Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Pengawal Atmaja.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


📱 Jimi : "Cepat kerahkan pencarian," sentak Sekertaris Jimi yang sekarang sudah duduk di bangku kemudi.


Gara-gara shok mendapatkan kabar pesawat yang membawa tuan mudanya hilang dari radar, membuat Sekertaris Jimi marah pada pengawal yang bertugas khusus di bandara.


Padahal itu semua bukanlah kesalahannya. Dia sudah menelepon Jimi berulang kali. Namun, tidak diangkat-angkat karena ponsel Sekertaris Jimi dibawa oleh Devan kedalam ruangannya saat Reyvano menelepon.


📲 Pengawal : "Tempat mulai hilangnya radar, ada badai besar, Tuan. Untuk saat ini belum bisa melakukan pencarian daerah sana. jawab si pengawal.


📱Jimi : "Apa, kenapa menjadi begini. Tunggu saja dalam waktu dua puluh menit, Saya akan tiba di bandara." seru Sekertaris Jimi mematikan sambungan telepon.


"Tuan muda tolong bertahanlah, sampai Saya menemukan Anda."


Gumam Sekertaris Jimi mulai mengendarai mobilnya sendirian. Namun, sambil membawa kendaraan tersebut dia memberi perintah pada sebagian pengawal Atmaja group untuk menyusulnya ke bandara.


Kurang dari dua puluh menit. Sekertaris Jimi sudah tiba di bandara. Begitu dia keluar ternyata sekitar tiga puluh orang pengawal Atmaja sudah berada disana.


Bukan hanya Sekertaris Jimi yang merasa khawatir. Merekapun tak kalah khawatirnya. Devan bagaikan malaikat penolong bagi mereka yang sudah banyak di bantu.


"Tuan Sekertaris, Anda sudah datang," sambut si pengawal yang menelepon berjalan mendekati Sekertaris Jimi.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Jimi dengan sorot mata tajamnya.


"Maaf Tuan, sepertinya pesawat mereka menghadapi badai. Kemungkinan pilot Dika mencoba menghindar dari badai tersebut. Makanya bisa hilang dari pantauan radar kita, hanya dalam hitungan detik." papar pengawal itu menunduk takut.


"Apa kalian tidak memeriksa dulu sebelum pesawat yang membawa tuan muda melakukan Take off? Begini kinerja kalian bila aku tidak turun tangan? Hah, ayo jawab," Sekertaris Jimi menarik kerah kemeja si pengawal. Setelah itu dia lepaskan lagi dengan cukup kasar.


Lalu dia melihat jam pada pergelangan tangannya. Ternyata sudah lima puluh tujuh menit dari semenjak kejadian, dan belum ada kabar apakah pesawat tersebut selamat atau malah sebaliknya.


Sekertaris Jimi yang biasanya terlihat berwibawa menguyar rambutnya kebelakang. Saat Devan terpuruk saja Jimi bisa mengatasi semua masalah. Tapi bila masalah itu menyangkut nyawa tuan mudanya. Dia juga kacau seperti kehilangan istri.


Beberapa saat kemudian. Sekertaris Jimi hanya diam sebelum kembali lagi bertanya.


"Apa pihak dinas perhubungan juga belum melakukan tindakan?" tanyanya yang mulai berpikir dengan tenang. Dia tidak boleh terlihat kacau, karena sekarang semua keputusan berada di tangannya.


"Sudah Tuan, tapi untuk menjangkau titik lokasi. Mereka juga belum bisa. Coba Anda lihat cuacanya seperti apa." yang di jawab oleh pengawal lainnya.


"Huh! Berita ini tidak ada orang luar yang tahu, kan? Selain dinas perhubungan?" Sekertaris Jimi kembali merasa was-was karena takut berita tersebut menyebar dan mengakibatkan masalah baru pada perusahaan Atmaja group.


"Anda tidak perlu khawatir Tuan. Hanya orang-orang kita dan pihak bandara saja yang mengetahui. Makanya begitu kita hilang kontak dengan awak pesawat yang membawa tuan muda. Bandara langsung ditutup untuk umum." jelasnya lagi.


Sekertaris Jimi yang tidak melihat kiri-kanan sejak tadi langsung memandang di sekeliling mereka dan benar saja, selain pengawal Atmaja group tidak ada satupun orang lain di sana.


