
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Cudah tukup, dah tenyang!" ucapa Rey menolak suapan dari ibunya padahal makanan tersebut adalah suapan yang terakhir.
"Baiklah, tapi ini minum dulu air putihnya," jawab Zizi sambil mengambil tisu untuk mengelap bibir putranya.
"Apa kamu tidak mau makan lagi?" tanya Devan karena Zizi sudah berdiri lebih dulu.
"Tidak, aku sudah kenyang." jawab Zizi menurunkan putranya dari kursi meja makan, karena si kecil Reyvano minta diturunkan.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi. Devan hanya menghabiskan makanan pada piringnya. Begitu pula dengan ayah Dion dan Ibu Ellena. Sedangkan Zizi, dia mengikuti anaknya ke depan.
Begitu selesai sarapan, mereka semua meninggalkan ruangan tersebut. Lalu berkumpul di ruang keluarga sebelum Devan dan Zizi pergi.
"Kak, aku mau mengambil tas dan ponselku di kamar." kata Zivanna yang baru saja datang dari ruang bermain putranya. Sekarang selain sudah memiliki kamar sendiri. Reyvano juga memiliki ruangan khusus bermain. Ayah Dion membuat sebuah ruangan besar agar tidak binggung mencari sang cucu saat dia pulang bekerja. Ruangan tersebut pun tidak jauh dari ruang keluarga.
"Iya, Kakak akan menunggu di sini saja." jawab Devan karena dia tidak membawa apa-apa selain ponsel dan dompet. Semua pekerjaannya sudah di siapakan oleh Sekertaris Jimi.
"Ayah mau berangkat jam berapa?" tanya Devan pada ayahnya, karena beliau sudah rapi dengan jas kantornya.
"Setelah kalian berangkat. Soalnya pagi ini di perusahaan ada rapat."
"Huem! Kalau begitu jangan terlalu lelah, jangan lupa jaga kesehatan." pesan Devan yang tidak ingin ayahnya kelelahan. "Orang yang akan membantu Ayah sudah ada. Dia akan ke sini dalam dua hari lagi." lanjutnya lagi.
"Bagaimana baiknya saja. Ayah sudah tua dan malas mengurus perusahaan. Andai saja kamu tidak membangun perusahaan sendiri, mungkin sejak dulu Ayah sudah resign dari Atmaja gruop."
"Ayah tidak perlu khawatir, Devan akan memberikan kalian cucu yang banyak. Agar ada yang menghabiskan harta ayah." jawab Devan tertawa. Ayahnya itu suka sekali mengerutuk apabila sudah membahas masalah perusahaan.
"Sayang, ayo kita berangkat sekarang." seru Devan melihat kedatangan istrinya. "Ayah, Ibu, kami pergi dulu, karena dari sini nanti Devan akan langsung membawa Zizi ke perusahaan." pamitnya pada kedua orang tua mereka.
Lalu mereka berdua menemui Reyvano lebih dulu. Untuk memberikan peluk cium perpisahan, karena kemungkinan tiga hari kemudian, barulah mereka bertemu lagi. Setelah itu Devan pun menggandeng tangan sang istri menuju ke mobil.
Hari ini Felix juga akan kembali ke kota Y untuk mengawal keamanan tuan mudanya. Sedangkan Asel tetap tinggal karena sekarang tugas pemuda itu adalah khusus menjaga Reyvano. Termasuk menemaninya bermain bila Rey sendiri yang memintanya.
"Kenapa? Apa mengantuk?" tanya Devan begitu mereka turun dari mobil. Saat ini mereka baru saja tiba di bandara kota X.
"Tidak kenapa-napa. Aku hanya merasa lelah, " menjawab sambil berjalan mengikuti kemana sang suami membawanya, karena sedari rumah sampai ke bandara Devan tidak ada melepaskan gengaman tangannya.
Seolah-olah Zivanna adalah anak kecil yang bila mana di lepas tangganya. Dia akan berlarian ke mana-mana.
"Sudah pasti kelelahan. Nanti setibanya di perusahaan kamu istrahat saja di kamar." kata Devan menarik Zizi agar bersandar pada tubuhnya.
__ADS_1
"Memangnya ada kamar?" tanya wanita tersebut karena dia memang belum pernah datang ke perusahaan ayah tiri ataupun perusahaan suaminya.
