Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Reyvano Arkana Lois.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Satu Minggu sudah berlalu. Zivanna sudah pulang dari rumah sakit, sejak dua hari yang lalu. Seharusnya, bila dia sehat seperti para ibu lainya. Zizi sudah pulang dari empat hari lalu, karena biasanya orang yang habis melakukan operasi Caesar. Akan pulang paling lama tiga hari setelah nya.


"Zi, apa Nak Kevin akan datang malam ini?" tanya Bibi Husna yang baru saja datang dari rumahnya.


"Bibi Husna!" Zizi menoleh kearah belakang, karena posisinya saat ini membelakangi pintu masuk kekamar nya. Ibu muda itu sedang menyusuinya bayinya. Tadi bayi tersebut sempat menangis karena di tinggal mandi oleh sang ibu.



Ini kamar Zivanna dan bayi nya ya 😉


"Iya, katanya sudah dalam perjalanan. Mungkin sekitar jam tujuh malam dia sudah sampai." tadi sebelum Zivanna mandi. Kevin meneleponnya dan mengatakan sudah dalam perjalanan kesana.


Satu hari, Kevin bisa menelepon Zizi empat atau lima kali. Sekira dia tidak sibuk, maka akan menelepon untuk menanyakan keadaan Zizi dan bayinya. Andai saja yang menelepon adalah suaminya. Mungkin Zivanna wanita yang beruntung. Akan tetapi orang tersebut hanyalah sahabat baiknya.


"Skurlah bila sudah dalam perjalanan kemari. Bibi akan memasak untuknya juga. O'ya Zi, Bibi dan Bibi Emi berencana jika Kevin sudah datang kami akan mengajaknya berbelanja." kata wanita itu yang selalu memasak makanan untuk Zizi.


"Belanja buat apa, Bi?"


"Belanja buat keperluan toko kue kita. Rencananya hari Senin pagi kami akan membuka toko kita lagi. Bagaimana menurutmu? Apa boleh?"


"Apa! Bibi Husna, tentu saja boleh. Itulah yang aku pikirkan dari kemarin. Bila toko kue nya tutup terlalu lama, maka seluruh pelanggan kita akan pergi." Zizi tersenyum senang mendengar wanita yang merawatnya seperti anak sendiri. Ingin membuka usaha nya lagi.


Bila dia tidak segera membuka usaha tersebut, maka dari mana dia bisa membayar sewa rumah dan juga buat biaya hidup bersama putranya. Meskipun, Kevin bisa membiayai semuanya. Tapi Zivanna yang tidak mau.


"Bibi aku sangat senang bila kalian ingin membuka toko kita lagi. Aku akan membantu sebisa ku."


"Jadi kamu setuju? Kalau begitu besok pagi Bibi akan pergi berbelanja. Kamu tidak perlu membantu. Urus saja putramu sampai keadaan mu membaik." kata Bibi Husna yang juga merasa senang.


Semenjak diajak Zizi membantunya selama satu bulan ini. Bibi Husna dan Bibi Emi memiliki pekerjaan tetap. Makanya mereka binggung bila hanya diam, tidak bekerja. Walaupun keduanya masih memiliki uang yang diberikan oleh Kevin saat Zizi melahirkan.


Tadinya uang tersebut untuk biaya Zivanna dan mereka yang merawat selama berada di rumah sakit. Namun, ternyata biaya operasi nya sudah dibayar oleh gadis itu sendiri dari satu bulan lalu.


Begitu dia memiliki pendapatan dari hasil jualan nya. Zivanna langsung menitipkan uang tersebut pada Dokter spialis kanker yang kenal baik dengan Almarhumah Ibu Eris. Zizi percaya dokter itu tidak mungkin mau menipu dirinya dan ternyata setelah dibayar semua biaya obat dan sebagainya. Zivanna masih menerima uang sisa walaupun hanya sedikit.


"Tentu saja aku setuju, Bibi uang untuk kita belanja saat aku melahirkan masih ada. Bibi pakai uang itu. Biar aku yang mengatakan pada Kevin agar membantu kalian berbelanja." balas Zizi masih tetap tersenyum. Semenjak bayinya sudah lahir, gadis itu sangat mudah tersenyum. Seakan luka didalam hatinya telah sembuh.

