Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Entah siapa yang salah.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Pagi ini, di kediaman keluarga Atmaja. Semuanya berjalan dengan baik. Meskipun hati para penghuninya sedang tidak baik-baik saja.


Tadi malam, saat tidur satu ranjang bersama Devan. Zizi tidak ketakutan, walaupun dia sebetulnya tidak bisa tidur. Berbeda terlabalik dengan suaminya. Pria itu tidur dengan nyenyak sambil memeluk si buah hati. Padahal Devan hanya bisa tidur dengan posisi miring, karena luka pada bahunya belum terlalu sembuh.


"Ayah, tama ibu mua pelgi?" tanya Reyvano yang melihat ibunya berdandan cantik daripada biasanya.


"Hem, iya. Hanya sebentar! Rey tidak usah ikut, ya?" jawab Zizi sambil menyuapi putranya. Saat ini mereka sedang makan di taman belakang.


Baru mengetahui kalau Zivanna memiliki trauma saat berada di meja makan. Membuat Ayah Dion dan Devan menyuruh pelayan membawa makanan tersebut ketaman belakang, karena tidak mau kejadian seperti tadi malam kembali terulang lagi.


"Ley--- mau itu!"menatap sang ibu dengan bola mata berkedip-kedip agar diizinkan untuk ikut.


"Besok saja, ya, Nak. Hari ini ibu ada pekerjaan." imbuh ibu muda itu, karena mana mungkin membawa putranya mengurus berkas perceraian mereka.


"Nda telja bitinin tue? Ley nda akal, Bu." si tampan Reyvano yang tidak tahu apa yang terjadi memaksa ingin ikut. Biasanya apabila Zivanna bekerja membuat kue, Rey selalu menemani. Jadi wajar jika hari ini dia ingin ikut. Sebab dia merasa tidak pernah mengangu saat ibunya bekerja.


"Tidak, ibu tidak mau membuat kue. Tapi--- Ibu ada pekerjaan yang tidak seharusnya anak kecil tahu." jawab Zizi terus menjawab apa yang ditanyakan oleh putranya. Selain mereka berdua, tidak ada yang bersuara.


Sebetulnya, tadi Devan yang mau menyuapi putra mereka. Namun, karena saat sudah mau sarapan. Ada telepon penting yang tidak bisa ditunda, jadinya Devan pergi mengangkat pangilan tersebut. Setelahnya, barulah dia kembali berkumpul bersama keluarganya. Tapi saat dia datang, ternyata Rey sudah disuapi oleh Zivanna.


"Tapi Ley penen dalan-dalan duga," ucap Rey masih memaksa untuk ikut. Dikiranya jika bukan pergi bekerja, ayah dan ibunya akan pergi jalan-jalan.


"Kalau Rey mau jalan-jalan, tunggu Ayah dan ibu pulang. Nanti setelah Pekerjaannya selesai, Ayah akan menjemputmu buat pergi ke taman bermain, atau jalan-jalan kemana saja yang Rey mau." yang di jawab oleh Devan, karena tahu Zizi tidak bisa menjawabnya sendiri.


"Benelan?" si tampan langsung minta diturunkan dari kursinya, karena dia akan memberikan pelukan atau ciuman untuk sang ayah.

__ADS_1


"Tentu saja, hari ini kita bertiga akan pergi bersenang-senang, karena besok pagi Ayah akan kembali ke kota Y." Devan meletakan sendok makannya. Lalu dia mengangkat tubuh Reyvano dan didudukan diatas pahanya.


"Ayah mau pelgi telja tali uang banak-banak?" saat menanyakan hal itu, terlihat wajah Rey langsung murung. Saat ini dia tidak ingin membeli permainan yang baru lagi. Reyvano hanya ingin bersama ayahnya.


Cup, cup, Muuaah!


"Hey, anak Ayah tidak boleh bersedih seperti itu. Ayah pergi tidak akan lama, seperti dulu." ucap Devan sambil menciumi pipi chubby putranya. Tidak lupa dia juga melirik Zivanna. Sehingga untuk beberapa detik, mereka saling tatap mata.


"Tanti Ayah nda puyang-puyang lagi," meskipun sudah dicium Rey tetap menekuk wajahnya.


"Tidak lama, paling cuma dua atau tiga hari. Sebagai gantinya, hari kita bertiga akan bermain sepuasnya." bujuk Devan yang sebetulnya juga berat untuk berjauhan dengan putranya.


Sebelum menyetujui negosiasi bersama Presdir Atmaja group. Reyvano diam tidak langsung menjawabnya. Si tampan adalah anak yang sangat cerdas, jadi mana mau dia asal menyetujui begitu saja.


"Tapi--- Ayah bobo tama Ley lagi, ya?" benar-benar anak pintar. Tanpa dia minta, tentu ayahnya sangat mau. Namun, permintaannya itu, tentu akan memberatkan ibunya yang sejak tadi hanya diam saja sambil memperhatikan.


