambut kedatangan mereka.
"Felix, persiapkan semuanya. Setelah putraku bangun kita akan kembali ke kota Y." kata Devan begitu keluar dari mobil. Pada salah seorang pengawalnya.
"Baik Tuan muda. Kita tinggal berangkat. Tadi Sekertaris Jimi juga sudah memberitahu kami." jawab Felix sambil menunduk hormat.
"Hem, kerja bagus. Kalian istrirahat saja, Kota ini aman tidak seperti kota Y." kata Devan yang sudah berjalan masuk mengikuti Zivanna.
Tiba di dalam rumah.
"Tidurkan saja didalam kamar. Rey kalau tidur siangnya lumayan lama, nanti kamu lelah bila selalu memeluknya seperti itu." ucap Zizi begitu Devan sudah masuk.
"Eum, baiklah." tanpa Zizi suruh pun tentu Devan akan menidurkan Reyvano didalam kamar, karena dia takut menyakiti anaknya bila tidur dalam keadaan digendong.
Cup, cup ... Muaaah!
"Tampan sekali! Ayah sangat menyayangi mu, Nak. Maaf, karena ayah kamu harus merasakan hidup susah." Devan tersenyum setelah mencium pipi chubby Reyvano. Senyum yang disertai rasa berdosa pada sang putra.
"Tidurlah, ayah akan keluar sebentar! Kamu benar-benar segalanya buat ayah, anakku. Cup!" ucap Devan kembali mencium anaknya. Lalu setelah mengatakan itu dia keluar dari sana.
"Bersiaplah! Jangan membawa barang apapun. Semua keperluan kalian sudah disiapkan disana." ucap Devan melihat Zizi yang baru saja selesai memasang bingkai foto pada dinding di ruang keluarga. Sesudah nya dia pun berjalan mau menemui Erik karena ada yang ingin dia bicarakan dengan pengawalnya itu.
Namun, baru beberapa langkah berjalan Zizi memanggil namanya.
"Devan!" pangil Zizi yang tidak mengunakan embel-embel tuan ataupun kakak. Semenjak mereka saling kenal, baru dua kali Zivanna menyebutkan hanya nama saja, seperti saat ini. Yaitu tadi malam dan sekarang. Entah itu cara Zivanna meluapkan kemarahannya atau memang ingin merubah pangilanya.
Mendengar namanya dipanggil Devan berhenti ditempatnya berdiri. Namun, dia tidak membalikkan badannya menghadap sang istri yang berada dibelakangnya.
"Terima kasih! Terima kasih sudah membeli rumah ibu Eris. Suatu saat, bila aku sudah mendapatkan uang. Aku berjanji akan mengembalikan uang mu." ucap Zivanna dengan tulus, karena dia sangat bersyukur bisa memiliki rumah itu lagi.
"Uem! Tidak perlu dipikirkan. Anggap saja itu sebagai hadiah ulang tahun mu." seru pria itu merasa nyeri di hatinya karena harus mendengar sang istri mengagap pemberiannya sebagai hutang. Namun, harus bagaimana lagi. Semua adalah kesalahannya.
Berbeda dengan Devan. Zivanna justru tersentak mendengar kata ulang tahun. Pasalnya terakhir kali dia merayakan ulang tahunnya adalah enam hari sebelum pernikahan megah mereka.
"Jangan lupa untuk bersiap-siap! Kakak akan keluar menemui Felix." ucap Devan langsung pergi keluar. Meskipun dia tahu kalau Zizi pasti heran karena dia masih mengingat hari ulang tahun sang istri. Selama ini, meskipun orangnya tidak ada. Devan dan ibu Ellena selalu merayakan ulang tahun Zizi diberbagai panti asuhan yang ada di kota X.
"Felix, apa Jimi belum kembali dari hotel?" tanya Devan begitu tiba diteras rumah tersebut.
"Sudah Tuan muda. Sekertaris Jimi sudah kembali dari hotel sejak satu jam yang lalu. Hanya saja dia pergi bersama Andes." jawab Felix yang sudah menduga kalau Devan ingin berbicara dengan nya. Makanya dia berjalan menuju teras rumah tersebut.
"Hem, pasti ada hal penting yang sedang dia urus. Katakan pada semuanya untuk Istirahat yang cukup! Perjalanan kita kali ini, tidak sama seperti saat kita berangkat." peringat Devan.
Lalu sambil menunggu putranya bangun dan Sekertaris Jimi datang. Dia kembali masuk untuk membersihkan dirinya karena dia tidak akan kembali ke hotel tempat mereka menginap. Selama Devan pergi tadi siang. Sekertaris Jimi sudah melakukan check out dari hotel tersebut.
"Sudah bangun?" tanya Devan begitu tiba diruang keluarga, Zizi keluar dari kamar sambil mengendong Reyvano yang masih tersedu-sedu karena habis menangis.
__ADS_1
"Hey, jagoan Ayah kenapa menangis? Eum!" Devan mendekati anak dan istrinya.
"Ayah nda iyang adi, Tan?" ucap Reyvano merentangkan kedua tangannya minta di gendong oleh ayahnya.
