
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Sayang, ayo sini, makan dulu biar ibu suapi." panggil Zizi pada anak kecil yang sedang bermain mobil-mobilan didalam toko kue miliknya. Anak tersebut adalah Reyvano Arkana Lois. Tidak terasa, sekarang putranya sudah berumur tiga tahun setengah. Itu berarti dia sudah meninggalkan keluarganya kurang lebih empat tahun lamanya.
Meskipun sangat merindukan sang ibu yang sudah melahirkannya. Tapi Zizi tetap tidak ingin untuk kembali lagi. Semua yang dia lakukan demi melindungi nyawa anak dan juga kebahagiaan ibunya.
"Nda au, Bu. Ley au ain." Rey kecil hanya melihat kearah ibunya yang berjalan semakin mendekat. Lalu duduk disamping nya.
"Tidak boleh seperti itu. Waktunya makan, istrirahat dulu. Nanti setelah selesai baru main lagi." ucap Zivanna membujuk putranya. Rey memang sangat sulit bila disuruh makan. Jadi Zizi harus membujuk nya dengan sabar.
"Api Ley au ain ini." jawab anak kecil tersebut yang belum bisa bicara dengan benar. Hanya saja meskipun begitu, Rey mengerti apa yang ibunya katakan.
"Ibu tahu kalau Rey sedang bermain. Tapi untuk mendorong mobil-mobilan nya, kamu harus memiliki tenaga yang kuat. Jadi makan dulu, ya, biar ibu suapi." dengan sabar Zizi memberi anaknya pengertian.
Sebelum menyetujui untuk makan, makanan yang dibawa ibunya. Anak itu diam dulu beberapa saat. Baru setelahnya dia berkata. "Iya atan ulu. Api betok Ley boeh itut nenek tan?" kata Rey sambil mengedipkan matanya. Agar sang ibu mengizinkan.
"Tentu saja boleh, tapi bila Rey ingin ikut nenek. Kamu tidak boleh nakal, ya?"
Sambil berbicara dengan putranya. Zizi pun mulai menyuapi sang buah hati. Semenjak Rey bisa diajak berbicara. Meskipun terkadang dia sendiri saja bingung apa yang anaknya katakan. Zivanna bagaikan memiliki keluarga baru lagi.
"Ley nda atal. Tana nenek tuh." mengelengkan kepalanya berulang kali, karena dia memang tidak nakal seperti anak para tetangga mereka.
"Tidak perlu bertanya pada nenek. Ibu percaya pada mu." Zivanna tersenyum sambil mengelus kepala putranya dengan sayang.
"Ibu nda au itut?" bertanya dengan sendu.
"Tidak, Nak. Bila ibu ikut, siapa yang akan menjaga toko kue kita. Nanti saja ya, bila uang kita sudah banyak. Baru kita pergi jalan-jalan."
Reyvano hanya mengangguk karena dia tahu kalau ibunya selalu bekerja untuk mendapatkan uang. Terkadang saat banyak pesanan. Zizi akan bergadang untuk membuat kue yang dipesan. Bila Reyvano tidak bisa tidur, anak itu akan bermain didalam dapur sambil menemani sang ibu.
Dari sanalah Reyvano mengetahui, kalau ibunya bekerja untuk mendapatkan uang. Namanya juga anak kecil, mereka akan selalu bertanya. Saat orang-orang terdekatnya melakukan sesuatu.
__ADS_1
"Ibu nda dangis tan. Talau Ley pelgi dalan-dalan, dilian?" tanya Rey yang merasa kasihan setiap dia pergi jalan-jalan bersama Bibi Husna atau bersama Bibi Emi. Ibunya selalu tingal dirumah, menunggu toko kue mereka yang sudah diberi nama royal Bakery. Semenjak dia besar, hanya beberapa kali pergi jalan-jalan bersama ibunya.
"Tentu saja ibu tidak akan menagis. Ibu malah merasa senang, kalau putra ibu bisa pergi jalan-jalan. Maafkan ibu, ya, yang jarang mengajak mu pergi jalan-jalan." sahut Zizi merasa terharu dan sedih secara bersamaan. Terharu karena sang putra begitu perhatian padanya, dan sedih belum bisa membahagiakan nya.
Semua orang tua pasti ingin membuat anaknya bahagia. Membawa mereka jalan-jalan, ataupun membeli apa saja yang bisa membahagiakan buah hatinya. Namun, harus bagaimana lagi. Zizi memang tidak mampu untuk berpoya-poya seperti orang lain.
