
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Setelah Devan menyusul mereka ke meja makan. Semuanya langsung makan dengan diam, karena di rumah tersebut dilarang berbicara apabila belum selesai menghabiskan makanannya masing-masing.
"Aghk!" tiba-tiba saat semua sedang menghabiskan makanan mereka. Zivanna melempar sendok yang dipegangnya keatas lantai.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya semuanya serempak. Hanya Reyvano yang diam menatap sang ibu. Namun, anak kecil itu tidak kaget karena ini bukanlah pertama kali ibunya seperti itu.
"A--a---aku sudah kenyang," jawab Zivanna langsung mendorong kursi meja makan lalu dia kembali lagi ke kamarnya. Pangilan dari Ibu Ellena, Ayah Dion dan suaminya. Tidak dihiraukan oleh Zizi karena saat ini dia hanya ingin sendiri.
"Nak, apa yang terjadi?" tanya Ibu Ellena menahan tangisnya karena ada Rey di dekat mereka.
"Itu semua karena trauma yang di alaminya, Bu. Malam ini Devan akan menemui Dokter Shiren. Sekertaris Jimi sudah mengatur tempat pertemuan kami." jawab Devan terus menyuapi putranya. Sedangkan dia sendiri sudah hilang selera makan melihat sang istri tidak bisa menikmati makan malamnya. Lalu apa mungkin Devan masih bisa makan? Jawabannya, tentu saja tidak!
"Dokter Shiren putrinya Aksa?" tanya Ayah Dion memastikan. Kebetulan Aksa adalah salah satu rekan bisnis yang cukup dekat dengannya.
"Iya, Yah. Shiren putrinya, Om Aksa."
"Apa kamu sudah bertanya pada Kaivan, tentang keadaan Zizi?" tidak perlu di jelaskan, tentunya Ayah Dion sudah tahu untuk apa Devan menemui putri dari sahabatnya.
"Sudah, Yah. Makanya setelah ini Devan akan pergi menemui Dokter Shiren. Bicara sama Ayah nanti setelah pulang menemuinya atau besok pagi saja." kata pria sambil memberikan putranya air minum.
Setelah kepergian Zivanna yang tiba-tiba. Mereka tidak ada lagi yang makan. Kecuali Reyvano.
"Apa masih mau nambah?" Devan bertanya pada putranya.
"Nda Ley dah tenyang," jawab si kecil minta di turunkan karena dirinya ingin kembali bermain.
"Baiklah, jika sudah! Setelah ini Ayah akan pergi sebentar. Rey main sama kakek dan nenek saja, ya?" kata Devan menurunkan sang putra, lalu saat bicara dia berjongkok dihadapan anaknya untuk mensejajarkan tubuh mereka.
"Au tali uang?" itulah yang Rey ketahui. Bila ayahnya pergi pasti mencari uang, karena ibunya selalu mengatakan kalau sang ayah pergi untuk mencari uang.
Mendengar pertanyaan buah hatinya Devan menyugikan senyum di ujung bibirnya. Dia mengelus kepala Rey sambil mendekapnya erat. Saat ini tubuh kecil putranya lah yang bisa dia jadikan sandaran.
Cup ...,
"Mulai saat ini, Ayah pergi bukan untuk mencari uang. Tapi Ayah pergi agar bisa membuat Rey dan ibu bahagia. Jadi Rey jaga ibu sampai Ayah kembali." seru pria itu setelah mencium dan melepaskan pelukannya pada sang putra.
"Iya, Ley daga ibu." jawab Rey yang mengerti ucapan ayahnya. Namun, dia tidak mengerti hal apa saja yang terjadi disekelilingnya.
"Muuah! Anak pintar, bermainlah!" Devan membiarkan putranya pergi keruangan tengah di temani para pelayan yang masih berumur tiga puluh tahun keatas.
"Huh!" menghela nafas sambil kembali berdiri. Sedangkan Ibu Ellena, begitu mendengar penuturan Devan pada cucunya langsung menangis.
Melihat Zizi sampai membanting sendok saja beliau sudah hampir menangis, karena dia juga sudah di jelaskan oleh suaminya. Kalau Zivanna mengalami traumatis setelah mengalami kejadian masa lalu.
