
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Setelah diberi waktu beberapa saat. Bayi Zivanna yang tadinya sengaja diletakkan pada dada wanita tersebut. Langsung saja dibersihkan dan dibawa keluar dari ruangan operasi. Untuk dipindahkan ketempat khusus bayi yang baru dilahirkan.
Sedangkan beberapa dokter lainya, masih melanjutkan tugas mereka masing-masing. Agar bisa menyelamatkan nyawa ibu muda itu. Saat bayinya diletakan pada dadanya tadi. Meskipun dalam keadaan tidak sadar kan diri. Zivanna meneteskan air matanya.
Apabila dia dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin Zizi akan mendekap putra kecilnya itu. Namun, takdir dia dan putranya berkata lain. Sebagai ibu yang sudah mengandung anaknya selama sembilan bulan. Zizi tidak bisa langsung menyambut kedatangan anaknya saat baru saja dilahirkan ke dunia. Seharusnya begitu lahir setelah melihat wajah para dokter. Anak tersebut bisa melihat wajah ayah dan ibu yang akan tersenyum melihatnya.
Sedangkan takdir putranya, begitu lahir belum bisa merasakan gendongan dan dekapan dari orang-orang terdekatnya. Dia hanya bisa mengharapkan belas kasih dari orang-orang yang menolongnya saja. Malam ini pun dia harus berjauhan dari sang ibu yang masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana, Dok?" salah satu dokter tersebut bertanya. Ketika melihat rekan kerjanya sudah meletakkan alat di atas nampan yang di pegang oleh perawat.
"Huh! Segala upaya sudah kita lakukan. Untuk saat ini tinggal menjahit lukanya saja. Semoga setelah ini keadaanya akan segera membaik." dokter tersebut menghela nafas lega karena hampir selesai melakukan tugasnya. Semua ketakutannya hilang karena dia sudah berhasil mengangkat sisa penyakit Zizi.
"Umurnya masih sangat muda. Tapi sudah mengalami masa yang sulit. Seharusnya bila gadis seumurannya, bila sedang hamil tidak boleh mengalami setres berlebihan. Bila dibiarkan berdampak pada keselamatan ibu dan anaknya. Apalagi dia habis melakukan pengangkatan sel kanker." kata dokter itu kembali menjelaskan sambil membantu rekannya yang bertugas menjahit.
"Tapi kenapa tekanan darahnya bisa turun drastis, dokter?" tanya perawat yang memengang nampan tempat perlenkapan
"Itu karena saat kami mengangkat sel kanker nya dulu. Ada beberapa tindakan yang tidak bisa dilakukan saat itu. Sebab, bila kami paksakan, bisa berakibat patal pada keselamatan anaknya. Makanya Saya khawatir operasinya gagal." berhenti sejenak, lalu kembali lagi bicara.
"Tapi meskipun sekarang dia sudah bisa melewati masa kritisnya. Masih membutuhkan waktu berjam-jam baru dia bisa sadar sepenuhnya. Siapapun dokter yang berjaga malam ini. Suruh memantau setiap satu jam sekali. Gadis ini tidak memiliki keluarga, yang berjaga di luar hanyalah para tetangga nya."
Dokter spialis kanker itu, sangat dekat dengan Almarhumah Ibu Eris. Makanya dia perhatian pada Zivanna, karena tahu kalau Zizi anak angkat wanita yang telah meninggal dua bulan lalu.
"Selesai, Dok!" ucap dokter yang telah selesai menjahit dan memasang perban pada perut Zizi yang dioperasi.
"Syukurlah! Kita tinggal memindahkannya keruang rawat." jawab sang Dokter spesialis kanker sambil melepaskan sarung tangannya.
"Baiklah! Untuk kerjasama hari ini terima kasih." kata dokter yang menjadi pemimpin. Lalu setelah itu mereka pun membaca do'a menurut kepercayaan masing-masing. Sama seperti saat mereka hendak melaksanakan tugasnya.
Cek ... lek...
Pintu ruangan operasi kembali dibuka untuk kedua kalinya. Pertama saat perawat membawa bayi Zivanna dan kedua Tim dokter yang bertugas.
"Dokter bagaimana keadaan Zivanna?" Bibi Emi langsung mendekati tiga orang dokter yang baru saja keluar.
