
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Menyebut nama kota X membuat pria itu ingat untuk menghubungi keluarganya. Mana tahu Zizi sudah pulang ke sana hanya saja sengaja tidak memberitahu dia. Itu hanyalah perkiraan Devan saja. Lalu dengan terburu-buru Devan menghubungi Ayah Dion untuk mencari tahu keberada sang istri. Walaupun jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam lewat dua puluh menit.
Ttttddddd...
Ttttddddd...
Ttttddddd...
Sampai pada sambungan ke tiga barulah Ayah Dion mengangkat telepon darinya. Begitu tersambung ayah nya langsung menanyakan kabar mereka.
📲 Ayah Dion : "Hallo selamat malam, Nak? Bagaimana kabar kalian? Ada hal penting apa sehingga tengah malam seperti ini menelepon Ayah?" tanya beliau yang terbangun karena telepon dari putra semata wayangnya.
📱 Devan : "Iya, Yah! Selamat malam juga. Kabar kami... baik semuanya, Yah! Devan hanya merindukan Ayah maaf sudah mengangu waktu istirahatnya." bohong pria itu yang tidak mungkin mengatakan hal sebenarnya.
📲 Ayah Dion : "Oh syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Ayah kira tadi terjadi sesuatu padamu atau pada Zizi. Tidak ada yang namanya mengganggu, Ayah malah senang kamu merindukan Ayah. Oh ya Nak bagaimana kabar menantu Ayah, apa sudah ada tanda-tanda?" meskipun beliau sudah tahu putranya akan menunda memiliki momongan, tetap saja Ayah Dion menanyakan apa yang biasanya di tanyakan oleh para orang tua pada anaknya.
__ADS_1
📱 Devan : "Em... soal itu Ayah tidak perlu khawatir, mungkin sebentar lagi akan ada kabar baik. Yasudah Ayah istirahat lagi, Devan juga akan istirahat." ucapan nya pamit menutup sambungan telepon nya.
Mendengar pertanyaan sang ayah membuat pria itu semakin merasa bersalah dan menyesal telah menyakiti Zizi. Entah bagaimana bila ayahnya mengetahui pakta yang sebenarnya.
"Zi... kamu kemana?" tanya Devan semakin merasa khawatir. Apalagi sampai saat ini di luar hujannya belum juga reda, yang malah semakin besar.
Lalu pria itu berdiri untuk menuju ke arah ranjang. tiba di sana Iya langsung duduk di sisi panjang tersebut. Lalu tanpa sengaja Devan melihat tas yang dipakai oleh Zizi kemarin malam di atas nakas samping tempat tidur.
Dengan tangan sedikit bergetar dia menjangkau tas itu untuk melihat isi di dalamnya. Barang pertama yang dikeluarkannya dari sana adalah beberapa buku saat wanita itu belajar di kampus. Lalu berlanjut yang kedua sebuah buku kecil yang sengaja di bawa oleh istrinya juga. Namum, itu bukanlah buku untuk belajar melainkan sebuah buku diary kecil. Pria itu tidak langsung membuka untuk membaca isinya, tapi dia kembali mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam tas itu satu persatu dan yang terakhir adalah ponsel milik istrinya yang di beli oleh Devan sendiri sebagai hadiah ulang tahun nya.
Mengingat hal itu saja Devan sudah semakin merasa bersalah. Bagaimana tidak, sebelum dia membawa gadis malang itu bersamanya. Hubungan di antara keduanya terjalin sangat baik, bahkan boleh dikatakan mereka adalah pasangan yang sangat romantis.
Saat ingin membuka ponsel itu ternyata memiliki sandi tidak bisa dibuka begitu saja. lama pria itu mengotak-atik dengan berbagai angka termasuk tangal lahir sang istri. Namun, tidak mau terbuka juga. Sampai akhirnya iseng-iseng Devan menuliskan tanggal pernikahan mereka dan barulah kata sandinya bisa dibuka.
"Ternyata kamu membuat kodenya tanggal pernikahan kita!" lirih Devan tak kuasa menahan sesak di dadanya. Apalagi di layar ponsel itu terpampang jelas foto mereka berdua yang sedang tersenyum bahagia saat mereka pergi jalan-jalan.
