
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Wanita yang sudah meninggal dunia? Siapa wanita itu? Apa aku mengenalnya?" Devan langsung memperbaiki cara duduknya.
"Beliau bernama ibu Eris. Dialah orang yang membawa Nona pergi dari kota Y, dia jugalah yang sudah membawa nona kerumah sakit untuk melakukan operasi dan merawat Nona selama tujuh bulan." jelas Jimi berhenti sesaat sebelum melanjutkan lagi.
"Hari dimana ibu Eris meninggal dunia karena mengalami kecelakaan beruntun. Nona Zizi kebetulan bertemu dengan Tuan Kevin yang datang ke rumah sakit tersebut, untuk menjenguk saudara Ayahnya." Sekertaris Jimi pun menceritakan lagi seperti apa informasi yang didapatkan oleh para pengawal Atmaja group.
"Apakah Almarhumah tidak memiliki anak, suami atau saudara lainnya?" Devan kembali bertanya setelah dari tadi mendengarkan saja.
"Tidak! Beliau hanya sebatang kara, sama seperti nona muda." Jimi tidak sadar karena ucapannya membuat kotak tisu yang ada dihadapan mereka singgah pada tubuhnya.
"Siapa bilang Zizi sebatang kara! Dia memiliki keluarga, ada aku, ayah dan ibunya." menata tidak suka pada Jimi. Padahal apa yang disampaikan oleh sekertarisnya adalah kebenaran.
"Betul sekali, maaf Saya melupakan Anda." Jimi cepat-cepat minta maaf padahal dia tidak bersalah.
"Teruskan!"
Tidak ingin berdebat. Sekertaris Jimi pun kembali menceritakan semuanya. Semua informasi sudah mereka dapatkan termasuk kenapa mereka tidak bisa menemukan Zivanna. Semua itu berkat Almarhumah ibu Eris yang saat mengoperasi Zizi mengunakan kartu identitas putrinya. Kebetulan sekali dokter yang bertugas adalah sahabat dekat suaminya dulu.
"Maka dari itu Nona muda bisa tinggal di tempat sekarang." Jimi pun mengakhiri ceritanya.
"Kalau begitu beli semua peningalan Almarhum. Jika mereka tidak mau memberinya secara baik-baik. Maka penjarakan mereka semua yang terlibat kecelakaan tersebut." seru Devan yang emosi mendergar penuturan sekertarisnya.
"Anda tidak perlu khawatir. Saat ini orang-orang kita sedang mengalih nama surat-surat rumah itu atas nama Nona. Satu jam lalu mereka sudah membayar semua peninggalan ibu Eris." Jangankan Sekertaris Jimi, para pengawal Atmaja group sebelum mendapatkan perintah. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"Apa! Cepat sekali! Kalau begitu ayo kita kerumah Istriku. Aku ingin mengajaknya ke sana." kata Devan langsung berdiri dan berjalan duluan. Dia sudah tidak sabar ingin menunjukkan pada Zivanna. Tujuan Devan saat ini hanya ingin membahagiakan istri dan anaknya.
Walaupun Zizi tidak mau padanya lagi. Setidaknya Devan ingin berusaha lebih dulu untuk mendapatkan kepercayaan dan cinta itu kembali.
Didalam mobil.
"Jim, kita akan pulang ke kota Y malam ini juga. Hubungi Bibi Martha untuk pindah ke rumah baru, karena aku tidak akan kembali kerumah itu lagi." setelah dari tadi diam tidak bicara lagi, sekalinya bicara, selalu membuat Jimi kalang kabut dibuatnya.
Pulang malam ini? Sekarang sudah jam sebelas siang. Sedangkan Jimi akan ikut bersamanya ke rumah ibu Eris. Lalu kapan sekertarisnya itu memiliki waktu untuk mengurus yang lainya. Itulah yang sedang jimi pikirkan.
"Ck, tidak usah bingung! Nanti kamu akan tinggal dirumah istriku. Biar aku sendiri yang menemaninya." ucap Devan yang mengerti kegelisahan Jimi.
