
Tiga puluh menit menyembuhkan lukanya menggunakan puluhan kristal jiwa, akhirnya perlahan luka Lasmana Pandya mulai membaik dengan seiringnya kristal jiwa yang hancur karena energi yang telah ia serap.
"Sepertinya luka dalamku mulai membaik," ucap Lasmana Pandya kemudian menatap kearah selatan.
Merasakan ratusan aura mendekat kearahnya, Lasmana Pandya seketika melesat kearah timur dan bersembunyi dibalik pohon besar dengan cepat.
Swuuuush! Swuuuush! Ratusan pria muncul tepat dimana Lasmana Pandya ketika menyembuhkan lukanya.
"Bagi tiga kelompok untuk menyusuri hutan ini, aku rasa pembunuhnya masih ada didalam hutan ini," ucap salah satu pemimpinnya.
"Baik."
Swuuuush! Swuuuush! Ratusan pria melesat kearah yang berbeda, sedangkan seorang pria yang menjadi pimpinan tersebut menatap kearah pohon besar dimana Lasmana Pandya bersembunyi.
"Gawat sepertinya aku terkena masalah besar," ucap Lasmana Pandya.
Swuuuuush! Tiba tiba pria tersebut melesat kearah Lasmana Pandya, Lasmana Pandya yang panik tak sadar bahwa tangannya telah mengaktifkan gerbang dunia kecil dibalik pohon besar itu, sehingga tubuhnya terserap kedalam dunia kecil.
Swuuuush! Setelah memasuki dunia kecil, Lasmana Pandya terlihat kebingungan dengan situasi tempat yang ia pijaki.
"Dimana ini...," ucap Lasmana Pandya sambil meningkatkan rasa kewaspadaannya.
Hingga tiba tiba sebuah ledakan aura mengerikan yang mampu membuat bulu kuduk Lasmana Pandya berdiri menerpa tubuhnya.
"A-aura apa i-ini...," ucap Lasmana Pandya yang tak kuasa menahan aura pembunuh dari seorang wanita cantik yang kini melayang diatas langit.
Swuuuush! Wanita cantik bergaun merah mucul tepat dihadapan Lasmana Pandya dengan tatapan dingin.
"Sejak kapan manusia dapat memasuki Dunia Pembunuh...," ucap lirih wanita itu sambil melihat wajah Lasmana Pandya.
"No-nona siapa anda?" tanya Lasmana Pandya memberanikan diri.
Wanita cantik bergaun merah hanya menaikan alisnya mendengar pertanyaan Lasmana Pandya.
"Menurutmu?"
__ADS_1
"..." Lasmana Pandya terdiam.
Swuuuush! Swuuuush! Hingga tiba tiba ratusan pria dan wanita yang memiliki mata merah muncul tepat dibelakang wanita bergaun merah, sekaligus membuat pikirannya benar benar kacau.
"Ratuku Yang Agung ... Siapa manusia ini?" tanya salah pria bermata merah dengan tatapan tajam menatap Lasmana Pandya.
"Aku juga tidak tahu," balas Ratu Mulan.
Lasmana Pandya yang benar benar tidak tahu mengenai keberadaannya, dan siapa mereka, hanya bisa mematung serta tidak berani membuka mulutnya sama sekali.
"Pemuda tampan, siapa namamu? Dan jika boleh tahu bagaimana kamu bisa memasuki Dunia Pembunuh ini," ucap Ratu Mulan menghilangkan aura yang sangat mengerikan dari dalam tubuhnya.
Merasa berbohong adalah kematian ditempat yang tidak diketahui olehnya, Lasmana Pandya kemudian menceritakan semuanya. Hingga selesai bercerita tiba tiba Ratu Mulan terpikirkan akan sesuatu.
"Tidak mungkin seorang manusia dapat memasuki Dunia ini dengan mudah, pasti ada sesuatu didalam tubuhnya yang membuatnya dapat memasuki dunia ini...," ucap lirih Ratu Mulan kemudian matanya berubah menjadi merah darah.
Perubahan yang diperlihatkan oleh Ratu Mulan membuat Lasmana Pandya tubuhnya gemetar. Namun seketika ia membelalakan matanya melihat wajah Ratu Mulan yang tiba tiba sangat terkejut dan berlutut dihadapan Lasmana Pandya.
"Leluhur Sena ampuni hamba yang tidak mengenal leluhur...," ucap pelan Ratu Mulan masih berlutut.
"A-apa maksud kalian...," ucap Lasmana Pandya kebingungan.
"Leluhur, anda tidak perlu menyembunyikan identitas anda dihadapan kami lagi," ucap Ratu Mulan.
