Dendam Kakak Tiriku

Dendam Kakak Tiriku
Tidak punya ayah.


__ADS_3

🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Hai!" sapa Devan menghampiri Reyvano yang lagi berdiri di pinggir pagar permainan mobil-mobilan. Rey sedang melihat anak-anak seusianya lagi asik bermain bersama orangtuanya.


Mendengar ada suara dari arah belakangnya membuat anak ganteng tersebut menoleh kebelakang.



Deg ...


Jantung Devan langsung berdebar kencang setelah melihat wajah Reyvano yang agak mirip dengan wajahnya saat kecil. Hanya saja Rey memiliki tubuh lebih gemuk.


Setelah melihat kearah orang yang menyapa. Rey tidak mengalihkan pandangan matanya dan terus menatap Devan tanpa berkedip. Seakan-akan ada keanehan pada wajah pria itu. Begitu pula sebaliknya. Jantung Devan langsung berdebar-debar saat mata mereka bertatapan.


"Kenapa dengan jantung ku?"


Tanya Devan berusaha agar bisa menormalkan kembali detak jantungnya. Ada desiran aneh begitu dia melihat Reyvano. Seakan-akan anak tersebut memiliki magnet yang memiliki daya tarik.


"Hai ... kenapa main sendiri?" tanya Devan berjongkok untuk mensejajarkan tubuh nya dan tubuh anak yang ada dihadapannya.


"Nda dili, da nenek tama tatak." jawab Reyvano menunjuk kearah Bibi Emi beserta cucunya.


"Oh, jadi itu nenek sama kakak mu? Kenapa kamu tidak ikut bermain dengan mereka?" kata Devan heran karena biasanya anak kecil lebih suka bermain dengan kakak ataupun teman-teman lainnya dari pada bermain sendiri.


"Tata ibu nda bueh. Tatut letotin tatak." jawab Reyvano dengan sendu. Mungkin sebetulnya dia ingin bermain bersama kedua cucu Bibi Emi. Hanya saja Rey ingat pesan sang ibu yang tidak boleh merepotkan orang lain.


Beberapa saat Devan terdiam untuk mencerna ucapan anak kecil yang sekarang sudah diajaknya duduk dibangku dekat tempat tersebut.


"O'ya namanya siapa?" entah mengapa Devan ingin mengenal anak kecil yang sudah berhasil mengalihkan perhatian nya, lebih dekat lagi. Sebelum dia melanjutkan pertanyaan yang sebelumnya tadi.


"Ama na Leynano." jawab Rey menyebutkan namanya. Namun, anak itu terus menatap muka Devan.


"Reynano?" ulang Devan belum paham.


"Butan, tati Leynano altana." Rey menyebutkan lagi dengan nama kepanjangannya. Disaat Devan dan Rey masih mengobrol. Bibi Emi yang melihat ada pria dewasa mendekati sang cucu angkat, langsung saja bertanya.


"Rey!" seru Bibi Emi sudah berada dibelakang mereka.


"Maaf Tuan, apa cucu Saya telah berbuat sesuatu?" tanya beliau pada Devan.


"Saya hanya sedang menanyakan namanya. Apa betul namanya Reynano?" kata Devan yang belum paham ucapan Rey dan tidak menghiraukan pertanyaan Bibi Emi.


"Namanya Reyvano bukan Reynano, Tuan" jawab Bibi Emi sedikit tersenyum mendengar nama Rey sudah diubah menjadi Reynano. Beliau sangat yakin kalau Devan tidak mengerti ucapan cucunya.


Berbeda dengan Devan. Pria itu malah kembali termangu mendergar nama Reyvano. Dia tersadar setelah tangannya di sentuh oleh tangan kecil Rey.


"Om, tenapa?" tanya Rey merasa heran karena Devan tidak menjawab saat neneknya menanyakan apakah dia berbuat salah.

