Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Istri dan anakku.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Dooooor . .


Dooooor ...


"Aaaghkk!"


Timah panas yang di tembakan oleh Sekertaris Jimi langsung mengenai Bara tepat pada dadanya.


"Jimi!" ucap Devan melihat kearah belakangnya.


"Tuan muda, maaf Saya terlambat." seru Jimi memapah Devan menjauh dari tubuh Bara. Lelaki itu sudah terkapar tidak berdaya setelah kena tembakan dari Sekertaris Jimi.


"Aku tidak apa-apa. Dimana Istri dan anakku?" meskipun dia merasakan sakit bekas tusukan Bara tadi. Devan tidak perduli, yang dia khawatirkan adalah Zizi dan Reyvano putranya.


"Nona dan Tuan muda kecil sudah tiba dirumah. Tadi setelah mengantar mereka masuk kedalam. Saya langsung menyusul kesini." ucap Jimi sesuai perintah dari Devan.


"Hem baguslah! Apa kamu sudah menghubungi pangacara kita?"


"Sudah Tuan Muda. Dia telah berada di kantor polisi untuk menyelesaikan semuanya. Ayo kita ke mobil sekarang, luka Anda sangat parah." ajak Sekertaris Jimi karena sejak tadi Devan hanya berdiri melihat begitu banyaknya korban gara-gara penyerangan tersebut.


"Nanti dulu! Cari Andes dan Felix. Mereka berdua benar-benar melindungiku. Andes terkena tembakan. Cepat periksa bagaimana keadaannya." perintah Devan merasa berhutang budi pada pengawalnya. Tadi saat Devan di tembak secara tiba-tiba. Andes yang menahan peluru tersebut. Kalau tidak, mungkin Devan sudah mati.


"Maaf Tuan muda. Sebelum Saya ke sini. Saya melihat Felix menutup muka Andes mengunakan jas nya. Mereka sudah dibawa ke dekat mobil para pengawal kita." Sekertaris Jimi menunduk saat menyampaikan berita tersebut.


"Apa maksudmu?" Devan melihat sekertarisnya dengan sorot mata tajam.


"Andes gugur Tuan." terdengar saat mengucapkannya suara Jimi begitu berat. Andes dan Felix adalah pengawal terbaik Atmaja. Tidak disangka demi melindungi nyawa Tuan mudanya. Dia rela terkena peluru.


"Huh! Itulah yang aku khawatirkan dari tadi. Ayo kita pulang sekarang. Setelah itu kamu urus semuanya." Devan berjalan lebih dulu menuju mobil yang dia naiki tadi. Di ikuti Sekertaris Jimi dari belakangnya.


Braaak ...


Sekertaris Jimi langsung menutup pintu mobil tersebut dan menyuruh sopir membawa mereka pergi dari sana. Saat ini dia duduk di belakang karena harus membantu Devan menutup luka dibahunya. Agar darahnya bisa berhenti.

__ADS_1


"Cepatlah membawa mobilnya! Luka Tuan muda ternyata sangat parah." ucap Jimi merasa khawatir. Meskipun Devan baik-baik saja.


"Jangan terburu-buru! Aku tidak apa-apa." cegah Devan membuka matanya. Tadi dia memejamkan mata karena menahan sakit saat Jimi membalut luka tersebut.


"Tapi lukanya sangat parah, Tuan."


'Aku tahu, tapi ini tidak terlalu sakit. Kita ke rumah Dokter Kaivan lebih dulu. Jangan langsung kembali ke rumah. Aku tidak ingin, istri dan anakku melihat keadaanku seperti ini." imbuh Devan menyenderkan kepalanya yang terasa pusing. Mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan darah segar.


"Jim, minta air mineral. Aku haus sekali."


"Ini Tuan Muda." Jimi memberikan botol air mineral yang sudah dibuka olehnya.


"Lebih baik kita langsung kerumah sakit saja, Tuan. Sepertinya Anda perlu dirawat." ujar Sekertaris Jimi menerima kembali botol tersebut.


"Tidak perlu. Cukup jahit lukanya saja, setelah itu kita kembali kerumah. Aku takut Rey mencari ku. Apa tadi dia bangun saat dalam perjalanan?" tanya Devan baru ingat kalau tadi putranya sedang tidur.


"Iya, Tuan Rey terbangun karena mendengar ibunya menangis."


"Ibunya menangis? Kenapa?"


"Nona muda tidak ingin kami meninggalkan Anda hanya bersama dua orang pengawal."Jimi menceritakan seperti apa yang terjadi.


"Tidak! Saya ingin tahu seperti apa reaksinya."