"Nona, tolong jelaskan," balas Lasmana Pandya yang tak mengerti.
Ratu Mulan kemudian berdiri sambil mengeluarkan trisula dari kehampaan.
"Leluhur maafkan ke tidak sopananku," ucap Ratu Mulan kemudian menancapkan trisulanya diatas tanah.
Swuuuung! Segel tangan ia peragakan, hingga membentuk sebuah lingkaran besar yang menyerap aura pembunuh di Dunia Pembunuh, perlahan tapi pasti aura merah samar samar diatas langit Dunia Pembunuh memasuki segel buatan Ratu Mulan, hingga tiba tiba segel tersebut melesat kearah tubuh Lasmana Pandya.
"Arghhh!"
Energi besar memasuki tubuh Lasmana Pandya dengan cara bertahap, tubuh Lasmana Pandya seketika terbalut oleh aura pembunuh yang sangat pekat, bahkan energi didalam dantiannya seketika bergejolak sangat hebat. Samar samar muncul armor Geni Danyang, dan sebuah pedang yang muncul digenggaman Lasmana Pandya.
__ADS_1
Tiap detik armor Geni Danyang dan Pedang Sangka Geni mulai terlihat nyata, dan hingga akhirnya kedua pusaka legendaris itu benar benar terlihat dihadapan para penghuni Dunia Pembunuh.
Swuuuush! Swuuuuush! Ribuan mahluk aneh, beserta ribuan pria wanita bermata merah tiba tiba muncul dan memberikan hormat mereka dengan cara berlutut dihadapan Lasmana Pandya yang telah kehilangan kesadarannya.
"Leluhur Sena dan Ratu Ying Lian, terima hormat kami."
Suara menggema seluruh penghuni Dunia Pembunuh dengan wajah kerinduan.
"Hormat kalian aku terima." ucap Sena yang tak lain roh Geni Danyang.
Geni Danyang dan Pedang Sangka Geni yang tak menyangka mereka diundang secara paksa disaat menyembuhkan kekuatan mereka saat membantu Lasmana Pandya sangat terkejut.
"Bagaimana tuan muda sampai ditempat kelahiran kita...," ucap lirih Geni Danyang sangat tak menyangka hal yang kebetulan itu.
Lasmana Pandya yang ada didalam dunia mimpi sangat terkejut mendengar suara Geni Danyang. Meskipun kesadarannya telah diambil alih, namun ia masih dapat melihat apa yang terjadi di Dunia Pembunuh itu.
"Mulan maafkan kami berdua, karena kesalahan lalu kami berdua tidak akan pernah kembali kedunia ini."
"Leluhur maksud anda...," ucap pelan Ratu Mulan.
Sena yang memasuki tubuh Lasmana Pandya menggeleng kepalanya pelan, dan kemudian ia
menceritakan apa yang telah terjadi ratusan ribu tahun silam. Kaum Dunia Pembunuh yang telah mengira leluhur mereka telah tewas oleh seorang manusia dari pulau Jawa, dan mereka telah merencanakan akan melenyapkan Kultivator pulau Jawa seketika mengurungkan niat mereka setelah mendengar semua penjelasan Sena.
"Mulai saat ini, kalian harus menghormati pemilik asli tubuh ini, karena kami berdua ada didalam tubuh ini, tentunya bukan alasan itu saja kalian menghormati pemilik tubuh ini, suatu saat nanti kalian pasti akan mengetahui alasan ucapanku ini," ucap Lasmana Pandya menatap haru.
"Baik leluhur."
Lasmana Pandya mengangguk, dan kemudian ia meminta Ratu Mulan menurunkan seluruh ilmunya kepada Lasmana Pandya, tak hanya itu saja, ia juga meminta kepada Ratu Mulan untuk memberikan mutiara Dewa Pembunuh miliknya pada Lasmana Pandya. Setelah semuanya telah dibicarakan, perlahan armor Geni Danyang dan pedang Sangka Geni menghilang dari kehampaan dengan kesadaran Lasmana Pandya yang telah kembali.
"Tu-tuan muda, maafkan kelancangan kami," ucap Ratu Mulan hendak berlutut kembali dihadapan Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya yang telah mendengarkan semua cerita siapa roh Geni Danyang, dan Pedang Sangka Geni akhirnya mengangguk dan menahan apa yang akan dilakukan oleh Ratu Mulan.
"Ratu Mulan, anda tidak perlu terlalu formal kepadaku, jujur saja aku tidak menyukai aturan seperti ini," ucap Lasmana Pandya.
__ADS_1