
π·π·π·π·π·
.
.
"Kenapa pesawat kalian bisa hilang dari radar?" tanya Zivanna menatap Devan menunggu jawaban.
"Pesawat yang kami naiki terkena badai atau krisis. Bila tidak keluar dari radar, maka kami semua pasti akan mati." jawab Devan menatap muka sang istri yang terlihat begitu serius.
Flashback on...
"Apa yang terjadi?" tanya Devan pada Felix yang sedang berdiri dari kursi tempat duduknya.
Devan yang baru saja akan memejamkan matanya, langsung terbangun saat mendengar keributan dari awak pesawat dan juga para pengawalnya.
"Di depan ada badai besar. Pilot Dika keluar dari jalur radar, karena pesawat kita mengalami krisis. Dia sedang mengalihkan ke bandara terdekat. Makanya mereka semua panik." jawab Felix masih tetap tenang, karena Pilot Dika bukanlah orang sembarangan. Dia adalah Pilot pilihan, pasti sudah tahu cara untuk menyelamatkan mereka semua.
"Bagaimana mungkin cuaca secerah ini, didepan bisa ada badai besar?" Devan yang belum pernah mengalami hal tersebut juga merasa khawatir. Dia tidak takut bila mati. Tapi yang Devan takutkan sang putra mencari dirinya.
"Anda tenang saja Tuan, Pilot Dika pasti memiliki arah sendiri. Dia tidak mungkin membiarkan Anda dan kita semua mati di dalam pesawat ini." jawab Felix menenangkannya. "Terkadang saat perubahan cuaca seperti akhir-akhir ini memang sering terjadi badai seperti ini." lanjutnya lagi. Namun, tetap dalam posisi berdiri.
Sekitar dua puluh empat menit kemudian.
"Pilot Dika berhasil melakukan pendaratan darurat." ucap pramugara memberi laporan pada Felix yang masih setia mendampingi tuan mudanya. Padahal nyawa mereka semua sudah berada di ujung tanduk.
"Agh, shykulah!" seru Felix menjatuhkan tubuhnya pada kursi yang dia duduki tadi. Merasa lega karena tidak mungkin mereka Dieley dalam waktu lama.
Devan yang mendengar mereka sudah kembali mendarat langsung menoleh keluar. Ternyata benar saja, pesawat tersebut sudah mendarat dengan sempurna. Tapi saat ini masih terus berjalan untuk melakukan Apron.
Untung saja di bandara yang mereka singgahi tidak ada penerbangan pesawat lain. Bila ada, mungkin bisa jadi mereka mengalami kecelakaan meskipun sudah mendarat.
"Kita semua selamat," ucap para pengawal merasa lega.
"Iya, aku kira kita semua akan mati." kata pengawal lainnya lagi.
"Tuhan masih menyelamatkan nyawa kita melalui Pilot Dika." lebih banyak lagi pujian yang mereka berikan untuk Dika.
Seorang Pilot yang hanya bertugas mendampingi kemana saja Presdir Atmaja group pergi. Dia dipilih langsung oleh Sekertaris Jimi. Tentunya meskipun jarang melakukan penebangan seperti Pilot lainnya. Gaji Dika jauh lebih besar.
Melihat ada pesawat lain yang mendarat darurat di landasan mereka. Para pengelola bandara tersebut langsung mendekat, karena mereka sudah tahu jika sedang terjadi badai besar. Bahkan bandara di pulau tersebut sudah tutup dari dua hari lalu.
"Tuan Muda, kita turun dulu dari sini." ucap Felix karena pintu pesawat sudah di buka oleh para pramugara dan pramugari.
"Iya, ayo!" Devan berjalan turun di dampingi oleh Felix. Sedangkan Pilot Dika beserta rekanya sudah turun lebih dulu untuk memberikan laporan pada pihak pengelola bandara.
Begitu mereka turun dari pesawat. Langsung di sambut baik dan di ajak keruang tunggu khusus untuk orang-orang tertentu. Namun, meskipun ruangan tersebut khusus. Hari ini bisa dimasuki oleh para pengawal Atmaja group, karena mereka selalu mengikuti tuan mudanya.