"Kamu ini!" seru Devan seakan sedang marah. Padahal di dalam hatinya lagi berbunga-bunga. Setidaknya dia tahu kalau Zizi masih mengkhawatirkan dia. Itu saja sudah cukup. Untuk kedepannya nanti. Devan akan berusaha buat mendapatkan kepercayaan Zizi kembali.


"Kita ke rumah sakit, atau kerumah Dokter Kai, Tuan muda?" tanya si sopir begitu mobil tersebut memasuki ibu kota Y.


"Kerumah Dokter Kai saja. Setelah itu kita langsung pulang." jawab Devan sudah tidak sabar ingin bertemu Istri dan anaknya.


"Baiklah!" menjawab singkat karena sopir itu sama seperti Devan dan Sekertaris Jimi. Irit bicara.


Tiiin ...


Tiiin ...


Si sopir membunyikan klakson mobil begitu mereka sudah tiba di pelataran rumah Dokter Kaivan.


"Ck, tidak perlu membunyikan klakson. Aku sudah menunggu dari tadi." Dokter Kaivan berdecak sambil membuka pintu mobil buat Devan.

__ADS_1


"Kenapa menatap ku seperti itu?" Devan balas menatap tajam sahabatnya itu.


"Huh! Tidak ada. Sudah ayo masuk! Ceritakan saja didalam." kata dokter muda itu berjalan masuk dan langsung menuju ke ruang pemeriksaan yang ada di rumahnya.


"Kena tusuk lagi?" ucap Kaivan mengelengkan kepalanya.


Ini bukanlah kali pertama Dokter Kai menjahit luka Devan. Dua tahun lalu, gara-gara mendapat serangan mendadak dari Bara. Presdir Atmaja group itu juga pernah terluka. Hari ini pun juga di sebabkan oleh Bara.


"Apa yang terjadi?, Aku dengar dari Bibi Marta. Katanya kalian pergi ke kota F untuk melakukan perjalanan bisnis. Kenapa pulangnya bisa terluka seperti ini?" dokter muda itu mulai menjahit luka yang sudah disuntik obat bius.


"Ceritanya sangat panjang. Tapi angap saja, luka ini sebagai hadiah atas kembalinya Istriku." saat mengatakan kata istri, Devan tersenyum bahagia.


"Aaauuuh! Kamu ingin membunuhku, ya! Atau ingin aku pecat sekarang juga." teriaknya kesakitan karena Dokter Kaivan menusuk kulit yang tidak di bius.


"Kenapa tidak berhati-hati." hardik Devan yang masih marah.


"Tadi kamu bilang istri 'kan? Atau aku yang salah dengar?" dokter muda itu tidak perduli umpatan yang diucapkan Devan karena pokusnya hanya kata istri.


"Iya, Istriku. Aku sudah menemukannya."


"Benarkah? Bagaimana keadaannya?" Dokter Kaivan malah duduk tidak melanjutkan pekerjaannya.


"Kenapa berhenti? Cepat selesaikan tugas mu. Aku ingin cepat pulang untuk menemui mereka." bukanya menjawab tapi Devan malah membuat si dokter jadi penasaran.


"Aku tanya, bagaimana keadaannya? Zivanna kan, yang kamu maksud? Atau gadis lain lagi. Lalu mereka siapa?" meskipun kesal karena pertanyaannya tidak di jawab. Dokter Kaivan kembali menjahit bahu sahabatnya.


"Mereka yang ku maksud adalah Zizi dan anakku. Memangnya sejak kapan aku memiliki gadis lain, selain dirinya."


"Jadi bayi yang dikandungnya baik-baik saja? Oh ya Tuhan. Aku benar-benar tidak menyangka." mendengar Zizi dan anaknya baik-baik saja. Dokter Kaivan ikut bahagia.


"Eum, iya. Dia dan anak kami sehat semuanya. Sekarang mereka ada di rumah yang baru aku bangun."


"Oke, terima kasih sudah memberitahu ku. Besok pagi aku akan datang menjenguk mereka sekalian menganti perban luka mu." ucap Dokter Kai sambil membereskan peralatan kerja nya.


"Baiklah aku tunggu di rumah, terima kasih juga untuk jahitan ini. Sekarang aku belum bisa menceritakan apa saja yang sudah terjadi, karena Zizi pasti mengkhawatirkan aku." imbuh Devan langsung berdiri dari duduknya.


Lalu setelah berpamitan. Devan langsung saja mengajak Sekertaris Jimi meninggal kediaman Dokter Kainan.


*BERSAMBUNG* ...

__ADS_1


__ADS_2