
"Hmmm....!" Dengusan dingin sosok itu disaat serangannya seperti menembak sebuah batu keras.
Ledakan demi ledakan terjadi, ledakan itu disebabkan oleh sosok kekuatan tak terbatas yang menggunakan petirnya mengarahkan kearah sosok tiruan Lasmana Pandya. Hingga ledakan demi ledakan mampu membuat lorong kehampaan itu bergetar hebat.
"Kau benar benar ba*ingan! Arrrrghh!" Teriaknya bertambah murka.
"Petir Abadi! Keabadian Penuh Penyesalan!" Teriak sosok itu.
Swuuuung! Traaaaack! Traaaaaack!
Tiba tiba, guncangan bertambah besar. Yang disertai suara percikan petir disetiap pembatas kekuatab tak terbatas. Lasmana Pandya yang merasakan adanya hal buruk akhirnya mempercepat gerakannya menuju titik cahaya.
Didalam segel perisai.
"Saudara apakah Jendral Xiao..."
"Tetap tenang, aku percaya ia dapat bertahan," ucap Bei yang sebenarnya lebih khawatir.
Semuanya mengangguk, wajah mereka terlihat pucat karena tinggal menunggu ajal mereka.
"Jika saja..."
"Ao cukup! Lebih baik kita diam dan bersiap dari hal buruk yang akan terjadi!" Timpal Lie.
***
Traaaaack! Traaack!
Petir yang ada disamping semakin menggila, sehingga membuat Lasmana Pandya juga bersiap menerima hal buruk yang akan terjadi.
Dhuaaaaar! Dhuuuuaar!
Ratusan ledakan akhirnya pecah saat ratusan petir menyambar sosok tiruan Lasmana Pandya. Petir itu terus menunjukan kekuatannya, sedangkan sosok kekuatan tak terbatas yang sudah kesal sejak awal terus mengamati jurusnya.
"Aku tidak bisa tinggal diam, aku juga harus cepat menyelesaikan misi ini, lagi pula waktuku terbatas."
Traaaaack! Traaaaaack!
Seluruh tubuh sosok itu dibaluti petir tanpa warna. Matanya menuju kearah sosok ratusan tiruan Lasmana Pandya yang mencoba menghindari dari jurus mematikannya.
"Putaran Petir Surgawi!" Teriaknya.
__ADS_1
Swuuuung!
Tubuh sosok itu melesat cepat kearah Lasmana Pandya berputar bagaikan kipas angin yang dibaluti petir melesat dengan kecepatan ekstrem, menabrak dan meledakan banyak sosok tiruan Lasmana Pandya yang berhasil menghindari jurus petirnya.
Lasmana Pandya yang terus mempercepat laju terbang akhirnya bisa menyunggingkan senyumnya setelah melihat ujung lorong itu. Namun firasatnya berubah menjadi jelek saat merasakan suara ledakan yang bersyahut syahutan mendekat kearahnya.
"Gawat!"
Dhuuuaaaar! Dhuuuaar! Dhuuuaaar!
Lasmana Pandya terpental sambil memuntahkan banyak darah emasnya, sosoknya terus terpental hingga menabrak dan menghancurkan sisa bayangan tiruannya.
"Akkkhh!" Pekik Lasmana Pandya terluka yang cukup parah.
Sekilas ia melihat ujung lorong yang masih berada didepannya sejauh tiga kilometer. Ia yang terluka masih saja bisa berpikir mencari cara untuk cepat keluar dari ruang kematian itu.
"Jangan kira kau bisa lari dari genggamanku bocah!" Ucap sosok itu telah berdiri dibelakang Lasmana Pandya dan telah menginjak tubuh Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya mencoba menggerakan tubuhnya, namun tekanan kaki yang menginjak tubuhnya bagaikan ribuan gunung yang menjepitnya.
"Akkkh!" Lasmana Pandya kembali memekik dan mengeluarkan darah dari bibirnya.
"Aku tidak boleh mati di Negeri ini!" Tekad Lasmana Pandya kemudian mengeratkan rahangnya mencoba menahan tekanan yang ada ditubuhnya.
Geni Danyang tiba tiba keluar membakar seluruh tubuh Lasmana Pandya. Hawa panas yang teramat tinggi menyebar yang menyebabkan sosok itu mundur dan menyipitkan matanya.
"Ekstensi api Ilahi terkuat yang telah hilang!" Ucapnya senang.
Lasmana Pandya akhirnya bisa berdiri dan menatap tajam sosok itu disisa kekuatannya sendiri. Geni Danyang yang terus berkobar menyelimuti tubuhnya juga terus meningkatkan tingkat kepanasan hingga titik maksimal.
"Apakah hanya segini saja kekuatanmu!" Ucap provokasi Lasmana Pandya.
"Heh?" Sambil menaikan alisnya karena bingung bocah yang telah terluka parah masih dapat sombong dihadapannya.
