
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Apa, bercerai?" ulang Devan dengan suara bergetar. Dia tidak menyangka kalau Zivanna lebih baik memilih untuk mereka berpisah daripada kembali hidup bersamanya.
"Tapi ... Kakak tidak ingin kita berpisah, Zi. Demi Reyvano anak kita. Tolong beri aku kesempatan." malam ini Devan baru merasakan, bagaimana rasanya bila kita sudah tidak dibutuhkan lagi oleh seseorang.
Dulu saat Zizi masih berjuang untuk mempertahankan pernikahan mereka. Devan dengan mudahnya mengatakan akan menikah lagi. Dengan gampangnya dia memperlakukan Zivanna sebagai pembantu yang hanya disuruh bekerja tidak diberi gaji dan juga makan.
Pantas saja sekarang wanita itu mengatakan sudah hidup bahagia meskipun tanpa dirinya.
Mendengar ucapan Devan. Zizi menyugikan sedikit sudut bibirnya keatas dan berkata. "Semuanya sudah terjadi, aku juga tidak ingin memiliki kisah rumah tangga yang seperti ini. Perlu kamu ketahui. Meskipun aku paksakan untuk memulainya dari awal bersamamu demi Reyvano. Itu akan percuma saja, karena yang ada, aku bukanya bahagia, tapi semakin menderita. Aku rasa kamu tahu apa maksudku 'kan?" Zizi yang sudah memikirkan semuanya. Baru melihat Devan saja, hatinya sudah kembali sakit. Apalagi bila harus hidup bersama dalam waktu lama.
"Ehem! Ini sudah malam, aku akan pulang kehotel. Pikirkanlah lagi, jangan terburu-buru. Kesalahan kakak memang tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi Bila masih ada kesempatan, tolong beri kakak kesempatan. Bukan untukku, tapi demi Reyvano. Meskipun aku tahu, kamu bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuknya. Tetap saja, anak kita membutuhkan sosok seorang ayahnya." ucap Devan yang tidak ingin membahas perceraian untuk saat ini.
Meskipun dia merasa tidak baik-baik saja setelah mendapat kenyataan jika Zivanna sudah tidak membutuhkannya. Padahal dari jauh-jauh hari Devan merancang bila sudah menemukan Zizi. Dia akan membawa gadis itu pindah ke rumah baru untuk memulai semuanya dari awal. Namun, kenyataan tak seindah impiannya.
Tidak menunggu jawaban dari Zizi. Pria tersebut berdiri, lalu berjalan menuju kamar, untuk melihat putranya yang sedang tidur.
Cup, cup, cup ... Muuaah!"
"Ayah pulang dulu. Besok pagi setelah urusan pekerjaannya selesai. Ayah akan datang ke sini lagi. Apapun yang terjadi untuk kedepannya nanti. Ayah akan selalu berada di sisimu." Devan mengelus pipi sang putra yang tidur dengan nyenyak. Mau tidak mau untuk saat ini dia harus mengalah, karena masih untung Zizi mengizinkan dia menemui anaknya.
Setelah mencium dan memperbaiki selimut sang buah hati. Devan langsung keluar dari sana. Saat tiba didepan pintu dia pun berpapasan dengan Zizi yang hendak masuk kekamar itu juga.
"Kakak pulang sekarang! Jangan pernah berniat untuk kabur dari sini. Tempat ini sudah dijaga dengan ketat. Besok siang, setelah menemui Tuan Fincen. Kakak akan kesini lagi." peringat Devan sambil menarik nafas dalam-dalam setelah melihat Zizi benar-benar cuek seperti mana yang pernah dia lakukan dulu.
"Pulanglah! Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan kemana-mana. Dulu aku pergi bukan karena takut padamu. Tapi karena aku ingin melindungi nyawa anak yang aku kandungan." Tidak ada sebutan Kakak seperti dulu lagi. Sekarang Zivanna hanya menyebutkan aku, kamu. Mereka sudah seperti dua orang asing. Namun, Devan memaklumi semua itu karena perbuatannya sendiri.