"Ada, kamar yang Kakak gunakan apabila kelelahan." jawab Devan tersenyum kecil.
"Nyaman sekali, di perusahaan ternyata ada kamarnya juga. Aku kira hanya ada kursi untuk bekerja."
"Nyaman itu bila pikiran kita tenang. Tapi bila tidak tenang, senyaman apapun tempatnya. Tetap saja akan membuat kita tersiksa." Devan berkata seperti itu karena dia pernah mengalaminya selama di tinggal pergi oleh Zivanna.
Satu jam kurang lebih berada di dalam pesawat. Devan dan Zizi terus bercerita untuk menghilangkan rasa jenuh yang selalu bepergian ke sana ke mari.
Sampai berada di dalam mobil menuju perusahaan pun. Keduanya masih saja mengobrol. Ternyata Devan diam saat bersama orang lain saja, karena bila lagi bersama istrinya dia selalu mengobrol seperti manusia pada umumnya.
"Kak, aku gugup!" ucap Zivanna begitu mobil mereka memasuki kawasan Atmaja gruop.
Cup!
"Kenapa harus gugup, ada Kakak bersamamu. " Devan mengecup tangan sang istri berulang kali. Agar Zizi bisa rileks, tidak gugup.
Sebetulnya hal wajar Zivanna merasa gugup, baru masuk ke kawasan perusahaan saja pengawasan nya begitu ketat. Apalagi di dalam perusahaan itu sendiri. Seperti itulah dugaan Zivanna yang polos.
"Jangan gugup, kamu membuat Kakak gemas." kata Devan tidak tahan melihat wajah istrinya yang semakin terlihat imut bila dimatanya.
"Tapi---"
Cup!
"Kak!" seru Zivanna kaget dan malu karena ada Felix dan sopir duduk di bangku depan. Mana mungkin mereka berdua tidak mengetahui apa yang terjadi di kursi belakang, karena kedua pengawal tersebut belum turun.
"Huem... apa? Ayo turun! Hari ini Kakak ingin dunia mengetahui siapa istriku sebenarnya." sebelum turun Devan menatap istrinya penuh cinta. Untuk menyakinkan Zizi bahwa semuanya baik-baik saja. Ada dia yang mendampingi.
"Mereka tidak akan memperolokmu, jadi buat apa gugup. Kamu adalah istri Kakak, mana berani mereka berkata jelek tentang mu. Bila itu sampai terjadi, maka mereka mencari masalah dengan Sekertaris Jimi." Devan tergelak karena sudah membayangkan Sekertaris Jimi memecat masal karyawan Atmaja gruop bila sampai membicarakan nona mudanya.
"Sudah, ayo!" pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya turun dari dalam mobil.
Semua karyawan Atmaja tentu sudah tahu bahwa hari ini tuan muda mereka membawa istrinya datang ke perusahaan. Sebab Sekertaris Jimi telah sibuk mempersiapkan keamanan dan sebagainya sejak kemaren siang.
Begitu meliat mereka turun sampai berjalan masuk ke perusahaan. Semu mata memandang takjub akan kecantikan wanita yang mereka yakinin adalah istri presdir Atmaja. Sebab Devan menggandeng mesra istrinya.
Selama ini mereka tahu selain dengan Fiona. Presdir mereka tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Jadi sudah pasti wanita yang bersamanya sekarang adalah Nona muda mereka.
Baru saja Devan dan istrinya masuk. Sekertaris Jimi dan beberapa petinggi perusahaan sudah menyambut kedatangan mereka berdua.
"Selamat pagi Tuan Muda." ucap Sekertaris Jimi menyapa Devan lebih dulu. "Selamat datang Nona Muda." lanjutnya lagi seraya menundukan kepalanya.
"Iya, selamat pagi juga." Devan yang menjawab karena Zivanna hanya mengangguk kecil.
__ADS_1
"Jim, siapkan konferensi pers!" ucap Devan sambil berjalan menuju lift khusus bagi petinggi. Di ikuti oleh Sekertaris Jimi dan orang yang tadi bersamanya.
"Sudah Saya siapkan, Tuan." jawab Sekertaris Jimi.
"Selalu saja seperti itu," cibir Devan karena percuma saja dia memberi perintah, karena Sekertaris Jimi telah melakukan apa yang diinginkan oleh Tuan mudanya.
