Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Aku tidak akan kembali.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Tidak lama menunggu, makanan yang di pesankan Kevin sudah di antar oleh jasa pengiriman. Setelah membayar nya Kevin membawa makanan tersebut ke belakang untuk di masukan ke dalam wadah dan di tata.


Begitu sudah siap pemuda itu kembali lagi kedepan menunggu Zizi selesai karena setelah itu dia juga ingin membersihkan dirinya lebih dulu sebelum mereka makan malam.


"Apa sudah selesai?" pura-pura bertanya padahal Kevin sudah tahu jawabannya. Terlihat Zizi sudah keluar dengan penampilan dan keadaan jauh dari kata baik.


"Hem ... sudah!" jawab Zizi ikut duduk di atas sofa. "Apa kamu tidak mau mandi?" sekarang gantian Zizi yang bertanya.


"Tentu saja mau mandi. Ini teh nya di minum biar perutmu hangat tidak dingin." Kevin menyodorkan teh tersebut ke hadapan Zizi. Agar gadis itu meminumnya sebelum dingin.


"Terima kasih!" hanya kata-kata terima kasih lah yang bisa Zivanna ucapkan saat ini.


"Hem! Tidak perlu sungkan. Aku mau mandi sebentar, kamu tunggu saja di sini. Setelah itu kita makan malam." kata Kevin sudah berdiri. Namun, dia berhenti dan menoleh lagi kearah Zizi.


"Jangan menunggu ku. Bila kamu sudah lapar makanlah duluan. Semuanya sudah aku siapkan di meja makan. Nanti bila sudah selesai aku akan menyusul." Pemuda itu baru ingat kalau saat ini Zivanna sedang mengandung. Bagaimana bila gadis tersebut sudah lapar.


"Aku akan menunggu dirimu." meskipun lapar mana mungkin Zizi makan lebih dulu daripada pemilik rumahnya. Lagian saat ini dia tidak merasakan lapar yang ada di dalam pikirannya hanya Almarhumah Ibu Eris.


"Jangan bilang tidak, kalau kamu sudah lapar maka makanlah duluan. Ibu hamil harus banyak makan tidak boleh telat." kembali menyuruh takutnya Zizi merasa sungkan pada nya.


"Tidak! Aku ingin makan bersama mu. Jadi cepatlah mandi jangan bicara saja." Zizi yang sudah paham sipat Kevin meskipun bersahabat hanya beberapa bulan kembali menolak.


"Oke, kalau begitu tunggu aku mandi sebentar." Kevin langsung masuk ke kamarnya agar Zizi tidak terlalu lama menunggu dirinya.


Apartemen ini memang sangat mewah. Tapi hanya memiliki satu kamar tidur. Kevin sengaja membeli yang hanya ada satu kamar, karena dia jarang datang ke kota ini bila tidak merindukan saudara ayahnya.


Ayah Kevin berasal dari kota ini. Sedangkan ibunya penduduk asli kota Y. Makanya mereka tinggal di sana. Dalam keluarga mereka pun, hanya Kevin yang masih suka datang ke tempat ini. Selain menjenguk saudara sang ayah. Dia juga mengunjungi makam kakek dan neneknya, karena tidak mau menyusahkan para saudara yang ada, Kevin membeli Apartemen sendiri.


"Ayo kita makan malam. Aku sangat lapar karena dari pagi belum makan apa-apa." ajaknya yang sudah rapi. Malam ini pria itu hanya memakai celana jeans pendek dan kaos berwarna hitam yang juga berlengan pendek.


Andai Zizi lebih dulu bertemu dengan Kevin. Mungkin dia tidak akan pernah menikah dengan kakak tirinya sendiri. Zivanna yang belum mengenal dunia luar dan belum pernah pacaran tentu sangat mudah bagi Devan yang notabe nya seorang Casanova.


Hanya membohongi dengan kata-kata cintanya. Namun, semuanya sudah terjadi, karena kebodohannya yang tidak tahu mana cinta yang tulus atau bukan. Zizi harus berhenti sekolah dan menjadi ibu muda di usianya yang kurang dari sembilan belas tahun.