Tidak menjawab Devan hanya mengangguk kecil. Setelah itu dia pun berjalan menuju pintu keluar diikuti oleh Zizi dari belakangnya. Namun, tidak ada aba-aba Devan berbalik arah kebelakangnya dan langsung memeluk Zizi dengan sangat erat. Tidak perduli seberapa kuat wanita itu berontak minta dilepaskan.
"Lepas! Apa yang kamu lakukan?" seru Zivanna berusaha melepaskan pelukan dari tersebut.
"Diamlah! Hanya sebentar saja, biarkan seperti ini. Kakak sangat merindukanmu." mohon Devan memeluk sambil memejamkan matanya. Untuk melepaskan semua rasa rindunya selama ini.
Akhirnya Zizi pun membiarkan tubuhnya dipeluk. Akan tetapi dia hanya berdiri tidak membalas pelukan itu. Dalam diamnya, Zizi bisa merasakan kalau kepalanya sudah dicium beberapa kali ole Devan. Namun, tetap saja tidak membuat Zizi tersentuh, lalu membalas pelukan tersebut. Meskipun jantung mereka sama-sama berdegub dengan sangat kencang.
Terakhir kali mereka berpelukan adalah saat istirahat di hotel sebelum menghadiri acara penting, hari pertama Zizi berada di kota Y. Malam nya setelah pulang dari acara tersebut, Devan sudah mulai menyiksa istrinya.
"Maafkan Kakak, Zivanna." ucap Devan sebelum melepaskan pelukannya. Setelah itu barulah dia benar-benar pergi dari sana. Meskipun langkah kakinya begitu berat untuk meninggalkan tempat itu.
Zivanna yang melihat Devan pergi, langsung mendekati pintu dan menguncinya. Meskipun dia tahu pasti para tetangganya sangat mengkhawatirkan keadaan dia dan putranya. Akan tetapi untuk saat ini Zizi hanya ingin sendirian.
"Jangan menangis Zivanna! Kamu harus ingat seperti apa perlakukannya pada dirimu. Dia tidak tulus padamu, dia bersikap baik hanya karena Reyvano bukan karena mencintaimu." ucap Zizi berusaha menampik semua yang dikatakan oleh Devan.
Sementara itu di dalam perjalanan pulang menuju kehotel tempat mereka menginap. Devan hanya diam sambil memikirkan langkah apa yang akan diambilnya bila Zizi benar-benar tidak merubah keputusan untuk berpisah.
__ADS_1
"Jimi ... tadi aku mendengar Rey dan Zizi menyebutkan nama Kevin. Apakah Kevin yang mereka maksud adalah adiknya Arga. Jika benar itu dia, bagaimana mungkin kalian tidak bisa mengetahuinya. Cari tahu bagaimana Zivanna bisa sampai ketempat ini. Apakah benar Kevin yang sudah membawanya." ucap Devan setelah mengigat hal tersebut.
"Benar tuan muda. Tuan Kevin yang membawa Nona pindah ke daerah sini. Tapi Nona pindah kesini dua bulan sebelum melahirkan Tuan muda Rey. Jadi belum bisa disimpulkan yang membawa Nona ke kota F, Tuan muda Kevin atau bukan." terang Sekertaris Jimi karena tadi selama Devan berada didalam rumah. Mereka sudah mencari tahu dengan cara mengintrogasi para tetangga Zivanna untuk mendapatkan petunjuk.
"Tapi Anda tidak perlu khawatir, para pengawal sedang menyelidikinya. Besok, sebelum jam makan siang. Saya berjanji sudah mendapatkan laporan tersebut dan menyerahkannya pada Tuan muda." Sekertaris Jimi berkata dengan sangat yakin karena sebelum dia perintahkan saja. Para pengawal setia Atmaja group sudah mencari tahu lebih dulu.
"Bagus! Katakan pada semuanya. Jangan sampai ayah tahu kalau kita sudah menemukan Zivanna." perintah Devan yang berniat ingin memberikan kejutan pada ibu tirinya.
"Dulu, aku berjanji pada ibu. Akan membawa putrinya kembali. Maka sekarang aku ingin menepati janji tersebut. Bagaimanapun caranya nanti. Aku tetap akan membawa Zivanna pulang ke kota Y bersama kita. Lalu setelah tiba di sana, baru kita pulang ke rumah ayah."
