Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Mendirikan kerajaan Sangsakerta kembali


__ADS_3

Lasmana Pandya akhirnya meledakan tubuh Jendral Lao Shi saat mendengar pernyataan Jendral Lao Shi tersebut. Setelah meledakkannya, ia kemudian mengambil setetes darah merahnya dan memasukannya kedalam cincin ruangnya.


"Sepertinya aku harus tiba di Kekaisaran Yang Lin, jika dibiarkan peperangan akan terus terjadi," gumamnya kemudian menatap kearah bawah.


Tiap detik, pedang yang di kendalikan oleh kesadaran jiwanya telah memakan ribuan korban. Terlihat masih sepuluh ribuan pasukan didalam perisai yang berusaha memblokir pedang tanpa tuan yang menggerakkannya.


Lasmana Pandya yang tidak ingin membuang waktunya kemudian melesat kearah bawah dan mulai membantai mereka satu persatu. Tak ia sedari, matanya kini memerah dengan sendirinya.


Kesadaran mengenai manusiawinya mulai terkikis. Hanya kekejaman yang ia lakukan saat ini. Membunuh tanpa berkedip, bergerak bagaikan malaikat pencabut nyawa Lasmana Pandya kini benar benar seperti malaikat utusan pencabut nyawa.


"Tuan ampuni kami!" Teriak salah satu prajurit yang masih mempertahankan dirinya.


Slaaaaaash!


Tanpa membalas, Lasmana Pandya membunuhnya dengan pedang tingkar Dewa yang ia keluarkan dari dalam cincin ruangnya. Pasukan kecil Kekaisaran Yang Lin yang baru tiba benar benar seperti hewan potong yang siap disembelih. Karena saat ini tidak akan ada yang bisa lolos dari Kematian mereka.


**


Disisi lain, dibalik awan. Zhou Botong yang penasaran dengan sosok Lasmana Pandya sedang menatap tingkah Lasmana Pandya dengan tubuh yang bergidik.


"Benar benar seorang pembunuh yang kejam!" Ucapnya.


Namun ia menghela napas panjang, bukan karena ia ingin ikut campur. Tapi ia tahu betul apa yang kini dilakukan Lasmana Pandya adalah hal yang membuat api bertambah besar.


"Kaisar Yang Lin, sepertinya peramal Bao Teng benar benar dapat dipercaya omongannya," gumam Zhou Botong yang mendengar berita bahwa Bao Teng meramalkan kematian sosok yang paling ditakuti di Negeri China.


Kini ia benar benar tidak tahu harus berkata apa, selain ia dapat melihat adanya kekuatan besar yang tumbuh didalam tubuh Lasmana Pandya. Ia juga mengagumi kejeniusan Lasmana Pandya yang pada diseusianya, ia telah mencapai tingkat Glory satu.


***


Lasmana Pandya terus membunuh tanpa penyesalan dilubuk hatinya. Karena saat ini disaat ia membunuh. Ia selalu berpikir bahwa kematian mereka belum cukup untuk membalaskan kematian kedua orang yang ia cintai.


Sepuluh menit berlalu, kini hanya tersisa ratusan prajurit Kekaisaran Yang Lin.


Swuuuuush!


Aura pembunuhnya tiba tiba meledak hebat tanpa bisa dikendalikan olehnya. Hal itu membuat prajurit yang tersisa meledak menjadi kabut darah akibat aura Dewa Pembunuh yang dapat membunuh tanpa menyentuh. Mata Lasmana Pandya menjadi merah darah. Sepenuhnya hanya tersirat kebencian dan dendam.

__ADS_1


***


Zhou Botong yang sedang mengawasi, ia menaikan alisnya. Ia kini dapat merasakan tubuh Keabadian Lasmana Pandya yang semulanya bercahaya keemasan kini berganti dengan hitam pekat.


"Kekuatan Iblis melanda tubuhnya, apakah aku harus turun tangan dan membantunya," gumam Zhou Botong kebingungan.


****


Roooooooaaarh!


Lasmana Pandya mengaum bagaikan seorang iblis yang haus darah. Auranya pembunuhnya terus menyebar yang bahkan Zhou Botong merasa ngeri dibuatnya.


Yang pasti, jesadaran Lasmana Pandya saat ini mulai terkikis, namun Lasmana Pandya mencoba mengontrol emosi jiwanya yang tiba tiba meledak tak terkendali.


"A-ada apa dengan tubuhku," ucapnya kemudian mencoba mengendalikan diri.


Matanya perlahan normal, namun aura Dewa Pembunuhnya masih meledak ledak. Bahkan membuat bangunan yang berdiri kokoh di Kerajaan Bai Shi mulai hancur dibuat tekanannya.


"Arrrrrghhh!"


