
Lasmana Pandya mengeluarkan Pill penyembuh pada Shao Hao dengan mudahnya.
"Saudara, pulihkan diri," ucap Lasmana Pandya kemudian melirik Yue Xong agar segera melakukan rencananya.
"A-anda yang membuatnya sendiri tuan muda?" Ucapnya terkejut.
Dua alis Lasmana Pandya berkerut mendengar pertanyaan Shao Hao.
"Memang benar, apa ada yang salah?" Tanya Lasmana Pandya.
Shao Hao hendak berlutut, karena didepannya sosok Alkhemis yang sangat berbakat dari segi umurnya.
"Saudara Shao Hao, apa yang kamu lakukan," ucap Lasmana Pandya menghentikan tingkah Shao Hao.
"Tuan sudah seharusnya saya lebih menghormati anda, karena di Negeri kami seorang Alkhemis seperti anda bisa dikatakan sejajar dengan popularitas para Kaisar," ucap Shao Hao serius.
Lasmana Pandya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena menurutnya ia tidak pantas menerima pengakuan tersebut.
"Saudara Shao Hao, aku hanya iseng belajar mengenai pembuatan pill karena itu kamu tidak perlu sebegitu hormatnya padaku," ucap Lasmana Pandya.
Akhirnya mereka berbincang santai, Lasmana Pandya juga terus mencari informasi yang ia butuhkan. Terutama Klan Hong yang kini menguasai Kekaisaran Hong.
"Kekuatan mereka sebanding dengan kekuatan keluarga kami, namun jika saat ini kami bertanding kekuatan, tentu keluarga Yuanlah pemenangnya, karena kami dapat menyewa pendekar hebat berapapun kita mau jika peperangan terjadi," ucap Shao Hao hormat.
Lasmana Pandya terdiam, namun setelahnya. Cincin ruangnya tiba tiba bergetar dengan pesan yang dikirimkan Yue Xong.
"Tuan muda, sepertinya Hong Dao akan pergi meninggalkan kota ini," ucapnya.
Lasmana Pandya kemudian meminta Yue Xong untuk terus mengikuti pergerakan Hong Dao, dia juga meminta untuk lebih berhati hati terhadap sosok tiga tetua yang melindungi Hong Dao.
Sekilas ia kembali mencari informasi yang dibutuhkan, akhirnya Lasmana Pandya memilih untuk kembali melanjutkan perjalanannya.
"Saudara Shao Hao, aku akan kembali melanjutkan perjalanan," ucap Lasmana Pandya memberikan hormatnya.
Shao Hao mengangguk, meskipun ia merasa dekat dengan pemuda bertopeng didepannya. Tapi ia sendiri tidak memiliki pilihan untuk menahan di penginapannya untuk sekedar berbincang santai.
"Baik tuan muda, anda berhati hatilah," ucap Shao Hao.
Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu ia keluar dari penginapan Bunga Persik, dan tak lama ia berjalan kearah utara mengikuti pergerakan Yue Xong.
Setelah berada diluar kota.
Swuuuuush! Swuuuush!
Keempat bawahannya termasuk Yue Xhie keluar dari cincin waktu.
__ADS_1
"Tuan muda," ucap mereka hormat.
"Kalian berempat berhati hatilah," ucap Lasmana Pandya sambil memberikan cincin ruang yang berisi sama dengan yang diberikan pada Yue Xong.
"Tuan muda juga," balas mereka hormat.
Swuuuuush! Swuuuush!
Keempat bawahan Lasmana Pandya melesat menuju Kekaisaran Yang Lin untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan Lasmana Padya. Setelah itu, Lasmana Pandya mengeluarkan Yue Yang dari dalam cincin waktunya.
"Yue Yang," ucap Lasmana Pandya terkejut melihat bayi elang berbulu emas berada di tangannya.
"Tuan muda," ucapnya sambil memberikan bayi tersebut.
"Ini anak elang emas?" Tanya Lasmana Pandya.
"Benar, bukankah tuan muda memintaku untuk menjaganya?" Tanya heran Yue Yang.
Lasmana Pandya menghela napas sejenak, setelah itu ia meminta Yue Yang untuk kembali memasuki cincin ruang menemani sosok elang emas yang ia beri nama Langit Suarga. Sejenak ia merasa senang, karena wangsit dari sosok ibu asli elang emas yang meminta ia dan Yang Lie menjaganya akhirnya selesai. Namun ia tidak bisa melepaskan Langit Suarga kealam bebas, karena ia takut akan ada hal berbahaya yang mengancam nyawanya. Karena itu ia lebih memilih merawat Langit Suarga didalam cincin waktunya.