"Kenapa? Apa ada yang aneh dengan pakaianku?" tanya Kevin karena Zivanna hanya diam sambil melihat kearahnya.


"Em ... tidak ada. Penampilan mu sudah oke." jawab Zizi yang tersadar dari lamunannya, dan entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Kalau sudah oke mari kita makan malam." ulang Kevin yang berjalan duluan sambil memasukkan tangan kedalam saku depannya. Gaya anak muda yang sering membuat para ibu-ibu ingin kembali muda lagi.


Melihat Kevin sudah berjalan lebih dulu Zivanna pun mengikutinya dari belakang. Tiba di meja makan gadis itu sempat kaget karena semua makanan tersebut sudah di tata dengan sangat rapi.

__ADS_1


"Ayo duduklah! Makan yang banyak. Hampir seharian ini kamu hanya menumpahkan air mata. Untuk menangis kita juga harus punya tenaga." Kevin memang suka bicara seperti itu. Bagi orang yang tidak paham, pasti akan tersinggung mendergar ucapannya. Tapi pemuda itu sudah tahu bagaimana sipat Zizi yang tidak mudah tersinggung, makanya dia berkata demikian.


"Siapa yang menyiapkan makanan ini? Apakah dirimu sendiri?" tanya Zizi yang sudah ikut duduk.


"Iya aku sendiri. Jangan merasa heran seperti itu. Bukannya aku ini pemilik Kafe. Sedikit banyak nya tentu saha aku tahu cara menata makanan." sambil berbicara Kevin sudah mengisi piring untuk Zizi. Dari nasi dan juga lauk pauknya.


"Kevin, aku bisa mengambil makanan untuk ku sendiri. Kamu tidak perlu repot-repot seperti ini. Seharusnya aku yang mengambil makanan untuk mu. Bukan malam sebaliknya" Zizi menolak dengan cara halus.


Zivanna merasa sangat malu sudah terlalu banyak menyusahkan sahabat sekaligus mantan bos nya ketika kerja paruh waktu. Hari ini bila tidak bertemu Kevin entah tidur di mana dia saat ini. Bisa-bisa berada di makam ibunya.


"Tidak apa-apa, 'kan hanya kali ini saja. "Ayo makan jangan melihat ku terus. Aku memang tampan meskipun masih kalah jauh sama su---"


"Hem! Maaf ayo makan!" Kevin hampir saja salah bicara, menyebutkan kalau masih tampan Devan daripada dia.


Zizi yang mengerti tidak bicara apapun. Dia sudah enggan walaupun hanya mendengar nama mantan suaminya. Eh, tidak! Bukan mantan, tapi masih suaminya. Bagaimana mungkin mereka bercerai bila antara keduanya tidak ada yang mengaju ke pengadilan.


Gara-gara Kevin hampir menyebutkan kata suami. Keduanya jadi sama-sama diam. Hanya suara sendok yang terdengar berpadu dengan piring. Meskipun Zizi tidak selera untuk makan, tapi demi menghargai kebaikan Kevin mau tidak mau dia menghabiskan makanan didalam piring nya.


"Apa tidak mau nambah?" pemuda itu kembali bicara karena melihat Zizi hanya menghabiskan makanan yang di ambilnya tadi.


"Tidak aku sudah kenyang. Malam ini aku sudah makan banyak. Biasa lebih sedikit dari ini." dusta Zivanna yang tidak punya alasan lainnya. Gadis itu tidak ingin menyusahkan Kevin.


"Baiklah kalau kamu lapar makan lagi saja. Makanan nya aku simpan di dalam lemari kaca yang itu." pemuda itu berdiri untuk menyimpan makanan tersebut karena dia juga sudah selesai.


"Kamu tidak perlu membereskan nya, biar aku saja. Duduklah di sini." cegah Kevin yang kembali menyuruh Zivanna duduk pada tempatnya. Padahal gadis tersebut baru saja berdiri ingin membantu si tuan rumah.


