Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Berusaha naik tingkat


__ADS_3

Swuuuuush! Dhuuuaaar! Siluman harimau tiba tiba melesat dari dalam goa dan mencoba mencabik Lasmana Pandya menggunakan cakarnya, namun karena Lasmana Pandya yang tidak menurunkan sedikitpun rasa kewaspadaannya segera memblokir serangan cakar harimau menggunakan pedang tingkat rendahnya.


Daya kejut, dan pedang tingkat rendahnya yang patah membuat Lasmana Pandya terkejut setengah mati.


Groooaarh! Auman dari siluman Harimau kembali menggelegar disekitar area Lasmana Pandya. Sedikit gentar, namun ia yang tak ingin mati tanpa perlawanan. Lasmana Pandya mencoba menjernihkan pikirannya.


"Tuan muda ... Kelemahan siluman harimau itu berada tepat dibawah perutnya," ucap Pedang Sangka Geni yang tiba tiba ada dipikiran Lasmana Pandya.


"Ka-kamu...," balas Lasmana Pandya terkejut.


"Tuan muda fokuslah pada pertarungan, karena saat ini kami tidak bisa membantu Anda."


Pedang Sangka Geni yang tak ingin kembali memecahkan konsentrasi pertarungan majikannya akhirnya diam dan melihat pertempuran majikannya dengan siluman dari dalam dunia mimpinya Lasmana Pandya.


Perlahan tapi pasti, siluman harimau mulai mendekati Lasmana Pandya yang terlihat gelisah.


"Hyyaaaaaat!" teriak Lasmana Pandya tiba tiba menghentakan kakinya dan melesat kearah siluman harimau sambil melancarkan serangan tinjunya.


Groooaarh! Dhuuuaar! Siluman harimau tak tinggal diam, ia juga mengayunkan cakarnya sehingga tinju Lasmana Pandya dan serangan harimau tersebut beradu yang membuat suara ledakan, serta daya kejut terjadi.


Terpental sejauh lima meter kebelakang, Lasmana Pandya bersiap melancarkan serangan susulan menggunakan tangan kosongnya. Namun tanpa diduga, siluman tersebut juga ikut melesat kearah Lasmana Pandya sambil melepaskan serangan cakarnya kembali.


Dhuuuuaar! Slaaaash! Tinju Lasmana Pandya berhasil mengenai kepala siluman harimau dengan telak, sedangkan cakar siluman harimau juga berhasil menggores kulit perut Lasmana Pandya.

__ADS_1


Lasmana Pandya kini memegangi perutnya karena terluka cukup parah oleh serangan cakar siluman tersebut, sedangkan siluman harimau yang terpental, dan merasakan rasa sakit diarea kepalanya kini menyeimbangkan tubuhnya.


"Bagaimana aku bisa menyerang kelemahannya jika posisiku seperti ini...," ucap pelan Lasmana Pandya sambil menahan rasa nyeri diperutnya.


Indra penciuman siluman harimau yang tajam, dan tentunya mencium bau amis darah milik Lasmana Pandya, membuat gairah silumannya semakin menjadi jadi. Siluman harimau kembali mendekat sambil menjilati bibirnya, namun tidak dengan Lasmana Pandya yang menatap mata harimau dengan tatapan tajam.


"Tuan muda, kami akan meminjami sedikit kekuatan kami ... Namun tentunya ada harga yang mahal untuk membayarnya, apakah Tuan muda sudah siap menerimanya," ucap tiba tiba Pedang Sangka Geni dipikirannya.


"Lakukanlah segera, a-aku sungguh...," ucap pelan Lasmana Pandya yang matanya mulai kabur.


Melihat posisi yang sangat genting, kedua pusaka legendaris itu memaksa masuk dan mengambil alih kesadaran Lasmana Pandya.


Swuuuuush! Sinar keemasan membaluti tubuh Lasmana Pandya, luka cakaran siluman harimau perlahan pulih, matanya kemudian terpejam. Sinar keemasan kini mulai meredup dengan munculnya samar samar armor Geni Danyang, dan tangannya telah menggenggam pedang Sangka Geni.


