Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Akan melepas mu.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


Tap ...


Tap...


Bunyi langkah kaki Devan dengan pelan berjalan mendekati Zivanna. Tadinya, pria itu berniat ingin menemui putranya untuk memberikan ciuman selamat malamnya. Namun, bagitu dia sampai di depan pintu kamar Zizi. Devan mendengar suara tangis yang dia yakini adalah suara sang istri.


Lalu dia berjalan kearah sumber suara tersebut. Ternyata dugaannya benar, jika yang menagis adalah istrinya. Tapi meskipun begitu, Devan tidak langsung menghampiri. Dia berjalan dengan pelan sambil mendengarkan perkataan Zivanna. Anggap saja, kalau sang istri sedang membicarakan dirinya.


Takut kalau dibiarkan tidak baik untuk keadaan Zivanna. Pria itu mau tidak mau mendekatinya. Meskipun yang membuat Zizi seperti itu adalah dirinya sendiri. Akan tetapi terkadang Devan jugalah yang bisa menenangkan istrinya itu.


Tidak bicara apa-apa. Devan langsung berjongkok dan memeluk tubuh kurus sang istri. Tubuh Zivanna sampai bergetar karena masih merasakan, sakit hati seperti kurang lebih lima tahun lalu.


"Menangis lah, bila itu bisa membuatmu lebih tenang. Maafkan Kakak, sudah membuat dirimu seperti ini." membelai pelan kepala Zivanna yang masih menangis tersedu-sedu.


"Jangan takut, Kakak tidak akan menyakitimu lagi. Kakak memang tidak tahu apa yang kamu rasakan selama ini. Namun, satu hal yang harus kamu ketahui. Bahwa Kakak menyesali semuanya." terus berbicara karena tidak ada penolakan dari Zizi begitu dia memeluknya.


"Andai waktu bisa diputar kembali. Maka Kakak hanya akan menjadikan kamu ratu yang paling beruntung di dunia ini. Akan tetapi, kenyataan berbeda dengan impian kita berdua." saat mengatakan hal tersebut terdengar Devan mulai menarik nafas dalam-dalam.


Namun, setelah itu dia kembali lagi bercerita. Meskipun Zizi hanya diam, tidak berkata sepatah katapun. Baginya, asalkan Zizi bisa tenang. Tidak menangis lagi, itu sudah cukup.


"Malam ini Kakak ingin menceritakan yang sebenarnya. Meskipun kamu sudah tidak percaya lagi. Tapi--- Kakak sangat berharap, setelah mendengar cerita tentang kita berdua. Bisa membuat keadaanmu lebih baik dari saat ini." ucap Devan yang sudah ikut bersimpuh di atas lantai. Tapi walaupun sudah duduk begitu. Dia tetap memelukku tubuh Zivanna.


"Dulu, saat kita pergi jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama. Semua itu tidak ada yang rekayasa. Jujur, mungkin awalnya memang hanya untuk menjerat mu. Agar mempermudah niat Kakak buat balas dendam." Devan menyugikan senyumanya saat kilasan mereka berdua yang setiap bertemu orang-orang, selalu disebut sebagai pasangan paling romantis.


"Tapi lama-lama Kakak menganggap bahwa semua itu murni, karena Kakak ingin melakukannya dari hati paling dalam. Tidak ada motif balas dendam didalamnya. Tapi meskipun begitu, tetap saja Kakak salah, karena dari awal sudah memiliki niat tidak benar." kembali terdiam beberapa saat, lalu dia bercerita lagi.


"Malam pertama kali Kakak menyakiti mu. Semua itu diawali karena Kakak cemburu padamu. Pada dasarnya Kakak memang sudah ada dendam pada ibu. Jadi Kakak mengira kalau dirimu berselingkuh dengan Kevin. Dari sanalah kemarahan itu meluap-luap tidak bisa Kakak tahan lagi." jujur Devan tentang perasaannya.

__ADS_1


"Lalu hari-hari selanjutnya. Kakak kembali menyakitimu. Membawa Fiona tinggal di rumah bersama kita, itu adalah penyesalan terbesar Kakak. Tujuannya memang untuk menyakiti mu. Semenjak melihatmu bersama laki-laki lain, Kakak mengira bahwa dirimu tidak ada bedanya dari ibu yang sama-sama perempuan murahan." helaan nafas Devan semakin terasa sesak harus menyebutkan semuanya.


"Maaf, sudah mengecewakanmu. Besok kita akan mengurus pengajuan perceraian kita. Kakak akan melepasmu, karena Kakak ikut tersiksa bila melihat keadaanmu terus seperti ini." ucapannya lagi sambil mengecup pucuk kepala sang istri.


"Kamu tidak perlu takut. Kakak tidak akan merebut Rey darimu. Dia akan selalu bersamamu. Tapi setelah mengurus surat pengajuan. Kakak akan kembali ke kota Y. Ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan Kakak kembali ke sana." mendengar Devan bercerita, tidak terasa Zivanna sudah berhenti menagis. Dia bagaikan seorang anak kecil yang sedang dibaca dongeng oleh ibunya.


"O'ya, tadi Kakak tidak sengaja bertemu sahabat, saat masih SMP dulu. Dia seorang wanita yang tidak memiliki tempat untuk berbagi kesedihannya. Jika kamu mau bersahabat dengannya. Kakak akan menyuruh dia main ke sini. Agar kamu tidak kesepian. Apa kamu mau?" tanya Devan melepaskan pelukannya dan menundukkan kepala untuk melihat wajah sembab sang istri.