"Tentu saja ayah tidak hilang. Memangnya Ayah hilang kemana." tergelak sambil mencium gemas pipi anaknya. Lalu kembali berkata.
"Ayah akan hilang bila ibumu sudah tidak membutuhkan Ayah lagi." sambil melirik kearah Zizi yang menunjukkan wajah tidak suka padanya.
Akan tetapi Devan tidak ambil pusing meskipun Zizi tidak mau berbicara sekalipun. Asalkan sang istri tidak mengusirnya dari sana, Devan sudah bersukur. Setiap perbuatan tentu akan memiliki kosuensi nya masing-masing.
"Sudah, ya, jangan menangis lagi. Tadi Ayah hanya keluar untuk menemui Paman Felix." Devan membawa Rey duduk di atas sofa lalu dia kembali menghapus air mata sang putra yang masih basah.
"Ley atut ayah iyang," Reyvano memeluk erat tubuh Devan. Tadi saat Zizi ingin masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rey terbangun sambil menangis mencari Devan. Dia taunya sebelum tidur masih berada dalam pelukan ayahnya. Makanya saat terbangun dia merasa kehilangan.
"Tidak hilang, Ayah akan selalu bersamamu meskipun Ayah sudah tidak ada di dunia sekalipun. Sudah cukup empat tahun ayah mencari kalian. Jadi sekarang Ayah tidak akan membiarkan hal itu terjadi." melihat Rey takut kehilangannya membuat Devan menciumi pucuk kepala anaknya berulang kali.
"Mandilah, biarkan Rey bersama ku." ucap Devan melihat Zizi hanya diam saja.
"Tapi Rey juga harus mandi."
"Jagoan, mandi sama Ayah saja, ya?" tanya Devan karena dia juga akan mandi.
"Iya, Ley andi tama Ayah aja."
"Anak pintar!" kembali mencium putranya.
"Mandilah! Biar Kakak yang memandikannya. Kami akan mandi bersama." Devan menyuruh untuk kesekian kalinya.
"Huh, baiklah!" malas berdebat Zivanna pun mengalah saja. Meskipun dihatinya merasa cemburu luar biasa. Bagaimana dia tidak cemburu. Anak yang dia rawat sendirian selama bertahun-tahun, malah lebih memilih bersama Devan daripada bersama nya.
Selama Zivanna mandi, Devan hanya duduk sambil menemani anaknya bermain. Reyvano sudah berhenti menagis. Tapi Devan tidak boleh jauh-jauh darinya.
"Tuan Muda. Apa kita sudah bisa berangkat sekarang?" suara Seketaris Jimi mengalihkan pandangan Devan dari Reyvano yang berada disampingnya.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja orang-orang kita yang di kota Y mengabarkan, kalau Bara sudah bebas kemarin siang." terang Sekertaris Jimi tidak bisa menyembunyikan masalah tersebut sendirian. Sebab itu semua berhubungan dengan keselamatan tuan mudanya.
"Apa? Kenapa cepat sekali? Bukankah seharusnya dia dihukum seumur hidup?" Devan terperanjak kaget karena Bara adalah musuh besarnya.
"Ada yang membantunya keluar. Untuk itu pengawal Atmaja sedang menyelidikinya. Anda tidak perlu khawatir, malam ini juga pasti kita sudah mengetahui siapa dalangnya. Setelah mengetahuinya, kita akan seret mereka masuk penjara, bersama Bara." Jimi mengambil nafas lalu melanjutkan lagi apa yang ingin dia sampaikan.
"Saya hanya takut, dia kembali berbuat nekad seperti dua tahun lalu." Jimi langsung terdiam setelah melihat nona mudanya datang mendekati mereka.
"Hem, baiklah aku mandi sebentar! Persiapkan semuanya!" kata Devan berdiri dari sofa lalu dia mengajak anaknya untuk mandi. Di ikuti juga oleh sekertaris Jimi karena dia harus menyiapkan pengamanan menuju ke kota Y.
"Sayang, ayo kita mandi sekarang." Devan menundukkan sedikit tubuhnya untuk menggendong sang putra dan mandi bersama.
"Hole, andi tama Ayah!" Reyvano yang tau nya hanya bermain bersorak senang.
"Iya, mandi sama Ayah. Nanti setelah tiba dirumah baru kita. Ayah akan membawamu mandi di kolam renang." meskipun baru dua hari kenal anaknya. Devan sudah mulai memahami apa yang di ucapkan oleh sang putra. Hanya para Mak raeder saja yang kurang paham.
Sambil berlalu kekamar mandi ayah dan anak itu terus bercerita dan membicarakan apa saja. Apapun yang ditanyakan oleh Reyvano, asalkan m mengerti maka Devan akan menjawab pertanyaan tersebut.
Sedangkan Zizi, selama menunggu kedua laki-laki bagian dari hidupnya siap. Memilih untuk membereskan mainan Reyvano yang berserakan diatas lantai.