"Baik Tuan muda. Saya akan mempersiapkan pengawalan untuk Anda." jawab Sekertaris Jimi merasa lega. Mereka tidak mungkin asal membawa Zizi pergi seenaknya. Pasti wanita itu akan menolak bila meninggalkan tempat tinggal dan usahanya begitu saja.
Tujuh belas menit mobil yang membawa mereka sudah sampai di kediaman Zivanna. Kedatangan Devan bak kedatangan seorang artis papan atas. Para warga berbondong-bondong melihat dari pinggir jalan. Kota F tidak sebesar kota Y, boleh dibilang kota tersebut masih jauh ketinggalan dari segi pembangunan ataupun sarana lainnya.
Dengan sigap pengawal yang berjaga di rumah Zizi membukakan pintu mobil untuk bos mereka.
"Selamat siang Tuan muda." sapa mereka setelah Devan keluar dari mobil.
"Apa ada yang datang?" Devan melirik kearah pintu yang terbuka lebar.
"Ada Tuan, maaf kami tidak bisa mencegahnya karena nona muda yang memaksa."
"Hem, tidak apa-apa! Lanjutkan saja tugas kalian.' Jimi ayo ikut aku masuk." apa yang Devan lakukan sekarang bukan karena ingin mempersulit ruang gerak Zivanna. Akan tetapi dia hanya ingin melindungi anak dan istrinya dari orang yang ingin mengambil keuntungan setelah mengetahui setatus sang istri.
__ADS_1
Bukan masalah uang. Tapi keselamatan Zivanna dan Reyvano yang sedang dia lindungi. Sudah cukup dia yang pernah menyakiti istrinya. Jangan sampai ada orang lain lagi.
"Zi ... di--dia datang." Bibi Emi tergagap begitu melihat Devan berjalan masuk mengarah pada mereka.
"Tidak apa-apa, Bibi. Biarkan dia datang. Ini rumahku bukan rumahnya." Zivanna sengaja bicara dengan keras agar Devan mendergar nya.
Devan yang mendengar ucapan Zizi hanya tersenyum kecil, karena dia tahu jika sang istri sedang menyingung dirinya yang pernah berkata demikian.
"Dimana Reyvano?" tanya Devan dengan suara lembut begitu sudah berdiri dihadapan Zizi. Apapun yang akan dikatakan oleh istrinya, Devan tidak masalah karena perbuatannya memang sudah keterlaluan.
"Dia ... ada di kamar." jawab Zizi malas.
"Eum, Kakak ingin melihatnya. Bersiap-siaplah. Kita akan pergi sepuluh menit lagi." ucap Devan akan melangkah menuju ke kamar untuk melihat putranya.
"Kemana? Kamu tidak bisa mengaturku semaumu. Ini rumahku, aku tidak akan pergi dari sini." seru Zizi berdiri dari tempat duduknya. Wanita itu mengira Devan akan mengajaknya pulang ke kota Y sepuluh menit lagi.
"Kita akan kerumah ibu angkatmu. Apa kamu tidak ingin pulang kerumah itu walaupun hanya sekedar melihat-lihat saja." sebelum Zizi menjawabnya. Devan sudah berlalu dari sana.
"Apa, rumah ibu angkat? Apa maksudnya rumah ibu." lirih Zizi yang sudah dari dulu merindukan rumah tersebut. Hampir setiap bulan Zivanna masih terus berziarah ke makam ibu Eris.
"Zizi, apa dia akan membawamu pergi darisini dalam waktu dekat?" Bibi Husna bertanya gusar. Apabila dilihat dari cara Devan berbica lembut pada Zivanna sudah pasti pria itu tidak akan me biarkan istri dan anaknya tinggal dirumah itu lagi.
"Maaf Nyonya, kalian berdua ayo ikut Saya. Ada yang harus kita bicarakan." sela Sekertaris Jimi mengajak pergi Bibi Husna dan Bibi Emi. Sebelum nona mudanya menjawab pertanyaan tersebut
"Aku juga belum tahu Bibi." jawab Zivanna karena dia memang tidak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas dia tidak bisa melawan Devan dan para pengawal Atmaja group.
"Sekertaris Jimi, tunggu! Ibu, apakah ibu yang dimaksud Devan adalah ibu Eris?" tanya Zivanna masih kurang percaya kalau dia diajak kerumah ibu angkatnya yang sudah dirampas oleh kerabat jauh beliau.
