
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Malam pun tiba.
Setelah pulang dari taman. Devan beserta istri dan anaknya langsung membersihkan diri di dalam kamar sang istri. Begitu selesai membersihkan dirinya. Zivanna turun ke bawah lebih dulu, karena dia sudah berjanji akan memasakan untuk makan mamalam mereka.
Sedangkan Devan bertugas mengurus Reyvano yang masih bermain air di dalam kamar mandi. Si tampan biasanya tidak pernah nakal. Saat ini mulai sulit diatur oleh ibunya. Mungkin karena sekarang sudah banyak yang mengasuh dirinya jadi anggap saja kalau Rey lagi bermanja pada orang-orang yang begitu menyayangi dirinya.
"Sayang ayo sudah mandinya, kita bermain bersama kakek saja di ruang keluarga." bujuk Devan untuk kesian kalinya, akan tetapi bukannya berhenti. Sang putra malah terus bermain air bahkan dirinya saja diajak bermain air lagi. Padahal sudah jelas kalau Devanan sudah rapi dengan setelan baju kaos dan celana jeans pendek.
"Bental lagi, ya." jawab Rey sambil menambahkan busa sabun pada bak mandinya.
"Tapi ini sudah malam, Nak. Jika mandinya terlalu lama nanti bisa kedinginan dan masuk angin, jadi lebih baik mandi, ganti pakaian dan ikut ayah turun ke bawah." Devan masih terus merayu putranya sebab Rey berendam sudah hampir satu jam lamanya. Zivanna yang sedang masak di lantai bawah pun mungkin-mungkin sudah selesai memasak untuk makan malam mereka.
"Bental lagi, Ley macih ain ini" Reyvano yang masih asik bermain mencoba meminta tambahan waktu, alhasil Devan pun mengalah asalkan putranya tidak menangis dan mau menuruti permintaannya tanpa harus berdebat.
Lima menit setelahnya.
"Cudah, Yah!" kata Rey berdiri dari bak mandi dan mengulurkan tangannya pada sang ayah.
"Oke, ayo Ayah mandikan. Nanti bila Rey sampai masuk angin, maka ibumu akan marah pada Ayah karena sudah membiarkanmu berendam terlalu lama." sambil memandikan sang putra Devan memberitahu pada Rey yang hanya menganggukan kepalanya. Entah mengerti atau tidak, yang jelas Reyvano menggiyakan.
Setelah mengelap kering dan membalut tubuh anaknya dengan handuk. Devan membawa sang putra kembali masuk ke dalam kamar. Lalu dia menurunkan Rey diatas tempat tidur.
"Tunggu di sini ya, sayang. Ayah akan mengambil pakaian mu. "ucap Devan berjalan ke lemari untuk mengambil baju anaknya meskipun baru beberapa kali dia memandikan si buah hati. Akan tetapi Devan sudah bisa memakai kan pakaian anaknya dengan rapi dan benar.
"Sini kita pakai bajunya, setelah siap, kita menyusul ibu." dengan sabar dan penuh kasih sayang Devan memakaikan baju pada sang putra termasuk menyisir rambutnya dengan rapi. "Sudah tampan, sekarang waktunya kita turun untuk makan malam." tersenyum bahagia karena, kerja kerasnya mengasuh Sang putra berjalan lancar.
Meskipun kakinya sampai keram gara-gara terlalu lama berjongkok di dalam kamar mandi, karena menunggu Rivano selesai bermain air.
"Ley dalan na cendilian," ucap Rey turun sendiri dari atas ranjang dan menggandeng tangan ayahnya menuju ke lantai bawah. Benar-benar bocah yang begitu menggemaskan.
Saat menuruni tangga pun Reyvano tidak mau digendong, dia hanya meminta ayahnya untuk memegang tangan kecilnya saja. Reyvano yang kebetulan saat ini sangat suka berbicara, selalu menceritakan apa saja kegiatannya entah orang yang diajak ikut bicara atau hanya sekedar mendengarkan saja.
"Hole.. tita tampai, " seru si tampan, begitu mereka tiba pada ujung tangga yang terakhir.
"Apakah putra ibu turun tangganya sendirian?" tannya zivanna yang hendak berjalan keatas menyusul anak dan suaminya, karena waktu makan malam sudah tiba Ayah Dion dan Ibu Lina sudah menunggu sejak tadi.
"Bukan Kakak yang biarkan dia berjalan sendirian. Tapi putramu yang ingin berjalan sendiri. Jawab Devan merangkul pinggang sang istri. "Apakah semuanya sudah siap?" Devan kembali bertanya.
