
"Jejak Api Surga!" Teriak Joko.
Tubuhnya berputar, sebuah api keluar dari tubuhnya lalu berkumpul kearah kakinya, setelah itu ia melepaskan tendangan kaki kanannya kearah Lasmana Pandya. Tak tanggung tanggung, Joko mengerahkan setengah kekuatannya berharap Lasmana Pandya akan terluka parah.
"Saudara minggir!" Teriak lagi Joko yang telah melepaskan jurusnya.
Swuuuuush! Swuuuush! Swuuush!
Ketiga rekan Joko segera menghindar dengan cara bersalto kebelakang sejauh lima meter. Lasmana Pandya tersenyum kearah lesatan tendangan api milik Joko.
"Tuan muda, biarkan api tersebut mengenai tubuh anda," ucap penuh keyakinan Sena.
Lasmana Pandya hanya diam, namun masih menampilkan senyum kecilnya. Begitu juga dengan Joko namun ia menaikan kedua alisnya saat pemuda bertopeng hanya diam, dan sepertinya ingin menyambut jurusnya itu.
Swuuuuush! Sleeeeep!
Mata semua orang terbelalak terkejut, bukan karena jurus milik Joko, melainkan Lasmana Pandya yang hanya diam mematung, lalu setelah jurus itu menyentuh tubuh Lasmana Pandya bukannya meledak, namun malah memasuki tubuh pemuda itu, sehingga mereka tidak bisa mencerna apa yang terjadi.
"Ba-bagaimana bisa!" Ucap penuh keterkejutan Joko.
Sedangkan Lasmana Pandya merasakan perasaan nyaman dan hangat ketika tendangan api milik Joko memasuki tubuhnya. Tanpa ia sedari api tersebut terserap oleh Geni Danyang yang menyebabkan Geni Danyang memiliki sedikit peningkatan panasnya saja.
"Senior apakah ada api seperti ini lagi? Karena jurus senior benar benar sangat nyaman berada ditubuhku," ucap Lasmana Pandya membuka matanya sambil memberikan raut wajahnya yang penuh harap.
Mulut mereka terbuka lebar mendengar ucapan Lasmana Pandya, bahkan tanpa sadar bulu kuduk mereka berdiri karena mereka tahu jurus milik Joko mampu membuat luka parah pada ranah Langit tingkat Tiga.
"Ka-kau bukan manusia!" Ucap Joko yang tidak percaya.
"Jika aku bukan manusia lalu apa Senior?" Tanya Lasmana Pandya yang malah heran mendengar ucapan Joko.
Joko terdiam, sedangkan ketiga rekannya masih membelalakan mata mereka karena sangat terkejut.
"Senior apakah kalian hanya ingin diam saja atau mau melanjutkannya?" Tanya lagi Lasmana Pandya.
Meskipun Lasmana Pandya sedikit bercanda, nyatanya Joko menanggapinya dengan asumsi yang berbeda, sehingga wajahnya memerah karena marah, rasa keterkejutannya sudah tidak ia perlihatkan lagi, melainkan tatapan membunuh yang ada dimatanya.
"Bocah, meskipun aku tidak mempercayai apa yang telah terjadi, namun sepertinya kesombonganmu membuatku ingin membunuhmu...," Ucap dingin Joko.
__ADS_1
Swooooosh!
Api merah kebiruan berkobar keluar dari dalam tubuhnya, tatapan membunuh semakin besar, matanya memerah bagaikan seorang iblis yang melihat mangsa mentah didepannya.
Swuuuuush!
Sekali hentakan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Joko tiba didepan Lasmana Pandya sambil mengayunkan tinjunya .
"Mati!"
Senyum kecil kembali Lasmana Pandya perlihatkan, melihat tatapan membunuh, ia tidak ingin mengabaikan kekuatan Joko. Apalagi memperlihatkan dua pusaka yang ada ditubuhnya, sehingga ia mencoba mengukur ketahanan batas tubuhnya.
Dhuuuuuuaaar!
Dua tinju bertemu, terlihat Lasmana Pandya terhuyung kebelakang sejauh sepuluh meter, sedangkan Joko tidak bergeming dari tempatnya sedikitpun.
Luapan energi dari benturan tinju keduanya pun seolah olah terlambat terjadi, sehingga setelah ledakan dan pertemuan tinju, pepohonan disekitar mereka roboh dengan sendirinya. Lagi dan lagi, raut wajah keterkejutan Joko terlihat saat ia mengerahkan seluruh kekuatannya dalam pertemuan tinju dengan tinju.
"Ka-kamu...," Ucap lirih Joko.
Swuuuuush!
Awal serangan mereka terlihat berimbang, namun dari segi kecepatan Lasmana Pandya terlihat lebih lambat tanpa menggunakan kedua pusakanya.
Paaackk! Baaaaams!
