
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Dengan langkah pelan Zivanna Lois berjalan masuk ke ruang Dokter Obygn mengikuti perawat sekaligus asisten dari dokter itu. Di dalam hatinya tidak hentinya berdo'a semoga saja apa yang ada di dalam pikirannya tidak terjadi.
"Silahkan duduk, Nona." suara perawat mengagetkan Zizi dari lamunannya.
"Ah, iya. Maaf!" ucap gadis itu merasa bersalah karena sudah kesekian kalinya si perawatan mempersilahkan dia untuk duduk.
"Selamat pagi, Nona Zivanna Lois!" sambut dokter muda yang bertag nama Shena.
"Pagi juga, Dokter!" balas Zizi seraya menerima uluran tangan dari sang dokter.
"Baiklah sekarang tolong jelaskan apa keluhan, Anda?" tanya si dokter sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Sa--saya telat datang bulan sudah hampir dua bulan, Dok." ucap Zizi sedikit tergagap.
"Oke, untuk itu tolong di jawab pertanyaan saya dulu ya, Nona. Apakah Anda sudah menikah? Lalu apa Anda ada merasa keanehan pada tubuhnya, misalkan muntah-muntah bawaannya lemas atau sebagainya?" Dokter Shena kembali bertanya agar dia tidak salah menduga sebelum melakukan pemeriksaan.
__ADS_1
"Tidak, eh maaf, Dok maksud saya, saya sudah menikah sudah hampir dua bulan. Kebetulan sekali haid terakhir saya lima hari sebelum pernikahan kami. Tapi untuk pertanyaan dokter tentang hal-hal aneh pada tubuh saya, tidak ada. Malahan saya bekerja di beberapa tempat." sahut Zizi yang memang tidak pernah merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
"Tapi... Tadi malam perut saya mendadak keram dan juga saya mengeluarkan darah segar. Namun, pagi nya saya periksa darah nya sudah tidak ada." ungkap Zizi merasa heran karena selama dia mendapatkan haid baru mengalami kejadian seperti itu.
"Oke, kalau begitu kita lakukan saja pemeriksaan. Biar misalnya ada penyakit pun bisa terlihat. Mendengar penjelasan Anda seperti nya saya tidak salah duga. Tapi bila dugaan saya benar, lalu darah apa yang Anda bilang keluar tadi malam." terang Dokter Shena merasa ada sesuatu.
"Entahlah, Dok. Saya juga baru mengalaminya sekarang. Jadi saya juga tidak tahu itu darah apa."
"Baiklah ayo kita langsung lakukan pemeriksaan. Nanti juga akan tahu Anda sakit atau hamil." ajak dokter itu yang lebih dulu berjalan mendekati tempat melakukan USG.
Zivanna pun hanya mengikuti perintah dari Dokter Shena asalkan dia bisa mengetahui dia hamil atau tidak nya. Lalu Zizi langsung berbaring di bantu juga oleh perawat dengan mengoleskan Gell pada perut datar gadis itu.
Meskipun tidak tahu apa yang di lihat oleh Dokter Shena pada layar besar dekat tempat mereka. Zizi pun ikut melihat ke sana karena ingin tahu di dalam perutnya ada apa.
"Wah! Selamat ya, ternyata dugaan saya benar Anda sedang mengandung tiga minggu."
"Aa--aa--apa? Sa--saya ha--hamil, Dok?" tanya gadis itu di ikuti dengan air matanya. Air mata bahagia dan juga air mata karena takut pada ancaman Devan yang mengatakan bila dia sampai hamil, bukan hanya nyawa anaknya saja yang akan lelaki itu habisi tapi juga nyawa nya.
"Iya, Nona sedang hamil muda. Jadi tolong di jaga dengan baik, jangan terlalu lelah, kurangi pekerjaan yang berat-berat." nasihat Dokter Shena yang masih memerika perut gadis itu.
"Sepertinya ada penyakit pada rahim Anda, Nona. Coba kalian lihat, yang seperti biji kacang ini adalah calon bayi nya. Tapi yang lebih kecil ini bukan janin, ini seperti sel kanker." bukan hanya Zizi yang terkejut tapi juga Dokter Shena.
