Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Mencari petunjuk.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Setelah dari Kafe tempat biasanya Zivanna bekerja paruh waktu. Devan kembali menjalankan mobilnya menuju Universitas Gunadarma tempat istrinya menimba ilmu beberapa bulan belakangan. Hanya kampus itulah tempat terakhirnya mencari informasi sang istri.


Selama ini selain dia tidak perduli pada Zizi, Pria tersebut juga tidak pernah menyuruh pengawal buat mengetahui dimana dan kemana saja perginya gadis itu setiap harinya. Devan hanya memperhatikan Zizi menyelesaikan tugas di rumahnya atau tidak. Hanya itu saja, selebihnya dia tidak mau tau. Sehingga hari ini Devan kesulitan sendiri untuk mencari istrinya.


Di sepanjang jalan Pria itu terus memperhatikan sekitar jalan dan bangunan, berharap matanya melihat sosok yang sedang dia cari. Rasa menyesal semakin menyeruak didalam hatinya. Apalagi bila memikirkan nasip istri dan anaknya entah seperti apa.


Apakah sudah makan atau belum, mungkinkah mereka masih baik-baik saja. Atau sedang kesakitan karena penyakit yang Zizi derita. Pikiran tersebut terus berputar-putar di dalam kepalanya. Lalu bila tidak ada orang baik yang menemukan istrinya, bagai mana. Mungkin dari semalaman Zivanna kedinginan karena diluar hujannya sangat besar. Terus saja bertanya-tanya dengan dirinya sendiri.


Satu jam kemudian mobil Mercedes Benz milik Devan sudah memasuki area kampus. Semua mata siswa maupun siswi tertuju pada mobilnya. Begitu tiba diparkiran lelaki tersebut tidak langsung keluar dari dalam mobil. Akatetapi dia masih duduk memperhatikan di sekeliling tempatnya sekarang. Berjejer rapi mobil dari berbagai merek, dari yang mahal sampai yang biasa-biasa saja.


"Heuum!" terdengar helaan napas yang Devan hembuskan seperti menahan sesak di dada nya. Bagaimana mungkin Pria yang sudah berumur hampir dua puluh enam tahun itu tidak merasa sesak. Mengingat sang istri harus menaiki kendaraan umum setiap harinya. Sedangkan dirumah dia boleh dikatakan tempat sorum nya mobil-mobil mewah.


"Aagh! Aku bisa gila bila terus memikirkan kesalahan ku padanya." ucap Devan menarik rambutnya dengan kasar. "Semoga saja aku bisa mendapatkan petunjuk setelah datang ke sini." Pria itu pun turun dari mobil lalu dia berjalan masuk menuju gedung tempat anak-anak jurusan Akuntansi seperti istrinya.


"Maaf jurusan Akuntansi di sebelah mana?" tanya Devan pada seorang mahasiswa yang bertemu dengannya.


"Itu Tuan, Anda tinggal jalan sedikit lagi, lalu belok kanan disanalah tempatnya." jawab siswa tersebut memberitahu dengan sopan.


"Iya baiklah Terimakasih!" ucap Devan kembali lagi berjalan menuju kelas Zivanna yang tidak jauh dari tempat dia bertanya.


Tok...

__ADS_1


Tok...


Tiba di depan pintu kelas, sebelum di persilahkan untuk masuk Devan meminta izin bukan seperti seorang pengusaha terkenal dengan jabatannya. Melainkan seperti kakak atau orang tua wali pada umunya.


"Iya ada apa Tuan... Devan!" seru dosen yang sedang mengajar sambil menampakkan wajah terkejut nya.


"Maaf, Saya mengangu waktunya sebentar. Apakah siswi yang benama Zivanna Lois masuk kelas Anda hari ini?" walaupun sudah tahu jawabannya Devan tetap bertanya.


"Tidak ada Tuan Devan. Kata salah satu siswa yang mengabsen, sudah dari kemarin dia tidak datang." masih mengobrol di depan ruang kelas.


"Kalau begitu tolong minta waktunya sebentar. Saya hanya ingin bertanya pada siswa-siswi Anda mana tahu ada yang berteman dengan Zivanna." jelas Devan tidak merasa malu memohon pada orang yang tidak di kenalnya demi mendapatkan petunjuk sang istri.


"Tentu, tentu saja Tuan. Ayo silahkan masuk." lalu Pria itu mengikuti si dosen berjalan masuk dan diapun langsung mengutarakan maksud kedatangannya.


"Selamat pagi menjelang siang semuanya! Mohon minta waktunya sebentar. Saya hanya menanyakan apakah ada di antara kalian yang berteman dengan gadis bernama Zivanna Lois?" tanya Devan menghadap ke depan.


"Siang juga, Kakak ganteng!" di jawab oleh para siswi yang sudah sibuk begitu melihat kedatangan Devan. Hampir semua dari mereka mengenal pengusaha sukses tersebut.


"Tidak ada Kak, kecuali... Maureen! Mereka sama-sama masuk dari beasiswa." jawab salah satu siswi yang tidak pernah menyukai Zizi.


