Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Batal menikah.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Saat ini Devan sudah berada di dalam mobil menuju ke rumah mewahnya. Tadi sebelum pesawat yang dia tumpangi mendarat. Sekertaris Jimi memang sudah lebih dulu menunggunya di bandara.


"Apa mereka tidak menemukan petunjuk walau sedikit saja?" tanya Devan pada sekertaris Jimi.


"Maaf Tuan muda. Pengawal kita tidak dapat menemukan petunjuk sama sekali. Kemungkinan hari itu juga Nona sudah meninggal kota ini. Namun, dia tidak menaiki kendaraan umum. Makanya kita kesulitan mencari nya." lapor sekertaris Jimi sesuai pencarian yang mereka lakukan.


"Jika dia tidak menaiki kendaraan umum. Lalu dia pergi dengan siapa? Zizi tidak memiliki uang dan hanya memakai seragam pasien!" Devan memijit pelipisnya yang langsung berdenyut pusing. Bila sudah mengigat sang istri pergi hanya membawa bayi yang masih dalam kandungan dan penyakit yang di deritanya.


Sedangkan Devan tahu sang istri adalah orang baru di kota Y. Di dalam hatinya sangat mengkhawatirkan keadaan Zizi. Entah seperti apa gadis itu bisa bertahan hidup.


"Itu yang kami belum tahu. Saya sudah menyelidiki semua kenalan Nona. Pada hari Nona pergi meninggalkan rumah sakit, mereka tidak ada yang pergi keluar dari kota ini. Itu berarti Nona hanya pergi sendiri." sebagai sekertaris sekaligus tangan kanan Devan. Jimi merasa gagal sudah lalai dalam melakukan tugasnya.


"Lalu bagaimana dengan Kevin? Ada hubungan apa dia dengan istriku?" saat Devan berada di kota X. Sekertaris Jimi memang sudah memberitahu kalau Zivanna pernah pergi bersama Kevin.


"Mereka hanya berteman baik. Tapi dari hasil penyelidikan Saya. Tuan muda Kevin menyukai Nona."


"Aku sudah menduganya. Lagian mana ada laki-laki yang tidak menyukai istriku." memuji sesuatu yang sudah dia sia-siakan.


Lalu keduanya hanya diam tidak ada yang bersuara lagi. Mereka berdua larut dengan pikirannya masing-masing. Sampai beberapa saat kemudian Devan menanyakan sahabatnya.


"Jim, apa Fiona masih ada di rumah?" tanya Devan yang baru menggigat sang sahabat yang tinggal di rumahnya. Terakhir kali dia bicara dengan Fiona beberapa malam yang lalu. Itupun mereka bertengkar kecil karena wanita tersebut mengatakan kalau Devan laki-laki yang bodoh.


"Masih Tuan muda. Saya terlalu sibuk mencari nona dan sibuk di perusahaan, jadi belum sempat mengurus nya." semenjak Devan pergi sekertaris Jimi memang sangat sibuk karena di perusahaan terjadi beberapa masalah. Belum lagi mencari nona mudanya yang belum mendapatkan titik terang.


"Hem tidak apa-apa. Biar aku yang mengurusnya." ucap Devan yang mengetahui sekertaris pribadi nya itu sudah sibuk membantu masalah istri dan juga perusahaan Atmaja.

__ADS_1


"O'ya bagaimana masalah dengan perusahaan Tuan Hendrik? Apa mereka membatalkan kerjasama nya?" Walau bagaimanapun Devan tidak bisa mengabaikan Atmaja group begitu saja, karena puluhan perusahaan lainnya bernaung di bawah kekuasaan Atmaja group.


"Tuan Hendrik membatalkan kerjasama kita, karena Anda tidak hadir saat beliau ingin bertemu langsung dua hari yang lalu. Maka dari itu Saya sangat sibuk memperbaiki kekacauan yang terjadi gara-gara kerjasama kita di batalkan." terang Jimi yang baru memberikan laporan. Jika sang bos tidak bertanya lebih dulu, maka sekertaris Jimi belum berani untuk memberikan laporan lebih dulu.


"Biarlah Tuan Hendrik membatalkan kerjasama nya. Sekarang aku hanya ingin pokus mencari istri dan anakku. Untuk saat ini tolong kamu hendel semua pekerjaan yang bisa di tangani. Selebihnya mana yang tidak bisa kamu tanganin, baru beritahu aku." seru Devan sambil menatap layar ponselnya. Sekarang layar utama nya sudah di ganti dengan poto Zivanna.


"Kakak sudah kembali ... apa kamu masih berada di kota ini? Atau pergi bersama hati yang sudah aku sakiti? Saat ini kamu ada di mana? Kakak sangat merindukanmu sayang. Tolong pulang lah!"


Ratap Devan di dalam hatinya. Ada rasa tidak sanggup dia kembali ke rumah tersebut, karena di rumah itulah dia mulai menyiksa istrinya.


"Tuan muda! Kita sudah sampai." kata sekertaris Jimi untuk kesekian kalinya. Sudah lebih dari tiga menit yang lalu mobil yang dikendarai oleh nya sudah tiba di halaman rumah tersebut.