__ADS_1
"Sudah dari lima belas menit yang lalu, tinggal menunggu kalian berdua. Hanya mandi saja kenapa lama sekali?" zivanna mengelengkan kepalanya, seraya menatap pada anak dan suaminya bergantian.
Anaknya menjadi tidak penurut, itu semua gara-gara Devan. Biasanya setiap dibilang sudah, maka Reyvano tidak pernah menolak. Reyvano adalah anak yang sangat pintar dan pengertian. Namun, karena sudah ada ayahnya Rey jadi manja.
"Hei... sudah, ayo kita ke meja makan. Jangan biarkan ayah dan ibu menunggu kita terlalu lama." ucap Devan yang mengerti kalau istrinya lagi kesal, karena putra mereka menjadi tidak penurut.
Devan hanya tersenyum dan merangkul sang istri menuju meja makan. Sedangkan Reyvano penyebab masalah, malah berjalan lebih dulu karena ia sudah tahu jika nenek dan kakeknya sudah menunggu mereka di meja makan.
"Wah, wah! Coba lihat siapa yang datang," kata Ayah Dion tersenyum melihat kedatangan cucu tampanya. "Ayah dan Ibumu kemana, Nak? " tannya beliau lagi.
"Macih di cana," jawab Rey menoleh kearah belakangnya. "Nenek mau naik." Rey mendekati kursi yang diduduki oleh neneknya yang tersenyum melihat kedatangannya seperti anak dewasa. Padahal Rey hanya bocah berumur tiga tahun setengah.
"Baik, ayo duduknya disebelah nenek saja." kata Ibu Ellena mengangkat Reyvano ke atas kursi yang dia duduki.
"Ini si kecil berjalan atau berlari, sih. Kenapa cepat sekali. " Devan yang baru saja datang langsung menarik pipi chubby sang putra. Bukannya marah atau menangis, Rey justru tertawa.
"Dia tidak berjalan, ataupun berlari. Tapi diantara keduanya, yaitu setengah berlari." sahut Ayah Dion ikut tertawa.
"Sudah, sudah! Ayo kita makan malam dulu." sela Ibu Ellena sambil berdiri untuk mengisi piring buat suaminya.
"Zi... biar ibu yang mengambil untuk si tampan kita. Kamu siapkan buatmu dan juga Nak Devan." kata ibu Elena lagi, karena Reyvano duduk dikursi sebelah dirinya. Jadi biar sekalian dia yang mengurus sang cucu.
Seiring berjalannya waktu. Sudah hampir tiga minggu ini Reyvano mulai dekat dengan nenek dan juga kakeknya. Mungkin karena sudah mulai terbiasa. Apalagi bila Rey mengetahui sang nenek pergi ke taman bunga. Sudah pasti dia akan ikut, sebab dia sangat senang mengejar kupu-kupu yang hinggap pada tanaman bunga sang nenek.
"Terima kasih!" dengan senang hati Devan menerima piring tersebut. "Ayo kamu juga harus makan yang banyak." imbuhnya lagi, sambil menatap wajah istrinya penuh cinta.
"Hem! Ayo kita makan. Setelah ini ada yang ingin Ayah sampaikan pada kalian berdua." Ayah Dion berdehem karena sedari tadi dia terus memperhatikan tingkah putranya.
"Ayah ingin berbicara apa?" tanya Devan sudah tidak sabar.
"Ayo habiskan makanannya dulu. Nanti kita bahas di ruang tengah. " seperti biasanya Ayah Dion tidak mau membahas apapun saat mereka makan. Alhasil baik Devan ataupun zivanna hanya bisa bersabar sampai mereka selesai makan malam.
Meskipun Rey makan sendirian. Akan tetapi Devan sengaja pindah ke bangku kosong disebelah putranya. Bila dibiarkan sendiri, maka anaknya tidak akan kenyang, karena makannya sambil bermain. Jadi sesekali Devan yang menyuapi nya.
Setelah selesai makan malam. Mereka semua pindah ke ruang keluarga. Tempat untuk berbincang dan bersanda gurau. Sejak dulu sampai saat ini peraturan tersebut tidak ada berubah. Bahkan Reyvano yang masih kecil mulai mengikuti peraturan dirumah kakeknya.
"Ayah tadi ingin mengatakan sesuatu, 'kan? Mau mengatakan apa?" rasa penasarannya membuat Devan langsung bertanya. Padahal mereka baru saja duduk.