Setelah Yue Yang memasuki cincin waktu. Lasmana Pandya menghentakan kakinya terbang keatas langit mengejar keberadaan Hong Dao.
Dengan kecepatannya yang setara dengan Glory Lima, kini ia telah tiba didekat Hong Dao yang sedang melanjutkan perjalanannya.
Swuuuuush!
"Tuan muda," sapa Yue Xong.
"Segel kawasan ini, dan pastikan tidak ada yang mendekat," ucap Lasmana Pandya.
"Baik tuan muda," ucap Yue Xong patuh.
Lasmana Pandya melesat menghadang Hong Dao dan tiga pelindungnya, sedangkan Yue Xong segera membuat segel tangan menutup kawasan pelarian Hong Dao jika terjadi.
Sontak ketiga bawahan Hong Dao yang berada dibelakang tuan mudanya bersikap waspada. Wajahnya menegang, saat merasakan sosok aura yang memiliki rembesan aura pembunuh mendekat kearah mereka.
"Keluarlah..."
Swuuuuush!
Lasmana Pandya yang menggunakan topengnya muncul didepan mereka menatap santai Hong Dao dan pelindungnya secara bergantian.
"Siapa kamu," ucap Tetua Shen.
Lasmana Pandya tidak membalasnya, namun muncul tepat dihadapan tetua Shen sambil melepaskan tinjunya.
__ADS_1
Dhuuuuuuaar!
Tetua Shen terpental, wajahnya memucat saat merasakan pertukaran serangan awal dari tangan kosongnya. Sedangkan kedua tetua pelindung Hong Dao mundur dari tempat mereka menjaga tuan muda mereka dari ancaman yang berbahaya.
"Sepertinya dia seorang tetua yang sedang menyamar," batinnya Shen kemudian menatap tajam Lasmana Pandya.
"Tetua, jika boleh tau apa kesalahan kami?" Tanya tetua Shen memberanikan diri.
"Tidak ada kesalahan, tanyakan saja nanti pada akhirnya," ucap Lasmana Pandya yang membuat tetua Shen kebingungan.
Swuuuuush!
Gerakannya yang cepat kemudian mencengkeram leher tetua Shen. Matanya tajam menatap wajah tetua Shen yang saat ini tubuhnya gemetar berada digenggaman tangan Lasmana Pandya.
"Tu-tuan apa salah kami!" Ucapnya sekali lagi.
"Hmmpp!"
Kraaaaack!
Tetua Shen akhirnya mati ditangan Lasmana Pandya tanpa tahu masalah yang ia buat. Sedangkan kedua pelindung lainnya saling berpandangan. Wajah mereka kebingungan karena tidak tahu hal apa yang membuat mereka menyinggung sosok pemuda bertopeng yang mereka kira seorang tetua yang sedang menyamar.
Swuuuuush!
Sekedipan mata, Lasmana Pandya muncul didepan dua tetua lainnya. Tanpa ingin membuang waktu, Lasmana Pandya membunuh mereka dengan tinju apinya, sehingga ia meledakan tubuh kedua pelindung Hong Dao hanya dengan sekali pukulnya.
Tubuh Hong Dao kini berubah pucat pasi melihat pelindung utusan ayahnya tewas tanpa perlawanan. Namun kenaifannya yang mengira Lasmana Pandya rakus mengenai harta, membuatnya mencoba bernegosiasi.
"Tu-tuan aku salah apa? Jika anda menginginkan hartaku, aku pasti akan memberikannya."
Lasmana Pandya hanya tersenyum melihat Hong Dao yang tubuhnya bergetar memberikan cincin ruangnya.
"Kau tidak perlu bersusah payah Hong Dao ... Karena aku sendiripun dapat melucuti cincin ruang milikmu tanpa bantuan mu," ucap Lasmana Pandya kemudian muncul dan membunuh Hong Dao menggunakan serangan cepat yang terarah pada leher Hong Dao.
Setelah membunuhnya, Lasmana Pandya menatap tubuh Hong Dao dan tetua Shen. Dengan cepat, ia memasukan darah kedua sosok itu kedalam gelas yang telah ia siapkan.
"Yue Xong," panggil Lasmana Pandya.
Swuuuush!
Pelindung kawasan menghilang dengan munculnya sosok Yue Xong yang masih bergidik ngeri melihat tingkah majikannya.
"Tuan muda," ucap Yue Xong.
"Aku memberikan kamu waktu dua hari untuk melatih kitab penyamaran yang telah aku berikan. Setelah itu, kita akan segera pergi ke pusat Kekaisaran Hong. Ingatlah, kita tidak bisa bersantai satu haripun," ucap Lasmana Pandya.
__ADS_1
"Baik tuan muda."
####