Tiga puluh gerakan serangan cepat keduanya akhirnya terlihat hasil pemenangnya, pemenangnya adalah Joko. Sehingga raut wajah kepuasaan dan kebanggaannya timbul disenyumnya.
"Lumayan, Mari ulangi lagi!" Ucap Lasmana Pandya kembali melesat.
Swuuuush! Paack! Baaaaamss!
Hasilnya pun kembali dimenangkan Joko selama lima kali berturut turut, terlihat darah yang ber aroma wangi keemasan membekas di bibir Lasmana Pandya, meskipun mereka merasa aneh dengan aroma darah yang keluar dari tubuh Lasmana Pandya, Joko yang tidak ingin berpikir lebih panjang kembali menerjang kearah Lasmana Pandya.
"Mati kau bocah kep*rat!"
Swuuuuush! Baaaaaamsss! Dhuuuuaar!
__ADS_1
Lasmana Pandya yang tidak ingin memperlihatkan kedua pusakanya segera meninju tanah dibawahnya dengan kekuatan puncak, sehingga debu mendadak bertebangan diarea pertempuran.
Slaaaaash!
Saat tinju dengan kekuatan penuh Joko akan tiba ditubuh Lasmana Pandya, samar samar ia melihat tubuh Lasmana Pandya yang bercahaya keemasan, dan tangannya tergenggam sebuah pedang emas. Matanya terkejut sesaat setelah lengan kanannya terlepas dari tubuhnya, sedetik kemudian Lasmana Pandya kembali menghilangkan keberadaan pusakannya dibarengi dengan hilangnya debu bertebangan.
Wajah ketiga tetua lainnya menegang saat melihat debu bertebangan telah menghilang. Wajah mereka berubah menjadi keterkejutan setelah melihat Joko terbaring dengan lengan yang terlepas disebelahnya. Sadar akan keterkejutan mereka kembali merubah dengan ekpresi ketakutan setengah mati melihat Lasmana Pandya menatap mereka santai.
"Senior mungkin jika anda Kultivator asing aku akan bertindak lebih kejam lagi, maka kini kalian bertiga juga harus memotong lengan kanan kalian agar kedepannya kalian tahu harus berbuat apa jika bertemu denganku jika masih bersikap arogan lagi...," Ucap dingin Lasmana Pandya.
Ketiganya berkeringat dingin, karena bagai manapun kehilangan tangan sama saja kehilangan harga diri mereka, apalagi diperintahkan oleh seorang bocah muda didepan mereka.
"Tu-tuan pendekar bukankah ini berlebihan?" Tanya salah satunya memberanikan diri.
"Lakukan sendiri atau aku yang akan melakukannya?" Tanya Lasmana Pandya membuat ketiganya berkeringat dingin.
Sedangkan Joko yang masih terbaring mematung, tidak berani bergerak sama sekali, kini ia sedang mengingat saat Lasmana Pandya menghantamkan tinjunya kearah tanah, dan sebuah armor emas, serta pedang yang ada ditubuhnya membuat lengannya terlepas, kini membuatnya setengah gila jika mengingatnya.
Mereka bertiga mengeratkan rahang mereka ketika mendengar ucapan Lasmana Pandya. Namun apa daya, Joko yang memiliki ranah kultivasi diatas mereka saja hanya diam, apalagi lengan kanannya telah terlepas dari tubuhnya.
Slaaaash! Slaaaash! Slaaaash!
Pada akhirnya mereka bertiga menggunakan pedang mereka bertiga dan memotong lengan mereka sendiri. Melihat hal tersebut, Lasmana Pandya segera meninggalkan mereka berempat ditengah hutan kembali ke kota Sumbang.
Sesampainya di penginapannya.
Terlihat Yang Lie yang memasang wajah khawatir duduk di lantai bawah penginapan sambil melamun memikirkan kepergian Lasmana Pandya yang entah kemana.
"Yang Lie," ucap Lasmana Pandya.
Yang Lie yang sedang melamun segera menolehkan kepalanya dan menatap Lasmana Pandya dengan tatapan khawatir.
"Gege kau kemana saja?" Tanya Yang Lie yang melihat jubah Lasmana Pandya sedikit robek.
"Oooh aku tadi pagi hanya berlatih, dan tak sengaja disaat di atas dahan pohon bajuku tergores ranting tajam."
Lasmana Pandya memberikan alasan yang sebenarnya Yang Lie sendiri tidak mempercayainya. Namun karena ia diam diam menaruh hati pada sosok Lasmana Pandya membuatnya hanya bisa mengangguk saja.
__ADS_1
"Yang Lie, tunggulah disini aku hanya ingin mengganti pakaian," ucap Lasmana Pandya.
Yang Lie mengangguk, dan membiarkan Lasmana Pandya kembali kekamarnya.