Toko Royal Bakery miliknya. Memang berjalan cukup bagus. Sekarang rumah yang dia sewa sudah dibeli dari satu setengah tahun lalu. Maka dari itu Zizi tidak memiliki banyak uang. Adapun sisa dari kebutuhan sehari-hari, makan, dan membayar gaji Bibi Husna bersama Bibi Emi. Dia tabung untuk biaya sekolah anaknya kelak. Tidak memiliki suami, membuat Zizi harus memikirkan sejak dini untuk pendidikan Reyvano.
"Ini minum dulu airnya!" ucap Zivanna begitu selesai menyuapi Reyvano.
"Dah ni au apa adi, Bu?" tanya Rey pada sang ibu sambil menerima gelas tempat minumannya. Begitu airnya sudah habis, Rey pun menyerahkan kembali gelas tersebut.
"Setelah ini kita menutup toko. Besok baru dibuka lagi." Zivanna berdiri untuk menyimpan piring bekas menyuapi sang putra. Hal rutin yang dilakukan disela-sela pekerjaannya. Sedangkan Rey kembali lagi meneruskan mainannya dalam toko yang sudah sepi sejak jam tiga tadi sore.
Kebahagiaan itu, bukan karena kita bisa tinggal dirumah mewah dan hidup dalam bergelimangan harta saja. Tapi bisa hidup tenang bersama orang yang kita kasih dan sayangi, juga bisa membuat bahagia. Itulah yang Zizi rasakan saat ini. Meskipun hidup serba kekurangan bersama anaknya. Dia tidak perduli, asalkan bisa selalu bersama, si buah hati.
Setelah menutup pintu dan menyimpulkan barang-barang dalam toko tersebut. Zivanna mengajak putranya membersikan kaki dan tangan sebelum mereka tidur.
Cup...
"Maafkan ibu ya, belum bisa membuat mu bahagia seperti para teman-teman mu. Tapi ibu akan berusaha agar bisa memberikan yang terbaik untukmu." seru Zivanna yang ikut menyusul putranya kealam mimpi.
...****************...
Sementara itu di ibukota Y.
Tepatnya di perusahaan Atmaja group.
"Jim, apa semuanya sudah siap?"
"Sudah Tuan muda. Saya telah menyiapkan semuanya. Tinggal berangkat saja." jawab sekertaris Jimi.
"Baguslah! Lebih cepat maka akan lebih baik." kata Devan yang tidak mengalihkan pandangannya dari jendela kaca besar dalam ruangannya.
"Iya, Tuan muda. Nanti malam sebelum jam tujuh kita harus berangkat. Agar tengah malam kita sudah tiba di kota F."
__ADS_1
Malam ini mereka akan berangkat ke kota sebelah. Buat melakukan perjalanan bisnis. Satu orang rekan kerja Devan yang baru, adalah orang sana, karena orang itu masih baru. Makanya Devan harus melihat langsung perusahaan tersebut.
"Bagus, bila sudah disiapkan semuanya. O'ya apa Tim kita, belum ada yang memberikan kabar baik?" meskipun sudah tahu jawabannya. Akan tetapi pria tersebut tetap bertanya.
"Maafkan kami Tuan muda!" Sekertaris Jimi menundukkan kepala, karena sudah merasa gagal, belum juga bisa menemukan Nona mudanya. Padahal mereka terus mencari Zivanna. Tidak tahu sudah berapa banyak Devan menghabiskan uangnya agar bisa menemukan sang istri.
"Huh! Aku sudah menduganya. Pergilah keruangan mu." usir Devan karena dia hanya ingin sendirian.
Sekertaris Jimi tidak menjawab dan langsung saja meninggalkan Devan sendirian. Ini bukanlah hal pertama dia disuruh pergi dari ruangan sang bos.
"Zivanna ... sudah hampir lima tahun kamu pergi. Apakah kamu baik-baik saja. Atau sudah----"
Devan langsung saja berhenti karena tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya. Hanya dia dan Ibu Ellena saja yang percaya, kalau Zizi masih hidup.
"Apakah kamu menjaga anak kita dengan baik? Atau malah sebaliknya, kamu telah meng---"
Berbagai praduga buruk selalu menghantui Devan.
"Ya Tuhan! Dimana istriku berada? Apakah istri dan anakku masih baik-baik saja?" Lirih Devan yang belum bisa mengiklaskan kepergian Zivanna.
Banyak kota besar yang sudah di telusuri oleh Tim Atmaja group. Termasuk kota F yang akan Devan datangi malam ini. Namun, tetap saja Zivanna tidak bisa ditemukan.
BERSAMBUNG...
.
.
.
.
Izin promo novel teman, ya kakak. 🙏 Yuk mampir dan bantu memberi dukungannya. Terima kasih.🤗🤗
__ADS_1