Senyum yang tidak pernah Devan lihat lagi semenjak dia menyiksa wanita itu. Senyum itu semakin hari semakin hilang yang ada hanyalah tatapan sendu. Tatapan penuh luka dan kecewa.
Devan masih ingat tatapan mata istrinya untuk yang terakhir kali mereka berjumpa adalah kemarin malam. Di mana saat mereka berpapasan saat di parkiran dan istrinya itu sedang berada dalam gendongan Dokter Kai.
"Dokter... tidak usah mengharapkan bantuan orang lain. Tolong bawa saja Saya kerumah sakit."
__ADS_1
Kata-kata dengan suara lirih itulah yang diucapkan oleh wanita itu sebelum dia memejamkan matanya. Agar tidak melihat pemandangan menyakitkan di mana sang suami malah menyuruh orang lain membawanya ke rumah sakit. Sedangkan suaminya sendiri akan pergi ke klub malam bersama gadis lain.
Dari sana juga lah Zizi memilih untuk menyerah dan pergi dari kehidupan pria itu karena tidak sanggup lagi menerima perlakuan yang di terima nya. Bukan hanya hati yang disakiti tapi juga fisiknya. Sampai-sampai pada anak yang dikandungnya pun Devan tidak mengakui dan tidak peduli sama sekali.
"Apa yang sudah aku lakukan! Aku benar-benar pria brengsek sampai-sampai pada anakku sendiri aku tidak peduli." seru Devan menundukkan kepalanya sambil menarik rambutnya untuk melampiaskan rasa bersalah pada sang istri.
Rasa bersalah memang selalu datang di belakangan karena apabila ia berada di depan maka itu adalah pendaftaran. Malam ini setelah Zivanna tidak pulang ke rumah itu, barulah Devan menyadari kesalahannya.
Biasanya pada saat istrinya pulang mau itu tengah malam atau jam berapa pun bukannya merasa khawatir istirinya terlambat pulang yang ada Devan menyiapkan hukuman untuk wanita itu. Namun, mungkin saja mulai malam ini hal itu tidak akan pernah terjadi lagi, karena istrinya sudah menyerah dan entah pergi ke mana.
Malam ini sudah berulangkali Devan menanyakan sudah ditemukan atau belum pada orang-orang suruhan mereka. Tapi yang di dapatkan adalah jawaban yang sama, belum ada tanda-tanda bisa menemukan istrinya.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Namun, Devan belum juga bisa memejamkan matanya. Dia hanya bisa duduk di sisi ranjang sambil membaca berulang kali secarik kertas hasil pemeriksaan istrinya di rumah sakit. Tertulis jelas pada kertas itu bahwa Zizi memiliki sel kanker di dekat rahimnya.
Setelah membaca kertas itu mana mungkin Devan bisa memejamkan matanya yang ada dia semakin merasa bersalah. Memikirkan keberadaan sang istri pergi dari rumah sakit tidak membawa barang apapun mulai dari pakaian, ponsel ataupun uang, yang ada hanya memakai seragam pasien rumah sakit.
Lalu ke mana perginya dalam keadaan hamil muda dan sakit. itulah yang sedang pria itu pikirkan. Bagaimana nasib istrinya itu akankah seperti wanita yang ditolongnya tadi dan mungkinkah ada orang baik yang menolongnya. Lalu bagaimana bila tidak ada orang yang menolongnya. Sudah pasti istrinya akan hidup luntang-lantung dengan keadaan sakit dan tidak memiliki identitas.
"Ya Tuhan tolong pertemukan aku dengan Istriku lagi! Aku berjanji tidak akan menyakitinya." lelah sendiri membaca kertas itu berulang kali membuat Devan menagis sambil memeluk kertas tersebut seakan-akan memeluk orang yang sedang di khawatirkan.
Sedangkan wanita yang dikhawatirkannya lagi tidur nyenyak bawah selimut di atas ranjang yang hanya berukuran sedang dan di ibu kota yang terpisah jauh dengan dirinya.
__ADS_1