
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Ceklek.....
Zizi membuka pintu dengan pelan. Meskipun dia tau Devan sedang menunggu kedatangannya tapi gadis itu seakan-akan buta tidak melihat dan mendengar keberada sang suami. Dia melewati Devan begitu saja tanpa menegur ataupun menoleh ke orangnya.
"Jadi seperti ini didikan dari ibu mu?" tegur Devan kesal karena Zizi melewati sofa yang dia duduki begitu saja. Sehingga gadis itu berhenti di tempatnya berdiri tapi dia tetap tidak menoleh ke belakang.
"Memangnya apa yang salah dari didikan ibuku?" bukanya meminta maaf tapi Zizi kembali melempar pertanyaan.
"Apa yang salah katamu? Apa kamu tidak sadar apa yang sudah kamu perbuat," ujar Devan langsung berdiri mendekati istri kecilnya. Dari tadi sore Devan diam di dalam kamar itu hanya untuk menunggu Zizi pulang. Bahkan pria itu sampai melewatkan makan malam nya bersama Fiona.
"Memangnya apa yang sudah saya lakukan?" Zizi menjawab dalam keadaan tenang meskipun di dalam hatinya sangat sakit mendengar ucapan Devan.
"Kamu!" Devan menunjuk muka Zizi dengan satu jari tangannya. Lelaki itu berusa untuk meredam emosinya agar tidak kembali menampar seperti tadi malam.
"Dari mana saja kamu jam segini baru pulang? Apa matamu buta sehingga tidak bisa melihat kalau ini sudah larut malam,"
Mendengar pertanyaan Devan membuat gadis itu menyergit satu alisnya ke atas. Selama Zizi tingal di kota Y Devan baru menanyakan pergi kemana dirinya.
__ADS_1
"Apa saya juga harus menjelaskan kepada Anda kemana saya pergi tuan, Devan?" seru Zizi menantang keberanian dirinya sendiri.
"Zivanna! Kamu semakin berani kepadaku. Apa harus aku jelaskan, kamu ini wanita bersuami. Setiap malam pulang larut malam. Bukanya kuliah tidak sampai sore lalu kemana kamu setelah itu?" bentak Devan yang tadinya ingin menanyakan kenapa Zizi tidak masuk kuliah hari ini. Namum, karena rasa gengsi dan ego nya yang tinggi membuat dia bertanya hal lain.
"Saya pulang malam karena saya baru pulang bekerja. Jika Anda bicara masalah suami, saya tidak memiliki suami." Zizi berkata dengan suara lirih. Kenyataan hidupnya memang seperti itu bersatus istri tapi hanya di jadikan pembantu. Jadi apa bedanya dia bersuami atau tidak.
"Apa yang ingin Anda tanyakan Tuan Devan? Saya sangat lelah sudah bekerja seharian, jadi tolong beri Saya izin untuk istirahat." gadis itu menurunkan nada bicaranya karena baru sadar kalau bicara sama Devan harus bernada rendah bukan tinggi. Jika tidak maka mereka akan terus berdebat. Untuk beberapa saat Devan tidak langsung menjawab tapi dia malah terdiam.
"Apa yang ingin Anda tanyakan, maka silahkan tanya?" ulang Zizi duduk di atas sofa dekat tempat yang di duduki oleh Devan tadi. Mungkin mereka memang harus bicara baik-baik. Itulah yang gadis itu pikirkan.
"Kenapa kamu hari ini tidak masuk kuliah?" akhirnya pertanyaan itu terucap juga dari mulut seorang Devan Atmaja.
"Saya pergi bekerja," jawab Zizi singkat tapi tetap bicara mengunakan bahasa pormal.
"Apa ada seorang pembantu bicara seperti itu pada majikannya? Bertanyalah yang lain jika masih ada yang ingin Anda tanyakan? Bila sudah tidak ada lagi saya ingin mandi." seru Zizi sudah berdiri ingin meninggalkan Devan sendirian di dalam kamar nya.