__ADS_1


Sangat terlihat jelas kebahagiaan diwajah nya. Hanya saja Bibi Emi dan Bibi Husna pura-pura tidak mengetahui. Selama mengenal Zizi mereka juga tidak pernah menanyakan perihal kemana perginya suami dan juga keluarga gadis tersebut.


Sebab tanpa bertanya saja, tentunya mereka sudah tahu. Bahwa ada hal yang membuat gadis secantik Zizi memilih untuk hidup seorang diri.


"Uang itu kamu simpan saja. Buat belanja bahan-bahan ada uang yang diberikan oleh para tetangga kita saat kamu masih melakukan operasi. Kita gunakan uang tersebut. Jika uang yang padamu simpan untuk kebutuhan si kecil." kata Bibi Husna mengendong bayi tampan itu untuk dipindahkan kedalam box bayinya.


"Benarkah? Wah ternyata kami sangat beruntung memiliki tetangga yang begitu perduli pada kami berdua. Bibi Husna, aku juga sangat berterima kasih pada mu dan Bibi Emi. Kalian sudah mau merawat ku." Zizi berdiri dengan pelan lalu langsung memeluk wanita paruh baya itu.


"Sama-sama sayang. Kami senang melakukannya karena dirimu gadis yang baik. Jadi kamu jangan berterima kasih setiap hari lagi." melepaskan pelukan mereka lalu berkata.


"Kamu temani si kecil. Bibi akan membuatkan makan malam untukmu dan Nak Kevin. Malam ini Bibi Emi pasti tidak bisa kesini karena belum pulang dari melihat putranya." ucap perempuan itu yang bersiap-siap untuk membuatkan makan malam.


Saat malam hari mereka semua memang tidak ada yang menginap, karena bayi Zizi tidak pernah rewel saat siang maupun malam hari. Maka dari itu Zivanna sangup mengurus nya sendiri.


"Iya, Bi. Sekali lagi terima kasih. Sudah mau repot-repot memasak untuk ku." kata Zizi sebelum wanita tersebut pergi menuju dapur nya.


"Semoga aku bisa membesarkan putraku dengan baik. Dulu aku juga hanya dibesarkan oleh ibu." gumam Zizi sebelum membereskan pakaian dia dan putranya untuk dipindahkan kedalam lemari.


Hidup seorang diri membuat Zizi menjadi pribadi yang sangat dewasa. Apalagi mulai saat ini ada anak yang harus dia besarkan seorang diri. Zivanna akan menjadi ayah sekaligus ibu untuk putranya.


Sebetulnya bila dia mau, Zizi masih bisa membayar pembantu selama satu bulan untuk membereskan rumah dan pakainya. Namun, karena ingat dia tidak memiliki penghasilan bila tidak membuka usaha toko kue nya. Zizi pun membuang jauh pikiran itu.


Semua pekerjaan yang masih bisa dia kerjakan sendiri. Maka akan Zizi lakukan. Termasuk memasak makanan untuknya.


Sungguh nasip seseorang tidak ada yang tahu. Andai saja kedua wanita paruh baya itu mengetahui, siapa suami dari gadis yang mereka rawat. Tentunya mereka tidak akan percaya begitu saja.


Sebab dari berita telepisi, seringkali menyebutkan kalau dirumah mewah pengusaha sukses dari kota Y itu. Memiliki puluhan pembantu yang gajinya setara untuk makan selama tiga bulan.


Jadi mana mungkin akan memiliki istri yang hidup susah seperti Zivanna.


"Zizi, Bibi sudah memasak untuk kalian. Sekarang Bibi akan pulang. Bila tidak repot, nanti malam Bibi kesini lagi." Bibi Husna kembali lagi ke kamar Zizi, untuk berpamitan karena hari sudah mulai gelap.


"Oh, iya. Bila repot tidak apa-apa, Bi. Sebentar lagi Kevin juga akan datang. Baru saja dia menelepon ku. Katanya sekarang dia sudah melewati perbatasan."


