
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
Di dalam mobil.
Dokter Kaipan membawa mobilnya dengan kencang. Bukan karena jalanan sepi saja tapi karena melihat gadis yang di bawanya sudah semakin pucat, walaupun dia masih sadar.
"Zi kamu masih bisa mendengar aku kan?" tanya dokter itu melirik kearah Zizi yang diam saja begitu mereka masuk kedalam mobil tadi. Jelasnya sih setelah bicara sewaktu bertemu Devan di parkiran mobil.
"Saya... baik-baik saja, Dokter. Terimakasih sudah mau menolong Saya." lirih Zizi berusaha terlihat tegar meskipun sekarang dia sangat hancur.
Malam ini satu hal yang gadis itu ketahui bahwa perjuangan cintanya hanya sampai disini. Lelah kata itulah yang tersemat di dalam hatinya. Lelah sudah disiksa terus-menerus oleh lelaki yang dicintai padahal dia tidak melakukan kesalahan. Lelah untuk berharap sesuatu yang tak pasti, karena nyatanya sang suami sudah memiliki wanita lain. Lelah, lelah dan lelah. Itulah yang Zivanna rasakan.
Rasa sakit di perutnya sampai tidak terasa karena sudah dikalahkan oleh perlakuan Devan. Dengan keadaan sudah memprihatinkan nyatanya Devan malah menyuruh pria lain buat membawanya kerumah sakit. Padahal anak yang ada dalam kandungannya adalah anak Devan.
"Tidak perlu berterimakasih, bukanya kita sesama manusia harus saling tolong menolong. Tolong bertahan ya sebentar lagi kita akan sampai dan jangan pangil dokter lagi, pangil saja kakak." ucap dokter itu sedikit tersenyum agar Zizi tahu bahwa dia tidak sendiri. Masih ada orang-orang yang peduli pada nasibnya.
"Terimakasih... kakak!" seru Zizi meneteskan air mata bahagia. Disaat dia dibuang, diabaikan dan kesusahan masih ada saja orang baik yang menolongnya. Setelah itu mereka tidak bicara lagi karena mobil mewah Dokter Kai sudah tiba di rumah sakit.
Lalu Dokter Kai berjalan turun untuk membukakan pintu mobilnya dan diapun kembali mengendong tubuh Zizi tidak perduli baju mahalnya terkena noda darah. Sebelum kembali mengendong gadis itu dia hanya mengucapkan.
__ADS_1
"Zizi, kakak akan menggendong mu lagi. Jadi peluk saja leher kakak ya," pintanya karena Dokter Kai tidak mau mengegerkan rumah sakit di tengah malam seperti ini. Apalagi Zizi masih bisa bertahan. Sebagai dokter tentunya pria itu mengerti rasanya bila tengah malam masih ada pasien yang ribut tidak karuan.
Tiba di dalam, tepatnya ruang UGD dokter itu baru meminta bantuan pada rekanya setelah membaringkan tubuh Zizi di atas ranjang pasien. Untuk memanggil dokter kandungan sebab penyakit Zizi bukanlah bagian dari pekerjaan nya.
"Selamat malam Dokter Kai! Siapa yang sakit?" sapa seorang dokter perempuan beserta perawat di belakang nya.
"Malam juga Dokter Shena. Tolong periksa adik sepupu Saya. Tadi dia terjatuh di lantai." ucap pria itu berbohong kalau Zizi adalah istri dari sahabat dan juga bosnya.
"Hm baiklah aku akan memeriksa keadaannya. Kamu tunggu saja disini dulu." kata Dokter Shena belum mengenal muka gadis yang akan diperiksa oleh nya.
Lalu Zizi pun mulai di periksa dan di pasangkan infus pada salah satu tangannya. Tapi begitu melakukan USG pada perut pasien nya barulah Dokter Shena menyadari jika gadis itu adalah pasiennya beberapa hari lalu.
"Nona... Zivanna Lois kan?" tanyanya setelah selesai memeriksa keadaan Zizi.
