Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Menjenguk Zizi.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Siang hari di perusahaan Atmaja. Devan sedang dilema antara ingin melihat Zivanna atau tidak. Sedari Dokter Kai pergi dari sana lelaki itu tidak bisa bekerja dengan tenang karena ucapan sahabatnya tadi selalu terngiang-ngiang di dalam benaknya. "Terserah padamu mau melihatnya atau tidak, tapi satu hal yang perlu kamu ketahui. Bukan resiko pada kehamilan di usianya saja tapi istrimu juga memiliki sel kanker pada tubuhnya. Tidak masalah kamu tidak peduli pada ibunya, tapi bagaimana dengan anak itu. Aku sangat yakin kalau anak yang dikandungnya adalah darah daging mu."


"Agh... bang s4t!" Devan mengumpat kesal sembari membanting pulpen di tangannya.


Tok...


Tok.....


"Masuk!" meskipun Devan masih kesal dia tetap menyuruh masuk orang yang mengetuk pintu ruangannya.


Ceklek...


Begitu pintunya dibuka munculah sosok sekertaris Jimi membawa beberapa tumpukan dokumen yang harus Devan tanda tangani. "Selamat siang Tuan Devan?" sapanya lebih dulu karena melihat bosnya hanya diam saja.


"Jimi suruh anak buah mu menyelidiki hubungan Zizi dan Ski. Laporkan padaku secepatnya." ucap Devan sambil menerima dokumen yang diberikan sekertaris Jimi padanya. Lalu dia kembali lagi berkata. "Satu lagi coba kamu cari tahu orang yang mempunyai penyakit kanker atau sejenisnya begitu. Apakah akan berbahaya." Devan kembali menjadi bodoh. Sehingga membuat Jimi mengelengkan kepalanya tidak habis pikir memiliki bos seperti Tuan mudanya itu.


"Bagaimana mungkin orang yang memiliki penyakit kanker tidak berbahaya. Tuan muda semakin hari kenapa semakin aneh dan bodoh ya. Apa karena dia dekat dengan sahabatnya itu." gumam sekertaris Jimi sambil tangannya mengotak-atik handphone miliknya.


"Kamu bicara apa, Jim?" Devan yang mendengar meskipun samar-samar tidak jelas langsung bertanya.


"Tidak ada Tuan muda. Saya sedang menghapalkan penyakit yang Anda sebutkan tadi agar tidak lupa." elaknya dengan cepat.

__ADS_1


"Bagus cari saja aku akan memeriksa dokumen ini." Pria itu percaya apa yang Jimi katakan dan dia sendiri membereskan pekerjaannya. Sampai beberapa menit kemudian barulah Jimi menemukan berbagai jenis penyakit kanker. Tapi dia belum memberitahu Devan karena melihat sang bos sedang pokus bekerja.


Tujuh menit kemudian. "Bagaimana apa sudah ketemu? Kenapa lama sekali," tanya Devan tidak sabar.


"Sudah Tuan muda! Ada beberapa jenis kanker yang sering terjadi pada ibu hamil. Anda ingin mencari tahu penyakit kanker yang mana?" sekretaris Jimi melihat ke arah sang bos.


"Sebutkan yang mana saja!"


"Pertumbuhan sel kanker sebetulnya sangat jarang terjadi. Jika terjadi pada ibu hamil biasa ada beberapa jenis sel kanker. Pertama kanker serviks, kedua kanker Ovarium, yang ketiga kanker Tiroid dan masih banyak lagi yang lainnya." Jimi sudah seperti seorang dokter dan Devan menjadi pasien nya.


"Itu tidak perlu kamu jelaskan. Aku hanya ingin tahu apakah sangat berbahaya?"


"Tentu saja sangat berbahaya. Apalagi bila yang terkena kanker itu ibu hamil. Bila dibiarkan akan berakibat patal pada nyawa ibu dan anaknya. Ada cara untuk mencegahnya yaitu operasi pengangkatan sel kanker nya. Bila penyakitnya memang sudah parah." ucap Jimi terus menjelaskan seperti apa yang tertera pada ponselnya.


Walaupun dia sedikit bingung untuk apa tuan mudanya bertanya hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan, karena Jimi memang belum tau kalau Nona mudanya sedang hamil dan mengidap penyakit sel kanker yang mereka bahas.


"Bisa Tuan muda. Tapi... buat apa Anda mencari tahu penyakit kanker dan ibu hamil. Apa kerabat Anda ada yang sakit?"


"Tidak ada, hanya Dokter Kainan memberitahu ku katanya gadis itu mengidap penyakit kanker." jawab Devan dengan acuh. Seakan-akan antara dia dan Zivanna tidak memiliki hubungan apapun.