__ADS_1


"Aghk! I--iya, Om tidak apa-apa." seru laki-laki itu mengusap kepala Reyvano. Namun, setelah itu dia kembali lagi larut dengan pikirannya.


"Siapa anak ini? Kenapa begitu melihatnya jantung ku langsung berdebar-debar? Dan ... kenapa namanya sama seperti nama anak yang pernah aku dan Zizi rencanakan? Andai saja aku tidak menyakiti Istriku. Pasti sekarang aku sudah hidup bahagia bersama keluarga kecilku."


Batin Devan terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dan menyesali apa yang sudah terjadi.


"Ini hanya kebetulan, 'kan? Atau jangan-jangan dia adalah anakku dan Zizi? Tidak, tidak! Aku harus menanyakan langsung pada wanita peruh baya ini.


Devan mengelengkan kepala beberapa kali, sebelum kembali ke alam sadarnya.


"Tuan, ada apa? Apakah cucu Saya sudah mengangu Anda?" ulang Bibi Emi setelah Devan melihat kearah nya.


"Tidak, Tidak! Dia tidak mengangu Saya. Em ... maaf, apakah dia cucu Nonya?" tanya Devan dengan perasaan berdebar-debar.


"Iya, dia cucu Saya. Memangnya kenapa?"


"Agkh ... tidak apa-apa. Apakah Saya boleh menemaninya bermain? Nyonya tidak perlu takut. Anda boleh menyimpan kartu identitas Saya. Selama Saya bermain dengan nya." ujar pria itu sedikit kecewa mengetahui kalau Rey memang cucu Bibi Emi.


"Tapi----"


Bibi Emi binggung ingin menjawab seperti apa. Masalahnya mereka tidak saling kenal.


"Nyonya, Saya sedang mencari hiburan. Makanya ingin mengajaknya bermain." sela Devan yang mengerti keraguan pada wanita paruh baya itu.


"Huh! Ya sudah lah, Saya bukannya tidak percaya. Tapi takut kalau cucu Saya mengangu kenyamanan Anda." terang Bibi Emi akhirnya memberikan izin.


"Tentu saja tidak menggangu. Terima kasih Nyonya. Anda tidak perlu khawatir, Saya akan menjaga Reyvano seperti anak Saya sendiri." ucap Devan menyakinkan. Saat mengucapkan kata anak sendiri pria itu merasa nyeri dihatinya.


"Rey, nenek duduk disana ya? Rey tidak boleh nakal. Ingat pesan ibu mu." pesan beliau. Setelah mengatakan itu Bibi Emi pergi lagi ketempat duduk sebelumnya, karena dia akan mengawasi dari kejauhan.


"Ya, nek. Ley nda akal." sahut Rey menatap kepergian sang nenek.


Setelah kepergian Bibi Emi. Reyvano hanya diam sambil melihat kakinya yang sengaja dia ayunkan.


"Boy, kenapa diam saja?" Devan kembali lagi mengelus pucuk kepala Reyvano. Entah mengapa dia sangat senang melakukannya.


"Nda iam, Ley adi ninung." Rey mengerti apa yang dikatakan oleh Devan. Namun, Devan tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Reyvano.


"Tuan muda, maaf sudah membuat Anda menunggu cukup lama." kata Jimi yang baru menyusul, karena dia baru saja pulang dari pemakaman Ayah Tuan Fincen.


"Hem tidak apa-apa. Aku ingin bermain mobil-mobilan bersama nya. Pesankan berbagai tiket permainan sekarang juga." titah Devan berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Reyvano turun dari bangku.


"Tita aun nana?"


"Naik mobil-mobilan. Bukannya kamu tadi melihat mereka bermain. Jadi sekarang ayo kita bermain itu juga." sahut Devan yang kebetulan mengerti pertanyaan Rey.


"Hole ... tita aik obin-obinan." seru Reyvano bersorak senang. Apabila tidak pergi bersama sang ibu. Maka Rey tidak pernah menaiki permainan seperti itu.


