
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Setelah satu jam kepergian Devan. Barulah Zivanna keluar bersama putranya yang sudah tampan. Pagi ini Zizi bangunnya kesiangan lagi, karena semalam seperti biasa. Tidak bisa tidur.
Wanita itu mengigat semua yang sudah terjadi padanya. Dari saat dia berpacaran, menikah dan juga saat Devan mulai menyiksanya, semua kenangan itu berputar layaknya sebuah kaset.
Mungkin karena tadi malam dia sudah menceritakan semuanya pada Dokter Shiren.
"Ibu, tamal Ayah." ajak si tampan begitu mereka keluar dari kamar.
"Tunggu sebentar, ibu menutup pintunya." jawab Zizi seraya menutup pintu kamarnya. "Ayo kita lihat ayahmu. Tumben dia tidak datang ke kamar ibu untuk mencarimu." ibu dan anak itu berjalan menuju kamar Devan.
Tiba di depan pintu kamar tersebut. Zivanna mengetuk pintunya beberapa kali.
Tok...
Tok...
Namun, setelah hampir lima menit mereka berada disana. Orang yang dicari belum juga membuka pintunya.
"Kemana ayah mu?" tanya Zizi pada sang putra, yang tentunya juga tidak tahu kemana pergi ayahnya.
"Dev... ini aku dan Rey." teriak Zizi tidak puas kalau hanya mengetuk. "Kenapa tidak dibuka juga?" bergumam dan kembali lagi mengetuk pintu tersebut.
Tok...
Tok...
"Dev, ini aku Zivanna," mengetuk dan memangil lagi. Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Sehingga membuat wanita itu mencoba memutar gagang pintunya, mana tahu tidak dikunci.
Ternyata benar kamar Devan tidak dikunci. Dengan langkah ragu-ragu Zivanna menuntun putranya masuk kedalam untuk memastikan Devan ada didalam sana atau tidak.
"Ayah nda ada, Bu." kata Reyvano melihat keseliling ruangan, tapi tidak dapat menemukan sosok yang mereka cari, karena saat ini Devan sudah berada dalam pesawat menuju kota Y.
"Iya sayang, ayahmu tidak ada Mungkinkah---"
Zivana tidak melanjutkan lagi ucapannya, wanita itu hanya termanggu ditempat mereka berdiri.
"Apakah dia sudah berangkat? Tapi kenapa tidak ada menemui kami sebelum pergi,"
Ucap Zizi didalam hatinya.
"Ibu, ayah nana?" mendengar suara Reyvano yang kembali menanyakan ayahnya membuat ibu muda itu tersadar. Lalu dia langsung mengendong sang putra untuk mencari Devan yang mana tahu sedang berada dilantai bawah bersama kedua orang tua mereka.
"Ibu, ayah nana? Apa ayah dah pelgi telja?" si tampan Reyvano mulai merengek karena dia masih ingat saat ayahnya menemaninya sebelum tidur.
"Besok pagi, bila Rey tidak bisa menemukan ayah, berarti ayah sudah pergi bekerja. Jadi jangan menangis, ya. Sebagai hadiahnya, nanti saat ayah pulang. Kita akan pergi jalan-jalan lagi seperti tadi siang "
Itulah pesan Devan pada putranya tadi malam saat menemani putranya sebelum tidur.
__ADS_1
"Entahlah, Nak. Ibu juga tidak tahu." jawab Zizi sambil menuruni tangga satu persatu.
Didalam hatinya berharap kalau Devan belum berangkat, karena kalau dia tidak salah dengar. Suaminya itu akan berangkat jam sembilan. Sedangkan saat ini masih jam delapan. Itu berarti waktunya masih tersisa satu jam lagi.
"Talau ayah nda puyang-puyang ladi tayak mana, Bu?" tidak tahu perasaan ibunya lagi susah. Reyvano malah bertanya seperti itu. Seakan-akan sedang menakuti sang ibu.
"Ayahmu pasti akan pulang, memangnya dia akan kemana lagi." seru Zizi mencoba menenangkan putranya.
Tiba di lantai bawah.
"Zi, kalian sudah bangun, sayang." tanya Ibu Ellena begitu melihat putri dan cucunya yang sudah rapi.
Namun, meskipun begitu, kantung mata putrinya yang kurang tidur dan bekas menangis. Tidak dapat disembunyikan. Hanya saja beliau berpura-pura tidak tahu.
