
Lasmana Pandya mengangguk sebagai tanda mengerti.
"Gege kenapa kau menatap puncak gunung itu?" Tanya heran Yang Lie.
"Yang Lie, entah kenapa aku merasa ada sesuatu dipuncak gunung Kidul ini, karena itu aku ingin segera kesana. Apakah kau ingin mengikutiku?" Tanya Lasmana Pandya.
Yang Lie hanya mengangguk, sesaat setelah perbincangan, mereka berdua melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka menuju kaki gunung sambil memunguti mutiara jiwa para Hewan Iblis yang berserakan.
Hingga semua mutiara jiwa telah disimpan kedalam cincin ruang, mereka mulai mendaki gunung dengan cara menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka.
Meskipun Lasmana Pandya bersikap tenang, namun kini ia tidak menurunkan sedikitpun rasa kewaspadaannya terhadap sekitar areanya. Tidak memunginkan bagi para hewan iblis hanya berdiam, besar kemungkinan menurutnya ada beberapa yang akan menghambat perjalanannya.
Lima jam menggunakan ilmu meringankan tubuh keduanya, mata mereka terbelalak karena terkejut melihat ribuan hewan iblis yang sedang berbaris rapi memandang mereka dengan kepala yang tertunduk.
"Ge-gege me-mereka!" Ucap penuh rasa terkejutnya Yang Lie melihat ribuan hewan iblis menatap kearah mereka dengan tatapan penuh hormat, meskipun mereka hewan, tentunya Yang Lie dapat melihat perbedaan seekor hewan yang ingin memangsa, atau hewan yang ketakutan.
Merasa sulit untuk menjelaskan, Lasmana Pandya hanya bisa menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Dengan segera, Lasmana Pandya seketika menggandeng tangan Yang Lie dan melesat cepat kearah puncak.
Tiga puluh menit berlalu, Yang Lie yang masih penasaran terhadap reaksi para hewan iblis tiba tiba bertanya pada Lasmana Pandya.
"Gege kenapa mereka seperti ketakutan melihat Gege? Bahkan merek tidak berani memunculkan niat buas mereka sebagaimana hewan buas pada umumnya?" Tanya keheranan Yang Lie.
"Tuan muda, katakan saja bahwa pendekar tua yang membantu anda mengalahkan pimpinan mereka, dan pria tua itu menaklukan mereka, sehingga mereka tidak berani mengambil resiko untuk menyerang anda."
Lasmana Pandya kemudian menjelaskan apa yang dikatakan oleh Ying Lian.
"Sejak kapan Gege pandai berbohong." Ucap dalam hatinya Yang Lie.
Hingga tiba tiba, mereka berdua menatap kearah kabut tebal berwarna putih didepan mereka. Terdapat ceruk atau kawah besar yang ada dipuncak tersebut, namun yang membuat keduanya penasaran terdapat dua aura berlawanan yang keluar dari dalam kawah besar tersebut.
Seketika keduanya bertatap tatapan sebelum melanjutkan langkah mereka, tatapan keraguan muncul diwajah Yang Lie, karena ia takut adanya bahaya yang dapat membahayakan mereka.
****
__ADS_1
Ying Lian yang berada didalam alam mimpi Lasmana Pandya membelalakan matanya merasakan dua pedang yang dahulu kala pernah berselisih hingga menyebabkan pertempuran tujuh hari tujuh malam ia kenali auranya.
"Pe-pedang darah dan pe-pedang Suci!" Suara keeterkejutan Ying Lian berada dipikiran Lasmana Pandya.
"Ying Lian, sebenarnya apa yang kamu katakan?" Tanya Lasmana Pandya.
"Tu-tuan dua aura ini adalah senjata tingkat Dewa yang merupakan senjata ganda, namun pemilik kedua pedang ini telah mati pada jamanku, dan kini ternyata pedang yang dicari selama ini berada di dunia ini."
****
Lasmana Pandya terus mendengarkan penjelasan dari Ying Lian. Sedangkan Yang Lie, yang melihat keterdiaman Lasmana Pandya menjadi heran.
"Gege apa kau baik baik saja?" Tanya Ying Lian.
Lasmana Pandya menggelengkan kepalanya, dan setelah itu ia mengajak Yang Lie untuk menuju tempat pedang ganda berada. Seampainya diatas ceruk, atau kawah gunung Kidul. Dua pedang putih, dan hitam tertancap ditenngah tengah lava.