Semenjak ada Reyvano. Peraturan keluarga Atmaja yang dilarang berbicara saat makan, sudah di nonaktifkan secara tidak langsung. Tidak ada yang bisa melarang si calon pewaris, meskipun masih kecil.


Hal itu pun membuat Ayah Dion dan Ibu Ellena tersenyum. Ada-ada saja, anak kecil seperti Rey sudah diajak membahas bisnis. Berbeda dengan Zivanna, wanita itu hanya diam sambil menghabiskan makanan di piringnya sendiri.


Cup ...,


"Iya, cetuju. Tita dalan-dalan dulu." jawab Reyvano yang bergantian mencium pipi ayahnya, karena belum mendapatkan tawaran bagus. Reyvano akhirnya mengikuti sara dari ayahnya, tidak boleh melewatkan kesempatan yang menguntungkan.


"Oke, Ayah setuju! Jadi Rey tinggal dengan nenek dulu. Nanti Ayah jemput." kata Devan sambil menurunkan kembali putranya, karena Reyvano sudah minta diturunkan, karena dia ingin bermain.


"Dev, apa kalian mau langsung pergi sekarang? Kenapa pagi-pagi sekali?" tanya Ayah Dion melirik jam tangannya yang baru menunjukan pukul setengah tujuh pagi, waktu dunia halu.


"Iya, Yah. Soalnya ... Zizi ingin kemakam Ayah Aron sebelum datang kepengadilan." pria itu kembali melirik sang istri yang sudah selesai sarapan.


Pagi ini, hanya Devan yang tidak menghabiskan sarapannya, karena sibuk membuat kesepakatan. Agar Reyvano mau tinggal bersama neneknya.

__ADS_1


"Oh, bagus juga kalian kesana lebih dulu. Ayah akan mendo'akan semoga kalian berdua mendapat keputusan terbaik buat kedepannya. Bila keputusan kalian sudah bulat, kami sebagai orang tua. Hanya bisa mendo'akan." seru Ayah Dion yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Meskipun dia juga memiliki harta berlimpah ruah, nyatanya. Hati seseorang tidak bisa dibeli dengan uang. Uangnya tidak bisa menyembuhkan luka yang pernah diterima oleh menantunya.


"Eum, terima kasih, Yah. Maafkan Devan sudah mengecewakan, Ayah."


"Tidak apa-apa, semua ini bukan hanya salahmu." jawab Ayah Dion berdiri dari kursinya. Bila berlama-lama disana dia tidak tahan melihat Devan dan juga Zivanna.


"Nak--- jika kalian mau kemakam Ayah Aron lebih dulu, maka pergilah sekarang! Selagi Rey masih bermain, Ibu takut dia tidak mau ditinggal lagi seperti tadi." ujar Ibu Ellena melihat kearah sang cucu yang lagi bermain tidak jauh dari mereka ditemani para pengawal.


"Iya, Bu. Kami titip Rey. Maaf, Devan sudah menyusahkan ibu." kata Devan sebelum mengajak Zizi untuk pergi.


"Ayo kita pergi sekarang!" ucapnya sambil berdiri dari meja makan. Entah ada hal apalagi, tiba-tiba Zivanna sudah kembali menampilkan wajah dinginnya. Namun, apapun itu, pasti ada hubungannya dengan masa lalu yang pernah menyakiti hatinya.


"Sayang, pergilah! Biar ibu yang menjaga anak kalian." Ibu Ellena ikut berdiri dari tempat duduknya karena ingin mendekati sang putri yang masih duduk tidak bergeming sama sekali.


"Ada apa, hem? Apa kamu berubah pikiran? Kami tidak memaksamu, Nak. Ambilah keputusan yang menurut mu baik." langsung memeluk Zivanna, karena putri semata wayangnya begitu mendengar ucapannya langsung menangis tersedu-sedu.


"Ibu--- Maafkan Zizi sudah mengecewakan kalian." ucapnya menangis dalam pelukan wanita yang sudah melahirkannya dua puluh tiga tahun lalu.


"Sudah, tidak apa-apa. Kamu dan Devan tidak ada yang salah. Ini semua salah Mak author yang sudah mempermainkan hubungan kalian berdua 🙄. Tapi percayalah, jika kalian memang sudah ditakdirkan untuk bersama. Maka siapapun tidak akan ada yang bisa memisahkan kalian." seru Ibu Ellena sudah sadar sebagai manusia. Hanya bisa menjalani saja.


*BERSAMBUNG* ...


.


.


.


Izin promo lagi ya Kakak raeder semuanya. Sambil menunggu bbg Devan update. Yuk mampir di karya sahabat Mak author. Jangan lupa untuk memberikan dukungannya juga ya.🤗 Terima kasih.😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2