"Agh iya, terima kasih." ucap Devan tersadar dan langsung keluar sendiri dari mobilnya. Namun, baru saja menginjakkan kaki di halaman tersebut.


"Devan kamu sudah kembali." sambut Fiona yang tadi langsung berlari turun begitu melihat mobil Jimi sudah datang.


"Fi ... bagaimana kabarmu?" tanya Devan melihat sahabatnya mendekat.


"Maaf, aku sibuk tidak ada waktu untuk menelpon mu." ujar Devan mendorong tubuh Fiona agar menjauh dari tubuhnya.


"Dev---"


"Sudah! Aku sangat lelah! Kembalilah ke kamar mu. Nanti sehabis makan malam baru kita bicara." setelah pelukan Fiona terlepas Devan langsung meninggalkan wanita itu di halaman rumah nya.


"Dev, Devan!" pangil wanita itu agar Devan tidak meninggalkan nya.


"Devan! Aaakkh! Semua ini gara-gara gadis sialan itu. Awas kamu ya!" umpat Fiona dengan kesal.


Sedangkan Devan tidak peduli, dia terus saja berjalan menuju ke lantai atas tempat kamar Zizi berada. Sapaan dari para pelayan juga tidak di hiraukanya, termasuk sapaan dari Bibi Marta.


Tiba di antara tangga dan lift Devan sempat terhenti seperti menimbang sesuatu. Sebelum dia memilih menaiki tangga. Biasanya Pria itu sangat jarang berjalan melewati tangga. Dia lebih seringnya menggunakan lift. Namun, saat ini Devan malah menggunakan tangga, karena selama Zizi tinggal di rumah itu, selalu lewat sana. Sekarang apa yang berhubungan dengan istrinya selalu dia lakukan. Untuk mengurangi rasa rindu pada wanita yang sempat dia benci dan cintai secara bersamaan.

__ADS_1


Tiba di dalam kamar Devan langsung mengunci pintu tersebut. Dia sudah seperti seorang perempuan yang bila memiliki masalah akan mengurung dirinya.


"Orangnya entah berada di mana? Tapi harum dari pemilik kamar ini masih sama." gumam Devan langsung baring di atas ranjang yang berukuran sedang. Ada rasa nyaman yang pria tersebut rasakan saat masih bisa mencium bau parfum sang istri. Walau hanya sekedar mencium aroma nya saja.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Rencananya setelah makan malam nanti Devan akan berbicara pada Fiona dan mengatakan baik-baik agar gadis itu pergi dari rumahnya.


Melihat Fiona sama saja mengikatkan dosa yang sudah dia lakukan pada istrinya, karena Devan membawa Fiona tinggal bersamanya hanya untuk menyakiti Zizi. Namun, saat ini Zivanna sudah pergi dengan luka yang menganga.


Dia dan Fiona sudah berhasil menyingkirkan Zizi. Seharusnya Devan merasa bahagia, tapi ini malah sebaliknya setelah tujuannya berhasil Devan juga merasakan sakit nya.


*****


Tidak terasa waktu yang di tunggu sudah datang. Saat ini Devan dan Fiona lagi berada di balkon lantai atas. Setelah selesai makan malam Pria itu langsung mengajak sahabatnya ke sana.


"Devan ap---"


Gadis itu tidak menyelesaikan ucapannya sebab Devan sudah menyela setelah dari tadi hanya diam saja. Devan diam karena sedang merangkai kata-kata agar Fiona tidak tersinggung mendergar ucapannya.


"Fiona ... Besok pagi kembalilah ke apartemen mu. Aku akan tetap memberikan uang seperti biasanya."


"Apa maksudmu kembali ke Apartemen? Bukankah kita akan segera menikah? Aku juga tidak membutuhkan uang, tapi membutuhkan dirimu." wanita itu langsung menolak permintaan Devan.


"Ciih menikah! Aku sudah menikah dengan orang lain, Fi. Diantara kita berdua juga tidak memiliki hubungan apapun, kecuali bersahabat." ucap Devan sebelum kembali lagi melanjutkan.


"Maksudku sudah jelas, besok pagi kamu kembalilah ke Apartemen, karena aku tidak bisa lagi tinggal satu rumah dengan mu."


"Apa! Aku tidak mau pergi dari sini. Bukannya waktu itu kamu setuju untuk menikahi ku?"


"Fiona--- aku setuju karena ingin menyakiti Istriku. Tapi kamu tahu sendiri kan, sekarang dia sudah pergi. Aku sudah berhasil menyakitinya. Dendam ku sudah terbalaskan." kata Devan sambil menahan rasa nyeri di hatinya. Satu hal yang baru dia sadari, ternyata menyakiti Zizi sama saja menyakiti dirinya sendiri.


"Jadi semuanya sudah selesai! Mau atau tidaknya, besok pagi kamu harus meninggalkan rumah ini." seru Pria itu langsung meninggalkan Fiona yang menangis karena Devan tidak jadi menikahinya.

__ADS_1


"Maafkan aku Fi ... aku tidak bermaksud menyakiti mu. Tapi aku juga tidak ingin kembali menyakiti istriku. Aku menyesal sudah melukainya, dan--- aku sangat mencintai Istriku."


__ADS_2