"Keadaannya baik-baik saja. Walaupun tadi dia sempat kritis beberapa kali." terang si dokter. Hari ini adalah operasi paling lama yang mereka lakukan selama bertugas. Tidak hanya melakukan operasi Caesar. Namun juga mengambil bekas sel kanker yang dulu tidak bisa mereka lakukan.
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Terima kasih, Dok. Sudah menyelamatkan nyawa nya." wanita paruh baya itu tidak kuasa menahan rasa haru, karena para dokter yang mengoperasi Zizi sudah berjuang selama kurang lebih empat jam.
"Sama-sama, Nyonya. Kami tidak menyelamatkan nyawa nya. Tapi Nona Zivanna sendirilah yang berjuang untuk hidupnya. Baiklah, bila dia sudah dipindahkan keruangan perawatan, kalian boleh menjenguknya."
"Iya, dok. Sekali lagi terima kasih." Bibi Husna pun ikut mengucapkan terima kasih pada ketiga dokter tersebut.
Para dokter itupun hanya mengangguk kan kepalanya. Kemudian salah satu dari mereka berkata.
"Tidak perlu sungkan Nyonya. Ini memang sudah menjadi tugas kami. Kalau begitu kami permisi dulu." dokter dan rekan nya langsung saja menuju ruangan mereka. Sebelum pulang kerumahnya masing-masing, karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Seharusnya mereka pulang sejak jam lima tadi sore.
Tidak lama setelah dokter tadi pergi. Perawat beserta dokter yang masih berada didalam. Sudah keluar sambil mendorong ranjang tempat Zizi baring tidak berdaya. Wajahnya yang cantik terlihat sangat pucat. Infus dan oksigen masih terpasang pada tubuhnya.
"Mari ikut kami keruang perawatan, Nyonya." kata si perawat yang bertugas menutup pintunya.
Tidak bertanya. Bibi Emi, Husna dan suami mereka langsung saja mengikuti kemana para Tim medis membawa Zivanna.
__ADS_1
Setelah tiba dalam ruang rawat inap. Salah seorang dari mereka, menyerahkan Zizi pada orang-orang yang dianggap oleh dokter tersebut. Sebagai keluarga pasien. Baru setelahnya mereka pergi meninggalkan ruangan itu. Namun, sebelum pergi, dokter yang menyerahkan juga telah menjelaskan keadaan Zivanna yang mungkin saja membutuhkan waktu beberapa jam untuk sadar.
Para tetangga yang datang menjenguk juga sudah pulang dari dua jam lalu, tapi setelah bayinya dibawa keluar. Mereka juga memiliki pekerjaan sendiri-sendiri, jadi tidak bisa menunggu sampai berjam-jam lamanya.
"Semoga dirimu cepat sadar, Nak. Kasihan putra mu. Bibi tidak tega melihat dia sendirian tanpamu. Meskipun ada kami, tapi pasti dia merasa seperti tidak ada yang menyayangi nya." ucap Bibi Emi duduk dikursi samping tempat Zizi.
"Putramu sangat tampan dan sangat mirip dengan wajah mu." terdengar isakan kecil dari Bibi Emi. Wanita tersebut sudah pernah dua kali ditinggal mati oleh anak-anaknya. Makanya beliau begitu takut terjadi sesuatu pada Zivanna.
"Emi, sudahlah, jangan menangis lagi! Kamu sudah mendengar sendiri 'kan? Apa kata dokter tadi. Zivanna membutuhkan waktu cukup lama untuk sadar kembali. Tidak sama seperti pasien lainnya." jelas Bibi Husna yang memang terlihat lebih tegar.
"Aku takut dia tidak bisa bangun, Husna." Wanita paruh baya itu menyampaikan rasa khawatir nya.
Em ... sudahlah! Jangan menangisi nya. Benar apa kata Husna, kalau Zivanna pasti akan baik-baik saja." ucap suami Bibi Emi yang bernama Azman. Mendengar suaminya yang berkata. Barulah wanita tersebut diam, tidak menangis lagi.
Akhirnya malam itu mereka berempat menjaga Zizi secara bergiliran. Namun, sebelum tengah malam. Bibi Husna sudah memberitahu Kevin bagaimana keadaan Zizi. Seperti janjinya tadi sore.
