Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Pertempuran ditengah hutan


__ADS_3

Perdebatan kecil ada dirombongan pria dan pemuda yang menatap Lasmana Pandya.


"Jika kamu menginginkan wanita asing itu, maka kamu tidak akan mendapatkan harta dari cincin ruang keduanya yang kami rampas ... Apakah setuju?"


"Baik, lagi pula untuk uang aku tidak terlalu membutuhkannya," balas seorang pemuda sambil menjilati bibirnya sendiri.


Sedangkan Lasmana Pandya, serta Yang Lie yan telah menghabiskan seluruh pesenannya segera menuju lantai atas kekamar mereka masing masing.


"No..." Lasmana Pandya berbicara, namun langsung terpotong oleh Yang Lie.


"Panggil saja namaku," ucap Yang Lie yang merasa sedikit risih.


Lasmana Pandya mengangguk, kemudian menatap Yang Lie dengan serius.


"Yang Lie, kita harus berhati hati kepada rombongan yang menatap kearah kita, aku rasa mereka menginginkan sesuatu yang ada pada kita," ucap Lasmana Pandya.


Yang Lie hanya mengangguk, meskipun ia sedikit khawatir tentang ranah Kultivasinya yang rendah, namun pastinya pemilik penginapan akan ikut campur jika mereka berdua diserang dipenginapan tersebut. Setelah keduanya memasuki kamar masing masing, Lasmana Pandya kemudian merasakan aura rombongan pria dan pemuda yang tadi menatap mereka dengan tatapan serakah.


"Benar benar tidak tahu malu," ucap Lasmana Pandya sambil menggelengkan kepalanya.


Sedikit khawatir mengenai keadaan Yang Lie, Lasmana Pandya kemudian keluar dari kamarnya, dan mengetuk pintu kamar Yang Lie sambil menatap kesekelilingnya.


"Gege, kenapa kamu kekamarku?" yang Lie bertanya karena heran.


Namun jari tangan Lasmana Pandya mengisyaratkan agar Yang Lie memelankan suaranya.


"Yang Lie, aku kesini karena khawatir terhadapmu, karena rombongan itu sepertinya menyewa kamar disampingmu...," ucap pelan Lasmana Pandya.


Yang Lie mengangguk, wajahnya yang merasakan kehangatan serta kepedulian Lasmana Pandya membuat wajahnya sedikit memerah.


"Seandainya aku bukanlah seorang putri Kaisar, aku pasti akan berjuang mendapatkan cintanya," ucap dalam hati Yang Lie.


"Yang Lie? Apakah kamu baik baik saja?" Lasmana Pandya bertanya heran karena Yang Lie hanya terdiam mematung.


"Iya aku baik baik saja," jawab cepat Yang Lie.


Lasmana Pandya mengangguk, ia kemudian memutuskan untuk berjaga dikamar Yang Lie.


"Gege tapi bukankah kita bukanlah suami istri?" Yang Lie terkejut karena Lasmana Pandya mengunci pintu kamar, dan karena itu wajahnya kembali memerah.

__ADS_1


"Aku takut disaat kita lengah, mereka akan memasuki kamarmu, jadi aku memutuskan untuk berjaga dimalam ini," ucap Lasmana Pandya yang merasa bersalah karena apa yang ia lakukan kini bukanlah tindakan yang baik.


"Baiklah, terimakasih Gege."


Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu ia meminta Yang Lie untuk beristirahat, tanpa penolakan Yang Lie pun menuju ranjangnya dengan hati berdebar debar, karena baru pertama kali ini ia tidur sekamar dengan seorang pria.


Melihat Yang Lie yang akan beristirahat, Lasmana Pandya duduk disebuah kursi kecil sambil mengeluarkan mutiara jiwa milik elang hitam. Setelah itu, ia segera menggunakan Kultivasi Dewa Pembunuh untuk menyerap semua energi yang terkandung didalam mutiara.


Pagi harinya, tepat Lasmana Pandya berhasil menyerap semua energi mutiara elang hitam, seketika ia membuka matanya. Sosok Yang Lie yang masih tertidur pulas hanya bisa membuatnya menggelengkan kepala.


"Yang Lie...," ucap lirih Lasmana Pandya.


Yang Lie menggeliat dan terbangun disaat itu juga. Wajahnya memerah saat ia terbangun wajahnya tepat didepan wajah Lasmana Pandya yang menggunakan topeng.


"Ge..." Sebuah jari tangan menempel dibibir Yang Lie.


"Tenanglah, sekarang kita akan pergi dari kota ini," ucap Lasmana Pandya.


