Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Cara untuk bertahan hidup.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Bagaimana! Apa sudah lebih baik?" Kevin melihat kearah Zizi yang masih merentangkan kedua tangannya seperti burung akan terbang. Tadi setelah sedikit berbagi cerita kehidupan pribadi nya sebelum di nikahi oleh sang kakak tiri. Kevin mengajarkan Zizi agar berteriak sekeras-kerasnya untuk mengurangi beban dalam hatinya.


"Aku sudah merasa lebih baik terimakasih, Kev," ucap gadis itu sedikit tersenyum. Lalu dia kembali lagi berteriak seperti tadi. Namun, berteriak dengan kata-kata berbeda.


"Kakak bila kakak tidak mencintai ku lagi, maka aku akan pergi. Aku akan meninggalkan mu. Apa kakak dengar, aku akan pergi dari hidup mu untuk selama-lamanya!' teriak Zizi dengan air mata yang kembali menetes. Entah benar atau tidak apa yang dia katakan. Tapi tetap saja dia merasa sakit hati sendiri mendengar ucapan nya.


"Hick... hick... hick! Dia jahat padaku, Kev. Bahkan kakak membawa kekasihnya tinggal satu atap dengan ku." ujar gadis itu duduk bersimpuh di atas pasir di iringi air matanya. Istri mana yang sangup di perlakukan seperti dirinya. Apalagi sang suami hanya menjadikan dia seorang pembantu.


"Zizi sudahlah jangan menangis lagi. Pasti Tuhan punya rencana yang indah untuk mu." seru Kevin langsung memberanikan dirinya untuk memeluk tubuh wanita itu.


"Kamu jangan khawatir ada aku bersamamu. Aku berjanji akan membantu sebisa ku." katanya lagi sembari menghapus air mata Zizi.


"Percayalah aku akan membantu mu, tapi kamu jangan seperti ini."


"Kevin terimakasih kamu sudah mau menjadi sahabat ku. A--ak--aku tidak memiliki saudara di kota ini, Kev. Aku sendirian tidak memiliki tempat untuk mengadu." ucap Zizi masih tersedu-sedu.


"Kamu tidak sendiri, ada aku bersamamu. Walaupun tidak bisa menjadi kekasih mu, tapi kita masih bisa berteman kan?"


"Tentu, tentu kita masih bisa berteman. Terimakasih kamu masih mau bersahabat dengan gadis sepertiku." jawab Zizi dengan sangat tulus.


"Memangnya kamu gadis seperti apa? Aku yakin suatu saat nanti suami ataupun kakak mu itu akan menyesal telah menyia-nyiakan kamu, Zi." ujar Kevin menatap mata Zizi penuh cinta.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, kakak tidak akan pernah menyesal apalagi dia sudah memiliki kekasih." jawab nya dengan sendu. Entah langkah apa yang harus dia lakukan. Memikirkan nasip dia dan bayi dalam kandungannya.


Memilih untuk pergi dia tidak tau akan pergi ke mana. Mau tetap bertahan itu tidak akan mungkin. Pergi tidak memiliki uang pun sama dengan berbohong. Itulah yang sedang Zizi pertimbangkan. Dia pernah merasakan hidup susah ketika di tinggal oleh ayah kandungnya, Jadi sedikit banyaknya Zizi masih ingat bagaimana perjuangan Ibu Ellena agar mereka bisa bertahan hidup.


"Zi!" pangil Kevin melihat gadis yang berada di sampingnya malah terdiam.


"Iya ada apa?"


"Kamu yang kenapa?" kevin balik bertanya. Walaupun dia sudah tau apa yang sedang Zizi pikirkan.


"Aku... hanya bingung untuk memulai semuanya Kev, bila kamu berada di posisi ku, apa yang akan kamu lakukan?" ujar Zizi meminta pendapat agar dia tidak salah dalam mengambil keputusan.


"Jika aku berada di posisi mu, aku akan bertahan walaupun menyakitkan. Setidaknya saat aku memilih menyerah aku tidak menyesal karena pernah memperjuangkan cinta ku."


"Jadi... menurut mu, aku harus bertahan!" tanya Zizi merasa kurang yakin.


"Hm! Setidaknya kamu harus mencoba. Angap saja demi anak kalian." terang Kevin yang tidak mau mengambil kesempatan untuk mendapatkan gadis yang dia sukai.