Sebuah pikiran mengenai wajah ayahnya dan ibunya yang telah tewas saat melahirkannya muncul. Dan hal itu membuat sisi iblisnya tiba tiba memudar.


Namun tiba tiba, matanya kembali merah hanya dengan waktu sedetik saja saat merasakan ada sosok dibalik awan.


Swuuuuuush!


Lasmana Pandya melayang dan muncul dihadapan Zhou Botong yang sejak tadi bingung harus melakukan apa.


"Ka-kamu..." Ucap Zhou Botong tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Senior?" Tanya Lasmana Pandya sambil menaikan salah satu alisnya karena heran.


Zhou Botong menghela napas sejenak. Setelah itu ia memandang serius kearah Lasmana Pandya.


"Bocah, kau harus tahu timbal balik yang akan kamu dapatkan dari hal yang telah kau lakukan saat ini," ucap Zhou Botong ramah.


Lasmana Pandya menaikan alisnya.

__ADS_1


"Maksud senior?" Tanya Lasmana Pandya.


Zhou Botong kembali menghela napas panjang.


"Kau memiliki sifat iblis yang harus kau buang, karena itu dapat menghilangkan rasa kemanusiaanmu, dan mengenai pembantaian yang kau lakukan. Kamu akan menanggung kemarahan Yang Lin, saat ini aku saja lebih baik memilih tunduk dari pada mati ditangannya," ucapnya sambil tersenyum kecut.


Lasmana Pandya mengangguk, dan kemudian mengerti kekhawatiran Zhou Botong.


"Tenanglah senior, karena apa yang aku lakukan, akan aku tanggung sendiri."


"Baiklah, jika begitu aku undur diri, jaga baik baik hati dan rasa kemanusiaanmu. Jika kau ingin mencariku, datanglah di gunung Fuji, karena dipuncak gunung Fuji ada kediamanku," ucap terakhir Zhou Botong kemudian menghilang.


"Baik senior, jika berkenan aku akan berkunjung," ucapnya kemudian menatap kearah sisa pembantaian yang ia lakukan.


Ucapan yang dikatakan Zhou Botong kini ia cerna. Dan mulai memahaminya, namun saat teringat akan kematian ayah dan pamannya. Kebencian dan dendam dihatinya kembali berkobar, dan hal itu membuatnya sedikit lepas kendali.


"Ini tidak bisa dibiarkan," gumamnya yang merasa apa yang dikatakan Zhou Botong benar benar terjadi.


Swuuuush!


Lasmana Pandya akhirnya memutuskan untuk kembali Ke Kerajaan Sangsakerta, beberapa jam kemudian.


Lasmana Pandya heran melihat banyaknya Kultivator yang berkumpul. Tujuh bawahannya pun terlihat bercengkerama dengan baik bersama mereka.


"Tuan muda," ucap ketujuhnya menghadap kearah Lasmana Pandya yang berada diatas langit.


Swuuuush!


Lasmana Pandya berdiri dihadapan ketujuh bawahannya dengan perasaan bingung.


"Kenapa mereka berada disini?" Tanya Lasmana Pandya.


Kemudian salah satu tetua bekas padepokan putih yang telah hancur kemudian maju dan memutuskan untuk menjadi bawahan Lasmana Pandya. Karena dengan begitu, maka keselamatannya akan baik baik saja jika berada dinaungan Lasmana Pandya.


"Senior, maaf aku tidak bisa, bukannya aku tidak membutuhkan uluran tangan kalian, tapi jujur saja tugasku sangat berat..." Ucapnya terhenti saat melihat raut wajah Kultivator lainnya yang kecewa.


Lasmana Pandya menghela napas panjang. Kemudian ia menatap kearah sekitarnya.

__ADS_1


"Baiklah jika itu mau kalian, tapi aku meminta pada kalian bukan dijadikan sebagai bawahan, tapi saudara. Dan karena kalian tidak memiliki tempat tinggal, maka aku secara resmi menyatakan bahwa Kerajaan Sangsakerta kembali didirikan!" Ucap Lasmana Pandya yang telah memikirkannya dengan matang.


Wajah mereka terlihat gembira mendengar penuturan Lasmana Pandya. Dengan begitu, mereka tidak perlu khawatir mengenai adanya serangan susulan dari Negeri China. Bahkan Lasmana Pandya mengatakan menganggap mereka semua sebagai saudara. Dan dengan menggunakan identitas Lasmana Pandya yang saat ini sedang naik daun, mereka percaya Padepokan besar aliran hitam yang saat ini juga ditakuti oleh seluruh Kultivator tanah Jawa. Mereka tidak terlalu takut menghadapi bencana yang sebenarnya akan terjadi pada masa yang akan datang.


__ADS_2