"Iya, Bu. Maaf pagi ini aku tidak ikut sarapan bersama kalian. Soalnya tadi malam aku tidak bisa tidur." papar Zizi tidak mau menyinggung perasaan ibunya lagi seperti kemarin malam.
Mendengar ucapan putrinya, wanita paruh baya itu hanya tersenyum simpul sebelum kembali lagi berkata. "Iya, kami semua tahu pasti kamu tidak bisa tidur. Oleh karena itu Devan melarang ibu membangunkan kalian." katanya masih tersenyum.
"Oya Bu. Devan kemana? Tadi kami melihat didalam kamarnya tidak ada. Dia belum berangkat, kan?"
"Suamimu sudah berangkat. Mungkin saat ini pesawatnya sudah mendarat di kota Y." jawab beliau sambil berjalan mendekati Zizi lalu mengambil Reyvano untuk digendongnya.
"Apa! Sudah berangkat!" ada perasaan kecewa mendengar Devan sudah pergi tanpa berpamitan padanya. Tidak, tidak! Bukan padanya. Tapi pada Reyvano, putra mereka.
"Tadi, pagi-pagi sekali, dia sudah berulangkali ke kamar mu. Namun, Nak Devan tidak mau mengetuk pintunya karena tahu kalau dirimu baru tidur."
Melihat wajah Zivanna langsung berubah murung, Ibu Ellena menjelaskan pada putrinya itu, agar tidak berprasangka buruk pada menantunya yang juga sudah menderita semenjak Zivanna pergi.
"Tapi katanya pergi tidak akan lama. Paling lama, hanya dua atau tiga hari. Dia menitip salam pada kalian berdua." lanjut Ibu Ellena lagi, yang sekarang sudah duduk diatas karpet tempat bermain sang cucu.
Tidak hanya Devan yang membelikan permainan untuk putranya. Tapi juga Ayah Dion. Pria paruh baya itu, seakan-akan mau membuka toko mainan untuk anak-anak seusia cucu satu-satunya itu.
Devan adalah putra semata wayangnya. Jadi sudah pasti kasih sayang beliau hanya tercurahkan untuk Reyvano seorang. Calon pewaris Atmaja group berikutnya.
"Nenek, ayah nana?" Reyvano kembali bertanya pada sang nenek.
"Ayah sudah berangkat bekerja. Rey main sama nenek dulu, ya. Tapi sambil bermain, Rey harus sarapan." perempuan paruh baya itu mengelus penuh kasih sayang kepala cucunya. Lalu dia memanggil seorang pelayan.
"Bibi Susan, tolong ambilkan makanan buat Tuan muda kecil. Tadi sudah Saya siapkan." kata Ibu Ellena pada pelayan yang ikut menemani cucunya bermain.
"Baik, Nyonya!" sahut Bibi Susan pergi meninggalkan ruangan keluarga.
"Sayang, biar Ibu yang menyuapi putra kalian. Kamu pergilah sarapan, tadi ibu sudah memasak makanan kesukaanmu." kata Ibu Ellena melihat kearah Zizi yang masih berdiri ditempatnya.
"Nanti saja, Bu. Zizi belum lapar." tolak Zizi secara halus. Saat ini pikiran wanita itu tiba-tiba merasa tidak karuan. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Kemarilah, baring dipaha ibu." titah Ibu Ellena tahu kalau Zizi tidak baik-baik saja.
"Ayo, kemarilah! Aku ini ibumu, bukan orang lain. Ibu sangat merindukan putri kecil ibu, yang selalu bermanja dan berbagi kesedihannya." tidak putus asa, wanita paruh baya itu terus membujuk agar Zivanna mau baring diatas pangkuannya lagi.
"I--ibu, ma--mafkan Zizi." lirih Zivanna menyadari kalau dia salah sudah menjaga jarak dari ibunya sendiri. Namun, semua itu tidak dapat dia tolak karena hatinya yang ingin menyendiri.
"Kemarilah! Ibu tidak pernah marah padamu, jadi jangan takut." Ibu Ellena mengulurkan tangannya agar Zizi mendekati dia yang lagi duduk bersama sang cucu.
__ADS_1
Dengan perlahan Zivanna pun melangkah pelan mendekati ibunya. Lalu tiba dihadapan sang ibu. Zizi ikut duduk dan langsung merebahkan tubuhnya seperti permintaan ibunya tadi. Baring dipangkuan yang sudah lima tahun tidak pernah dia tumpangi lagi.