Lalu akhirnya Devan membawa Rey menaiki berbagai permainan, dari satu permainan ke satunya lagi. Mereka sudah seperti anak dan ayah, berbagai permainan sudah mereka naiki.


Sementara itu Jimi hanya melihat dari kejauhan. Semenjak Zivanna pergi, baru hari ini dia melihat Tuan mudanya bisa tersenyum dan tertawa seperti saat ini.

__ADS_1


"Om, Ley aus au ninum." ucap Rey mengajak Devan berhenti. Saat ini mereka sedang menaiki permainan kuda-kudaan.


"Rey haus?" ulang Devan ragu. Lalu Rey pun menganggukan kepalanya.


"Baiklah, ayo kita minum." Devan pun menggendong Reyvano menuju tempat Jimi yang sudah menunggunya. Sekertaris tersebut ternyata sudah membeli berbagai macam minum dan makanan.


"Ini minum air putih dulu ya, setelah itu pilihlah es krim yang kamu sukai." Devan memberikan air mineral yang sudah di buka oleh nya.


"Nini matacih!" Rey memberikan kembali botol tersebut pada Devan dan mengucapkan terima kasih.


"Ayo pilih! Rey suka es krim rasa apa?" pria itu kembali menyodorkan berbagai rasa es krim yang sudah disiapkan oleh Sekertaris Jimi.


"Lata tokat oleh nda?" Rey menunjukkan es krim yang dia sukai.


"Tentu saja boleh. Om juga suka rasa coklat." Devan tersenyum sambil membuka es krim lalu diberikan pada Rey.


"Ley tuka lata tokat duda. Talo ibu tuka na lata tobeli." sahut Rey sambil mengayun-ngayunkan kakinya lagi.


"Rey ... kenapa ibu mu tidak menemani kesini? Biar kamu bisa menaiki berbagai permainan?" tadi, saat mereka sedang bermain mobil-mobilan, Rey memang mengatakan kalau dia sangat senang bisa bermain seperti itu.


"Ibu telja tali uan."


"Maksudnya kerja cari uang?" ulang Devan lagi.


Reyvano mengangguk sambil menyeruputi es krim nya yang hampir habis.


"Memangnya ayah Rey kemana? Mencari uang kan tugas ayah, bukan ibu?" kata Devan sambil mencuci tangan Reyvano karena anak itu sudah menghabiskan es krim nya.


"Ley nda tuna ayah. Dadi ibu tali uan dilian."


"Rey tidak punya ayah?" menyakinkan lagi. Takutnya salah dengar dan pengertian.


Anak tersebut kembali mengagukan kepala seperti sebelumnya.


"Memangnya ayah Rey kemana?" mendengar pertanyaan Devan membuat Rey menunduk dan terdiam beberapa saat.


"Kalau tidak mau bercerita, tidak apa-apa. Om tidak memaksa mu." ucap Devan yang mengerti kenapa Rey diam. Meskipun anak itu tidak mengatakan Devan sudah bisa menebak, bisa jadi ayah Rey sudah meninggal atau orang tuanya yang berpisah.


"Nda Om. Ayah Ley nda ada. Ley nda puna ayah." lirih Rey merasa sedih setiap menyebut ayah, karena sampai saat ini dia belum pernah melihat sosok tersebut. Meskipun dia masih kecil. Namum, Rey sudah cukup mengerti karena dia anak yang sangat pintar.


"Maaf, Om tidak tau kalau Rey tidak punya ayah. Sudah ya, jangan bersedih lagi." Devan langsung saja menarik anak itu untuk masuk kedalam pelukannya. Sungguh dia tidak tega melihat kesedihan di wajah Reyvano. Melihat Anak tersebut bersedih, membuat Devan ikut merasakannya.


.


.


.


.


Bila dukungannya banyak, malam ini akan update satu bab lagi ya🤗 Jadi jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya. Terima kasih.😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2