"Buat apa kamu bekerja sampai malam bukannya uang yang aku berikan sudah lebih dari cukup!" Devan ikut berdiri sambil tangannya mencekal pergelangan tangan Zizi.
"Karena uang itu bukan hak saya, Tuan. Ibu saya tidak pernah mengajarkan saya untuk menjual tubuh demi uang. Anda bawa saja kartu itu saya tidak membutuhkan nya. Lagian saya tidak bisa melayani Anda setiap malam karena sekarang saya sedang---" Zizi berhenti karena hampir salah bicara.
"Saat ini keadaan saya sedang tidak sehat." ulang nya setelah bisa menguasai ke gugupnya.
Deg....
__ADS_1
Mendengar ucapa gadis itu membuat Devan tertohok karena dia sendiri yang mengatakan apabila ingin uang maka Zizi harus melayani dia lebih dulu. Itupun harus mengambil uang secukupnya tidak boleh lebih. Tentu saja Zizi yang merasa telah di rendahkan martabat nya sebagai seorang istri langsung menolak kartu yang Devan berikan kemarin malam.
"Maaf bisa tolong lepaskan tangan Saya?" Zizi melihat ke arah tangannya yang masih di cekal dengan erat.
"Kita belum selesai!" kata Devan malah menarik tubuh Zizi semakin dekat dengan tubuhnya sampai tidak ada jarak diantara mereka. Zizi hanya diam tidak menjawab apa yang akan Devan katakan selanjutnya. Hanya saja dia membuang muka tidak mau menatap muka sang suami.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja paruh waktu. Tapi dengan satu sarat aku akan menikah lagi dengan Fiona." ujar Devan sudah memikirkan cara lain agar bisa melukai Zizi seperti mana ibunya menderita. Berbuat kasar pada gadis itu bukanya merasa tenang tapi Devan malah tidak bisa tidur karena merasa bersalah.
"Ji--ji--jika itu membuat Anda bahagia maka menikahlah. Tapi jangan halangi Saya bekerja di luar sana. Saya berjanji meskipun Saya bekerja paruh waktu ataupun sebagainya. Tapi saya tidak akan pernah meninggalkan pekerjaan Saya menjadi pembantu di rumah ini. Jadi Anda tidak perlu khawatir akan hal itu, Tuan." kata Zizi menjauhi tubuh mereka karena dia tau Devan langsung melepaskan cekalan pada tangannya saat dia mempersilakan suaminya untuk menikah lagi.
Dengan langkah pelan Zizi pergi dari sana setelah meletakkan tas ransel miliknya dia juga mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tiba di dalam sanalah baru dia menangis menumpahkan semua rasa sakit nya.
"Anak ku bila ibu sudah tidak mampu untuk bertahan maka ibu harap kamu bisa bertahan sendiri." ucap nya lirih sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Berbeda dengan Devan mendengar jawaban Zizi membuat dia uring-uringan sendiri karena bukan itu yang pria itu inginkan. Dia ingin Zizi menangis dan memohon agar dia tidak menikah lagi. Tapi sayang nya rencana yang Fiona sarankan malah tidak berjalan sesuai keinginan.
Tadi pagi setelah mereka menghabiskan sarapannya. Fiona mengusulkan bila Devan ingin menyakiti istrinya lebih sakit. Maka lelaki itu harus menikah dan buat Zizi di madu dengan istri keduanya. Devan yang sangat percaya pada Fiona tentu saja menerima baik usul gila yang sahabatnya rencanakan.
Dari sanalah awal Devan ingin menikahi Fiona agar bisa menyiksa Zizi. Tanpa dia sadari kalau sahabatnya itu memiliki niat terselubung.
Praaaank...
"Brengsek! Kenapa dia tidak memohon agar aku tidak menikah lagi. Aku ingin melihat dia menangis di bawah telapak kakiku." tiba di dalam kamarnya Devan membanting pas bunga untuk menghilangkan rasa kesalnya. Kesal karena Zizi tidak melarang dia menikah malah gadis itu terlihat biasa-biasa saja. Seolah-olah sudah tidak mencintai Devan lagi.
__ADS_1