
🌷🌷🌷🌷🌷
.
"Ayah!" Reyvano berteriak dengan suara riang, saat melihat ayahnya berjalan mendekati mereka yang baru saja keluar dari mobil.
"Devan! Aku tidak sedang bermimpi 'kan?"
Gumam Zivanna menangis dalam posisi masih mengendong putranya.
Melihat keadaan Devan baik-baik saja. Zizi tidak bisa membendung air mata bahagianya. Tubuh kurusnya sampai bergetar karena menangis.
"Ayah, tenapa lama?" tanya Rey saat Devan tinggal beberapa langkah mendekati mereka.
"Ayah baru saja menyelesaikan, pekerjaan yang sangat penting," jawab Devan sebelum dia memeluk erat istri dan anaknya.
"Sudah, jangan menagis! Semuanya baik-baik saja." kata Devan sambil mengelus punggung sang istri. Saat ini Reyvano berada di tengah-tengah pelukan mereka berdua, karena si tampan masih berada dalam gendongan ibunya.
"Maafkan Kakak, sudah membuat kalian khawatir." meskipun Zizi tidak berkata sepatah katapun. Tapi pria itu tahu kalau Zivanna menangis karena mengkhawatirkan keadaan dirinya.
"Ibu, danan dangis, Ayah dah puyang." Rey yang mengira ibunya menangis karena ingin bertemu ayahnya. Ikut menenangkannya. Padahal ayahnya baru saja selamat dari maut.
"Cup, cup! Jangan menangis lagi, dengar apa yang dikatakan anak kita." Devan tergelak karena merasa lucu membujuk Zivanna seperti anak kecil.
Zivanna yang benar-benar merasa bahagia. Tidak perduli meskipun di ejek oleh Devan dan putranya.
"Sudah, ya. Jangan menangis lagi. Melihat mu menangis, membuat kakak semakin merasa bersalah, karena sudah membuatmu kembali menjatuhkan air mata." ucap Devan melepaskan pelukan mereka. Lalu dia menyeka air mata wanita yang masih dia cintai meskipun mereka hendak berpisah.
"Eum... maaf sudah membuatmu khawatir. sudah cukup menangisnya. Kakak takut nanti kamu malah tidak bisa melihat, karena matamu sudah terlihat membengkak." ungkap Devan karena sambil menghapus air mata sang istri. Dia memperhatikan wajah dan mata Zivanna terlihat sembab..
"Kamu pergi kemana? Kenpa---"
"Suuuiiit! Nanti saja setelah tiba di rumah, Kakak akan menceritakannya. Tapi sekarang kita pulang dulu, ya. Anak kita bukanya sedang demam." ucap Devan sudah bergantian mengendong putranya.
Zivanna pun hanya mengangguk dan kembali lagi masuk kedalam mobil yang mengantar dia dan putranya.
"Ayah tenapa patek badu paman tawal?" Reyvano kembali bertanya. Namun, dengan pertanyaan yang berbeda. Saat ini mobil mereka sudah meninggalkan bandara kota X.
"Ayah meminjam jaket, punya Paman Felix. Apa anak Ayah sudah makan?" Devan bergantian menanyai putranya, karena saat pesawat meraka baru mendarat tadi. Devan sudah tahu dari Felix. Bahwa Zizi dan Reyvano menyusul dalam perjalanan ke bandara.
Namun, mereka belum memberitahu nona mudanya. Kalau tuan muda mereka sudah kembali dalam keadaan selamat.
"Beyum, Ley mau Ayah," jawab si tampan Reyvano, yang sudah menempel seperti biasanya. Apabila ada Devan, maka Rey selalu dipangkuan sang ayah.
Sangat jarang dia mau di pangkuan ibunya. Rey benar-benar sangat menempel pada Devan. Seakan-akan takut mereka dipisahkan lagi.
"Seharusnya Rey makan dulu, nanti malah bertambah sakit." nasehat Devan. Lalu dia menoleh kearah Zizi yang menyenderkan kepalanya pada pundak Devan. Entah sadar atau tidak, Zivanna melakukan hal tersebut. Mungkin karena dia baru merasakan ketenangan melihat suaminya kembali dalam keadaan selamat.
Dengan pelan dan ragu-ragu. Tangan kanan Devan yang berda di belakang tubuh Zivanna. Terangkat untuk membelai kepala sang istri.
"Apa kamu juga belum sarapan? Jika belum, kita berhenti di Restoran terdekat," tanyanya sambil membelai rambut panjang Zivanna.
