
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Cup!
"Ayo sarapan!" ajak Devan memberi kecupan setelah mengeringkan rambut sang istri dan mengecup keningnya. Acara mandi bersama yang berlanjut menjadi pergumulan panas antara mereka berdua baru saja selesai sepuluh menit lalu.
Saat ini Zivanna sudah di pakaikan baju dan lagi duduk berselonjor di atas ranjang. Wanita itu mengeluh kakinya yang lemas gara-gara berhubungan di dalam kamar mandi. Bagaimana dia tidak merasa keram dan lelah. Devan mendudukkan dirinya di atas meja kecil lalu disandarkan pada tembok kamar mandi.
Jika hanya sebentar, mungkin tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi ini lebih dari satu jam. Setelah pelepasan, Devan kembali lagi berpacu dan begitulah seterusnya sampai beberapa kali dia menyembulkan si bibit lele pada kolam kecil sang istri yang dari tadi malam di obrak-abrik oleh tabung lelenya yang nakal.
"Ini bukan sarapan lagi, tapi makan siang," sungut Zivanna memanyunkan bibirnya ke depan.
"Ha... ha... maafkan Kakak sayang." tertawa karena wajar saja Zizi marah. Saat Devan sudah pelepasan beberapa kali. Zivanna meminta untuk menyudahinya sebab dia lelah dan lapar. Akan tetapi sensasi di dalam kamar mandi ternyata membuat Devan ingin terus mengulanginya.
"Setelah ini tidak lagi! Tapi... entah jika nanti malam," masih tersenyum sambil mengisi piring dengan nasi beserta lauk pauknya. Lalu dia pun mulai menyuapi istrinya.
"Kakak juga makan," kata Zizi karena Devan hanya menyuapinya saja.
"Iya!" Devan menjawab singkat. Sambil menyuapi sang istri. Dia juga ikut makan. Mereka berbagi makanan dari piring dan sendok yang sama.
Selama menghabiskan makanannya mereka tidak banyak bicara seperti mana biasanya. Setelah makanan tersebut habis, Devan memberikan air putih dan Vitamin buat istrinya. Tidak lucu bukan bila Zivanna sampai sakit karena kelelahan.
"Terima kasih!" Zizi mengembalikan gelas air yang tersisa sedikit lagi.
Cup!
"Sama-sama!" kembali mengecup sang istri.
Ah Devan ini ternyata benar-benar meresahkan. Sangat romantis ketika bersama Zivanna. Wajar saja jika dulu wanita tersebut bisa terjerat cinta kakak tirinya sendiri.
"Tunggu di sini ya, Kakak mau menemui Felix, sebentar saja." ucapnya lagi seraya menyimpan gelas keatas nampan.
"Heum!" Zivanna menganggukan kepala, dengan tersenyum bahagia.
Lalu tidak banyak bicara. Devan pergi ke luar sambil membawa nampan bekas mereka sarapan, karena tidak mungkin ia membiarkan para pengawal masuk kedalam kamarnya.
Kleeeek!
__ADS_1
"Selamat pagi Tuan Muda," sapa Felix yang terdengar seperti mengejek tuan mudanya. Padahal dia benar-benar lagi berkata serius. Semua itu terjadi karena jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Jika Devan ingin marah. Maka salahkanlah jam nya. Kenapa dia berputar begitu cepat.
Tadi saat para pelayan mengantarkan makanan untuk Devan. Felix sedang menerima telepon dari Sekertaris Jimi. Jadi setelah tadi malam. Dia belum ada bertemu tuan mudanya.
"Iya, selamat pagi juga." jawab Devan duduk di kursi samping pengawal yang berjaga di luar ruangan tempat ia dan istrinya.
"Hari ini batalkan persiapan buat jalan-jalan. Besok pagi saja, karena nona muda kalian masih lelah." kata Devan yang mengetahui jika Felix pasti sudah menyiapkan pengamanan.
"Sudah Saya batalkan sejak jam sembilan tadi Tuan Muda."
"Ck, lama-lama kau dan Sekertaris Jimi akan aku nikahkan, karena setelah aku perhatikan, kalian berdua sangat cocok," decak Devan yang terkadang ada jengengkelnya pada kesetiaan Sekertaris Jimi dan Felix.
Mereka berdua seringkali tidak mendengar perintah Devan karena terlalu merasa khawatir pada keselamatannya.
"Maaf Tuan Muda." hanya itulah kata yang Felix katakan. Padahal dia dan Sekertaris Jimi mau di jodohkan.
"Ya, ya! Tidak perlu minta maaf. Berhubung hari ini aku hanya akan berada di dalam kamar, maka kalian bersenang-senanglah." ucap Devan sudah berdiri karena dia ingin kembali ke kamar lagi.