"Tuan Devan, meskipun dengan cara seperti ini. Kami bersyukur bisa bertemu langsung dengan orang hebat seperti Anda." ucap dari salah satu kepala dinas perhubungan bandara tersebut.
"Iya, kami juga merasa senang bisa mendarat di sini. Anda terlalu memuji, kita semua sama. Tuan... Aziel." jawab Devan ikut duduk di Sofa yang tersedia.
"Maaf Tuan, Saya menyela. Apa disini tidak ada sinyal?" tanya Felix menyela percakapan Aziel dan Devan.
"Iya, sudah dari kemarin sore sinyal disini hilang, karena ada kerusakan karena badai." jawab pria bernama Aziel.
"Gawat! Maaf Tuan Muda. Saya tidak bisa menagabari Sekertaris Jimi, bahwa kita selamat." Felix menguyar rambutnya ke belakang.
"Huh! Bagaimana bila mereka mengira kita mengalami kecelakaan. Pasti putraku akan bersedih mendengar berita ini." seru Devan penuh sesal.
"Apa kita tidak bisa melakukan penerbangan kembali?" asal bertanya karena Devan mengkhawatirkan Rey mencari dirinya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, sepertinya kalian harus menunggu sampai badai nya benar-benar berhenti. Ini demi keselamatan kalian semua." yang di jawab oleh Aziel.
Saat mereka masih mengobrol. Para pihak bandara tersebut datang membawa berbagai makan dan minuman untuk menyuguhkan kedatangan orang penting seperti Devan.
"Permisi Tuan," pamit mereka menghidangkan makanan tersebut pada meja yang ada di depan Devan, Felix dan juga Aziel.
Tidak lupa mereka juga menyiapkan untuk para pengawal Atmaja group yang duduk di Sofa lainnya.
"Aghkk! Kenapa bisa kacau seperti ini." Devan kembali mengeluh karena sudah terjebak tidak bisa kemana-mana dan memberi kabar pada keluarganya.
"Sambil menunggu waktunya membaik. Lebih baik Tuan Muda Devan dan yang lainnya menikmati makanan ala kadar yang disiapkan oleh orang-orang kami." ucap Aziel mempersilahkan karena semuanya sudah tertata diatas meja kaca.
"Heum, terima kasih, Tuan Aziel. Kami malah jadi merepotkan kalian semua." kata Devan yang saat ini hanya memikirkan Reyvano putranya. Bukan makan ataupun minuman.
"Anda tidak perlu khawatir, kami semua akan membantu kalian untuk kembali ke kota X dengan selamat. Tapi tolong ikuti arahan yang kami berikan. Ini semua demi keselamatan Anda dan para pengawal Atmaja." kata Aziel menenangkan.
Bagi sebuah bandara kecil seperti tempat mereka. Bisa di singahi oleh Devan adalah merupakan keberuntungan yang langka.
"Apa yang dikatakan oleh Tuan Aziel benar, Tuan Muda. Mau tidak mau, kita harus menunggu arahan dari mereka." imbuh Felix membenarkan, karena tugasnya adalah melindungi nyawa Devan.
Bila pilihan Devan bisa mengancam nyawanya. Maka Felix harus bisa mencegahnya. Meskipun dia juga gelisah karena pasti saat ini Sekertaris Jimi dan para rekannya sedang mencari keberadaan mereka.
Alhasil Devan hanya menyetujui. Sehingga membuat mereka terjebak di sana sampai pagi harinya. Semalaman Devan yang menolak meninggalkan bandara tersebut tidak bisa tidur sama sekali.
Aziel dan para rekan kerjanya sudah memesan hotel terbaik di kota itu. Akan tetapi Devan lebih memilih tidur di ruang tunggu yang ada di bandara tersebut. Tujuannya bila sudah mendapatkan surat izin penerbangan. Mereka semua akan kembali terbang ke kota X.
Namun, semua keinginan berbeda dari kenyataan, karena jam lima lewat tujuh belas menit. Izin baru di dapatkan. Lalu mereka semua kembali ke pesawat. Akan tetapi sebelum terbang, pesawat yang di sopir oleh Pilot Dika telah di periksa berulangkali. Takutnya ada teknisi yang bisa menghambat penerbangan selanjutnya.