"Aku sudah sarapan. Tadi ibu membawa makanannya ke kamar kami. Jika Rey memang belum, karena begitu bangun. Dia sudah menangis mencarimu." papar Zizi menegakkan kembali tubuhnya yang tadi sempat bersender pada pundak suaminya.
"Untung saja begitu tiba di bandara ternyata kalian benar-benar ada di sana. Jika tidak, entah bagaimana aku mendiamkan Rey." lanjutnya lagi, berhenti sejenak.
"Tadi ibu berkata kalau kamu lagi dalam pesawat hanya untuk membujuknya. Namun, siapa sangka Rey malah mengajak menjemput mu." terdengar helaan nafas Zizi begitu berat saat menceritakan perihal mereka yang menjemput ke bandara.
Padahal saat itu keberadaan Devan belum diketahui berada dimana. Apa yang dikatakan ibu Ellena, semata-mata hanya untuk mendiamkan sang cucu.
Cup!
"Ternyata Rey benar-benar anak Ayah, ya." ucap Devan memberikan ciuman pada sang putra. "Maaf, ya Nak. Ayah tidak bisa menepati janji padamu, karena ayah Rey jadi sakit." serunya merasa bersalah.
Semalaman Devan tidak bisa tidur sama sekali. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan buah hatinya, yang sudah pasti akan menanyakan kepulangannya.
__ADS_1
Gara-gara ponsel mereka tidak ada yang memiliki sinyal. Jadinya tidak bisa untuk menanyakan keadaan Reyvano.
"Felix, berapa menit lagi kita sampai? Jika masih lebih dari sepuluh menit, kita berhenti dulu di Restoran terdekat. Putraku belum sarapan." tanya Devan pada Felix yang duduk disebelah bangku kemudi.
Laki-laki itu memang sengaja menaiki mobil tuan mudanya. Untuk mengantikan Sekertaris Jimi yang saat ini masih berada di helikopter bersama Ayah Dion dan juga Dokter Kaivan.
Begitu tahu kalau Devan baik-baik saja. Mereka akhirnya menyusul kembali ke kota X.
"Sekitar lima menit lagi kita sudah sampai Tuan Muda." jawab Felix sambil menatap pada jam tangannya.
"Baiklah, kalau sebentar lagi kita tidak usah singah di Restoran. Lebih baik pulang ke rumah. Masakan ibu jauh lebih enak." puji Devan pada masakan wanita yang dulu sempat dia benci.
Namun, mendengar pujian Devan. Membuat Zivanna langsung menoleh kearahnya. Sedari tadi wanita itu hanya menjadi pendengar, saat Devan berbicara pada Reyvano.
"Kenapa melihat Kakak? Apa ada yang aneh? Jika aneh wajar juga, dari kemarin pagi. Kakak belum mandi." jujur Devan karena dia memang tidak ada mandi. Begitu pula dengan Felix dan ke sebelas orang pengawal yang ikut bersamanya.
"Eum, tidak ada yang aneh. Ayo turun, kita sudah sampai." ajak Zizi yang sebetulnya memiliki ribuan pertanyaan yang ingin ditanyakan.
Devan pun tidak berkata-kata lagi, karena mobil mereka sudah berhenti di kediaman keluarga Atmaja. Begitu mereka keluar. Ibu Ellena berlari keluar dari dalam rumah. Lalu tanpa ada rasa cangung beliau langsung memeluk Devan sambil menagis.
"Nak... Kamu akhirnya kembali! Kami semua sangat mengkhawatirkan mu," seru Ibu Ellena menangis tersedu-sedu. Sama seperti putrinya tadi yang juga menagis saat melihat Devan kembali dalam keadaan selamat.
"Tentu saja Devan akan kembali, Bu. Devan belum bisa membahagiakan ayah dan ibu. Dan--- Devan juga belum bisa menjadi ayah terbaik buat cucu, Ibu." Devan tersenyum membalas pelukan tersebut.
Dari ucapannya tadi. Devan memang tidak menyebutkan kalau dirinya belum bisa menjadi suami yang baik untuk Zivanna, karena mereka akan bercerai. Jadi bentuk kebahagiaan seperti apa yang bisa dia berikan.
"Tidak, Nak. Melihat keadaan kalian baik-baik saja. Itulah kebahagiaan kami. Ayo masuk, kamu pasti sangat lelah. Ibu akan memasak makanan kesukaanmu." kata Ibu Ellena seraya melepaskan pelukan mereka.