Lasmana Pandya membuka matanya perlahan, dibarengi dengan aura yang sangat menindas menyebar ke sekitar area pertarungan. Siluman harimau yang merasakan aura penindasan sama sekali tidak merasa gentar dan takut.


Slaaaaash! Dengan sekali gerangan, Lasmana Pandya yang tubuhnya telah dikendalikan oleh dua pusaka legendaris bergerak cepat sambil mengayunkan pedangnya kearah leher siluman harimau dan membuatnya tewas dengan luka kepala yang terlepas dari tubuhnya.


Swuuuuung! Mutiara jiwa milik siluman harimau mengambang tepat dihadapan Lasmana Pandya, karena kedua pusaka memiliki waktu yang terbatas ditubuh Lasmana Pandya, dengan segera ia menyimpan mutiara jiwa milik siluman harimau dan segera memasuki goa tersebut.


Sesampainya, Lasmana Pandya yang dikendalikan oleh kedua roh pusaka legendaris kemudian membuat segel formasi.


Swuuuuung! Segel formasi yang dibuat untuk melindungi Lasmana Pandya akhirnya terbentuk, setelah itu tiba tiba Lasmana Pandya jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


Tiga hari telah berlalu sejak kejadian itu, Lasmana Pandya akhirnya kembali sadar. Namun rasa yang ia rasakan saat ini adalah rasa nyeri disetiap tulang di dalam tubuhnya. Tak hanya itu saja, kepalanya sedikit merasakan pusing.


"Apa yang telah terjadi...," ucap Lasmana Pandya mencoba untuk berdiri.


Namun usahanya sia sia, karena kedua roh pusaka memiliki kekuatan yang berlebihan membuat tubuhnya tak mampu menahan kekuatan dahsyat yang mengalir ditubuhnya, sehingga membuat tulang tulangnya kini remuk.


"Ooh tidak apakah ini maksud ucapan Pedang Sangka Geni," ucap Lasmana Pandya teringat ucapan salah satu pusaka yang ada didalam tubuhnya.


Karena tak bisa melakukan apapun, dan kini perutnya merasakan sedikit rasa lapar, Lasmana Pandya mencoba menghubungi kedua pusakanya. Namun kedua pusaka yang ada didalam tubuhnya sama sekali tidak merespon pertanyaannya.


Terbaring lemah selama satu minggu, akhirnya kini Lasmana Pandya telah pulih dari cedera yang ia alami, meskipun kini ia bisa menggerakan tubuhnya, tapi rasa nyeri selalu ia rasakan, sehingga ia memutuskan untuk memulihkan lukanya dengan mengeluarkan puluhan kristal jiwa.


Lima belas menit berlalu, lukanya perlahan membaik setelah menyerap seluruh khasiat kristal jiwa miliknya.


Swuuuush! Dua butir mutiara jiwa siluman yang berhasil dibunuh olehnya kemudian ia tatap dengan seksama.


"Lebih baik aku mencari makanan terlebih dahulu...," ucap pelan Lasmana Pandya kemudian beranjak dari tempatnya.


Satu jam telah berlalu, Lasmana Pandya berhasil memburu tiga ekor ayam hutan. Setelah membakar dan memakannya, Lasmana Pandya memutuskan untuk berkultivasi dengan cara menyerap energi mutiara jiwa siluman yang telah ia bunuh.


Mutiara jiwa berwarna hijau yang tak lain milik siluman ular ia genggam, perlahan ia mencoba menyerap energi yang terkandung didalam mutiara jiwa.


Dua jam telah berlalu, akhirnya mutiara jiwa milik siluman ular berhasil diserap hingga tak menyisakan sedikitpun energi yang ada didalamnya.

__ADS_1


"Masih kurang...," ucap pelan Lasmana Pandya kemudian mengeluarkan Mutiara jiwa milik siluman harimau yang memiliki ranah emas tingkat satu.


Tanpa ingin menunda lagi, Lasmana Pandya segera menyerap energi yang terkandung didalam mutiara jiwa dengan kecepatan ekstrem.


__ADS_2