Tiba di ruang tengah.


"Kevin apa aku boleh bertanya?" tanya Zivanna yang sudah dari tadi penasaran kenapa Kevin bisa ada di kota itu dan bisa bertemu dengannya.


"Tanya saja, jangan seperti orang takut. Asalkan kamu tidak menanyakan apakah aku sudah memiliki kekasih atau belum." bicara santai sambil melihat HP yang sudah di penuhi pesan dari keluarganya.


"Kenapa kamu bisa berada di rumah sakit? Dan dari mana kamu tahu kalau yang menagis itu adalah aku?" Zivanna tidak menghiraukan candaan dari Kevin.


"Oh itu! Em ... tadi aku habis melihat bibi ku. Dia sedang sakit dan di rawat tidak jauh dari tempat mu menangis. Kalau kamu penasaran dari mana aku tahu kalau gadis yang menagis itu adalah dirimu. Itu karena aku sudah hapal suara tangis mu. Jadi berhentilah menangis." jawab Kevin tergelak karena melihat Zivanna memanyunkan bibirnya. Meskipun apa yang pemuda itu katakan benar tentu saja Zizi malu sendiri mendengar nya.


"Ah bicara dengan mu bikin mod ku bertambah buruk." ucap Zizi menghela nafas nya. Bicara dengan Kevin memang harus memiliki stok kesabaran yang cukup. Berbeda bila saat dia sedang serius. Pemuda itu bagaikan memiliki kepribadian ganda.


"Baiklah aku akan menceritakan semuanya. Tapi ... Kamu harus cerita lebih dulu bagaimana kamu bisa berada di sini dan menjadi anak angkat Ibu Eris?" tanya kevin lebih dulu karena yang dia ketahui ibu Zizi berada di kota X.


Lalu Zizi pun menceritakan dari saat dia meninggalkan rumah sakit, bertemu Ibu Eris, dia di operasi untuk mengangkat sel kankernya dan sampai mereka bisa bertemu tadi siang. Tidak ada yang gadis itu sembunyikan karena Kevin memang sudah tahu kalau dia sudah menikah dengan kakak tirinya dan di jadikan alat untuk balas dendam, yang tidak Kevin ketahui adalah siapa laki-laki yang menjadi suaminya.


"Begitulah ceritanya. Makanya aku sangat menyayangi ibu Eris, karena beliau adalah malaikat penolong bagi ku." Zivanna sudah selesai menceritakan pada Kevin.


"Kalau begitu mari ikut aku pulang ke kota Y." ucap Kevin yang tidak mungkin meninggalkan Zivanna sendirian.


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kota ini. Kamu saja yang kembali. Aku akan memulai semuanya dari awal bersama anak ku."

__ADS_1


"Zizi kamu tidak memiliki siapa-siapa lagi. Ibu Eris sudah tidak ada. Siapa yang akan menjagamu." Kevin langsung menantang keras keputusan Zivanna yang tetap bertahan di kota itu.


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku masih bisa menumpang di panti asuhan yang sering aku dan ibu datangi. Mereka pasti mau menampung ku tinggal di sana hanya beberapa waktu saja. Setidaknya sampai aku bisa membawa anak ku bekerja." sangat miris Zivanna memiliki suami dan keluarga, Namum, dia melewati kesusahan hanya seorang diri.


"Zivanna hidup di luar sana susah. Aku mohon ayo kembali ke kota Y bersama ku. Di sana aku akan mencari tempat tinggal dan bisa menjagamu. Kalau kamu tetap di sini aku tidak bisa, karena harus kuliah."


"Maaf Kev ... aku tidak bisa kembali kesana lagi. Aku tidak ingin membahayakan nyawa anak ku." Zizi mengelengkan kepalanya.


"Kamu tidak perlu takut. Aku akan melindungi mu dari Devan. Tidak akan aku biarkan dia menyakitimu." kata Kevin bersungguh-sungguh.