"Huem, tapi ibu tahu darimana kalau Devan kembali? Apa ayah sudah menghubungi ibu?" tanya Devan sambil berjalan masuk mengendong sang putra, dan di ikuti oleh Zizi dari belakangnya.
"Iya, tadi saat Istri dan anakmu baru berangkat selang beberapa menit. Ayah memberi kabar bahwa Felix menghubungi Sekertaris Jimi dan mengatakan kalau kalian semua baik-baik saja." tutur Ibu Ellena berhenti di ruang keluarga.
"Sayang, kamu asuh Rey dulu. Biarkan suamimu membersihkan dirinya. Ibu akan memasak sup dan menyiapkan makanan yang lain. Biar Rey dan ayahnya bisa makan." ucap Ibu Ellena pada putrinya yang hanya diam saja.
Diam seperti satu bulan terakhir. Namun, ada yang berbeda, yaitu meskipun diam. Wajah Zizi terlihat tidak memiliki beban apapun. Meskipun sekarang muka dan matanya masih sembab. Tapi Ibu Ellena tahu ada perubahan pada sang putri.
Kenapa sekarang malah seperti terbaik? Devan sangat dekat dengan ibu tiri sekaligus ibu mertuanya. Tapi Zivanna malah seperti masih cangung. Seakan-akan dia adalah menantu ibunya sendiri.
"Rey... sama ibu, ya. Biar ayah mandi dulu." kata Zizi mengulurkan tangannya siap untuk mengendong alih anaknya.
"Nda mau, mau tama Ayah." Reyvano mengelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan.
"Tapi---"
"Sudah, tidak apa-apa. Ayo ikut kekamar. Nanti selama Kakak mandi, kamu yang menjaganya." sela Devan yang tidak mau membuat putranya bersedih.
"Iya, betul sekali. Dari pada Rey kembali menangis. Tidak baik untuk kesehatannya. Anak kalian dari kemarin sore demam tinggi. Ibu takut tubuhnya akan panas lagi." kata Ibu Ellena pun menyetujui perkataan menantunya.
"Eum, baiklah! Ibu kalau begitu Zizi ke kamar Devan untuk menjaga Rey." pamitnya pada Ibu Ellena yang juga mau kedapur.
Setelah Zivanna setuju dengan ide nya. Barulah Devan berjalan kearah tangga menuju kamar mereka. Sampai ke lantai atas, Zizi tidak ada berbicara juga, karena Devan lagi menjawab semua pertanyaan anak mereka.
Reyvano menanyakan pekerjaan apa yang membuat ayahnya tidak bisa datang, dan masih banyak pertanyaan lainya lagi.
Ceklek!
Suara pintu yang Devan buka mengunakan satu tangannya, karena tangan satunya lagi. Tentu saja mengendong putra tampannya yang sangat manja bila ada sang ayah.
"Ley mau bobo tama Ayah," baru saja mereka masuk kedalam kamar. Reyvano sudah mengatakan jika dia ingin tidur bersama ayahnya.
Sehingga permintaannya. Membuat Devan dan Zizi saling pandang untuk beberapa detik.
"Iya, nanti Rey bobo sama Ayah. Tapi sekarang ayah mau mandi dulu, ya. Rey tunggu di sini sama ibu, huem." jawab Devan sambil menurunkan si tampan pada ranjang tempat tidur yang berukuran jumbo.
"Tapi nda boyeh lama," jawab Rey menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Cup!
"Anak pintar! Ayah tidak akan lama, hanya mandi." sebelum berdiri, Devan mengecup pipi putranya. Lalu dia melihat lagi kearah Zizi yang hanya berdiri seperti orang hilang.
Padahal, dulu saat mereka masih berstatus adik dan kakak. Setiap Devan kembali, ke rumah tersebut. Zivanna seringkali tertidur di sana karena menemani Devan menyelesaikan pekerjaannya melalui laptop.
Namun, hanya sekedar tertidur saja. Meskipun dulu Devan memiki dendam pada ibu Ellena. Tapi dia tidak mau merusak Zizi sebelum mereka menikah. Kecuali ciuman. Devan memang sering melakukannya karena dia sudah biasa berciuman dengan para gadis penghibur. Akan tetapi untuk memuaskan hasrat seksual nya. Devan belum pernah melakukannya.
"Tunggulah di atas ranjang bersama anak kita. Jangan seperti orang hilang." ucap Devan yang selalu menekankan kata anak kita. Padahal cukup sebut Reyvano saja.
"Iya!" jawab Zizi dengan tiga patah kata.