Setelah berbagai pengecekan dilakukan. Pesawat tersebut kembali lagi melakukan Take off lepas landas menuju kota X yang berjarak hampir satu jam penerbangan.
Di dalam pesawat Devan terus menatap foto Reyvano. Entah apa yang terjadi pada putranya. Sehingga Devan begitu gelisah, sampai saat ini.
"Sayang, ayah sudah dalam perjalanan pulang. Apa yang terjadi padamu? Kenapa ayah sangat merasa khawatir. Apa ini hanya perasaan ayah saja karena sangat merindukanmu?"
Sebelum mereka terbang kembali ke kota X. Pihak bandara tempat mereka singgah sudah memberikan laporan pada bandara kota Y dan juga kota X. Bahwa pesawat yang membawa Presdir Atmaja group selamat dan telah melakukan Take off ke kota X.
Begitu juga dengan Felix. Begitu ada sinyal dia langsung menghubungi Sekertaris Jimi untuk memberitahukan keadaan mereka.
"Tuan Muda, mari kita turun." lamunan Devan buyar mendengar ajakan dari Felix, karena mereka sudah sampai ke tempat tujuan dalam keadaan selamat.
"Iya!" jawabnya singkat. "Felix lepas jaket mu. Aku merasa sangat dingin. Mungkin karena sepagi ini kita sudah melakukan penerbangan." meminta sesuka hatinya. Dasar bos!
"Baik Tuan Muda!" Felix yang sebelas dua belas dengan Sekertaris Jimi. Tentunya hanya menjawab, iya tuan muda. Kata-kata keramat yang sudah mendarah daging bagi mereka berdua.
Lalu sebelum turun dari pesawat. Devan memakai jaket Felix untuk mengurangi rasa dinginnya.
Setelah turun Felix menghidupkan kembali data sekuler ponselnya dan langsung mendapat kabar dari rekannya yang berada dikediaman keluarga Atmaja. Bahwa nona dan tuan muda mereka lagi dalam perjalanan menuju bandara.
"Tuan muda, baru saja Saya mendapat pesan dari rumah. Katanya nona dan tuan muda kecil sedang menyusul kita bersama Asel." kata Felix membuat Devan menghentikan langkahnya.
"Benarkah? Jika begitu kita tunggu saja di dekat mobil. Apa mereka tahu kalau kita selamat?" seru Devan begitu bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan si buah hati dan istrinya.
"Benar Tuan, tapi nona dan tuan Rey belum tahu kalau kita sudah kembali. Mereka ke sini hanya untuk menenangkan tuan muda kecil yang terus mencari Anda." papar Felix kembali lagi berjalan di belakang Devan. Menuju mobil yang menjemput mereka.
Flashback off...
"Shykulah kalian bisa kembali dalam keadaan selamat. Aku... sangat mengkhawatirkan keadaan mu." jujur Zivanna setelah mendengar cerita suaminya yang bisa selamat.
"Terima kasih, sudah mengkhawatirkan keadaan Kakak," Devan tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya mendengar Zizi yang ternyata masih mengkhawatirkan keadaannya.
"Jangan GR dulu, aku mengkhawatirkan keadaanmu karena tidak ingin membuat putraku bersedih. Tidak ada yang lainnya." ungkap Zivanna karena dia tahu pasti Devan mengira bila dia masih perduli pada suaminya itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Apapun alasannya. Kakak sangat senang mendengar kamu masih memiliki rasa khawatir pada laki-laki yang pernah menyakitimu. Meskipun semua itu untuk Reyvano." lanjut Devan karena tahu pasti Zizi akan menjawab seperti itu.
"Heum!" Zizi berdehem tidak mau membahas masalah yang ada hubungan diantara mereka berdua.
"Setelah Rey sembuh, bagaimana kalau kita berkunjung ke makam ayah dan ibu Marisa?" tanya Zizi ingin memastikan cerita ibunya.