Setelah mendengar kalau penyakitnya bisa di operasi ada sedikit lega di dalam hatinya. Jimi yang tahu siapa gadis dimaksud bosnya tidak bertanya lagi.


Begitu sudah tidak ada yang dibahas lagi, sekertaris Jimi pamit pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya sendiri, dan hanya tinggal Devan dalam ruangan itu dengan pikiran kemana-mana.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Malam hari pukul tujuh malam Devan yang masih berada di perusahaan mengajak sekertaris Jimi mampir kerumah sakit untuk menjenguk Zizi lebih dulu sebelum mereka pulang ke rumah.

__ADS_1


Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Devan hanya diam memikirkan alasannya menjenguk sang istri. Entah apa yang lelaki itu pikirkan untuk melihat keadaan istrinya sendiri harus memiliki alasan.


"Tuan muda kita sudah sampai!" suara sekertaris Jimi menyadarkan Devan dari lamunannya. Benar saja begitu dia melihat keluar mobil mereka sudah berada di depan loby rumah sakit. Masih tidak bicara Devan langsung keluar dari mobil di susul oleh Jimi karena bosnya itu membuka pintu mobilnya sendiri.


Tiba di dalam Jimi langsung bertanya pada suster yang berjaga di bagian resepsionis untuk menanyakan kamar rawat Nona mudanya. "Sus, Nona Zivanna... Lois dirawat kamar nomor berapa?" saat menyebut nama Zivanna Lois, suara sekertaris itu tercekat karena hampir menyebutkan Zivanna Atmaja.


"Nona Zivanna Lois! Sebentar ya Tuan saya cek ulang." jawab suster muda itu kembali memeriksa data pasien yang dirawat.


"Nona Zivanna Lois di rawat kamar Tujuh, Dua, Lima. Lantai paling atas ya." begitu mendapatkan data Zizi, perawat itu langsung menyebutkan dan mengarahkan mereka pada lift sebelah kanan.


"Terimakasih!" ucap Jimi sebelum menyusul Devan yang berjalan lebih dulu darinya.


Di dalam lift Devan melihat kearah sekertaris Jimi lalu berkata. "Jim nanti kamu yang duluan masuk bila keadaannya masih parah baru beritahu aku lewat pesan." merasa belum siap bertemu sang istri, pria itu memutuskan untuk menunggu di luar saja.


"Baik Tuan muda!" jawaban yang selalu sama sekertaris itu ucapkan. Begitu pintu liftnya terbuka Jimi memilih keluar lebih dulu untuk menjalankan sesuai tugas yang di perintahkan oleh atasannya. Namum, begitu tiba di depan pintu kamar rawat Zivanna. Mereka berdua melihat Dokter Kai dan Shena sedang marah pada perawat yang di tugaskan untuk menjaga Zizi.


Mereka yang penasaran pun berjalan mendekat dan langsung bertanya pada Kainan. "Ada apa Kai kenapa kamu memarahi perawat ini?" tanya Devan tidak tau ada masalah apa sehinga sahabatnya marah pada seorang wanita. Padahal Dokter Kai adalah orang yang sangat sabar.


"Devan! Kamu datang?" lain yang di tanya Devan maka lain pula jawaban Kainan.


"Iya tapi aku tidak lama, aku hanya ingin memastikan benar atau tidak ucapanmu tadi pagi. Bukan karena aku perduli pada gadis itu." ucap Devan tidak mau kalau orang mengira dia perduli pada keadaan Zizi.


Buug... buug...


"Brengsek! Apa kamu pikir aku tadi pagi jauh-jauh datang keperusahaan mu hanya untuk membuat lelucon! Buat apa kamu datang, sekarang Zizi sudah pulang." seru dokter muda itu dengan emosi sampai dia berani memberikan dua bogem mentah pada wahah Devan.


"Apa!" Devan tidak membalas pukulan dari sahabatnya itu tapi dia malah terkejut mendengar kalau Zizi sudah pulang. Tadi saat mereka dalam perjalanan berangkat ke rumah sakit. Bibi Marta menghubunginya dan menanyakan bagaimana keadaan Nona mudanya. Saking khawatir nya wanita baya itu memberanikan diri untuk menanyakan keadaan Zizi pada Devan.

__ADS_1


"Iya buat apa kamu datang kemari kalau Zivanna sudah kabur dari rumah sakit." ucap Kainan masih dalam keadaan emosi. Dia sudah bertekad akan merawat gadis itu sampai sembuh dan akan membawa Zizi tingal di kediaman orang tuanya bila Devan benar-benar tidak perduli pada istrinya itu.


__ADS_2