Saat mereka masih berbicara serius. Ponsel Sekertaris Jimi kembali bergetar. Lalu cepat-cepat dia mengeluarkan benda tersebut. Berharap si penelepon adalah tuan mudanya yang meminta jemput disuatu tempat.


"Ase!" gumam Sekertaris Jimi sebelum mengeser tombol hijau pada layar ponselnya.


Dengan perasaan berdebar-debar Sekertaris Jimi mendekatkan kearah telinganya. Tanpa bertanya lagi, dia sudah tahu kenapa Asel meneleponnya.


📲 Asel : "Paman... Ayah na beyum puyang, ya?" benar saja dugaan Jimi. Reyvano yang menelpon karena ingin menanyakan ayahnya.


📱 Jimi : "Iya, Tuan muda. Ayah Anak ada pekerjaan mendadak." bohong Sekertaris Jimi yang tidak mungkin mengatakan kalau Devan sudah berangkat dari satu setengah jam yang lalu.


📲 Rey : "Tenapa telja lagi? Ley mau ayah cekalang," ucap Reyvano yang tidak tidur siang sebelum ayahnya pulang.


📱 Jimi : "Ada pekerjaan penting yang tidak bisa Paman kerjakan, makanannya ayah Tuan muda kerja lagi. Tapi tadi ayah Tuan muda sudah menitipkan sesuatu, sebagai tanda maaf nya. Tunggulah paman akan mengantarnya untuk mu." jawab Sekertaris Jimi sambil matanya memberi kode pada pengawal untuk menyiapkan helikopter karena dia akan kembali ke kota X saat ini juga.


Bila Devan tahu putranya menangis. Maka tidak hanya Jimi yang kena marah. Tapi mereka semua.


📲 Rey : "Iya, tapi dangan lama," Reyvano menjawab singkat. Dia tidak mau bicara lagi dan ponselnya sudah dikembalikan pada Asel pengawal yang paling dekat dengannya.


📲 Asel : "Hallo Tuan Jimi, tuan muda kecil tidak mau bicara lagi. Apa benar Anda yang akan kembali sekarang?" bergantian Asel yang berbicara.

__ADS_1


📱 Jimi : "Iya, benar! Saya akan pulang mengunakan helikopter. Sudah terjadi sesuatu pada pesawat yang membawa tuan muda Devan. Jadi perketat keamanan keluarga Atmaja. Saya tidak ingin ada masalah baru, sedangkan kita belum menemukan keberadaannya." jelas Sekertaris Jimi langsung memutuskan sambungan tersebut.


"Apa sudah siapa?" melihat kearah pengawal yang tadi diliriknya.


"Sudah Tuan Sekertaris. Tapi--- bagaimana mungkin melakukan penerbangan dalam keadaan cuaca seperti ini."


"Saya akan kembali untuk menenangkan tuan Rey, dan memberitahu Tuan Dion. Apapun yang terjadi, kalian cepat kabari Saya. Sama satu lagi, pastikan tidak ada orang luar yang mengetahui masalah ini. Jaminannya adalah hidup kalian sendiri, jadi bekerjalah dengan baik." sekertaris Jimi menepuk pelan pundak si pengawal yang tadi sudah dimarah oleh nya.


Tanpa di beritahu dua orang pengawal langsung mengikuti orang kepercayaan tuan muda mereka. Status Sekertaris Jimi sangat berpengaruh besar pada Atmaja group. Jadi jangan heran kalau para pengawal sangat takut padanya.


Meskipun ada Devan, yang mengatur mereka juga Sekretaris Jimi.


"Tuan Jimi, untuk sampai ke kota X. Kita akan telat setengah jam dari biasanya. Anda tahu sendiri cuaca seperti ini tidak diizinkan untuk terbang meskipun rendah." kata Brainly yang bertugas sebagai orang yang membawa helikopter tersebut.


"Tidak apa-apa, asalkan kita bisa sampai ke kota X." jawab Sekertaris Jimi dengan suara berat.


Pikirannya sedang bercabang-cabang. Memikirkan keadaan Devan seperti apa. Bila terjadi penyerangan dia tidak khawatir karena Felix pasti akan melindungi tuan muda mereka dengan nyawanya. Sama halnya seperti Andes yang rela mati demi nyawa Devan.


Namun, bila pesawat tersebut mengalami kecelakaan. Sehebat apapun pengawal Atmaja group tidak akan bisa melindungi Devan. Mereka hanya akan mati bersama.


