
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Pagi hari pun tiba. Di meja makan Devan sedang menikmati sarapannya bersama Fiona. Mereka berdua bagaikan pasangan suami istri yang hidup dengan bahagia. Tanpa lelaki itu ketahui kalau istrinya sendiri sedang berjalan kaki untuk menuju persimpangan jalan dimana dia bisa menemui kendaraan umum.
Padahal di rumah suaminya memiliki berbagai jenis mobil keluaran terbaru. Tapi sayangnya jangankan memberi satu mobilnya untuk sang istri, dia lewat saja tidak mau membawa gadis itu. Berbeda jika kepada Fiona, Pria itu dengan sengaja membelikan mobil Lamborghini keluaran terbaru sebagai hadiah karena Devan menjadi pengusaha sukses lagi pada tahun ini.
Tadi malam Zizi tidak bisa tidur makanya pagi ini dia terlambat bagun dan juga lupa menghidupkan ponsel. Jadinya ojek yang biasa dia tumpangi sudah tidak ada lagi. Jika saja gadis itu tidak mengerjakan tugasnya di rumah mewah Devan maka dia tidak akan pernah terlambat.
Zizi selalu bangun jam setengah empat pagi karena waktu dia menyelesaikan pekerjaannya selama dua jam. Jam enam pagi dia sudah harus berangkat agar bisa menumpang ojek yang biasa datang di wilayah kompleks. Biasanya bila terlambat Zizi akan menelepon si tukang ojek untuk menunggu dirinya siap. Namum, pagi ini dia lupa kalau ponsel miliknya mati.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam Zizi sudah tiba di halte Bus yang akan dia naiki menuju kampus tempat dia menimba ilmu. Dalam perjalanan waktunya hanya di habiskan memikirkan ucapan Devan yang akan menikahi Fiona. Sehingga tidak terasa air mata nya kembali menetes.
"Zizi jangan menangis kamu pasti bisa melewati semua ini. Kamu kan sudah tau kalau dia menikahi mu bukan karena cinta, melainkan karena dendam pada ibu mu." lirih gadis itu pada dirinya sendiri untuk menguatkan hatinya yang terlampau sakit dan kecewa.
Tau giliran dia akan turun Zizi kembali memperbaiki riasan wajahnya agar tidak terlihat kalau habis menangis. Selama sekolah disini Zizi kerap diejek oleh para gadis yang tidak suka pada kecantikannya.
Tapi dia tidak pernah ambil pusing walaupun teman-temanya mengatakan dia bisa kuliah disana karena beasiswa. Gadis itu hanya pokus menuntut ilmu agar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di masa depannya nanti.
"Zi kamu sudah datang?" sapa Maureen begitu melihat kedatangan sahabatnya.
"Iya tadi aku berjalan kaki dari kompleks Tuan Devan sampai halte Bus tempat biasa aku turun." jawab Zizi sudah duduk di samping Maureen.
"Untung saja tidak terlambat kalau kamu telat lima menit saja sudah bisa di pastikan kamu tidak akan bisa ikut pelajaran hari ini. Apalagi yang masuk hari ini dosen killer." ujar Maureen melihat kearah pintu masuk.
"Iya aku juga tahu, Ren. Saking takutnya aku sampai tidak sarapan." jawab gadis itu yang sebetulnya sudah merasa lapar. Cuma saja karena takut terlambat membuat dia mengurungkan niatnya. Hanya beberapa menit setelahnya dosen pun sudah masuk siap untuk mengajar.
__ADS_1
"Lo kenapa malah bapak ganteng? Bukanya ini giliran pak dosen killer." bisik Maureen melihat yang masuk kelas mereka adalah dosen tempat Zizi bekerja.
"Entahlah mungkin beliau sedang ada urusan lain." balas Zizi ikut berbisik.
"Hm mungkin!" seru Maureen ikut membenarkan. Lalu mereka berdua pun langsung mengikuti pelajaran yang di ajarkan oleh dosen muda itu sampai selesai.
Setelah waktunya pulang Zizi pun dengan buru-buru menuju halte Bus karena hari ini waktunya dia membersihkan Apartemen milik dosenya. Namun, saat gadis itu masih menunggu Busnya datang mobil mewah sang dosen berhenti di depan nya dan meminta agar gadis itu ikut bersama nya.
"Pak!" sapa Zizi menunduk hormat.
"Ayo naiklah!" ajak pria itu mempersilah Zizi masuk kedalam mobilnya.
"Agh tidak usah pak. Saya akan naik kendaraan umum saja." tolak Zizi merasa sungkan karena dosennya itu memang sangat baik kepadanya.