Semenjak mengetahui kebenaran tentang hubungan orang tuanya. Devan tidak pernah menyebut nama ibu Ellena. Dia selalu menyebut ibu saja. Sebab semenjak dia terpuruk ditingal oleh Zizi. Ibu tiri atau mertuanya itulah yang selalu mensuport agar Devan bisa bertahan dan tabah.
Mungkin jika itu orang lain. Akan langsung mengutuk atau bisa jadi akan membunuh Devan karena telah menyakiti putri semata wayangnya. Akan tetapi tidak dengan ibu Ellena. Wanita itu tidak menyalahkan siapa-siapa meskipun dia kecewa atas perbuatan Devan pada anaknya.
Satu hal yang Devan pikirkan sekarang. Meskipun hubungan dia dan Zivanna harus berakhir, mereka berdua masih bisa menjadi saudara seperti mana yang seharusnya. Walaupun berat dia harus bisa menerima konsekuensi atas perbuatannya.
"Baik Tuan muda! Anda tenang saja, Saya akan mengurus semuanya agar bisa berjalan seperti apa yang Anda inginkan." jawab Sekertaris Jimi yang selalu membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Asalkan tidak menyangkut perasaan Nona mudanya, karena jika itu dia tidak bisa mewujudkannya.
Setelah kurang lebih dua puluh menit. Mobil Mercedes Benz tersebut sudah tiba didepan lobby hotel. Sekertaris Jimi dengan sigap turun lebih dulu untuk membukakan pintu buat sang bos.
"Silahkan Tuan muda!" ucapannya mempersilahkan.
"Terima kasih! Istirahatlah, hari ini kalian bekerja sangat bagus. Beri tahu sekertaris Tuan Fincen pertemuannya di majukan jam setengah sembilan, karena sebelum jam makanan siang. Kita sudah kerumah istriku. Aku ingin makan siang bersama mereka." bicara seenaknya karena dia seorang bos.
Tidak memikirkan perasaan sekertaris Jimi yang sudah menelan ludahnya sendiri. Devan menyuruhnya untuk istrirahat. Sementara pertemuan mereka dimajukan dua jam dari jam sebelumnya. Sudah bisa dipastikan malam ini sekertaris itu tidak bisa tidur karena harus memeriksa agar semuanya berjalan lancar, karena bukan hanya pertemuan bersama rekan bisnis saja yang akan diurusnya. Melainkan makan siang Tuan muda bersama keluarga kecilnya.
Devan hanya mengangguk dan berjalan masuk diikuti beberapa pengawal saja, karena pengawal yang lainnya lagi menjaga rumah sederhana Zizi bersama anaknya.
Begitu tiba didalam kamarnya. Devan melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Lalu dia duduk di pinggir ranjang dan mengeluarkan ponselnya untuk melihat foto dia dan Reyvano ketika mereka sedang berada ditaman hiburan tadi siang.
Sungguh dia tidak menyangka kalau anak kecil yang diajaknya bermain tadi siang adalah anak kandungnya sendiri. Bila saja tidak ada Sekertaris Jimi. Maka Devan tidak akan bisa menemukan istri dan anaknya.
"Maafkan ayah yang tidak mengenalimu Nak. Mulai sekarang kamu jangan khawatir, tidak bisa menaiki permainan mobil-mobilan lagi, karena ayah akan menemanimu bermain." Pria itu tersenyum tidak sabar rasanya untuk bermain dengan anaknya lagi.
"Setelah pulang dari sini, ayah akan membuatkan taman bermain di rumah kita. Tapi bila ibumu tetap pada pendiriannya. Ayah akan membuatnya dirumah kakek dan nenekmu." Devan menatap lekat foto Reyvano yang lagi tertawa bahagia. Padahal hanya diajak menaiki permainan.
Entah seperti apa bahagianya anak itu. Bila dibawa kerumah sang ayah yang memiliki segalanya. Hidup susah bersama ibunya saja Rey sudah terlihat bahagia.