Pemuda itupun, juga sudah mengirim uang ke rekening Bibi Emi. Agar mereka tidak memikirkan masalah pekerjaan selama Zivanna masih berada di rumah sakit.
Semalaman para dokter pun sesuai perintah dari rekannya. Memeriksa keadaan Zivanna setiap satu jam sekali. Meskipun keadaan Zizi semakin membaik. Tapi dokter tersebut tetap melakukan pengecekan ulang.
********************
Malam sudah berganti pagi dan pagi pun sudah berganti siang. Namun, Zizi juga belum sadar dari tidur panjangnya. Saat ini, jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Para suami Bibi Husna dan Bibi Emi, lagi kembali kerumah mereka buat mengambil pakaian ganti istrinya.
"Husna ...ja--jari ta--ta--tangan Zivanna. Jari tangan Zivanna bergerak pelan." terlalu merasa bahagia. Bibi Emi sampai tidak bisa bicara dengan benar.
"Benarkah? Coba aku lihat." Wanita paruh baya itu mendekati ranjang pasien. Tadi, dia lagi duduk di sofa menghabiskan makan siangnya.
"Iya, kamu benar! Temani dia, aku akan memanggil dokter." Bibi Husna langsung berlari keluar memanggil dokter yang siif siang.
"Dokter, tolong, Dok! Putri Saya mengerakkan jari-jari tangannya. Tolong periksa dia." kata Bibi Husna yang mengakui Zizi adalah putrinya. Wanita tersebut tidak ingin orang-orang memandang Zivanna dengan sebelah mata, karena gadis itu tidak memiliki keluarga.
Cek .. lek ...
Begitu pintunya dibuka. Bibi Husna langsung kaget karena melihat Zivanna sudah membuka matanya. Gadis itu sudah siuman.
"Zi ... sayang! Kamu sudah sadar, Nak." berjalan mendekati ranjang.
Zizi tersenyum kecil melihat kearah Bibi Husna dan dokter yang kaget melihat dia sudah sadar.
"Bi--Bibi Husna!" ucap Zizi dengan suara pelan.
"Iya sayang. Ini Bibi, Nak." langsung mengengam tangan Zizi dan mencium keningnya.
"Maaf, Nyonya. Tolong beri kami ruang untuk memeriksanya." seru dokter tersebut ingin memeriksa keadaan Zizi.
"Silakan, Dokter." kedua wanita paruh baya itu pun terpaksa menjauhi tempat Zizi. Agar dokter tersebut merasa leluasa saat melakukan pengecekan.
"Semuanya bagus! Nona Zivanna selamat. Anda bisa sadarkan diri lebih cepat dari prediksi kami." ucap si dokter telah menyimpan alat kerjanya kedalam saku jas.
"Dokter ... A--a--anak Saya mana?" suara Zizi tercekat saat menanyakan anaknya. Dia takut kalau bayi yang dikandungnya tidak bisa diselamatkan.
"Suster, tolong ambilkan baby nya dan bawa kesini. Biar dia bisa bertemu ibunya." perintah dokter itu pada suster. Dia tidak menjawab pertanyaan Zizi. Namun, langsung memerintahkan agar bayinya segera diambil.
"Tunggu sebentar, ya. Putra Anda sangat tampan. Tadi pagi Saya sudah melihatnya." puji dokter tersebut karena putra Zizi memang sangat tampan.
Kalangan dokter dan perawat di rumah sakit. Memang sedang membicarakan bayi Zivanna. Semuanya sangat kagum pada bayi itu. Masih kecil saja sudah terlihat tampan.
__ADS_1
"Nyonya, bisa tolong berikan Nona Zivanna air minum!"
"Iya, iya. Sangat bisa, Dok." sahut Bibi Emi dan juga Husn serempak.
"Agh, Husna. Kamu saja yang memberikannya." Bibi Emi mengalah dari temanya.
Lalu Bibi Husna mengangguk dan langsung mengambil air putih yang ada disana untuk diberi pada Zizi dengan cara disendokkan pelan-pelan.
"Sudah, Bi. Terima kasih!" kata Zizi yang sudah tidak merasakan haus seperti tadi.