"Baiklah, kita berangkat sekarang." sebagai orang bawahan mereka semua hanya bisa patuh pada perintah Devan dan juga Sekertaris Jimi.


Entah mengapa. Cuaca yang sedari tadi pagi terlihat sangat cerah. Tiba-tiba ada badai dan mengakibatkan pesawat yang di sopir oleh pilot Dika hilang dari radar. Sampai saat ini mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi.


Selama dalam perjalanan Sekertaris Jimi begitu gelisah. Selama dia mengabdikan dirinya pada Devan. Baru inilah masalah yang tidak bisa dia atasi.


"Ari, kirim pesan pada salah seorang pengawal yang menunggu kita di bandara kota X. Suruh membelikan permainan paling mahal." kata Sekertaris Jimi setelah ingat janjinya yang ingin mengantarkan permainan sebagai tanda maaf Devan pada putranya.


Padahal itu semua adalah akal-akalan Sekertaris Jimi agar tuan muda kecilnya tidak menangis.


"Sudah Saya perintahkan dari tadi, Tuan." jawab pengawal tersebut.


Itulah hal yang paling Sekertaris Jimi sukai pada pengawal Atmaja. Tanpa disuruh mereka selalu melakukan pekerjaan dengan benar.


*


*


"Apa sudah disiapkan?" tanya Sekertaris Jimi pada pengawal yang bertugas membelikan permainan untuk Reyvano.


"Sudah Tuan Jimi. Ada di belakang Anda." menjawab sambil menjalankan kendaraan mewah tersebut menuju rumah Ayah Dion.


Setelah itu tidak ada yang berbicara lagi. Pada dasarnya mereka memang jarang berbicara apabila tidak di tanya.


"Tuan muda, demi Tuan Reyvano, tolong dimanapun anda berada bertahanlah!"


Ucap Sekertaris Jimi di dalam hatinya.


"Apa yang harus Saya katakan, apabila terjadi sesuatu pada anda"


Masih berguman karena hanya itulah yang bisa dia lakukan.


"Maaf Tuan Jimi, kita sudah sampai." bagaikan ayam kehilangan induk. Sekertaris Jimi yang tidak biasa melamun. Hari ini sampai tidak sadar kalau mobil yang membawanya sudah sampai pada tempat yang di tuju.


"Baiklah, keluarkan permainannya!" Dia langsung keluar dengan perasaan tidak menentu. Sanggup kah dia melihat wajah polos Reyvano yang dia bohongi saat ini.


Pengawal yang mengikuti dari kota Y. Berjalan masuk mengikuti Sekertaris Jimi sambil membawa mainan untuk si tuan muda kecin.


"Jimi!" seru Ayah Dion yang sedang duduk di ruangan tengah.


"Iya, Tuan." jawab Sekertaris Jimi.


"Kemana Devan? Bukannya kata Rey ayahnya akan segera datang." tanya beliau menyimpan kembali koran yang sedang dibacanya.


"Tuan muda kecil dimana?" tidak langsung menjawab. Tapi Sekertaris Jimi kembali bertanya karena takut anak kecil itu mengetahuinya berita atas hilangnya pesawat yang membawa Devan.


Tahu pasti sudah terjadi sesuatu pada putranya. Ayah Dion pun menjawab pertanyaan Sekertaris Jimi. Perasaan seorang ayah tentu saja tidak bisa dibohongi.

__ADS_1


Mendengar jawaban Ayah Dion. Sekertaris Jimi duduk di sofa. Tapi sebelum itu dia menyuruh pengawal meningkatkan mereka berdua saja.


"Huh! Maafkan Saya Tuan. Hari ini Saya telah gagal melindungi Tuan muda sesuai janji yang pernah Saya ucapkan." Sekertaris Jimi menarik nafas sebelum mengatakan apa yang sudah terjadi.


Begitulah cara para orang-orang berpangkat seperti mereka. Tidak pernah asal menyampaikan saja.


"Jelaskan saja," ujar Ayah Dion yang selalu sabar menghadapi masalah.


Lalu Sekertaris Jimi pun menceritakan kalau Devan pulang lebih awal dari keberangkatan yang sudah diaturnya, karena tidak ingin mengecewakan sang putra. Itulah alasan kenapa Devan sampai meninggal rapat penting.