"Baringlah dipangkuan ibu. Jika masih mengantuk. Kamu boleh tidur." ucap beliau yang tidak ingin Zizi semakin bertekan karena mengira kalau dia sudah tidak menyanyagi putrinya.
"Ini Nyonya," si pelayan yang mengambil makanan untuk Rey sudah datang, membawa nampan kecil tempat piring yang sudah diisi dengan makanan, air putih dan juga segelas susu.
"Sayang, sini nenek siapi." kata Ibu Ellena mulai menyuapi sang cucu. Namun, dia membiarkan Zizi yang ternyata benar-benar tidur diatas pangkuannya.
Sambil menyuapi sang cucu. Sesekali beliau mengelus kapala Zivanna.
"Tidurlah, Nak. Lepaskan semua beban yang kamu tahan sendiri didalam hatimu. Ibu sangat berharap, kamu bisa memaafkan Devan." gumam Ibu Ellena yang sangat tidak tega melihat anak dan menantunya sama-sama terluka.
Sampai Reyvano selesai menghabiskan makan dan meminum susunya. Ibu Ellena membiarkan Zizi tertidur dengan nyenyak pada pangkuannya.
*
*
Sementara itu di kota Y. Devan masih dalam perjalanan menuju ke perusahaan Atmaja group. Mereka sudah mendarat kurang lebih dari dua puluh menit lalu.
"Jim, setelah dari perusahaan nanti. Kita langsung berangkat ke Kapolres." kata Devan pada Sekertaris Jimi yang duduk di sebelah bangku kemudi.
"Baik Tuan Muda. Saya akan mengatur semuanya." jawab Sekertaris Jimi seperti biasanya.
"Sama atur jadwal. Aku ingin menemui Kevin untuk meminta maaf dan juga mengucapkan terima kasih, karena dia sudah membantu istri dan anakku."
"Baik Tuan Muda." jawaban yang sama dilontarkan oleh Sekertaris Jimi. Namun, meskipun dia terlihat santai. Dia langsung mengatur semua perintah sang bos, melalui aipet yang selalu dibawanya kemana-kemana.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lain lagi, karena Devan diam sampai mereka tiba ke perusahaan Atmaja group.
Tiiin ..
Begitu melewati wilayah perusahaan. Si sopir langsung membunyikan klakson. Semua keamanan tentu saja sudah tahu siapa yang datang.
Begitu mobil berhenti didepan loby. Sekertaris Jimi keluar lebih dulu karena akan membukakan pintu mobil untuk Tuan mudanya.
"Silahkan Tuan," kata Sekertaris Jimi dengan sopan.
Devan hanya diam dan langsung turun. Lalu berjalan masuk kedalam perusahaan tersebut. Diikuti oleh Sekertaris Jimi. Sedangkan para pengawal yang menemani mereka selama dalam perjalanan dari kota X . Pergi untuk istrirahat, ketempat yang sudah disediakan.
Bila sang Presdir berada dalam perusahaan Atmaja group. Mereka semua dibebas tugaskan, karena keamanan Devan sudah terjamin didalamnya.
"Selama pagi Tuan Muda," sapa semua karyawan yang mereka temui disepanjang jalan menuju lift khusus bagi para petinggi perusahaan.
Saat hendak masuk kedalam kotak besi yang akan mengantarkan mereka ke lantai paling atas. Sekertaris Jimi berjalan lebih dulu karena dia akan membukakan pintunya untuk Devan.
"Apa semua sudah disiapkan?" setelah sejak tadi diam saja. Devan kembali bertanya.
"Sudah Tuan Muda. Semua telah disiapkan, begitu juga dengan para pemegang saham yang baru mengajukan kerjasama dengan Atmaja group." beber Sekertaris Jimi. Sambil berjalan keluar dari lift.
Lalu mereka berdua langsung menuju keruang rapat, tidak masuk kedalam kantor Devan lebih dulu, karena semua yang diperlukan sudah berada pada Sekertaris Jimi.
Begitu pintu yang menegangkan itu di buka lebar. Semua pandangan mata tertuju pada mereka.
__ADS_1
Termasuk pandangan seseorang yang duduk pada kursi barisan nomor tujuh, dari kursi kebesaran Presdir Atmaja group.
BESAMBUNG...