Begitu mendengar ucapan Kevin, Zizi terdiam sambil berpikir karena apa yang dikatakan oleh lelaki itu semuanya benar. Apalagi sekarang dia tidak boleh bekerja terlalu lelah yang tidak gadis itu ceritakan kepada Kevin. Setelah di pikir-pikir Zizi pun akan berusaha untuk memperjuang pernikahannya.


"Baiklah aku akan mencoba nya, Kev. Sekali lagi terimakasih untuk semuanya. Kamu jadi tidak masuk kuliah karena aku."


"Tidak masalah, anggap saja kita memang sedang jalan-jalan." pemuda itu sedikit tersenyum memikirkan niat nya malam minggu ini yang akan mengajak gadis itu jalan-jalan untuk menyampaikan perasaannya. Namun, kenyataan pahit sudah terjadi hari ini. Tidak hanya sudah menikah tapi malah sang pujaan hati sudah mengandung anak dari suaminya.


"O'ya ayo kita pulang, aku ingin langsung masuk kerja saja." ajak Zizi melihat jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Asik bercerita membuat keduanya tidak sadar kalau sudah berada di pantai hampir setengah hari.


Tanpa Zizi sadari kalau Devan sudah menyuru orang untuk mencarinya. Entah apa yang akan suaminya lakukan bila mengetahui kalau dia pergi ke pantai dengan laki-laki lain.

__ADS_1


"Jimi bagaimana apa belum ada kabar di mana gadis kecil itu berada?" Devan langsung bertanya begitu melihat Jimi masuk ke ruangan nya.


"Belum Tuan! Kita belum tau apa saja yang Nona lakukan selama tinggal di kota ini. Jadi hal itulah yang membuat kita susah menemukan nya." jelas sekertaris muda itu sambil memberikan dokumen di tangannya.


"Mulai besok suruh dua orang untuk mengawasi gadis itu. Kemana saja dia pergi mereka harus tau." tegas Devan yang tidak bisa di bantah lagi. Walaupun sekertaris Jimi tidak setuju apa yang bos nya lakukan pada Zizi tapi dia tidak bisa melakukan apapun.


"Baik Tuan muda, mulai besok pagi saya akan mengutuskan orang untuk mengikuti kemana saja Nona Zizi pergi." hanya kata baiklah yang bisa di ucap oleh Jimi, meskipun di dalam hatinya sangat prihatin melihat perbuatan Devan pada istrinya.


Sehingga tidak terasa malam hari pun sudah tiba. Zizi sudah dalam perjalanan menuju ke rumah mewah tapi bagai neraka bagi dirinya. Tadi setelah dari pantai Zizi minta di antarkan ke Kafe karena dia ingin langsung bekerja agar bisa mendapatkan uang. Sedangkan besok pagi waktunya dia membersihkan apartemen milik dosen nya. Jadi dia tidak akan kerja paruh waktu


"Selamat malam Nona?" seorang penjaga langsung membukakan pintu begitu melihat Zizi sudah datang.


"Selamat malam juga paman terimakasih. Apa kakak ada di rumah?"


"Ada Nona, tuan sudah pulang dari tadi sore." jawab penjaga itu yang sudah kembali menutup pintunya.


"Baiklah kalau begitu Saya langsung masuk saja paman." kata Zizi tidak seperti biasanya dia akan menunggu di pos sampai tengah malam. Sekarang percuma saja dia diam di sana karena Devan sudah mengetahui nya.


"Nona sudah kembali?" sambut Bibi Marta dengan mimik wajah seperti orang takut.


"Sudah Bi, Bibi Marta kenapa seperti habis melihat setan?" tanya gadis itu ikut berjalan masuk.


"Nona... Tuan Devan sedang menunggu Nona di dalam kamar. Berhati-hatilah sepertinya dia sedang marah sedari pulang dari perusahaan tadi sore." Bibi Marta tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir terhadap gadis yang seumuran dengan putrinya itu.


"Bibi tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Kalau begitu aku permisi ke kamar dulu ya, Bi," pamit Zizi berjalan menaiki tangga menuju lantai atas tempat kamarnya berada. Walaupun di rumah itu ada lift tapi Zivanna di larang menggunakan nya.


Malam ini meskipun sudah mendengar Devan sedang menunggunya di dalam kamar. Sedikit pun Zizi tidak takut apapun yang akan Devan lakukan padanya. Dia sudah bertekad tidak akan menjadi wanita penakut dan gampang menyerah. Hanya itulah satu-satunya cara agar dia bisa bertahan hidup di kota yang baru dia tempati beberapa bulan ini.

__ADS_1


Ceklek.....


Zizi membuka pintu kamarnya dengan pelan.


__ADS_2