Tidak bicara lagi. Devan pun langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah terasa lengket. Kurang dari lima belas menit. Devan sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang terlihat semakin tampan.
Dia hanya mengunakan handuk yang melilit pada pinggangnya. Berjalan santai, seolah-olah tidak ada Zivanna di dalam kamarnya.
"Ayah--- cini!" pangil Rey begitu melihat ayahnya sudah keluar dari kamar mandi.
"Sebentar, Ayah pakai baju dulu," kata Devan akan membuka pintu lemari pakaiannya. Akan tetapi langsung terhenti saat mendengar putranya tiba-tiba menangis.
Sebagai ayah siaga. Tentu saja Devan mengesampingkan kepentingan dirinya. Secepat mungkin, dia berjalan kearah ranjang untuk mengetahui kenapa si tampan bisa menangis.
"Sayang, ada apa?" seru Zizi dan Devan secara bersamaan.
"Ley mau tama Ayah cekalang," jawabnya sambil menagis tersedu-sedu. Sehingga membuat Zizi menghela nafas panjang.
"Ayah mau pakai baju dulu, tunggulah sebentar lagi." kata Zivanna ingin mengendong putranya. Namun, Rey terus mengelengkan kepalanya tidak mau.
"Sudah, biarkan saja Kakak yang mengendong nya." Devan mendekati Zizi masih dalam keadaan memakai handuk seperti tadi. Sehingga membuat wanita itu menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Ayo, kalau mau digendong sama Ayah." Devan sudah siap menggendong buah hatinya. Akan tetapi dia dibuat kaget. Ternyata badan Rey yang tadinya sudah dingin. Sekarang sudah panas karena demamnya.
"Astaga! Zi... badan Rey kenapa panas sekali," seru Devan kaget.
"Benarkah? Kenapa perasaanku biasa-biasa saja." kata Zivanna yang sebetulnya mau membuang pandangan matanya. Malah mau tidak mau, harus menoleh kearah Devan. Lalu menempelkan punggung tangannya pada pelipis anak mereka.Sehingga membuat tangan mereka bersentuhan.
Deg!
Jantung keduanya berdegub cukup kencang.
"I--ini bukan Rey yang panas. Tapi tanganmu yang dingin karena habis mandi." Zivanna memutar bola matanya kesal, sudah dibuat kaget. Tapi ada untungnya, karena hal tersebut dia tidak terlalu malu.
"Oh, Kakak kira dia demam lagi," Devan tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tubuh Ayah dingin belum memakai pakaian. Tunggu sebentar saja, ya. Ayah tidak akan lama. Setelah itu, bila Rey mau digendong seharian juga tidak apa-apa." Devan duduk disisi Reyvano untuk menyakinkan bahwa dirinya hanya ingin memakai baju saja.
"Eum, iya. Tapi dah boyeh lama," Rey masih menagis, tapi dia menyetujui bila ayahnya ingin memakai pakaian.
"Tidak akan lama, Boy!" jawab Devan cepat-cepat berjalan kearah lemari. Lalu memakai didalam ruangan itu juga. Tanpa memikirkan Zizi yang menahan malu.
Setelah selesi memakai pakaiannya. Devan kembali menuju ranjang dan ikut duduk bersama istri beserta putranya.
"Mau Ayah gendong?" tanya Devan karena dia sudah selesai memakai pakaiannya. Hanya saja, rambutnya yang masih basah, dibiar acak-acakan.
Tapi meskipun rambut tidak disisir. Pria yang berumur tiga puluh tahun itu sama tampannya seperti anak muda lainya.
"Nda mau lagi, cini aja. Tapi main obin-obinan." pinta Rey menunjuk pada mainanya yang ada di lemari kaca.
"Baiklah, kita main mobil-mobilan saja. Tunggu sebentar, ya. Ayah mengambil mainanya dulu," Devan kembali lagi berdiri untuk mengambil apa yang diinginkan oleh putranya.
Lalu setelah itu kembali lagi duduk di atas ranjang. Sudah satu bulan ini, kamar Devan ada berbagai permainan putranya.
Hampir sepuluh menit kemudian. Melihat putranya bermain dengan diam. Zivanna pun menanyakan apa yang hendak dia tannya sedari tadi. "Apa yang terjadi? Kenapa pesawat yang kalian tumpangi bisa hilang dari radar? Dan kemana perginya kalian?" tanyanya menatap menunggu jawaban.
"Itu kejadiannya sangat cepat. Mungkin hanya hitungan detik. Pesawat yang membawa kami berusaha menghindari badai besar." jawab Devan mulai bercerita.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...