"Apa kamu akan pergi sekarang?" Ayah Dion melihat putranya mengambil kunci mobil yang tadi dia letakan diatas meja makan.
"Iya, lebih cepat, akan lebih baik." kata Devan berhenti sejenak sebelum berbicara pada ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ibu--- Maafkan Devan. Ibu tidak usah khawatir, Devan akan melakukan apapun asalkan putri ibu bisa sembuh seperti dulu lagi. Tolong do'akan, agar Devan kuat untuk menjalani apapun yang terjadi, asalkan Zizi bisa sembuh." ucapnya langsung pergi dari sana.
Bukanya Devan tidak sopan meninggalkan orang tua begitu saja. Namun, meskipun dia seorang pemimpin perusahaan besar. Tetap saja memiliki kelemahan bila berhubungan dengan Zizi dan anaknya.
"Hick ... hick ... Ibu selalu mendo'akan kalian, Nak. Bagi ibu, kamu dan Zizi sama-sama anak Ibu." tangis wanita paruh baya itu semakin jadi setelah hanya tinggal dia dan suaminya.
"Sayang," seru Ayah Dion berjalan mendekati sang istri. Lalu didekapnya dengan erat. Setelah di mana dia bertemu dengan Marisa untuk terakhir kalinya. Hari inilah beliau kembali menjatuhkan air mata.
Pasangan paruh baya yang saling melengkapi kekurangan masing-masing itu. Selalu diberikan cobaan melewati putra-putri mereka. Seharusnya di masa tua, mereka menikmati hidup bersama anak dan cucunya. Bukan menghadapi konflik yang saling menyakiti.
"Sudahlah, Devan pasti bisa mengatasi semua. Dia pasti bisa mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan putri kita." terus memberikan ketenangan pada sang istri. Meskipun hatinya sendiri tidak tenang.
"Ibu tahu kalau Devan pasti bisa mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan Zizi. Ibu percaya padanya. Dulu saat pertama kali Zivanna pergi, dia juga berjanji akan membawa putriku kembali." seru Ibu Ellena menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.
Laki-laki yang menjadi cinta keduanya setelah Aron, ayah kandung Zivanna. Sambil menangis ibu Ellena kembali lagi berkata.
"Apa yang Devan katakan waktu itu adalah benar. Meskipun sudah hampir lima tahun, hari ini Devan sudah membawanya kembali. Tapi kenapa harus seperti ini." menangis penuh sesal itulah yang bisa dilakukan.
Sejatinya, di dalam sebuah hubungan itu membutuhkan kejujuran. Agar tidak ada penyesalan diakhirnya.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Kita tidak bisa mengembalikan waktu yang telah lalu." melepaskan pelukan mereka dan menatap mata istri cantiknya. Di iringi dengan tangan menghapus air mata yang masih menetes.
"Bagaimana bila mereka berdua benar-benar berpisah? Jika itu sampai terjadi, mereka bertiga akan sama-sama tersakiti. Ibu tidak sanggup melihat mereka begitu." ungkap ibu Ellena, karena hal itulah yang membuatnya menangis.
Meskipun saat ini putrinya mengalami depresi dan membutuhkan seorang Dokter Psikiater untuk memulihkan keadaannya. Beliau tidak merasa khawatir, karena dengan uang yang dimiliki oleh menantunya. Tidak mungkin Zivanna tidak akan sembuh.
Namun, yang dia takutkan adalah, bagaimana bila untuk kesembuhan putrinya. Devan memenuhi permintaan untuk mereka berpisah.
"Soal itu ibu tidak usah khawatir. Nanti Ayah akan berbicara dengan Devan. Untuk menyampaikan hal itulah, Ayah ingin berbicara dengannya tadi siang." jawab lelaki paruh baya itu.
"Tentu saja benar! Zizi adalah putriku juga. Ayah menyanyagi mereka berdua. Jadi tidak akan Ayah biarkan mereka berpisah. Percayalah!" tersenyum agar sang istri percaya. Padahal beliau sendiri juga kurang yakin.
