
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Selama dalam perjalanan pulang kehotel tempat mereka menginap. Devan hanya diam sambil memikirkan anak kecil yang main bersamanya tadi. Belum juga setengah jam, nyatanya dia sudah merindukan anak kecil tersebut.
Sementara itu Sekertaris Jimi hanya diam. Bertahun-tahun menjadi tangan kanan atau orang kepercayaan Devan. Tentu tanpa bertanya saja dia sudah paham apa yang sedang sang bos pikirkan.
Hanya saja untuk saat ini Jimi sengaja tidak memberitahu Devan kalau dia sudah mengutus pengawal dari Atmaja group untuk mengikuti Bibi Emi. Tepatnya bukan Bibi Emi, tapi Reyvano lah yang dicari tahu informasi nya.
Sekertaris Jimi adalah orang yang sangat jeli dalam menilai seseorang. Dia melihat tidak ada kemiripan antara Rey dan Bibi Emi, beserta kedua cucunya juga. Tapi malah sebaliknya Reyvano memiliki kemiripan dengan foto Devan kecil yang berada di rumah Tuan Dion.
Kedua laki-laki berbeda usia itu, juga memiliki kesukaan yang sama. Namun, bukan itu saja yang membuat Jimi langsung memberikan perintah untuk mencari tahu tentang Reyvano. Saat anak kecil itu mengatakan tidak memiliki ayah. Sekertaris Jimi berada di sana, karena dialah yang membawa es krim dan makanan lainnya. Mendengar hal tersebut, Sekertaris Jimi langsung bertindak untuk melakukan pencarian ulang.
Tidak ada yang tidak mungkin, bila Nona mudanya masih hidup dan berhasil melahirkan anaknya meskipun diponis mengidap penyakit kanker, karena selama ini mereka belum mendapatkan ada orang yang meninggal dunia tanpa identitas. Itu berarti besar kemungkinan kalau Zizi memang masih hidup.
"Reyvano." gumam Devan sambil mengingat kebersamaan dia dan Zivanna. Meskipun sudah lama, tapi Devan masih ingat. Dia memilih nama Reyvano saat mereka pergi jalan-jalan di taman ibu kota X.
Flashback on ...
"Kakak, aku mau kesana." tunjuk Zivanna pada ayunan yang berada dipinggir danau buatan.
"Eum ... ayo, biar kakak yang mengayun, ayunannya." Devan menarik tangan sang kekasih menuju ayunan tersebut. Tiba disana benar saja, Zizi duduk diatasnya dan Devan mengayunkan, ayunannya sambil tertawa bahagia.
"Apa kakak tidak ingin mencobanya?" tawar Zizi setelah hampir sepuluh menit duduk diatas ayunan tersebut.
"Boleh juga, kalau begitu turun dulu. Nanti kakak akan memangku mu. Kita akan naik bersama." Devan menghentikan ayunan tersebut, lalu setelah Zizi turun bergantian dia duduk diatasnya dan menarik gadis itu untuk duduk diatas pahanya lagi.
"Aghk! Kaka, Zizi takut. Bagaimana kalau ayunannya putus." teriak gadis itu merasa khawatir.
"Tenanglah! Ayunannya tidak akan putus, karena talinya terbuat dari rantai besi. Lagian kalau talinya putus, kakak tidak akan membiarkan kamu menyentuh tanah. Kakak akan menjagamu." ucap Devan mulai mengayun, ayunan tersebut mengunakan kakinya sendiri.
"Bagaimana? Apa masih takut?"
"Tidak lagi, karena aku percaya kakak tidak akan membiarkan aku terluka." sahut Zivanna semakin tertawa bahagia. Sungguh dia benar-benar bahagia bisa mendapatkan kekasih seperti Devan, kakak tirinya.
"Sayang, Aurira kesini, jangan jauh-jauh." pangil seorang ibu muda pada anak kecil yang berlarian tidak jauh dari pasangan kekasih yang saat ini asik menaiki ayunan.
"Kakak dengar, nama gadis kecil itu lucu sekali." kata Zivanna yang masih berada diatas ayunan bersama sang kekasih.
"Tentu saja kakak mendengarnya." jawab pemuda itu semakin memeluk erat tubuh Zivanna dari belakang.