"Boleh, tidak masalah! Tapi tunggu Rey sembuh. Rey memang harus mengetahui makam kakeknya." Devan pun menyetujui. Namun, dia tidak ada membahas ibu kandungnya.
"Dev... kemakam Ibu Marisa juga. Bukan hanya kemakam Ayah Aron. Ibumu juga nenek Reyvano." sambil berbicara Zizi terus menatap wajah Devan yang langsung berubah saat menyebutkan nama ibu mertuanya.
"Lain kali saja, bila ingin ke makam ibu ku." jawab Devan menghindar. "Sayang ini tidak seperti itu cara memasangnya." ucapannya pada sang putra.
Mengalihkan pembicaraan. Ya, itulah yang Devan lakukan saat ini. Dia bukan membenci ibu kandungnya. Tapi kecewa, rasa kecewa demi menutupi perbuatannya. Marisa membuat Devan harus memiliki dendam sampai bertahun-tahun.
Tidak hanya itu, karena dendam tersebut sudah membuat Devan menderita dari empat tahun lalu dan untuk tahun-tahun ke depannya nanti. Setelah berpisah dengan Zivanna. Mana mungkin Devan akan baik-baik saja.
"Ayah, patang yang ini." ucap Rey memberikan ban mobil yang hendak dia pasang dari tadi.
"Sini Ayah ajarkan. Rey harus bisa memasangnya, karena jika sudah besar nanti. Ayah akan membelikan mobil paling mahal dan paling bagus untukmu." Devan dengan sabar mengajari putranya.
Sehingga dia berhasil mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas ibu kandungnya lagi.
"Jadi apa yang ibu ceritakan benar. Kamu tidak pernah lagi ke makam Ibu Marisa karena kecewa padanya. Maafkan aku yang selama ini selalu berpikiran buruk terhadap mu. Aku tidak tahu kalau kamu ikut menderita karena perbuatanmu padaku dulu."
Ucap Zizi di dalam hatinya. Dia terus saja menatap Devan dengan lekat. Setelah mendengar cerita ibunya tadi malam, Zivanna baru tahu kalau apa yang Devan lakukan pada dia dan anaknya benar-benar tulus.
"Tok!
Tok!
"Iya, sebentar!" ucape Zivanna turun dari ranjang untuk membuka pintu kamar suaminya.
"Iya, ada apa Bibi?" tanyanya begitu pintu sudah terbuka.
"Maaf, Nona muda. Saya disuruh nyonya memberitahukan kalau makananya sudah siap." jawab si pelayan dengan sopan.
"Oh iya, terima kasih! Tolong bilang pada ibu, sebentar lagi kami akan turun." Karena ingin mengetahui apa yang sudah terjadi. Zivanna sampai lupa jika suaminya itu sudah sarapan atau belum.
"Baik Nona. Kalau begitu Saya permisi." kata si Bibi pelayan pergi dari sana.
"Siapa?" tanya Devan melihat Zizi sudah kembali masuk.
"Bibi Ira. Ayo kita turun, ibu sudah menyiapkan sarapan untukmu." Zivanna melihat jam pada dingin yang masih pukul sembilan pagi.
"Baiklah, ayo!" ajak Devan langsung turun dari ranjang, karena dia memang sudah lapar.
Sejak makan kemarin sore. Devan memang tidak ada makan apapun, karena selera makannya hilang. Padahal sebelum mereka terbang ke kota X. Sudah di siapkan sarapan meskipun baru jam enam pagi.
Akan tetapi dia sendiri yang tidak sarapan, karena rasa laparnya sudah di tutupi oleh rasa rindu pada sang putra.
BERSAMBUNG...
.
.
.
Maaf, ya. Kemarin Mak nggak bisa update karena lagi sakit. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya. π€ Agar Mak author semangat juga buat nulisnya.
Maaf juga, bila ada kesalahan pada saat Mak nulis ataupun memberikan penjelasan, karena ini hanya sebuah cerita kehaluan Mak, jadi harap Maklum. Jangan di buliπππ€§.π
__ADS_1
Sambil menunggu bbg Devan update. Yuk baca novel sahabat Mak author juga. Terima kasih.πππ