*
*
Di dalam mobil yang sedang melintasi jalanan ibu kota X. Devan hanya menatap foto saat mereka berada dalam pesawat tadi siang. Meskipun Zizi sedang tidur. Tapi didalam gambar tersebut mereka berfoto satu keluarga, yang diambil oleh Devan saat Zivanna tidur dalam pelukannya.
"Mungkinkah ada harapan untuk kami bisa bersama?"
Gumamnya sambil menatap layar ponselnya yang sudah digantikan dengan foto mereka bertiga. Dimana yang tersenyum melihat kamera hanya dia dan putranya.
"Semoga semuanya akan baik-baik saja. Demi Rey, aku harus kuat. Dulu Zivanna juga menguatkan dirinya sendiri, demi anak kami."
kembali bergumam di dalam hatinya.
"Tuan muda kita sudah sampai," suara Sekertaris Jimi mengalihkan pandangannya dari foto keluarga kecilnya.
"Sudah sampai? Cepat sekali?" meskipun berkata seperti itu. Namun, Devan langsung keluar dari dalam mobil. Kali ini yang mengendarai mobil adalah Sekertaris Jimi. Bukan pengawal lagi.
Akan tetapi kemana saja mereka pergi. Tetap saja di kawal dengan ketat oleh pengawal Atmaja group dari arah depan dan belakang. Yaitu mengawal mobil yang di kemudian oleh Sekertaris Jimi. Mana mungkin mereka membiarkan tuan mudanya pergi tanpa pengawalan khusus.
"Mari kita lewat sini, Tuan Muda." mengarahkan keruang VIP yang berada di Restoran mewah di pusat ibu kota X.
__ADS_1
Mendengar banyaknya langkah kaki. Membuat wanita cantik yang sudah menunggu sedari tadi berdiri dari tempat duduknya.
"Kalian sudah datang," sapanya ramah. Kebetulan sekali Dokter muda itu pernah satu SMP dengan Devan. Namun, tidak lama karena Devan pindah sekolah setelah kedua orang tuanya berpisah.
"Eum, selamat malam, Shi. Maaf kami terlambat." balas pria itu tak kalah ramahnya.
"Tidak apa-apa! Mari silahkan duduk. Aku memang datang lebih awal karena sangat penasaran ada hal apa seorang pengusaha sukses sepertimu, mengajak bertemu secara mendadak seperti ini." kata wanita muda itu kembali lagi duduk di tempatnya, setelah mereka bersalaman lebih dulu.
"Ck, jangan terlalu memuji. Justru dirimu lah yang semakin sukses. O'ya bagaimana keadaan om dan tante?" sebelum menyampaikan maksudnya Devan berbasa-basi lebih dulu.
"Hem, mereka semua baik. Bagaimana kabar Istri kecilmu? Sepertinya setelah pernikahan kalian, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi." Shiren memang mengenal Zizi karena saat Devan menikah, dia juga ikut merayakannya.
"Justru karena istriku tidak baik-baik saja, makanya aku menemui mu." jawab Devan dengan perasaan berat harus menceritakan keadaan sang istri pada orang lain.
"Aku sudah menduganya, kamu menemuiku pasti karena membutuhkan pertolongan ku." Shiren sedikit tersenyum agar Devan tidak sungkan untuk bercerita padanya.
"Pantas saja kamu menjadi Psikiater." ikut tersenyum simpul untuk merilekskan dirinya sebelum bercarita.
"Ceritakan saja, tidak usah merasa malu. Ini memang pekerjaanku." langsung tutup poin pada masalah yang akan mereka bahas.
"Hem!" Sebelum bercerita. Devan berdehem dan memperbaiki tempat duduknya. Di dalam ruangan VIP itu hanya ada mereka. Sekertaris Jimi dan yang lainnya berjaga di luar pintu masuk.
"Shi, setelah kami menikah. Aku langsung membawa istriku pindah ke kota Y. Alasan pertama, karena usahaku berada di sana. Alasan kedua karena aku ingin balas dendam pada Ibu Ellena." ucap Devan menarik nafas berat saat harus mengigat kembali, cerita yang membawa kehancuran untuknya dan juga Zivanna.