"Zi ... kalau nanti kita memiliki anak perempuan. Kakak akan memberi namanya Zafira Alea Atmaja. Tapi----"
"Tapi kalau laki-laki mau kakak beri nama siapa?" Zivanna bertanya dengan antusias. Sehingga dia langsung menyela saat Devan belum menyelesaikan ucapannya.
"Kenapa? Apa kamu penasaran?" tanya Devan menghentikan pergerakan kakinya yang mendorong ayunan tersebut.
"Iya, cepat kasih tau siapa namanya?" desak Zizi menghadap kebelakang. Sehingga keduanya bisa merasakan detak jantung dan deru nafas mereka masing-masing. Jarak antara muka keduanya, juga hanya beberapa senti.
Cup ...
Devan langsung mencium bibir ranum Zizi yang sudah beberapa kali dia cicipi. Meskipun Devan sering tidur bersama para wanita yang menghiburnya di kota Y. Namun, dia tidak pernah mencium bibir wanita-wanita tersebut. Jadi ciuman yang dia lakukan bersama Zizi juga ciuman pertamanya.
__ADS_1
Akan tetapi tidak dengan si tabung lelenya, karena benda tersebut sudah menjelajah lembah mana saja.
"Kakak!" seru Zizi mendorong pelan dada sang kekasih agar tidak mencium bibirnya lagi, sebab gadis itu malu karena mereka masih berada di tempat umum.
"Hem! Apa?" jawab Devan, yang sedang mengontrol agar dia tidak khilaf melakukan lebih dari ciuman. Meskipun ingin balas dendam. Tapi Devan akan melakukannya setelah gadis itu dia nikahi.
"Ayo kasih tahu, siapa nama anak laki-laki kita nanti?" ulang Zizi penasaran.
"Em ... namanya Reyvano. Kakak ingin memberi nama itu. Kenapa kamu begitu penasaran? Apa sudah tidak sabar untuk memiliki anak bersama kakak?" goda Devan sambil tersenyum melihat muka Zivanna yang langsung memerah seperti cabe keriting.
"Eh, tidak, tidak! Zizi masih sekolah, mana boleh berpikiran seperti itu." gadis itu menggelengkan kepalanya cepat.
"Lalu kenapa? Masih sekolah juga tidak apa-apa. Asalkan kita sudah menikah. Kakak bisa mengatur semuanya."
"Iya, iya. Kakak memang hebat bisa mengatur semuanya. Tapi bukan karena ingin segera punya anak. Akan tetapi Zizi juga memiliki nama sendiri, bila nanti sudah menikah dan punya anak. Aku ingin memberi namanya Arkana Lois."
"Tidak masalah! Kita bisa menggabungkan namanya menjadi Reyvano Arkana Atmaja, bukan Lois. Nanti setelah kita menikah, namamu juga akan bermarga Atmaja." seru Devan menyetujui nama yang dibuat oleh Zizi. Hari ini mereka berdua sudah membicarakan masa depan yang belum diketahui seperti apa nantinya.
Flashback off ...
"Tuan muda, kita sudah sampai." ucap Sekertaris Jimi yang sudah berdiri di samping pintu mobil tempat Devan duduk.
Tok ...
Tok ...
"Tuan muda, kita sudah sampai!" ulang Sekertaris Jimi untuk kesekian kalinya.
"Hem!" hanya sebuah deheman yang Devan ucapkan. Niat hatinya pergi ke taman hiburan untuk menenangkan pikirannya. Akan tetapi bukannya mendingan malah sebaliknya.
Begitu keluar dari dalam mobil. Devan hanya diam tanpa berbicara sepatah katapun. Dia bahkan tidak menjawab sapaan dari pengawal nya dan Manejer hotel. Pandangan matanya seolah-olah telah kosong. Sehingga seperti tidak melihat orang disekitarnya.
Sekertaris Jimi yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengikuti dari belakang dan berdo'a semoga saja anak kecil yang mereka temui memang putra Tuan mudanya. Itulah alasan kenapa Jimi diam tidak memberitahu Devan bahwa dia sudah mengutus pengawal khusus Atmaja group untuk mencari tahu tentang Reyvano.