"Nona hampir mengalami keguguran kalau kalian terlambat sedikit saja entah apa yang akan terjadi. Apa Nona habis mengalami kekerasan? Eh maaf maksud Saya, Nona bukan terjatuh kan tapi sepertinya habis di... Hm sudahlah yang penting sekarang Nona baik-baik saja. Tapi malam ini Nona harus dirawat sampai keadaannya membaik." ucap Dokter Shena yang melihat ada memar pada kaki dan juga bagian leher Zizi.
Sedangkan Zizi dia hanya terdiam karena dengan perlahan matanya terasa mengantuk. Apalagi dari jam setengah empat subuh kemarin malam dia belum ada istirahat lagi.
"Nona tidur saja, Saya akan menemani disini sambil menunggu kedatangan Dokter Kai." Dokter Shena yang tau gadis itu seperti menahan kantuk pun langsung menyuruhnya tidur dan di iyakan oleh Zizi.
"Siapa yang telah menyiksanya? Aku rasa dia bukan sepupu Dokter Kai, karena aku mengenal adik Dokter Kai juga. Gadis ini tidak mirip sama sekali dengan keluarga mereka."
Dokter muda itu bermonolog sendiri. Karena penasaran apa yang sudah terjadi pada gadis di depannya.
__ADS_1
Ceklek....
"Apa dia tidur?" Dokter Kai datang dengan membawa beberapa macam makanan di tangannya. Tadi setelah tau kalau Zizi baik-baik saja dia memang berpesan pada perawat agar Shena menemani Zizi sebelum dia kembali.
"Iya dia memang sengaja aku beri obat tidur pada infus nya. Apa yang kamu bawa?"
"Bagus lah kasihan dia mungkin belum istirahat seharian. Ini makanan ringan ada juga roti dan beberapa minuman. Biar kalau dia bangun bisa makan rotinya." Dokter Kai menenteng barang-barang yang dia bawa keatas untuk di perlihatkan pada sahabatnya itu.
"Kai siapa dia sebenarnya? Dia bukan sepupu mu kan?" Shena bertanya setelah melihat Kainan sudah duduk di sebelahnya.
"Itu kamu sudah tau. Dia istri dari teman ku sewaktu SMA." Dokter Kai hanya menjawab seperlunya.
"Aku sudah menduganya. Lalu kenapa teman mu tidak datang, apa kamu belum memberitahu nya?" Untuk beberapa saat Dokter Kai terdiam bagaimana menjelaskan masalahnya. Yang akhirnya dia bercerita sedikit, tapi tetap Kai tidak menjelekan nama Devan.
"Aku rasa mereka bertengkar jadi karena terlalu emosi jadinya sahabatku mendorong istrinya." Dokter Kai pun menggakhiri ceritanya.
"Kasihan sekali dengan hubungan mereka. Tapi walau bagaimanapun seharusnya sahabatmu itu jangan main kasar pada istrinya. Perlu kamu ketahui tidak hanya hamil di usia masih muda, tapi gadis ini juga memiliki penyakit sejenis kanker tapi sekarang penyakit itu baru tumbuh belum berkembang. Aku takut kalau dia selalu tertekan dan lelah pasti penyakit nya akan berkembang dengan cepat. Kamu tahu sendiri kan tanpa aku jelaskan." ujar Shena menghela nafas berat pertanda penyakit yang diderita Zizi sangat berbahaya.
"Apa!" ulang pria itu kaget mendengar cerita Dokter Shena.
"Iya dia sedang sakit, hamil di usianya sekarang saja sudah beresiko tinggi. Ditambah lagi dia memiliki penyakit. Apa kamu tau sekitar tiga hari lalu dia periksa kesini. Makanya aku tahu dia sedang sakit."
"Aku rasa dia belum memberi tahu suaminya. Besok aku akan membicarakan masalah ini pada sahabat ku itu. Mana taukan mendengar keadaan Zizi dia punya rasa simpati setidaknya pada anak mereka." Dokter Kai memutuskan besok dia akan memberitahu Devan tentang penyakit Zivanna. Walau bagaimana pun dia harus tahu karena Zizi adalah tanggung jawabnya.
__ADS_1