"Apa! Apa kamu sudah---"


Ucap Zizi kaget kalau sahabatnya itu sudah mengetahui siapa laki-laki yang menjadi suaminya.


"Aku sudah tahu semuanya Zivanna. Aku mengetahuinya karena Devan sudah beberapa kali mengancam ku. Bahkan yang terakhir baru beberapa Minggu lalu. Dia mengira kalau aku yang menyembunyikan dirimu selama ini."


"Kevin ... A--a---aku mohon. To--tolong jangan beritahu dia ka--kalau aku berada di kota ini. A--aku mohon! Dia mencari ku karena i--i--ingin membunuh anakku." ucap Zivanna terbata karena tubuhnya sudah bergetar merasa takut. Dia tidak mengira kalau sampai saat ini Devan masih mencari dirinya.


Melihat tubuh Zizi bergetar sambil menangis. Kevin berdiri lalu pindah dan duduk di samping Zivanna untuk menenangkan gadis itu.


"Jangan takut!" ucap nya memeluk erat tubuh Zivanna, karena gadis itu juga balas memeluk dirinya sambil menangis tersedu-sedu.


"Aku tidak akan memberitahu siapapun. Jangan takut! Tenanglah! Kamu sudah menangis seharian ini." mengelus dan mencium kepala Zizi yang jauh lebih pendek darinya.


"Aku akan mencari tempat tinggal untuk mu di sini. Jangan menagis lagi. Semuanya akan baik-baik saja." Kevin melepaskan pelukannya dan menatap muka Zivanna yang masih menangis. Lalu dia menghapus air mata gadis itu.


Hari ini Kevin baru mengetahui kalau Zivanna sudah mengalami masa yang sangat sulit. Entah siksaan seperti apa yang sudah Devan berikan. Sehingga hanya mendengar kalau Devan masih mencari nya Zizi sudah ketakutan.


"Jangan takut, ada aku. Besok pagi kita akan mencari tempat tinggal yang baru untuk mu. Bukannya aku tidak mau kamu tinggal di Apartemen ini. Tapi aku hanya takut kalau sewaktu-waktu anak buahnya mencari tahu Apartemen milik ku." Kevin menjeda ucapannya, lalu kembali lagi berkata.


"Tidak masalah bila mereka hanya menyakiti ku. Namun, bila Devan menyakiti mu lagi, aku tidak bisa menerimanya." seru Kevin yang kembali lagi menghapus air mata Zizi untuk kesekian kalinya.


...****************...


Di ibu kota Y.


Devan sedang menghadiri acar penting yang di temani oleh Fiona seperti biasanya. Hubungan keduanya sampai saat ini memang hanya sebagai sahabat tidak lebih. Meskipun Devan sudah tahu perasaan Fiona terhadapnya.


Dia tetap tidak ingin menikah dengan Fiona atau wanita manapun dan hanya berharap kalau Zivanna masih hidup, karena sampai saat ini baik Ayah Dion maupun Devan sendiri masih terus mencari tahu keberadaan Zizi.


Sudah dari tiga bulan yang lalu Devan kembali lagi ke perusahaan. Biasanya dia hanya bekerja dari rumah. Selebih itu, waktunya hanya di gunakan untuk mencari sang istri yang sangat dirindukan. Istri ... ya Istri! Devan memang tidak pernah berniat menceraikan Zivanna apabila gadis itu masih hidup ataupun sudah tiada. Devan bertekad bila tidak bisa menemukan Zizi. Maka dirinya tidak akan menikah lagi.


Setiap malam Devan masih menagisi kepergian Zivanna. Apabila mau tidur dia selalu memeluk buku diary zizi. Buku tersebut sudah ratusan atau bahkan sudah ribuan kali dia baca. Hampir semua isi tulisannya sudah hapal karena setiap malam membacanya.


"Dev ... ini minuman untuk mu." Fiona memberikan minuman yang baru saja di ambilnya.


Meskipun agak ragu tapi Devan menerima minuman tersebut.

__ADS_1


__ADS_2