"Setibanya di kota Y. Aku langsung menyiksanya tanpa rasa kasihan. Saat itu aku tidak sadar kalau telah mencintainya, karena perasaan tersebut sudah di tutupin oleh dendam yang ku punya." kata pria itu mengakui semuanya.
"Tunggu, tunggu! Maksudmu dendam pada Ibu Ellena, dendam apa?" sela Dokter Shiren menyela saat Devan masih menjelaskan duduk permasalahannya.
"Kamu tahu sendiri seperti apa aku di ijek oleh teman-teman kita saat ayah dan ibu Marisa berpisah. Sehingga membuat aku harus pindah sekolah. Mungkin kamu juga masih ingat, semua berita televisi membicarakan kalau ayah dan ibuku berpisah karena orang ketiga." mulai menceritakan kisah lama. Devan terlihat mulai menundukkan kepalanya. Lalu kembali lagi melanjutkan cerita tersebut.
"Nah karena aku tidak mencari tahu dan percaya pada perkataan sebelum ibu meninggalkan kami. Aku dendam pada Ibu tiriku. Aku mengira perpisahan orang tuaku disebabkan olehnya. Makanya aku menikahi istriku untuk membalaskan dendam itu."
"Astaga, Dev! Kenapa kamu bisa sebodoh itu." Shiren berdiri dari tempat duduknya karena dia tidak menyangka kalau pernikahan mewah yang menggemparkan negeri halu beberapa tahun lalu. Ternyata adalah pernikahan berselimut dendam.
"Lanjutkan saja," wanita itu kembali lagi duduk untuk mendengarkan kenapa Devan bisa membutuhkan bantuannya.
Lalu setelah itu Devan menceritakan semuanya. Tidak ada yang dia lewatkan, termasuk saat Zizi pergi ke kota F. Bertemu Almarhum Ibu Eris, saat melahirkan putra mereka, berjualan roti dan sampai dimana mereka kembali di pertemukan.
Semuanya Devan ceritakan. Termasuk penyerangan yang terjadi beberapa malam lalu. Dia berpikir, mana tahu ketakutan istrinya berasal dari kejadian itu juga.
"Aku baru mengetahuinya tadi siang. Saat melihat dia melepas semua foto dan barang-barang masa lalu kami. Aku lihat dia ketakutan. Sorot matanya yang teduh seperti biasanya, sudah tidak ada lagi. Dia seperti orang yang berbeda." Devan mengakhiri ceritanya.
"Aku rasa, selama ini dia hanya menyimpan masalahnya seorang diri. Sehingga hampir lima tahun, kejadian masa lalu masih membuatnya takut." kata shiren setelah mendengar cerita teman masa remajanya.
"Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan? Agar dia bisa sembuh dan melupakan kejadian tersebut?" tanya Devan menatap serius pada Dokter Shiren.
"Untuk saat ini bawa dia bertemu dengan ku. Nanti bila tiga atau empat kali tidak ada perubahan juga. Maka kita cari solusi lain. Atur saja waktunya, jika ingin lebih santai saat malam seperti ini, karena jika siang hari. Pasien ku juga banyak, jadi tidak leluasa bagi istrimu."
"Baiklah, kalau begitu kita akan membuat pertemuan di malam hari seperti ini saja, karena aku ingin dia merasa nyaman." putus pria itu yang siap mendampingi sang istri sampai sembuh dari rasa traumanya.
"Oke, itu juga lebih baik! Aku mau bekerja malam hari, demi kesembuhan istrimu. Jika bukan untuk Zivanna, maka aku tidak mau." memang karena kasihan pada keadaan Zivanna lah Shiren mau meluangkan waktunya.
Biasanya dokter muda itu membuka prakteknya hanya sampai jam setengah lima sore. Setelah itu dia akan kembali berkumpul bersama keluarga kecilnya, karena dia sudah menikah dan memiliki dua orang anak.
__ADS_1
"O'ya, kalian tidak usah datang ke tempat praktek ku. Kita bisa melakukannya di rumah kalian saja. Agar tidak ada yang mengetahui kalau Istri dari Presdir Atmaja group, mengalami depresi gara-gara perbuatan suaminya." cibir wanita itu karena mendengar cerita Devan dia ikut kesal.