"Benar Nona. Tuan muda ingin membawa Anda kesana." Sekertaris Jimi sengaja tidak memberitahu kalau rumah beserta peninggalan harta ibu Eris sudah dibeli oleh Tuan mudanya dan telah dibalik nama menjadi milik Zivanna.
"Apa kamu tidak ingin kesana?" Suara Devan mengalihkan pandangan mereka semua. Pria itu sudah keluar sambil mengendong Reyvano. Anak tersebut mengalungkan tangan kecilnya pada leher sang ayah.
"Ibu, nda itut?" sekarang bergantian Rey yang bertanya pada ibunya.
"Ibu, ibu akan ikut." jawab Zizi yang tidak ingin melewatkan Kesempatan.
"Bibi Emi, Bibi Husna. Maaf, ya, aku tinggal dulu. Aku ingin kembali kerumah ibu." seru Zizi memeluk tubuh kedua wanita paruh baya itu bergantian.
"Hem, pergilah! Kami akan menunggu kedatangan mu." ucap mereka berdua yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Ayo!" ajak Zizi tidak ingin menunda lebih lama lagi.
"Eh, tunggu dulu! Apa kamu akan memakai pakaian ini?" cegah Devan sambil melihat penampilan Zivanna yang hanya memakai baju kaos lengan pendek dipadukan dengan rok panjang.
Sebelum menjawab Zivanna melihat kearah tubuhnya dulu lalu berkata. "Kenapa aku harus bergantian pakaian? Bukannya ini juga tidak masalah? Oh, aku lupa akan pergi bersama Tuan Devan yang terhormat." cemooh Zizi yang pernah dihina seperti itu oleh Devan.
"Sayang! Bukannya seperti it---"
Ucapan Devan kembali di sela oleh Zivanna. Rasanya melihat Devan bersikap baik padanya membuat ibu muda itu ingin membalas apa yang pernah dia alami.
"Jika malu membawa pembantu sepertiku. Maka tidak usah!" Zivanna menatap Devan seperti musuh. Mungkin jika orang lain akan takut. Namun, kalau Devan malah mengelengkan kepalanya sembari tersenyum. Andai hubungan diantara mereka tidak seperti saat ini. Devan akan menerkam ibu dari anaknya itu pada saat ini juga.
"Sudah ayo pergi. Jangan membuatku khilaf. Mau seperti apapun pakainya, kamu tetap cantik, sama seperti dulu." ucap Devan menarik paksa tangan Zizi menuju mobil yang telah siap dari tadi.
Bila tidak ada orang lain di sana. Maka Devan akan tertawa melihat Zivanna yang bertambah imut pada saat menatapnya seperti tadi.
__ADS_1
Sementara itu, Sekertaris Jimi yang melihat sang bos bisa tersenyum lagi. Menarik nafas lega. Semenjak ditinggal pergi oleh Zizi. Devan tidak pernah sebahagia sekarang. Walaupun Jimi belum mengetahui keputusan nona mudanya nanti. Setidaknya dia merasa tenang karena Devan tidak mungkin kembali terpuruk seperti sebelumnya. Saat ini ada Reyvano yang bisa menghiburnya.
"Silahkan Nona muda." ucapa Devan, bukan pengawal Atmaja group yang membukakan pintu mobil untuk Zizi. Tapi Devan sendiri mengunakan satu tangannya, karena tangan satunya lagi mengendong putranya.
Zivanna yang dipanggil seperti itu oleh orang yang pernah menyakiti dan menghinanya. Hanya mendengus kesal.
"Ayo boy, sekarang giliran kita." kata Devan sambil berjalan memutari mobil.
"Ayah tita au nana?" tanya Reyvano begitu mereka sudah duduk didalam mobil.
"Hari ini kita akan pergi kerumah Nenek yang makamnya sering Rey datangi. Besok pagi atau besoknya lagi, baru kita kembali kerumah kakek dan nenek yang ada di kota X." jawab Devan yang terus mendekap dan memberikan ciuman berulang kali pada buah hati yang dulu pernah dia tolak kehadirannya.