__ADS_1
"Ka--ka--kanker, Dok? Apakah saya juga punya penyakit kanker?" berita kehamilannya saja sudah membuat gadis itu shok lalu bagaimana mungkin Mak author juga memberinya penyakit kanker.
"Iya betul, tapi anda tidak perlu khawatir kita masih bisa mencegah agar sel nya tidak berkembang biak. Asalkan Nona mengikuti apa yang saya anjurkan nanti. Tapi yang jelas mulai sekarang Anda jangan bekerja dulu, karena apa bila terlalu lelah, tubuh kurang sehat, sel ini akan menyebar dengan cepat." kata Dokter Shena sambil kembali menurunkan dress Zizi yang tadi di singkap ke atas, lalu ditutupi dengan selimut yang sudah disiapkan.
"Tapi sel ini tidak akan membahayakan nyawa anak saya kan, Dok?" Mendengar pertanyaan gadis belia di depannya Dokter Shena sedikit menyugikan senyum. Bagaimana mungkin tidak berbahaya sedangkan itu adalah sel kanker.
"Bahaya atau tidak nya tergantung nanti, Nona. Apabila sel nya sudah menyebar, maka mau tidak mau kita akan angkat salah satunya, karena tidak mungkin kita membiarkan semuanya sebab itu akan membahayakan nyawa Nona sendiri." terang nya lagi sambil menuliskan resep obat untuk Zizi.
"Jika bisa saat pemeriksaan selanjutnya tolong bawa suami Anda juga, karena dia harus tau larangan saat kalian melakukan hubungan suami-istri, tidak asal saja. Itu juga bisa menyebabkan keguguran, rahim Anda memang terlihat kuat. Tapi kita belum tau pengaruh dari sel kanker nya." ucap dokter muda itu dengan tangannya menyerahkan kertas kecil yang sudah dia coret.
"Apa bila ada keluhan datang saja ke mari. Jangan di biarkan agar apa yang kita takutkan tidak terjadi." pinta nya merasa simpati pada Zivanna.
"Baiklah terimakasih, Dok. Setelah menebus obat ini saya akan langsung pulang untuk istirahat." jawab Zizi sedikit sendu. Entah dia akan langsung pulang kerumah atau kemana dia juga belum tahu pasti.
Setelah bersalaman dengan Dokter Shena. Zizi pergi ke apotek lebih dulu untuk menebus obat jalan yang diberikan oleh dokter tadi. Baru setelahnya dia meninggalkan rumah sakit dan berjalan menuju halte bus. Namun, walaupun bus nya sudah datang gadis itu tidak juga pergi dari sana dia hanya duduk dengan tangan menggenggam kertas yang diberikan oleh Dokter Shena.
"Apa yang harus aku lakukan? tidak mungkin aku kembali ke kota X dan mengatakan semuanya kepada ibu. Tapi lebih tidak mungkin lagi jika aku mengatakan kepada kakak kalau aku hamil, pasti dia akan memaksaku untuk membunuh anak nya sendiri." Zizi menangis tersedu-sedu untuk menumpahkan semua masalah yang dia rasakan.
Di kota Y selain suaminya, Zizi memang tidak mengenal siapapun kecuali Mauren dan Kevin. Hanya kepada Bibi Marta lah tempat satu-satunya dia mengadu selama ini. Namun, untuk masalah ini tidak mungkin dia akan bercerita kepada wanita baya itu. Zizi tidak mau karena Bibi Marta selalu membantunya, malah akan membuat wanita itu dipecat oleh Devan.
"Mana mungkin aku membunuh anakku sendiri, biar ayahnya sangat membenciku. Aku akan tetap mempertahankan anak ini. Dia tidak bersalah, yang salah adalah takdir yang sudah mempertemukan kami.", tangis Zizi semakin jadi sampai-sampai dia tidak sadar kalau dari tadi ada seseorang yang mendengar semua keluh kesahnya.
__ADS_1