Sudah sering kali Devan mengurung dirinya karena putus asa dengan harapan yang mereka dapatkan. Selama ini dimanapun ada kabar seorang wanita yang tidak memiliki keluarga. Maka mereka akan mendatanginya.
Tiba di depan pintu kamarnya. "Jimi, tolong jangan ada yang mengangu ku. Aku butuh waktu untuk sendiri." pesan Devan langsung masuk ke kamarnya.
"Aaaghkkk! Aaaghkk!" Devan membanting ponsel miliknya yang sedang dia pegang. Lalu dia menjatuhkan dirinya diatas lantai, disertai air mata penyesalan yang tidak kunjung habis.
Penyesalan tersebut semakin terasa setelah bayangan masa lalu kembali dia ingat. Semenjak Zivanna pergi, memang baru hari ini Devan mengigat dimana dia dan Zizi pernah merencanakan nama untuk anak mereka setelah menikah.
Namun, semua itu Devan sendiri yang telah menghancurkannya. Dia sendiri yang sudah menyakiti gadis tersebut. Sehingga Zizi memilih untuk pergi membawa kenangan indah dan menyakitkan yang sudah dia berikan.
"Apa mungkin kamu memang sudah tidak ada lagi? Kenapa sampai saat ini aku belum bisa menemukan mu?" bertanya pada diri sendiri, sambil menahan sesak dihatinya.
"Tidak ada gunanya kekayaan yang aku miliki. Untuk menemukan dirimu saja aku tidak bisa." ucap Devan menarik rambutnya dengan kasar. Untung tidak ada yang melihat saat dirinya terpuruk seperti itu. Bila ada yang melihatnya. Maka Devan akan dikira sudah gila.
"Aku bodoh Zivanna, aku bodoh tidak menyadari kalau mencintaimu. Seharusnya aku tahu begitu banyak kebahagiaan yang sudah aku rencanakan untuk keluar kita. Tapi baru dua hari menjadi istriku. Aku sudah menyiksamu." seru Devan yang terus menyalahkan dirinya meskipun sudah bertahun-tahun.
Sebuah siksaan terpedih adalah, disaat kita menyesali apa yang sudah tidak ada. Bila orangnya masih hidup kita bisa melihatnya dari kejauhan. Namun, bila sudah tidak ada, bisa bersimpuh dihadapan makamnya. Akan tetapi berbeda dengan Zivanna gadis itu lenyap bagaikan ditelan bumi.
***
Sementara itu didalam kamar sebelah. Tepatnya kamar Sekertaris Jimi.
__ADS_1
📱 Jimi : "Apa, benarkah?" suara Seketaris yang masih jomblo sampai saat ini. Langsung bergetar setelah mendapatkan kabar dari pengawal yang diutusnya.
📱:"Benar Tuan, kami berdua sudah mendatangi toko kue Nona muda. Itu benar-benar dia, karena ada pembeli yang menyebut nama asli Nona."
📱 Jimi : "Bagus! Cari tahu rumah sakit tempat Nona melahirkan Tuan muda kecil, dan hubungi rekan kalian untuk berjaga disekitar rumah yang Nona tempati." perintah Jimi dengan jantung berdebar-debar.
📱 : "Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Kami sudah melakukannya. Saat ini kami berdua sedang berada di rumah sakit tempat Nona melahirkan Tuan muda Rey." jawab si pengawal khusus yang sudah melakukan tugasnya. Sebelum diberikan perintah.
📱 : "Bagus! Setelah tugas ini selesai kalian berdua akan mendapatkan rumah mewah dan mobil apa saja yang kalian inginkan." kata Jimi karena dia memang memiliki kuasa untuk memberikan hadiah tersebut pada siapa saja yang menemukan keberadaan Nona mudanya.
📱 : "Ini memang tugas kami, Tuan Jimi. Tidak perlu memberikan hadiah, karena apa yang telah Tuan muda berikan selama ini sudah lebih dari cukup." Devan sebetulnya adalah orang baik. Cuma entah mengapa dia bisa berbuat kejam pada istrinya sendiri.