Yang Lie mengangguk dengan cepat, setelah itu mereka berdua keluar dari penginapan.


"Sepertinya mereka telah pergi dari penginapan ini, saatnya kita beraksi," ucap penuh serakah seorang pria.


Sedangkan Lasmana Pandya dan Yang Lie kini tiba di sebuah toko pakaian yang cukup besar.


"Gege kenapa kau membawaku ketoko pakaian?"


"Aku ingin membelikan mu cadar untuk menutupi wajah cantikmu, aku juga merasa mereka tergila gila pada kecantikanmu sehingga mereka mengincar kita."


Wajah Yang Lie memerah menahan malu mendengar Lasmana Pandya menggodanya. Setelah membeli beberapa cadar, Lasmana Pandya dan Yang Lie kembali melanjutkan perjalanannya, namun Lasmana Pandya yang merasakan adanya aura yang mengikutinya segera mempercepat langkahnya keluar dari kota Sumbang.


Sesampainya disebuah hutan, Lasmana Pandya dan Yang Lie kemudian menghentikan langkahnya.


"Jika sudah mengikutiku selama ini, kenapa kalian tidak memunculkan diri kalian?" Lasmana Pandya bertanya kearah salah satu pohon ditengah hutan itu.


Swuuuush! Swuuuush! Sepuluh pria dan beberapa pemuda muncul dengan seringai buas mereka.


"Hahaha ternyata pemuda ini sudah mengetahuinya, jadi mau bagaimana lagi?" Seorang pria berwajah kasar sambil menatap serakah kearah cincin ruang milik Lasmana Pandya.


"Ooh ... Lalu kalian mengikuti kami ada hal apa?" Lasmana Pandya menatap mereka dengan tatapan datar.

__ADS_1


"Hahaha! Ternyata kau suka yang terburu buru ya baiklah ... Cepat serahkan cincin ruang dan wanita itu untuk kami, dengan begitu aku pastikan kamu mati dengan cepat."


Lasmana Pandya menyipitkan matanya kearah sepuluh rombongan itu dengan tatapan mengejek.


"Ingin membunuh kami? Bahkan menyentuh tubuhku kalian semua tak pantas," ucap Lasmana Pandya dengan tatapan mengejek.


Mendengar ejekan dari wajah dan ucapan Lasmana Pandya, kesepuluh pria paruh baya dan pemuda rombongan itu merubah ekspresi mereka dengan tatapan membunuh.


"Saudara tunggu apalagi cepat bunuh pemuda ini!" Pria paruh baya berteriak sambil melesat kearah Lasmana Pandya.


Dengan segera Lasmana Pandya segera mendorong tubuh Yang Lie kebelakang. Setelah itu tinju pria paruh baya yang telah ada didepannya membuat Lasmana Pandya bergerak kesamping, lalu menangkap tinju tersebut menggunakan telapak tangannya.


Kraaaack!


Suara lengan patah terdengar disaat itu juga, pria lainnya terkejut mendengsr suara tulang patah yang berasal dari rekan mereka.


Baaaaaam!


Lasmana Pandya seketika meninju perut pria tersebut dengan santai, sehingga pria yang lengannya telah patah itu terpental dan terluka yang cukup serius.


Swuuuush! Swuuuush!


Kesembilan pria paruh baya serta pemuda lainnya tak tinggal diam, mereka segera melesat dan melepaskan serangan pedang mereka kearah tubuh Lasmana Pandya.


"Naif sekali kalian...," ucap dingin Lasmana Pandya kemudian menghentakan kakinya melompat lebih tinggi, dan memberikan serangan susulan yang dialiri Qi kecil kearah telapak tangannya.


Baaaaams!


Target tinjuannya menyapu wajah pemuda yang memiliki tampilan kurus, dan tinggi yang membuat pemuda itu terpental kebelakang.


"Saudara berhati hati, dia Kultivator tingkat tinggi," ucap salah satunya mewaspadai.


"Sudah terlambat kalian menyadarinya," ucap Lasmana Pandya sambil melesat dan mengeluarkan pedang hitamnya.


Tingg! Tiiing!


Dentingan suara pedang yang beradu mulai memanaskan keadaan ditengah hutan itu, Lasmana Pandya yang sebenarnya hanya ingin memberi pelajaran saja, dan tak ingin membunuhnya, membuat Yang Lie dari kejauhan melihatnya bergumam pada diri sendiri.


"Gege terlalu naif untuk tidak membunuh mereka," gumaman Yang Lie sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2