
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Sambil berjalan mendekati ranjang tempat tidur. Devan membuka baju kaos yang ia pakai. Lalu dilempar kearah sofa begitu saja.
Cup!
Kembali memberi kecupan pada kening Zivanna. Lalu setelah mengecup di tempat tersebut, turun memberikan kecupan pada kedua pipi wanita yang sudah pasrah mau diapakan saja.
"Bukalah matanya, tidak perlu takut," Devan tersenyum karena begitu melihat dia mendekat. Zizi langsung memejamkan matanya. "Jika mau memejamkan mata, nanti setelah Kakak mulai. Ini kan baru pemanasan." semakin menggoda yang akhirnya Zivanna membuka mata tepat dihadapan mukanya yang berada di atas wajah gadis tersebut.
Cup!
Ternyata tujuan Devan bukan untuk mengoda saja, karena begitu Zizi membuka mata dan pandangan mereka bertemu. Dia kembali lagi menyatukan bibir mereka.
Setelah merasakan sensasi yang luar biasa. Devan sendiri juga ikut memejamkan matanya. Namun, meskipun mata terpejam. Tangannya tidak tinggal diam, yang tadi hanya berada di atas sekarang sudah berkelana ke mana-mana.
Sampai beberapa menit kemudian.
Aaghk!
Di sela-sela penyatuan bibir mereka. Zivanna mengeluarkan suara merdunya, suara yang mampu membuat seorang Devan Atmaja tidak suka jajan di luar lagi.
Memang tidak banyak yang tahu bahwa pengusaha tampan tersebut adalah seorang Casanova di balik kesempurnaan yang dia miliki. Semua orang hanya tahu Devan dekat bersama Fiona. Makaknya sebelum mendengar penjelasan Devan saat jumpa pers. Seluruh negeri tahunya Fiona sebagai istrinya.
Namun, pada saat Fiona masuk penjara. Devan melakukan jumpa pers karena bila tidak di lakukan. Perusahaan Atmaja group akan bangkrut, pada saat itu juga.
Eugh!
Zivanna kembali lagi mengeluarkan suara-suara emasnya. Lalu Devan melepaskan ciuman mereka setelah dia memberikan jejak pada daerah pengunungan yang dulu pernah ia daki.
"Sayang!" ucap Devan dengan tangan mulai melucuti pakaian sang istri. Detik demi detik, akhirnya apa yang melekat pada tubuh Zivanna sudah berhasil dia singkirkan.
Tau bahwa dia tidak memakai apapun lagi. Zizi membuka mata pelan. "Eum!" jawabnya karena tadi Devan memanggil dengan sebutan sayang.
"Sekarang, ya?" tanya Devan memastikan lebih dulu, meskipun Zizi sudah ia lucuti dan tanpa tersisa sehelai benang pun. Sedangkan dia masih memakai celana panjang. Hanya baju saja yang telah di lepas.
Tidak menjawab. Tapi Zivanna hanya mengangguk sebagai lampu hijau.
Sesudah mendapatkan izin. Devan langsung saja melepas pakaiannya sendiri dan setelah itu dia kembali lagi memberikan pemanasan.
Zizi yang merasa malu melihat tabung bibit lele sang suami, kembali memejamkan matanya sambil menikmati saat Devan mulai melakukan gladi resik. Sebelum melakukan acara inti.
Di dalam kamar tersebut yang terdengar hanyalah suara merdu Zizi karena mantan Si Casanova lagi berpetualang setelah sikian lama bersemedi.
__ADS_1
Augh!
Lenguh Zizi yang semakin terbuai tidak tahan. "Kak... sekarang! Aku tidak tahan," pintanya membuka mata.
Cup, cup! Muaaah!
"Heum, kakak akan mulai sekarang." kata Devan yang sebetulnya juga sudah tidak tahan. Setelah memposisikan si tabung lele tepat mengarah pada kolam ternaknya. Devan mulai mendorong pelan, karena sadar diri sudah lama dia tidak melewati jalan tersebut.
Jadi pasti jalanya akan kembali tertutup. Terutama di tutupi oleh semak-semak hutan belantara. Mungkin sekitar empat tahun lalu, belum ada tumbuhan pada daerah dia menabur bibit lelenya.
Aaaagghkk!
Dengan nafas terengah-engah keduanya saling memejamkan mata. Memang tidak sesulit dulu saat pertama kali mereka melakukannya. Akan tetapi karena sensasi luar biasanya mampu membuat pasangan suami-istri itu sama-sama mengerang panjang.
Padahal acara tersebut baru saja di mulai. Si tabung bibit lele baru saja masuk dan belum mulai menabur.
Eugh!
Suara Zizi mengalun syahdu saat Devan memulai mengerjakan tabung lelenya. "Sayang... Kakak sangat mencintaimu." balas Devan yang saat ini tengah berpacu kecepatan menunggang kudanya
Sampai setengah jam berlalu mereka berdua terus saling membarika kepuasan pada diri masing-masing.
Devan yang sudah lama berpuasa. Tentu saja tidak akan melepaskan Zivanna begitu saja. Dia terus mengali kenikmatan dengan sesekali mencium bibir istrinya lagi.
Andai saja penginapan tersebut tidak kedap suara..Maka para pengawal Atmaja group pasti akan mendengar suara tuan dan nona mudanya yang lagi bermadu kasih.