Lama Devan melihat satu-persatu foto-foto lucu Reyvano untuk menenangkan pikiran. Setelah merasa lebih baik barulah dia tidur sambil memeluk ponsel yang ada foto putranya itu. Seolah-olah lagi memeluk sang buah hati. Selama empat tahun belakangan ini, setiap mau tidur Devan selalu memeluk buku Diary milik sang istri. Mungkin mulai malam ini dia akan merubah kebiasaan tersebut.
****
Pagi pun sudah menyapa. Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Kicauan burung-burung saling bersahutan.
Namun, tidak membuat Zizi kunjung membuka matanya. Ibu muda itu semalaman ini tidak bisa memejamkan matanya karena pertemuan yang tidak disangka-sangka dengan sang suami. Setelah melihat perlakuan Devan pada putranya. Zivanna sudah tidak takut lagi kalau suaminya itu akan menyakiti Reyvano anaknya.
Hanya saja sekarang Zizi merasa takut kalau-kalau Devan merebut Reyvano darinya. Sebab walau bagaimanapun Devan juga memiliki hak atas anak mereka. Bila sudah seperti itu mana mungkin Zivanna akan menang melawannya.
__ADS_1
"Ibu, banun! Ayah nda ada, Bu." ucap Reyvano mengoyangkan tangan ibunya.
"Bu, banun! Ayah iyang nda ada." kembali lagi membangunkan sang ibu karena Rey sedang bingung mencari ayahnya.
"Eum! Kenapa sayang? Ibu masih mengantuk. Sebentar lagi, ya?" seru Zivanna yang benar-benar sangat susah untuk membuka matanya meski sudah jam tujuh pagi. Padahal di hari-hari sebelumnya. Jam setengah empat subuh, dia sudah bangun karena harus membuat kue dan memasak untuk sarapan mereka berdua.
"Ayah nda ada, toba ibu iyat nini." jawab Reyvano sambil menunjuk sebelahnya yang kosong.
"Huaom! Jadi kamu membagungkan ibu hanya karena mencari ayahmu." Zizi menguap dengan malas. Hari ini rasanya dia hanya ingin tidur tidak mau melakukan pekerjaan apapun. Namun, dia lupa kalau sekarang sudah memiliki anak.
"Iya, ayah na nana? Adi ayam ada tok."
"Huh! Ayah mu lagi pulang kerumahnya. Sudah ayo kita mandi, jangan menanyakan yang tidak ada." dengan malas Zizi menyingkap selimutnya, karena sekarang rasa kantuknya langsung hilang setelah kembali mengigat Devan.
"Api nda iyang 'tan?" Reyvano terlihat khawati.
"Tidak, ayahmu tidak hilang. Dia sedang kembali ke tempatnya menginap. Ayo kita kekamar mandi. Setelah memandikan mu, ibu juga mau mandi. Kita harus masak buat sarapan." sambil menjawab pertanyaan sang buah hati. Zivanna membawa anaknya untuk dimandikan. Setelah itu dia juga sekalian membersihkan tubuhnya yang terasa lelah. Padahal yang lelah adalah pikiran, bukan tubuhnya.
"Euh putra ibu tanpam sekali." puji Zizi begitu selesai menyisir rambut anaknya. Tidak hanya Zizi yang mengatakan kalau Reyvano tampan. Tapi setiap orang yang melihatnya juga akan berkata demi kian.
"Ayah duda tapan, Bu." sahut Rey dengan santai. Padahal ucapannya sama saja mengingatkan sang ibu bahwa dia tampan seperti ayahnya.
Tok ...
Tok ...
"Em, sebentar ibu kedepan. Mau melihat siapa yang datang. Mungkin itu nenek Emi atau nenek Husna." ucap Zivanna karena ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Cek ... lek ..
"Ada apa?" Zizi bertanya heran karena yang mengetuk pintu bukanlah tetangganya. Melainkan pengawal suaminya karena mereka memakai seragam Atmaja group.
"Selamat pagi, Nona muda. Maaf kami sudah mengangu. Kami hanya mengantarkan sarapan untuk Nona dan Tuan muda kecil yang dikirim oleh Tuan muda Devan." jawab pengawal.
.
.
.
Sambil menunggu bbg Devan up.
Yuk, baca novel sahabat Mak author.
Napen : Navizaa.
judul : Eternal Enemy
__ADS_1