"Apakah telingamu tuli!" Lasmana Pandya masih memprovokasi.
"Baj*ngan jangan sok kuat bocah!"
Swuuuuuush! Traaaaack! Dhuuuuuuaaar!
Sosok itu akhirnya terpancing emosinya, sehingga ia melesat dan memberikan tinju yang dibaluti petir tanpa warna. Sedangkan Lasmana Pandya membiarkan tubuhnya terpental sejauh lima puluh meter. Tanpa memperdulikan rasa sakit, dan luka parahnya. Lasmana Pandya kembali bangkit.
__ADS_1
"Masih kurang!" Ucap Lasmana Pandya.
Bibir sosok itu berkedut kembali mendengar provokasi Lasmana Pandya yang seharusnya sudah memohon ampun karena nyawanya telah berada di genggamannya.
"Kekuatan tak terbatas? Hanya ini saja kekuatanmu!" Teriak keras Lasmana Pandya menggunakan energi Qinya.
Hal itu yang membuat sosok itu kembali murka dan muncul dihadapan Lasmana Pandya sambil memberikan tinju yang bertubi tubi kearah tubuh Lasmana Pandya yang masih mengobarkan Geni Danyangnya.
"Apakah bocah ini sedang menyerap kekuatanku..." Ucapnya dalam hati sambil terus meninju tubuh Lasmana Pandya yang menjauh, namun terus ia kejar dan ia melakukan hal yang sama.
Lasmana Pandya terus membiarkan tubuhnya terpental mendekati kearah ujung titik cahaya. Hingga ia merasakan pandangannya kabur, energi esensi Geni Danyangnya juga telah menurun. Dan aura kehidupannya mulai meredup, namun tekad kuat untuk keluar dari ruang kematian itu terus ada ditubuhnya, sehingga Lasmana Pandya terus mempertahankan kesadarannya.
Dhuuuuaar! Dhuuuuaar!
Lasmana Pandya terpental, namun sosok yang curiga bahwa Lasmana Pandya diam diam menyerapnya kini hanya diam dan mengecek kekuatannya. Namun. setelah itu, kedua alisnya menyatu.
"Bocah ini..." Ucapnya kebingungan, karena tebakannya salah.
Kembali bangkit, namun terlihat jelas Geni Danyang yang telah hilang, dibarengi dengan armornya. Lasmana Pandya mencoba kembali berdiri, ia menebak setidaknya sebentar lagi usahanya akan berhasil. Kini pijakannya diatas ruang kehampaan benar benar tidak bisa tegak. Seperti layaknya orang mabuk tinggi pada umumnya. Pandangannya terus memburam, hingga tiba tiba Lasmana Pandya menyunggingkan senyumnya.
"Kau babu bodoh! Kekuatan yang tercipta dari air sen* yang tidak berguna bisa apa! Membunuh Glory tingkat lima saja perlu menggunakan kekuatan puncakmu! Dasar kentut!" Ucap terakhir Lasmana Pandya membuat sosok itu benar benar kehilangan kendali.
"Ka-kau meremehkan kekuatanku!" Ucapnya penuh tekanan.
Amarahnya yang meledak ledak menyebabkannya tidak bisa berpikir jauh. Sehingga tanpa basa basi, sosok tersebut yang sudah ingin membunuh Lasmana Pandya segera mengumpulkan energi Qi dititik puncaknya kearah tangan kanannya. Petir tanpa warna menari nari disetiap lengannya.
"Sudah saatnya kau mati!"
Swuuuuush!
Sosok itu melesat, sedangkan Lasmana Pandya yang berhasil kembali memprovokasi sosok itu hanya bisa menyunggingkan senyumnya. Hidupnya kali ini ia pertaruhkan, jika mati maka sudah takdir, dan jika hidup maka itu keberuntungannya.
Lima meter sosok kekuatan tak terbatas telah berada didepan Lasmana Pandya, Lasmana Pandya hanya bisa memejamkan matanya menunggu takdir yang akan menentukan segalanya.
Dhuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaar!
Ledakan yang maha dahsyat terjadi saat tinju sosok itu mengenai tubuh Lasmana Pandya dengan telaknya. Sosok itu yang terus menggempur Lasmana Pandya juga bersiap merapal mantra untuk menumbalkan seluruh jiwa milik Lasmana Pandya. Namun saat selesai merapal mantra, wajahnya berkedut karena ia tidak dapat merasakan kekuatan jiwa yang telah mati.
Matanya terbuka, namun sedetik kemudian ia melotot, ternyata Lasmana Pandya sudah berada diujung titik gerbang dimensi dengan tubuh yang lemas.
"Baj*ngan cilik ini! Argghh!"
__ADS_1
Swuuuuush!
Sosok itu melesat cepat mencoba menghentikan Lasmana Pandya. Namun sayangnya, hanya kurang satu meter tiba. Lasmana Pandya telah menghilang atau keluar dari gerbang dimensi.