"Baik Tuan Muda," Felix dan para pengawal Atmaja yang lain menundukkan kepalanya sebagai hormat mereka.
"Sayang!" pangil Devan berjalan mendekati ranjang.
"Iya, apa sudah selesai?" seru Zivanna menyimpan kembali ponselnya pada nakas samping tempat tidur.
"Sudah, Kakak hanya menyuruh Felix membatalkan rencana kita buat jalan-jalan," pria tampan itu sudah duduk di samping istrinya.
"Apa! Dibatalkan? Kenapa? Bukannya kakak sudah berjanji akan membawaku ke sana?"
"Selain waktunya sudah siang, kamu juga harus istirahat. Kakak tidak mau kamu sampai sakit gara-gara bulan madu kita," tangan Devan terangkat untuk menyelipkan anak rambut istrinya pada telinga.
"Bulan madu?" bertanya seperti baru saja mendengar lelucon. Bulan madu! Agh, apa pantas Devan menyebut mereka lagi bulan madu.
"Iya, bulan madu. Anggap saja kita lagi berbulan madu, karena kita memang belum melakukannya."
"Tapi kan, kit---"
Cup!
"Sudahlah jangan di bahas lagi. Meskipun bukan bulan madu, tapi kita selalu melakukan hubungan suami-istri." sela Devan telah menyambar bibir istrinya yang masih terlihat tebal.
__ADS_1
"Itukan kemaun Kakak," jawab Zivanna seraya menutup mulutnya, karena takut kembali di sambar yang berakhir mereka berhubungan lagi.
"Iya, tidak apa-apa. Anggap saja hanya Kakak yang menginginkannya." ucap Devan mengalah. Berhenti sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. "Sayang, Kakak ingin segera tumbuh Devan junior lagi di sini." ungkap Devan menyentuh perut datar sang istri.
"Kehamilan mu yang sekarang, Kakak ingin menjaganya. Akan Kakak penuhi apapun yang kamu inginkan." saat menyebut kata kehamilan yang sekarang. Dada Devan langsung terasa sesak, karena mengigat saat perlakuannya yang pernah tidak mengakui kehadiran Reyvano.
Cup!
"Jangan mengigat masa lalu. Sekarang mari kita perbaiki dari awal lagi." kali ini yang mencium bukan Devan. Tapi Zivanna, sebab dia tahu jika suaminya kembali merasa bersalah.
"Zizi!" seru Devan menarik wanita itu kedalam pelukannya. "Terima kasih! Tolong maafkan Kakak, Kakak sangat menyesal," papar Devan mengecup pucuk kepala istrinya berulang kali.
"Sudah aku maafkan! Karena ketika aku mengambil keputusan untuk kembali bersama. Maka saat itu aku melupakan semua kenangan buruk diantara kita." Zivanna membalas pelukan laki-laki yang pernah dia benci dan cintai sampai saat ini.
"Masih banyak kenangan indah diantara kita saat masih berpacaran. Jadi cukup ingat itu saja. Agar Kakak tidak merasa bersalah, huem!" Zivanna merenggangkan pelukannya.
Cup, Cup, Muuah!
"Benar sekali, tapi terkadang Kakak masih di hantui rasa bersalah. Ayo kita ke balkon. Di sana lebih terasa indah karena banyak angin meskipun sudah jam segini." ajak Devan yang langsung mengendong Zivanna kearah balkon.
"Betulkan, disini sama indahnya dengan di kamar," Devan membawa istrinya duduk pada sofa yang sama.
"Huem, sangat indah. Apalagi kita seperti mengulang kembali saat jalan-jalan ke pantai dekat rumah nenek." jawab Zizi memeluk tangan Devan. Saat ini dia berbaring pada separuh tubuh suaminya, karena posisi Devan duduk. Sedangkan dia bersandar pada dada sang suami.
"Zi... sayang,"
"Eum! Apa?"
"Jika sepulang dari sini, dirimu benar-benar hamil. Ayah ingin Rey tinggal bersama mereka."
"Tidak masalah! Asalkan putra kita mau." jawab Zizi yang menyadari jika ia juga tidak bisa menemani ibunya.
Dia dan Devan sama-sama anak tunggal. Jadi apa salahnya bila Reyvano tinggal bersama orang tua mereka. Anngap saja putranya mengantikan ia da suaminya.
"Syhuklah bila kamu tidak keberatan. Lagian setiap beberapa hari sekali kita juga akan ke rumah ayah." imbuh Devan merasa lega.
Hari kedua berada di pulau tempat liburan. Mereka hanya diam di dalam tempat menginap. Akan tetapi meskipun begitu mereka masih bisa menikmati keindahan pantai. Walaupun hanya dari balkon.
*BERSAMBUNG...😴*
__ADS_1