"Ha... ha... ha...! Lagian siapa juga yang mau berteman sama mereka. Kita kan berbeda kasta" jawab beberapa orang siswi sambil tertawa mengejek. Terkecuali para siswa laki-laki. Mereka malah heran pada gadis-gadis tersebut yang mempermasalahkan masuk melalui umum dan beasiswa. Padahal kalau di pikir-pikir mereka tidak ada yang rugi karena hal tersebut.


Apakah setiap hari kamu selalu dihina seperti ini? Maaf, maafkan kakak sudah membuatmu menderita!"


Hari ini Devan kembali menemukan satu pakta seperti apa penderitaan istrinya ketika di luar rumah. Rasanya dia ingin marah pada gadis-gadis yang sudah merendahkan istrinya. Andai saja waktu bisa diputar kembali, akan dia belikan mobil terbaru dan termahal untuk Zizi.


Biar semua orang tahu bahwa istrinya bukanlah dari kalangan seperti mereka yang ada di sana. Bisa dipastikan siswi yang mengejek istrinya adalah anak dari orang yang memiliki perusahaan kecil yang numpang berteduh di perusahaan Atmaja.

__ADS_1


"Diam, diam! Maureen kamu maju kedepan." pinta dosen itu kembali menyuruh mereka diam.


Lalu dengan menundukkan pandangan nya Maureen pun maju kedepan. Meskipun dia juga tidak tahu ada masalah apa. Hal itu pun membuat para mahasiswa maupun siswi bertanya-tanya.


"Tuan Devan Anda boleh membawa murid Saya pergi dari sini agar tidak menggangu kenyamanan Anda."


"Baiklah Pak terimakasih sebelumnya Maaf sudah mengganggu waktu belajar Anda. Saya hanya ada perlu sebentar tidak akan lama." kata Devan langsung pamit dan mengajak Maureen ke parkiran mobilnya tadi. Meskipun ada rasa takut sadis itu tetap mengikuti dari belakang setidaknya Sisi pernah bercerita bahwa dia menjadi pembantu di rumah pengusaha yang sedang bersamanya saat ini.


"Masuklah!" titah Devan membukakan pintu mobilnya.


Setelah Mauren masuk dan kembali lagi menutup pintu mobil tersebut. Devan langsung saja bertanya pada gadis itu. "Apakah kamu berteman baik dengan Zivanna?"


"I--iya Tuan kami berteman baik dari awal dia kuliah di sini." jawab gadis itu ragu-ragu takut salah bicara.


"Apakah kamu tahu kemana saja dia selama kalian berteman."


"Ti--tidak Saya hanya tahu Zizi bekerja di rumah Anda, di Apartemen Pak Ski dan di Kafe tempat kami bekerja paruh waktu."


"Jadi kamu juga bekerja paruh waktu dengannya?" Devan kembali bertanya, mana tahu Maureen mengetahui tentang istrinya.


"Iya Saya yang menawarkan dia kerja paruh waktu karena dia kebingungan uang saat itu." jujur Maureen karena memang dia yang mengajak Zivanna bekerja.


"Oke tidak apa-apa! Tapi tolong jawab dengan jujur. Apakah kamu tahu kalau temanmu itu sudah menikah dan apakah dia tidak pernah bercerita sesuatu kepadamu?"


"Apa? Saya tidak tahu kalau dia sudah menikah. Dia juga tidak pernah bercerita apa-apa pada Saya. Memang nya ada apa Tuan? Apakah sudah terjadi sesuatu?" bertanya dengan khawatir karena sudah dua hari tidak ada kabar dari sahabatnya.


"Em... tidak ada. Hanya saja dia tidak pulang kerumah. Yasudah kamu boleh kembali ke kelas. Terimakasih, bila kamu mendapat kabar darinya tolong segera hubungi Saya. Ini kartu nama Saya, kamu bisa menghubungi kedua nomor yang tertera di bawahnya."

__ADS_1


"Baiklah Tuan, kalau begitu Saya permisi dulu." ujar gadis itu hendak keluar. Namum, kembali lagi menutup pintunya dan berkata. "O'ya Tuan, Saya hampir lupa akhir-akhir ini Zivanna sering mengeluh perutnya keram. Sama... satu lagi Saya sering melihat dia menulis di buku diary miliknya. Mana tahu dia tidak membawa buku itu, lalu Anda bisa mendapatkan petunjuk dari sana." ucap Maureen yang baru ingat kalau Zizi sering menulis di buku kecil.


"Baiklah terimakasih! Nanti akan ada anak buah Saya yang mengantarkan sesuatu buatmu. Mohon di terima ya. Itu sebagai hadiah karena kamu sudah membantu Saya." kata Devan dengan tulus karena gadis itu telah memberikan informasi penting untuk nya. Devan akan pulang untuk membaca buku diary Zizi karena tadi malam dia menemukan buku tersebut dan berharap mendapatkan petunjuk dari buku kecil itu.


__ADS_2