"Sudah naik saja, istri Saya sudah masak banyak dia ingin kamu makan siang di Apartemen. Kalau kamu naik kendaraan umum akan lama sampainya. Nanti makanannya jadi dingin." Dosen muda itu turun lalu membukakan pintu mobilnya untuk Zizi.
Zizi yang merasa tidak enak akhirnya terpaksa masuk ke mobil dosennya. Tanpa dia sadari kalau orang suruhan Devan sudah memotret lalu di laporkan pada sekertaris Jimi.
"Poto apa ini, Jim?" tanya Devan langsung dengan nada tinggi. Walaupun tanpa Jimi jelaskan dia sudah tau kalau itu poto Zizi istrinya bersama seorang pria.
"Ini poto Nona muda, Tuan," jawab Jimi cepat. Dikiranya Devan tidak tau kalau itu adalah poto istrinya.
"Tanpa kamu bilang aku juga tau itu poto istriku. Tapi siapa pria yang bersama nya?" sergah Devan dengan emosi meluap-luap. Entah mengapa melihat Zizi bersama seorang lelaki membuat dia ingin membanting barang apa saja yang ada di dekatnya.
"Pria itu adalah dosen di Universitas Gunadarma, Tuan. Dia juga pimpinan dari perusahaan Competitor." terang Jimi baru menjelaskan secara mendetail.
"Iya aku tau orang nya, tapi mereka mau pergi kemana? Bukannya jam kuliah sudah usai."
"Anak buah saya belum memberikan informasi terbaru, Tuan. Mungkin saja hanya kebetulan saja Nona menumpang mobil dosennya." kata Jimi yang tidak mau berpikiran negatif pada istri tuan nya.
__ADS_1
"Tidak mungkin antara mereka berdua pasti ada apa-apanya. Aku sangat mengenal Tuan Ski. Dia tidak mudah percaya dengan orang lain begitu saja apalagi bila baru kenal." Devan mengusap wajahnya kasar membayangkan kalau istrinya selingkuh dengan dosen muda itu.
"Cepat suruh anak buahmu mencari tau kemana mereka pergi." Devan yang tidak bisa menahan emosinya berdiri lalu berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.
Sampai dua puluh menit kemudian barulah anak buah Jimi memberi kabar terbaru. Setelah mobil mereka berhasil mengikuti mobil Dosen Ski. Kebetulan mobilnya sudah berhenti didepan gedung Apartemen mewah di pusat ibu kota Y.
"Ayo turun?" ajak Dosen itu kembali membukakan pintu untuk Zizi.
"Terimakasih, Pak." ucap gadis itu dengan sungkan.
"Hm!" jawab nya singkat. Setelah itu mereka berjalan bersama-sama menuju lantai paling atas tempat Apartemen miliki Dosen Ski berada.
Hal sama pula yang di lakukan oleh orang suruhan Jimi. Secara diam-diam mereka mengikuti kemana Dosen Ski dan Zizi pergi karena Devan sendiri yang memberi perintah agar mereka mengikuti sampai kemana Nona muda nya bersama pria itu.
"Ayo masuk!" ucap dosen itu kembali mempersilahkan. yang hanya di ikuti oleh Zizi meskipun dia sudah sangat merasa tidak enak. Dosen yang di segani oleh para mahasiswa-siswi malah sudah berulang kali membantu nya.
"Sayang aku pulang!" ucap Ski memangil sang istri yang berada di ruang keluarga bersama bayi nya.
"Wah kalian sudah datang. Kalau begitu langsung ganti pakaianmu sayang setelah itu kita makan siang." titah istri Dosen Ski menyambut kepulangan sang suami juga menyambut kedatangan Zizi.
Tidak banyak bicara setelah mencium kening istri dan anaknya. Ski berlalu ke kamar mereka untuk menganti pakaian seperti perintah istrinya, dan tinggalah Zizi yang menunduk takut kalau wanita itu salah paham padanya.
"Zi kamu ganti baju juga sana. Baju buat kamu sudah kakak siapkan dikamar mu, setelah itu kita makan siang bersama."
"Ta--tapi.... Buk," ucap gadis itu semakin merasa tidak enak. Yang di takuti istri dosenya cemburu tapi ini malah sebaliknya.
"Tidak ada tapi-tapian kakak kan sudah bilang dari kemarin kamar itu tempat kamu istrirahat sebelum atau sesudah kamu bekerja disini, makanya kakak menyiapkan pakaian untuk mu. Sama satu lagi jangan pangil Ibu tapi pangil kakak saja." seru wanita itu menyentuh bahu Zizi. Gadis yang dia anggap seperti adiknya sendiri.
"Iya kak, terimakasih sebelumnya. Tapi aku hanya merasa tidak pantas memangil kakak pada majikan sendiri." jawab gadis itu tersenyum serba salah.
__ADS_1