Mendengar ucapan Devan membuat Zizi yang tadinya membuang muka kearah luar jendela mobil. Menatap kearahnya.
"Apa maksudmu? Aku tidak ingin kembali ke kota Y ataupun kota X." seru Zivanna yang belum mau kembali meskipun menemui ibunya sendiri.
"Nanti sore kita akan kembali ke kota Y. Besok pagi atau besoknya lagi, baru kita kembali kerumah ayah." kata Devan memperjelas ucapannya karena tadi dia sedang berbicara dengan anaknya bukan Zizi.
"Aku sudah bilang tidak ingin kembali sebelum masalah diantara kita selesai." sentak Zizi masih tetap pada pendiriannya.
"Setelah kembali ke sana. Kita bisa membicarakannya lagi. Aku sudah berjanji pada ibu. Akan membawa putrinya kembali." Devan masih berbicara dengan suara lembut. Dia tahu perubahan sikap Zizi karena wanita itu ingin melindungi dirinya sendiri.
"Bila hubungan kita sudah berakhir. Maka aku akan pulang sendiri." gadis yang dulunya selalu bicara lemah lembut, bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Atas perlakuan Devan yang pernah menyiksanya.
"Zivanna ... tolong jangan bahas sekarang! Nanti kita bisa membicarakannya lagi. Saat ini Rey sedang bersama kita. Cukup aku saja yang pernah menyaksikan pertengkaran antara ayah dan ... ibu. Jangan sampai anak kita mengalami hal serupa." ucap Devan dengan sendu. Saat menyebutkan nama ibu kandungnya lidah pria itu seakan kelu. Semua masalah yang terjadi adalah atas kesalahan ibunya sendiri.
Dari kecil Devan hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Jadi begitu menyaksikan pertengkaran antara ayah dan ibunya membuat dia memiliki dendam pada penyebab masalah tersebut. Apalagi wanita yang selalu dia banggakan mengatakan kalau semua yang terjadi karena salah ayahnya berselingkuh.
Alhasil dendam yang Devan miliki, merupakan dendam salah alamat, yang menyakiti dia sendiri dan orang-orang disekitarnya.
"Nanti sore ikutlah pulang bersama ku. Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membawamu kembali kerumah itu lagi." ulang Devan melirik kearah sang istri yang tidak bicara apa-apa lagi.
"Sudah, jangan banyak pikiran. Ayo kita turun. Setelah dari sini kita masih ke makam Ibu Eris. Aku ingin mengucapkan rasa terima kasihku padanya, yang sudah menolong istri dan anak ku waktu itu." Devan turun lebih dulu sambil mengedong Reyvano. Saat ini mobil mereka sudah tiba di pelataran rumah Almarhumah ibu Eris. Orang yang paling berjasa bagi Devan dan juga Zivanna.
Setelah membuka pintu mobil untuk sang istri. Devan kembali lagi mengandeng tangan wanita tersebut masuk kedalam rumah. Ada beberapa pengawal Atmaja yang masih berjaga di rumah itu. Sedangkan pengawal yang ikut bersamanya tadi hanya menunggu di dekat mobil.
"Selamat datang Tuan, Nona. Silahkan masuk. Rumahnya sudah dibersihkan oleh orang yang akan merawat tempat ini." sambut para pengawal yang mengikuti Reyvano dan Bibi Emi kemarin siang.
"Terima kasih!" jawab Zizi langsung masuk kedalam. Di rumah itulah dia berjuang untuk melupakan Devan dan hari ini takdir membawanya datang bersama orang yang dibencinya.
Sedangkan Devan membiarkan Zizi melepas rindunya dengan rumah tersebut. Dia lebih memilih mengajak putranya bermain diruang tamu. Terlihat sofa dan perabot telah diganti dengan barang baru oleh orang-orangnya.
Rencananya nanti sebelum mereka pulang dari sana. Barulah Devan menyerahkan surat rumah tersebut.
.
.
.
.
Sambil menunggu ceritanya update. yuk baca novel sahabat Mak author yang kece abis. Jangan lupa untuk memberikan subscribe, ya 🤗
Terima kasih.😘😘
__ADS_1