"Siapa?" jawab Zizi dengan suara serak akibat terlalu lama menangis.


Melihat Zizi sudah kembali normal dan mau menjawab pertanyaan nya, Devan tersenyum kecil sebelum mengatakan siapa wanita yang dia maksud.


"Namanya Shiren, dia sudah memiliki dua orang anak. Dia kesepian tidak memiliki teman. Tapi percayalah, dia orang yang sangat baik dan tepat untuk dijadikan teman bercerita. Dulu saat Kakak masih SMP juga sering bercerita dengannya." dusta Devan yang tidak mungkin mengatakan kalau Shiren itu Dokter kejiwaan. Bisa-bisa dia dihabisi oleh istrinya.


Dimana-mana, orang yang mengalami depresi tidak akan mau mengakui kalau dia tidak sehat mentalnya.


"Iya, aku mau. Tapi jika dia tidak keberatan, suruh lah dia yang datang ke sini. Soalnya aku lagi tidak ingin pergi kemana-mana." beberapa menit lalu Zizi menangis tersedu-sedu.


Namun, sekarang dia sudah biasa-biasa saja. Hanya tinggal wajah dan matanya yang menandakan kalau dirinya habis menangis.


"Tidak apa-apa, kapan dia sempatnya saja. Aku akan tetap disini sampai surat perceraiannya keluar. Jadi sudah pasti aku akan kesepian tidak memiliki pekerjaan dan teman."


"Iya, Kakak akan menjelaskan padanya. Sekarang ayo kembali ke kamar. Biar Kakak yang mengambil air minumnya." ajak Devan berdiri lebih dulu.


Lalu dia menarik tangan sang istri untuk berdiri dari lantai yang cukup dingin. Berhubung Zivanna sudah tenang. Dia akan menurut saja apa yang Devan katakan.


"Ayo Kakak antara kekamar." menarik tangan Zizi dengan lembut.


"Aku bisa ke kamar sendiri. Jika kamu ingin mengambil air, maka pergilah!" kata Zizi berusaha melepaskan tangan mereka.


"Oke, tidak masalah! Pergilah kekamar sekarang," ucap Devan mengalah. Saat ini apapun yang diinginkan Zizi maka dia harus menuruti.


"Huh!" Zizi menghela nafas panjang begitu duduk di samping putranya yang lagi tidur dengan nyenyak.

__ADS_1


"Setelah urusan Ibu selesai. Kita akan kembali ke rumah kita sendiri, Nak. Maafkan ibu harus mengambil keputusan seperti ini." ucap Zivanna sambil menatap wajah Reyvano.


Dihatinya yang paling dalamnya. Zivanna juga berat harus mengambil jalan seperti saat ini. Apalagi melihat betapa dekatnya Rey dengan Devan. Meskipun baru bertemu, tapi mereka berdua sangat. Akan tetapi rasa traumanya membuat Zizi takut bila mereka terus bersama.


Kleeeek ...


"Kenapa belum tidur? Apa mau minum dulu?" tanya Devan membuka pintu cukup pelan, karena takut mengangu anak dan istrinya.


"Aku--- menunggu mu!"


"Menunggu Kakak? Memangnya ada apa? Jika ada yang membuatmu merasa tidak nyaman, maka tolong katakan. Jangan kamu pendam sendiri. Apa kamu ingin Kakak pergi dari rumah ini?" meletakan air yang dibawanya pada meja samping tempat tidur.


"Tidak, tidak! Tetaplah dirumah ini. Eum ... Aku hanya ingin mengatakan, jika kamu ingin tidur disini malam ini. Maka tidurlah di samping Reyvano."


Ungkap Zivanna yang ingin memberikan, kesempatan pada putranya agar bisa merasakan tidur satu ranjang dengan ayah dan ibunya.


"Apa kamu yakin?" seru Devan terperanjak kaget.


"I--i--iya, aku yakin! Tidurlah disini! Bukannya besok kita sudah mengurus perceraian kita. Jadi mungkin ini adalah malam terakhir kita seb---"


"Baiklah, kalau begitu Kakak akan tidur disini." sela Devan lebih dulu sebelum Zivanna menyelesaikan ucapannya.


*BERSAMBUNG* ...


.


.


.


...Sebelumnya, Mak author mau megucapkan terima kasih banyak, pada kalian yang masih selalu setia membaca novel receh Mak.🤧 Tapi tolong bagi kalian yang tidak suka. Jaganlah komentar sesuka hati kalian, sehingga komentar tersebut. membuat kami sebagai penulis langsung down.😭😭😭😭😭 Kemarin-kemarin sepertinya ada yang komen nya seperti ini....


"Tor, kok di ulang lagi? tidak punya ide lagi atau bagaimana?"

__ADS_1


...Mak jelaskan, Mak author bukanlah tipe author yang selalu men skiip sebuah cerita. Buat update satu bab, kami para author, harus menghabiskan waktu 2/3 jam. Jadi tolong hargai perjuangan kami. Bila kalian tidak suka, cukup baca. Atau silahkan cari novel lain....


Terima kasih.😘🙏🙏🙏


__ADS_2