"Kenapa kamu menjadi tidak sabaran seperti ini?" cibir Ayah Dion semakin terlihat santai.
"Yah, bila belum mau mengatakannya pada kami. Kenapa tadi sudah berkata seperti itu," protes Devan menghembuskan nafasnya keudara.
Dia lupa sesuatu. Ayahnya bila melihat Devan tidak sabaran, maka semakin lama dia mengatakannya. Sampai Devan merasa jengkel barulah akan disebutkan.
__ADS_1
"Ibu..." Devan melihat kearah Ibu Ellena meminta jawaban.
"Ayah mu sudah mempersiapkan tiket untuk kalian pergi berlibur." jawab Ibu Ellena jujur. Dia mana pernah mempermainkan perasaan anaknya sendiri maupun anak tirinya.
"Benarkah?" seru Devan dan Zizi serempak.
"Tentu saja, iya. Tapi Reyvano tidak ikut. Dia akan tetap disini bersama kami,' Iya kan, boy?" langsung bertanya pada sang cucu yang sudah tahu kalau kedua orang tuanya akan pergi berlibur.
"Iya!" jawab Rey mengiyakan. Tadi Rey sudah diberitahu oleh kakek dan neneknya.
"Tapi mana mungkin kami bisa pergi, bila Rey tidak ikut." Zivanna yang berkata. Sedangkan Devan tersenyum melihat kearah ayahnya, karena dia tahu apa tujuan kedua orang mereka.
"Kalian pergi saja, Nak. Soal Reyvano tidak perlu khawatir, Ibu yang akan menjaganya. Rey akan pergi jalan-jalan menaik sepeda bersama ayah dan Asel." timpal Ibu Ellena yang juga ingin anak dan menantunya pergi berlibur.
"Tapi bagaimana bila Rey menangis ingin bertemu Zizi, Bu." Zivanna yang belum pernah berjauhan dengan putranya saat malam hari tentu saja merasa khawatir.
"Coba tanyakan padanya, mau ikut atau mau tinggal bersama kami," ujar Ayah Dion tersenyum kearah cucunya, karena dia sendiri saja sudah berulangkali bertanya. Namun, jawaban Rey tetap sama, dia mau tinggal asalkan ada Asel yang menemaninya.
Tidak percaya bila belum mendengar dari putranya sendiri. Zivanna pun mendekati anaknya dan bertanya. "Sayang, Rey mau ikut berlibur bersama ayah dan ibu, 'kan?" tannya Zizi sambil mengelus kepala si buah hati.
"Ndak, Ley mau naik peda tama kakek, Tama Paman Ace." mengelengkan kepala berulang kali. Lalu kembali lagi memainkan mobil-mobilan mahalnya.
"Tapi nanti Rey tidak memiliki teman, dan menagis ingin bertemu ibu. Lalu bagaimana?" ucap Zizi menyakinkan putranya. Meskipun dia belum tahu tujuan liburan tersebut. Tapi Zivanna ingin Rey ikut bersama mereka.
"Ada paman Ace. Ley ndak mau ikut." tolak si tampan. Dia yang baru bisa menaiki sepeda tadi sore tentunya akan memilih tinggal daripada harus ikut dan hanya bermain didalam kamar saja. Itulah yang Reyvano ketahui. Kakeknya sudah bercerita seperti apa liburan yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya nanti.
"Benarkan, Rey tidak mau ikut." kata Ayah Dion sembari mengedipkan matanya pada sang cucu.
"Tapi, bila Rey menangis bagaimana? Bila siang hari, dia sudah biasa jauh dariku. Kalau malam hari belum pernah."
"Ada ibu yang akan menjaga putramu. Jangan khawatirkan dia. Kalian berdua pergilah berlibur. Ayah sudah menyiapkan keberangkatan kalian besok pagi-pagi." Ibu Ellena kembali menyakinkan putrinya.
"Zizi hanya---"
"Sayang sudah tidak apa-apa, kita pergi berdua saja. Nanti bila Rey menangis dia tinggal menyusul bersama Sekertaris Jimi dan Asel." sela Devan menyentuh pundak sang istri.
"Rey sedang asik bermain sepeda, makanya dia tidak mau ikut," kata Devan kembali menyakinkan.
Sebelum mengambil keputusan, Zivanna terdiam beberapa saat. "Baiklah, tapi bila Rey mencari kita suruh pengawal mengantarnya."
"Tentu saja, bila Rey menangis. Maka ayah dan ibu akan menyusul kita." kata Devan yang akhirnya berhasil menyakinkan Zizi untuk pergi berlibur.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1