📱 : "Baiklah, nanti kita bicarakan lagi, yang jelas selesaikan semuanya dengan cepat. Sebelum jam tujuh malam Saya ingin laporannya. Tapi ingat, jangan ada yang mengetahui masalah ini. Termasuk Tuan muda Devan, karena Saya akan memberitahu nya setelah hasil dari rumah sakit keluar." ucap Seketaris Jimi langsung memutuskan sambungan telepon bersama pengawal yang dia utus mengikuti Bibi Emi.
"Akhirnya kami menemukan Anda Nona. Saya tidak tahu entah sampai kapan tuan muda bisa bertahan dengan penyesalannya." Jimi menarik nafas lega. Orang yang sengsara adalah Sekertaris Jimi, karena dia akan membuat suatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Saat Devan lagi kacau memikirkan Zivanna. Maka sekertaris Jimi harus berjuang untuk mempertahankan perusahaan agar berjalan dengan setabil. Atmaja group adalah perusahaan induk di kota Y. Maka musuh yang ingin menjatuhkannya juga banyak. Hanya saja mereka bersembunyi dibalik kerjasama yang dijalin. Jadinya seolah-olah semuanya tenang tidak memiliki musuh.
***
Waktu begitu cepat berlalu. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Didalam kamar yang bersebelahan dengan kamar Devan. Sekertaris Jimi lagi mondar-mandir tidak karuan.
"Huh! Kenapa mereka belum memberi kabar juga." dari tadi sore Sekertaris Jimi gelisah menunggu telepon dari dua orang pengawal yang sedang berada di rumah sakit tempat Zizi melahirkan Reyvano. Namun, sampai saat ini kedua orang tersebut belum juga memberikan kabar.
Sebelum memberi kabar pada Devan. Mereka harus memastikan semuanya. Agar Zivanna tidak bisa mengelak saat Devan menemuinya nanti, karena Jimi sangat yakin kalau Nona mudanya itu pasti tidak akan mau mengakui kalau Reyvano adalah putra dari tuan mudanya.
Ting ...
Sebuah pesan email masuk di HP milik Sekertaris Jimi. Tau kalau itu adalah pesan dari si pengawal. Jimi langsung membuka dan membacanya. Lalu dalam menit itu juga di susul oleh pesan WhatsApp.
💌 : "Tuan, semuanya sudah sesuai dengan tanggal saat Nona pergi. Tuan Rey memang putra dari Tuan muda kita. Data yang Saya kirim melalui email adalah semua data tentang Nona saat melahirkan dan saat pengangkatan sel kanker. Semua itu diberikan langsung oleh dokter yang mengoperasi Nona muda." bunyi pesan yang dikirim melalui WhatsApp.
Tidak membalas pesan itu lagi. Sekertaris Jimi langsung keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Devan untuk menyampaikan berita bahagia tersebut.
Tok ...
Tok ...
Cek ... lek ...
Devan membuka pintu tersebut, lalu dia berjalan lagi menuju sofa tempatnya tadi. Pria itu tidak bicara apa-apa. Namun, belum lagi dia duduk. Ucapan sekertaris pribadinya membuat Devan membeku sampai beberapa saat.
"Tuan muda! Kami sudah menemukan keberadaan Nona dan Tuan muda kecil." ucap Sekertaris Jimi untuk kedua kalinya.
Deg ...
"Aku tidak lagi bermimpi 'kan? Mereka sudah menemukan Zizi dan anakku."
Ucap Devan didalam hatinya. Dia langsung meneteskan air mata begitu mendengar berita kalau sang istri sudah ditemukan keberadaannya.
"Tuan muda!" Jimi berjalan mendekati Devan lalu menyentuh pundaknya.
"Jimi, tolong antarkan aku kesana sekarang juga." ucap Devan berjalan keluar sambil menghapus sisa air matanya. Rasanya untuk berjalan saja dia sudah tidak sanggup lagi. Namun, dia harus kuat agar bisa bertemu dengan Zivanna. Dari kamarnya sampai menuju lobby hotel tersebut. Devan hanya diam saja.
Dia baru bertanya setelah mobil mereka belum juga sampai ketempat tujuan. "Jim, apa masih jauh?" tanya Devan dengan jantung berdebar-debar seakan mau keluar dari tempatnya.
__ADS_1
*BERSAMBUNG ...😂*