"Tu-tuan ini benar benar pedang ganda!" Ucap Ying Lian menjelaskan.
Lasmana Pandya mengangguk, karena pedang itu kini tidak ada penjaganya, karena sebenarnya penjaga adalah Naga Bumi. Lasmana Pandya memutuskan untuk menyimpan kedua pedang tersebut. Namun disaat ia akan melesat kearah tanah kering seperti tangga didalam kawah.
"Aku ingin mengambil kedua pedang itu, namun karena ini ada segel pelindung, aku harap kamu segera menjauh, aku takut ledakan kehancuran segel ini dapat membahayakan nyawamu," ucap Lasmana Pandya serius.
Yang Lie mengangguk kemudian ia menjauh. Melihat Yang Lie menjauh, Lasmana Pandya mempelajari kelemahan segel pelindung tersebut. Dari pengetahuan yang diberikan Kamandaka, Lasmana Pandya mengetahui segel tersebut berasal dari pendekar Negeri China.
"Segel Yin dan Yang!" Ucap Lasmana Pandya kemudian mencari kelemahan disetiap segel rumit didepannya.
Ying Lian yang berada dialam mimpi pun mencoba mencari tata letak kelemahan segel tersebut. Namun ia tidak ahli dalam hal mantra formasi, sehingga kini ia hanya bisa diam.
"Yin dan Yang, dua energi yang berlawanan, namun pada dasarnya keduanya sama kuatnya. " Pengetahuan tentang Yin dan Yang tiba tiba muncul dipikirannya.
Lasmana Pandya sejenak merasa ling lung dengan pikiran tersebut. Hingga pada akhirnya, Sena kembali terbangun dari tidur singkatnya setelah memasuki tubuh Lasmana Pandya.
"Segel Yin dan Yang, kelemahan keduanya adalah jika mereka dipersatukan." Suara Sena membuat wajah Lasmana Pandya berubah menjadi gembira.
__ADS_1
Tanpa banyak kata, Lasmana Pandya mengaktifkan kedua pusaka yang ada didalam tubuhnya. Setelah itu, seuliet energi Qi yang cukup besar melesat kearah lambang lingkaran hitam dan putih, yang merupakan lambang Yin dan Yang.
Swuuuuung!
Segel bergetar, namun sebuah energi kuat mendorong Qi milik Lasmana Pandya, sehingga Lasmana Pandya terpental sejauh sepuluh meter dari pijakannya.
"Uuugh!" Darah keemasan, dan beraroma wangi menyebar kesegala penjuru.
Sontak Yang Lie dari kejauhan melihat Lasmana Pandya terluka ingin segera menghampirinya, namun tiba tiba pusaran hitam muncul didepan tubuh Lasmana Pandya menyerap kedua tubuh mereka.
Lasmana Pandya yang terserap tidak bisa berbuat lebih jauh, karena semakin ia melawan, energi yang menyerapnya bertambah besar. Dan tentunya, meskipun Yang Lie berada jauh ditempat keberadaan Lasmana Pandya, ia juga tak luput ikut terserap kedalam pusaran hitam tersebut.
Swuuuuuussh!
Tubuh mereka akhirnya terserap dan muncul di dalam kawah gunung Kidul yang disekeliling mereka hanya terdapat lava panas. Aura kedua senjata tingkat Dewa juga membuat suasana menjadi lebih kacau.
"Yang Lie, kau tidak apa apa?" Tanya Lasmana Pandya khawatir.
"Gege aku baik baik saja," balas Yang Lie.
Sesaat setelahnya, keduanya kemudian menatap dua pedang yang berjejer memancarkan dua aura yang berbeda.
Satu pedang darah yang memiliki aura mematikan, serta mengerikan, sedangkan pedang Suci memiliki aura lembut namun mendominasi. Tapi anehnya, Lasmana Pandya dan Yang Lie tak terpengaruh aura kedua senjata tersebut.
***
"Ini sangat aneh, bahkan mereka berdua tak terpengaruh oleh aura senjata ganda ini," ucap Ying Lian berbicara dengan Sena di alam mimpi Lasmana Pandya.
Ying Lian sangat paham aura yang mendominasi keluar dari kedua senjata tersebut sama besarnya dengan aura pembunuh milik Lasmana Pandya. Namun melihat keduanya tidak merasakan ketakutan, wajah yang pucat pasi, dan tubuh bergetar membuat Yang Lie merasa kebingungan.
"Jangan jangan!"
****
__ADS_1
Like Like Like Like .