Tidak sampai dua puluh menit. Devan dan Reyvano sudah keluar dengan pakaian rapi. Setelah mandi, pria itu memakaikan pakaian anaknya sendiri. Namun, untuk pemilihan baju mana yang mau dipakai. Reyvano mengambilnya dan memilih selera yang dia sukai.
Terlihat Devan berjalan dengan santai. Sedangkan anaknya sudah berlari lebih dulu mendekati ibunya.
"Bu, ainan obil-obilan na, nda ucah di timpan." Reyvano berlari mengambil mainan mobil-mobilan yang di belikan oleh Devan kemarin pagi.
"Kita mau berangkat sekarang, Nak. Repot bila membawa mainan." ucap Zizi memberikan pengertian.
"Api Ley au awa iga ada." jawab Reyvano mengambil tiga mobil-mobilan yang terlihat kecil tapi harganya sangat mahal. Devan adalah seorang Presdir dari perusahaan Atmaja group. Tentu saja akan memberikan barang terbaik untuk putranya pertamanya.
__ADS_1
Putra pertama? Entahlah! Devan sendiri juga tidak tahu, masih bisa memiliki anak lain atau tidaknya, karena wanita yang dia cintai adalah Zivanna istrinya saat ini. Lalu bila Zizi ingin berpisah darinya, bagaimana mungkin dia bisa punya anak sendirian tanpa ada yang mengandung.
"Satu saja, ya? Kalau tiga tetap repot." tawar ibu muda itu agar Rey hanya membawa satu buah permainan saja.
"Nda au ih. Ley au awa iga, Bu." mungkin karena permainan tersebut masih baru. Jadinya Reyvano merasa berat untuk meninggalkan begitu saja.
Devan yang melihat hal tersebut, hanya tersenyum kecil, sambil mendekati sang istri dan anaknya.
"Kakak tidak menyangka, kalau dirimu bisa menjadi ayah dan ibu untuk anak kita."
Gumam Devan penuh sesal.
"Ada apa?" pura-pura bertanya padahal sudah tahu apa yang terjadi.
"Rey ingin membawa mainanya." jawab Zizi singkat.
"Ayah, boeh tan awa iga?" Reyvano langsung meminta bantuan sang ayah yang tentunya akan memberi izin.
"Tentu saja boleh. Jangankan tiga, semuanya kalau Rey mau juga tidak apa-apa." Devan semakin menahan senyum, melihat Zizi mendelik kearahnya. Mungkin apabila tidak ada Reyvano, wanita itu sudah melemparkan permainan tersebut pada mukanya.
"Devan, jangan asal bicara! Membawa semua, bisa-bisa satu mobil." sentak Zizi tidak suka.
"Dua mobil juga tidak apa-apa. Ada sebelas mobil yang akan pulang bersama kita. Jadi tidak perlu khawatir." ucap Devan dengan santai. Tapi meskipun berkata seperti itu, dai berjongkok dihadapan putranya lalu bertanya.
"Sebelum kita bawa, ayah mau nannya dulu. Rey suka permainanya yang mana?"
"Nini, nini tama nini duga." tunjuk Reyvano pada tiga permainya yang tadi.
"Yasudah, berarti bawa permainannya yang ini saja. Ayo kita berangkat sekarang." Devan kembali berdiri sambil mengelus kepala si buah hati penuh rasa sayang.
"Ayo, sayang!" ucap Devan tergelak karena rasanya dia senang sekali melihat Zizi marah kepadanya. Gara-gara dia memangil sayang.
"Tapi aku ingin berpamitan pada Bibi Emi dan Bibi Husna dulu." seru Zizi mengikuti dari belakang. Sesuai perintah Devan dia tidak membawa barang apapun kecuali tas kecil yang berisi perlengkapan Rey. Takutnya dibawa perjalanan jauh, anaknya akan masuk angin.
"Tidak perlu, Jimi sudah berpamitan pada mereka. Lagian saat ini mereka sedang pergi melihat rumah yang baru."
"Masuklah!" lanjutnya menyuruh Zizi masuk kedalam mobil. Tangan satunya lagi menuntun si kecil Reyvano.
"Rumah baru? Apa kalian mengusirnya dari sini?" Zizi yang tidak tahu apa-apa langsung menatap penuh selidik.
"Bukan mengusirnya, tapi mereka dibelikan rumah yang baru oleh jimi." jawab Devan sambil menggendong Rey masuk kedalam mobil.
"Jimi, aku benar kan, kalau mereka pergi melihat rumah barunya?" meminta persetujuan dari Jimi yang hanya duduk diam di sebelah bangku kemudi.
"Benar sekali Nona. Mereka sedang melihat rumah barunya. Sebagai hadiah sudah merawat Anda dan tuan muda kecil selama ini." jawab Jimi apa adanya. Bibi Emi dan Bibi Husna memang diberikan hadiah oleh Sekertaris Jimi. Tapi atas perintah Devan.
BERSAMBUNG ...
.
.
.
.
Mau promo novel sahabat Mak author lagi, ya😊
Jangan lupa buat mamfir dan membaringkan dukungannya.
__ADS_1