"Kakak! Aaaghkk!" racau Zizi menekan kepala Devan yang lagi berada di bawah sana.. Entah apa apa yang sedang dia lakukan? yang jelas sudah membuat Zivanna seakan-akan terbang ke nirwana.
Cup!
Devan yang telah kembali lagi keatas melahap lagi bibir Zivanna yang sudah mulai membengkak karena ulahnya. Sedikit saja dia tidak memberi ampun pada wanita itu.
Mungkin untuk besok pagi Zizi tidak akan keluar dari kamar mereka. Selain tidak kuat berjalan, tubuhnya juga telah memiliki belang karena ulah suaminya yang begitu banyak meninggalkan bekas kist Mark pada leher dan bagian yang lainnya.
Augh!.... Aaaghkk!
Tidak ada lagi yang lain. Hanya suara-suara aneh seperti itulah yang memenuhi ruangan tersebut.
"Sayang..." Devan yang sudah mulai menabur si bibit kembali meracau.
"Kakak sangat mencintaimu!" disetiap apa yang dilakukan. Hanya kata-kata cinta dan sayanglah yang diucapkan oleh Devan.
Semakin mendengar rintihan sang istri. Maka semakin dia memacu kecepatan dan juga mengungkapkan perasaannya.
Aaaagghkk!
Hampir setengah jam kemudian. Tepatnya sudah pukul setengah satu dini hari. Barulah terdengar erangan panjang dari keduanya.
__ADS_1
Aaaakkkh!
"Zi... Kakak mencintaimu, sayang!" ucap Devan tumbang di atas tubuh istrinya yang masih bergetar karena merasakan nikmatnya setelah kembali merasakan pelepasan untuk kesekian kalinya.
"Terima kasih! Sudah mau melayani Kakak," dengan nafas terengah-engah Devan meminta Maaf dan terima kasihnya.
Akan tetapi dia tidak merubah posisinya, yaitu masih berada di atas tubuh Zizi dan begitu pula dengan si tabung lele yang lagi berada di dalam kolam pribadi mikik sang istri.
"Kak...aku haus," ucap Zizi untuk pertama kalinya berbicara setelah dari tadi hanya mendesah karena nikmat.
"Mau minum?" sudah jelas haus, berarti mau minum! Agh Devan benar-benar membuat kesal bagi yang mendengar pertanyaannya.
"Heum baiklah!" jawabnya setuju. "Tunggu Kakak mengeluarkan senjata Kakak yang masih terbenam dengan sempurna pada inti mu." jawab Devan tergelak sendiri mendengar perkataannya.
Lalu dia bangkit dan menarik tabung lele tersebut keluar dari kolam yang semakin dalam, malah terasa semakin panas. Bukan dingin seperti kolam lainya.
Aaghk!
Erang Devan begitu menarik tabungnya keluar. "Bentar Kakak ambil airnya." turun dari ranjang untuk mengambil air putih yang berada di atas meja sofa.
Jangan lupakan tabung lelenya yang berukuran cukup besar. belum di tutup olehnya.
"Ini!" duduk di sisi ranjang memberikan air. "Kenapa? Apa kamu malu karena melihat Kakak belum memakai apa-apa?"
"Ck, tidak usah malu. Kamu sudah melihat, menyentuh dan menikmatinya dari tadi." berkat santai. Melihat Zizi menutup mukanya membuat Devan ingin mengulangi pergumulan panas mereka.
"Ayo duduk dulu, minum airnya. Setelah itu baru kita tidur." dengan terpaksa Zizi menurunkan tangannya dari muka. Meskipun malu tapi dia paksakan karena benar-benar merasa haus.
Cup!
"Jangan malu, kita sudah sama-sama melihat dan merasakan masing-masing." ucap Devan seraya membantu zizi duduk.
"Minumlah! Setelah itu kita tidur. Untuk malam ini sudah dulu," tersenyum saat menerima gelas yang diberikan oleh istrinya. "Tapi besok kita lakukan lagi karena Kakak ingin kamu segera hamil."
"Mana bisa langsung hamil," jawab Zizi setelah tadi hanya diam saja.
"Kenapa tidak bisa? Kakak sudah menyiram cukup banyak pada rahim mu." kembali menaiki ranjang dan berbaring. Lalu Devan menarik Zivanna agar tidur dalam pelukannya lagi.
"Sudah tidurlah! Kakak sangat yakin, setelah kita pulang dari sini, kamu akan hamil anak kedua kita." mengelus rambut panjang istrinya.
Entah karena kelelahan Zizi pun tidur dengan nyenyak. Dia membiarkan Devan yang terus mengoceh masalah anak. Sisa-sisa kenikmatan yang dia rasa, membuatnya semakin mengantuk tidak berdaya.
"Sudah tidur rupanya," Devan tersenyum karena baru menyadari jika istrinya tidur.
"Terima kasih Istriku! Kakak sangat mencintaimu dan juga putra kita." Devan yang tidak miliki teman bicara akhirnya ikut tertidur sambil memeluk istrinya.
Setelah melakukan olahraga panas yang menguras tenaga. Pasangan suami-istri itu pun tidur dengan nyenyak. Dalam keadaan tubuh sama-sama polos.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...