"Dokter, kapan pasiennya boleh diberikan makanan?" tanya Bibi Husna setelah menyimpan kembali gelas tadi. Dia khawatir karena Zizi tidak makan dari kemarin siang.
"Sekarang juga sudah boleh, Nyonya. Batasnya delapan jam setelah waktu dioperasi. Hanya saja tidak boleh banyak-banyak. Sebentar lagi biar perawat mengambil makanan khusus buat pasien." saat mereka mengobrol. Suster yang mengambil putra Zizi sudah datang bersama bayinya.
"Permisi, Dok. Ini bayi nya." ucap suster menyerahkan bayi itu kepada dokter.
"Oh, iya. Kesinikan bayinya. Setelah itu, bantu menaiki ranjang bagian atas. Biar Nona Zivanna merasa nyaman." perintah si dokter. Lalu setelah tempat tidur Zizi di naikan sedikit. Barulah dokter itu menyerahkan bayi nya pada Zizi.
"Nona Zivanna, ini putra Anda." ucapannya menyerahkan bayi itu pada ibunya.
Dengan tangan bergetar yang disertai air matanya juga. Zivanna menerima buah hatinya.
"Sayang ... i--i--ini ibu. Ini ibu, Nak." bagaimana mungkin Zizi tidak menangis setelah melihat putranya. Anak yang ingin dihabisi oleh suaminya sekarang sudah lahir.
"Kata penjaga diruang bayi. Dia semalaman rewel, tidak bisa tidur seperti bayi lainnya, Nona. Mungkin dia mengkhawatirkan ibunya." kata suster yang menjemput bayinya tadi.
Mendengar nya Zizi hanya tersenyum kecil. lalu kembali lagi menatap putranya.
"Nona Zivanna, Kami permisi dulu. Sebentar lagi akan ada petugas yang mengantarkan box bayi dan juga makanan untuk, Anda." berhubung Zivanna sudah sadar. Maka bayinya akan dipindahkan, agar satu ruangan dengan ibunya.
"Terima kasih, Dokter!" jawab Zizi mengalihkan pandangannya kearah dokter dan juga suster. Sebelum mereka pergi.
"Zivanna, kami sangat mengkhawatirkan mu, Nak." seru Bibi Husna.
"Bibi Husna, Bibi Emi. Terima kasih kalian sudah menemani kami." kata Zizi dengan suara sendu.
"Aiish! Jangan bicara seperti itu. Angap kami berdua Bibi mu sendiri. Sekarang coba susui putra mu. Sepertinya dia haus." tidak mau menangis mendengar ucapan Zizi. Bibi Emi mengalihkan pembicaraan karena melihat bayi tersebut mulai gelisah.
"Agkkh! Iya, aku lupa." Zivanna tersenyum dan mulai membuka kancing baju teratas nya dan mengeluarkan wadah kehidupan anaknya, lalu Zizi pun langsung mengarahkan kemulut kecil kecil.
"Tunggu Bibi mengunci pintunya. Takutnya ada laki-laki yang masuk." seru Bibi Husna karena melihat Zizi masih malu-malu.
"Bibi duduk saja! Biar aku menyusuinya. Nanti bila sudah selesai, aku akan memangil kalian." suruh Zizi karena melihat kedua wanita paruh baya itu hanya berdiri di samping ranjangnya.
"Hem, baiklah. Kalau begitu Bibi mau kekamar mandi dulu. Bila perlu apa-apa, pangil saja kami."
Akhirnya Zizi hanya tinggal sendiri sambil menatap putranya yang menyusu seperti orang kelaparan.
"Apa putra ibu sangat haus?" ucap perempuan itu tersenyum menyelus pipi anaknya.
"Selamat datang di dunia anak, ku. Maafkan ibu tidak bisa langsung menyambut mu, saat baru dilahirkan. Sekarang dunia ibu seakan terang kembali, setelah melihat mu. Mari kita mulai menjalani kehidupan baru. Kita berdua pasti bisa hidup tanpa dia."
*BERSAMBUNG*....
.
.
__ADS_1
.
...Apabila ada kesalahan saat penerangan, tolong jangan di buli ya😥 Mak author bukan seorang dokter, jadi hanya menceritakan seperti apa yang pernah terjadi pada saudara Mak author....