"Syukurlah kalau dia sudah hampir sampai. Ini sepertinya mau hujan besar. Bibi tidak tenang meninggalkan kalian berdua."


"Iya aku tahu Bibi sangat mengkhawatirkan kami. Sekarang Bibi pulang saja. Suami dan anak-anak Bibi pasti sudah menunggu di rumah. Sama Bibi bawa pulang, bila ada makanan di lemari pendingin." kata Zivanna yang selalu menyuruh membawa makanan bila ada di dapur nya.


"Sudah Bibi bawa. Ini roti yang kami beli saat kita dirumah sakit, karena disini tidak ada yang memakannya, jadi Bibi bawa saja. Bibi pulang dulu, kunci pintunya. Nanti setelah Nak Kevin datang baru di buka lagi." setelah mengatakan itu Bibi Husna langsung saja pulang. Di ikuti oleh Zizi yang akan menutup pintunya sesuai pesan wanita tadi.


Namun, baru saja dia berbalik ingin kembali kekamar nya. Suara klakson mobil Kevin sudah terdengar. Pemuda itu sudah sampai jauh lebih cepat dari perkiraan mereka.

__ADS_1


Zivanna pun kembali lagi membuka pintu tersebut. Begitu pintunya sudah di buka. Kevin langsung saja memeluk gadis yang sudah membuatnya menangis. Pada saat Zivanna berada dalam ruangan operasi. Pemuda itu kembali menelepon ponsel milik Zizi yang dibawa oleh Bibi Husna. Betapa terkejutnya dia setelah mendengar penjelasan Bibi Husna yang mengatakan kalau bayi Zivanna sudah selamat. Namun keadaan ibunya belum tahu seperti apa.


"Kevin!" ucap Zizi binggung. Biasanya bila pemuda itu datang tidak pernah memeluknya seperti saat ini.


"Kenapa? Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal kalau saat operasi akan terjadi hal seperti itu. Kamu membuatku takut. Andai aku tahu, maka saat mengetahui kalau kamu akan melahirkan. Sore itu aku akan langsung kesini. Aku tidak akan perduli meskipun kena D,O, dari kampus." Kevin tidak memberikan Zizi untuk berkata apapun. sampai terdengar suara tangisan bayi.


Ooeee ...oooee...


Suara tangisan si kecil yang berada sendirian di dalam kamar. Membuat Kevin langsung melepaskan pelukannya.


"Ayo masuk! Aku sudah tidak sabar ingin mengendong nya." ajak Kevin sudah melupakan pertanyaannya tadi. Lalu setelah menutup pintu dia pun menyusul Zizi yang sudah berjalan duluan.


"Apa dia hanya menangis seperti itu saja?" bertanya heran karena begitu di gendong oleh sang ibu. Bayi tampan itu langsung diam.


"Iya, dia hanya menangis begitu saja." jawab Zizi tersenyum sambil mengelus pipi putranya.


"Hai sayang. Selamat datang, ya. Maaf, saat kamu baru lahir Om tidak dapat mengucapkan nya." Kevin mengambil alih mengendong bayi itu. Dia memang pintar mengendong bayi, karena kakak nya juga memiliki anak kecil.


"Namanya siapa?" tanya Kevin karena saat bicara lewat telepon dia memang belum menanyakan nya.


"Namanya Reyvano Arkana Lois. Reyvano artinya anak yang akan memiliki masa depan yang cerah. Arkana artinya kebaikan. Sedangkan Lois nama belakang ku."


"Wah sepertinya, ibumu sudah membuat namamu dari jauh-jauh hari, ya." ucap Kevin mencium gemas pipi bayi Reyvano.


BERAMBUNG....


.


.


.


.


...Setalah ini akan ada yang Mak skiip . jadi jangan kaget bila melihat Reyvano sudah bisa membawa mobil sendiri.😂 Biar Mak author semangat nulisnya, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 🤗...


Like.


Vote.


Subscribe.

__ADS_1


Bintang lima dan hadiah lainnya 😍


Terima kasih.🙏


__ADS_2