Zivanna yang sudah paham apa maksud suaminya hanya bisa terkikik di dalam hati. Saat mereka berlibur beberapa hari lalu, Devan sudah menceritakan bahwa terkadang dia merasa jengkel pada Jimi. Apa-apa selalu sudah dilaksanakan. Padahal dia belum memberikan perintah.
"Maaf Tuan Muda, Konferensi pers nya akan diadakan jam setengah sebelas, sampai jam sebelas lewat empat puluh menit." terang Sekertaris Jimi yang sudah kebal cibiran dari tuan mudanya.
"Apa? Kenapa lama sekali?" seru Devan tidak terima.
"Nanti Anda hanya perlu membawa nona ke pertemuan. Setelah mengumumkan siapa nona. Maka Anda sudah boleh pergi, selebihnya itu urusan Saya." Sekertaris Jimi menghela nafas panjang.
Sedari awal dia sudah menduga bahwa si tuan muda pasti mengadakan konferensi pers, tapi Jimi lah yang harus berbicara di hadapan para wartawan dan menjelaskan semuanya. Sementara Devan akan datang seperti seorang pahlawan kesiangan.
"Heum... baguslah! Aku kira aku yang akan berbicara selama itu." jawab Devan lega. Lalu dia menarik istrinya keluar dari lift menuju ke ruangannya.
Sedangkan Sekertaris Jimi beserta yang lainnya. Menuju ke ruangan mereka masing-masing. Ada pekerjaan yang harus mereka urus, tidak seperti si tuan muda.
"Huh! Lelah sekali," duduk di sofa sambil melepaskan jas dan melonggarkan dasi. "Kenapa Kakak merasa tidak semagat seperti ini, ya. Rasanya lebih baik diam di dalam kamar bersama mu." keluh Devan.
"Itu kemauan Kakak!" jawab Zivanna mengelengkan kepalanya. Bila berbaur dengan kamar Zizi sudah tahu pasti yang ada dipikiran suaminya selalu saja percintaan mereka.
"Ya, benar!" tidak mengelak karena memang itulah kenyataannya. "Apa kamu mengantuk? Jika ingin tidur, biar Kakak temani dulu. Setelah itu baru Kakak bekerja." tanyanya seraya mendekatkan wajah mereka.
"A--apa, ingin menemaniku? Tidak, tidak! Aku bisa beristirahat sendiri. Kakak kerja saja. Lagian bukannya nanti ada pertemuan dengan para wartawan. Jadi tidak bagus, bila kita tidur di jam segini." sela Zivanna mendorong agar Devan menjauhkan mukanya.
"Itu tidak masalah, ada Sekertaris Jimi yang menemui mereka." bukannya menjauh setelah di dorong. Malah Devan semakin maju kehadapan istrinya.
"Kak, cepat bekerja sana. Bila seperti ini aku akan pulang saja. Apa bedanya kita di kamar sama di perusahaan." sungut Zizi merasa risih Devan benar-benar sudah menjadi suami cabul.
Cup!
"Baiklah, jangan pulang. Kamu mau istirahat di kamar. Atau di sini saja?" daripada Zivanna pulang. Lebih baik dia mengalah, menuruti perintah istrinya.
"Di kamar saja. Aku takut membuat Kakak tidak fokus bekerja, bila aku tidur di sini." ejek Zizi sambil berlalu ke arah pintu yang Zivanna yakinin adalah kamar untuk istirahat.
"Kamu mengejek kakak, awas ya, nanti malam akan kakak buat dirimu tidak bisa tidur,"
Gumam Devan tersenyum seraya menatap punggung istrinya. Dia sengaja tidak mengantar Zizi ke kamar, karena takut tidak bisa menahan dirinya.
"Wah, tempatnya sangat indah walaupun ruangannya kecil." seru Zivanna menutup kembali pintu kamarnya.
Setelah meletakan tas kecil yang dia bawa. Zivanna berjalan kearah kaca besar tapi tidak bisa dibuka. Hanya bentuknya saja yang menyerupai jendela.
__ADS_1
"Aku kira tadi ini jendela," ucap Zizi pada dirinya sendiri. Lalu dia berjalan memutari ruangan tersebut. Saat berada di lemari kaca, ia berhenti karena melihat foto yang berada di dalam bingkai.
BERSAMBUNG...