"Pukul berapa pesawat yang dinaiki Devan hilang dari radar?" tanya Ayah Dion sambil memijit pelipisnya yang tiba-tiba langsung berdenyut.


"Sekitar pukul sebelas lewat tiga puluh tujuh menit. Katanya titik lokasi berada diatas samudera. Pesawat mereka diterpa badai, karena sebelum hilang dari radar. Dika sempat menyeb---"


Praaank!


Sekertaris Jimi tidak menyelesaikan lagi ucapannya karena mendengar suara gelas yang dijatuhkan oleh Zivanna.


Zizi datang kesana ingin mengantarkan kopi untuk Ayah Dion. Namun, tanpa sengaja menguping. Dia mendengar kalau pesawat yang membawa Devan mengalami musibah.


"Zi!"


"Nona Muda!"


Kedua pria itu kaget melihat Zivanna ada di sana dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"A--a--apa, apakah benar yang aku dengar?" tanya Zizi dengan terbata-bata.


"Duduklah, Nak." jawab Ayah Dion yang harus kembali lagi menyaksikan air mata di keluarganya.


"Ayah--- Apakah benar pesawat yang membawa Devan hilang dari radar?" ulang Zizi disertai air matanya.


"Eum, benar! Tapi sekarang mereka sudah mulai melakukan pencarian. Berdo'a saja, agar dia bisa selamat dari maut." ucap Ayah Dion harus tetap kuat karena dia tidak hanya memiliki Devan.


Tapi juga memiliki Reyvano yang harus dia jaga dan kuatkan bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada putra semata wayangnya.


"Apa!" lirih Zivanna merosot terduduk diatas lantai.


"Ba-ba-gaimana ini bisa terjadi, Sekertaris Jimi? Kenapa kamu tidak mendampinginya? Bukankah biasanya dia selalu pergi bersama denganmu?" Zivanna menatap Sekertaris Jimi menunggu jawaban.


Tapi dia hanya mendengar saat Ayah Dion mengatakan kalau pesawat yang di tumpangi suaminya hilang dari radar.


"Tuan muda pergi tanpa sepengetahuan Saya, Nona. Saat itu Saya lagi meneruskan rapat yang tuan muda tinggalkan karena menerima telepon dari Tuan Reyvano." ungkap Sekertaris Jimi apa adanya.


"Apa, jadi karena telepon dari putranya. Devan sampai meninggalkan rapat," ucap Zivanna termanggu pada tempat duduknya.


Sungguh dia tidak menyangka sebegitu besarnya kasih sayang Devan pada putra mereka. Sampai-sampai meninggalkan rapat hanya karena sebuah telepon dari Reyvano.


"A--a--apakah Tim Atmaja ikut mencarinya? Siapa yang mendampingi dia pergi?" rasa khawatirnya membuat Zivanna bertanya hal yang tidak pernah dia ketahui semenjak dia kembali.


Dulu Devan tidak pernah memiliki pengawal yang melebihi pejabat negara. Jadi Zivanna merasa aneh saja, begitu kembali ada puluhan pengawal yang mengikuti kemana saja mereka pergi.


"Dia didampingi oleh Felix. Tapi ada beberapa pengawal lainnya juga. Bila terjadi penyerangan mendadak dari rekan bisnis tuan muda. Saya tidak khawatir karena sudah pasti Felix akan melindungi nyawanya." Sekertaris Jimi berkata dengan yakin. Sebab Tim Atmaja yang mengawal Devan benar-benar pasukan terbaik.


Setelah itu Sekertaris Jimi kembali lagi berkata. "Namun, bila apa yang kita takutkan terjadi, maka hanya Tuhan yang bisa menyelamatkannya."


"Zi, berdirilah jangan seperti ini, Nak. Devan pasti akan baik-baik saja, yakinlah!" ucap Ayah Dion membantu Zivanna pindah keatas sofa.


"Tapi--- Bagaimana bila terjadi sesuatu padanya, Yah?" Zivanna bukanya tenang tapi semakin menagis tersedu-sedu.


"Jika terjadi sesuatu padanya. Maka kamu harus kuat, ingat ada Reyvano yang lebih merasakan kehilangan daripada kita. Bila kita terpuruk, siapa yang akan menguatkan dia," nasehat pria paruh baya itu.


.


.


.

__ADS_1


Sambil menunggu bbg Devan update. Yuk mampir di karya sahabat Mak author.



__ADS_2