Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Peperangan 5


__ADS_3

"Bocah segleng! Kau tau apa mengenai luasnya dunia ini, sejak aku lahir kamu tentu saja belum ada di dunia ini, dan tentu saja aku lebih tau luasnya dunia ini!" Pekik murka Rontek Ireng terus melancarkan serangan tangan kosongnya.


Lasmana Pandya hanya diam menanggapinya, meskipun apa yang dikatakan Rontek Ireng dia lebih tua. Namun dari segi pengetahuan Lasmana Pandya jelas lebih unggul akibat pengetahuan dari Sena, Ying Lian, dan Kamandaka.


Satu menit berlalu, gerakan Rontek Ireng semakin cepat karena kini waktu yang seharusnya ia selesaikan. Terlihat diwajahnya, tidak ada keyakinan untuk menang dari seorang pemuda yang entah siapa.


"Bocah siapa namamu, karena hari ini kita akan mati bersama!" Ucap Rontek Ireng kemudian mundur dan langsung membuat segel tangan.


"Mati bersama? Huhhh! Itu tidak mungkin!" Balas Lasmana Pandya kemudian melesat menggunakan terbangnya pada kecepatan maksimalnya.


Swuuuuuung!


Setelah perisai dibuat, mata Rontek Ireng melotot melihat Lasmana Pandya yang telah menjauh dan kini menjulurkan lidahnya.


"Arghhhh! Kepar*t!" Teriaknya kemudian membabi buta menghancurkan perisai permanen yang ia buat untuk membunuh Lasmana Pandya dan dirinya sendiri.


Dhuuuuuaar! Dhuuuuaar!


Dengan tenang, Lasmana Pandya menatap kegilaan Rontek Ireng didalam perisai. Wajahnya kini menatap dengan ejekan yang membuat Rontek Ireng semakin menggila.


"Untung saja, terlambat sedetik aku bisa bisa mati konyol bersamanya," gumam Lasmana Pandya masih menikmati kekonyolan Rontek Ireng.


Didalam perisai, Rontek Ireng yang menyerang perisai secara membabi buta terus berteriak hingga wajahnya memucat, karena kekuatannya mulai menurun. Hal yang paling ia sayangi jika ia menghilangkan jurus terlarang yang kini ia pakai, maka kekuatannya akan turun drastis. Namun jika ia membiarkannya hingga waktu sepeluh menit berlalu, maka jurus terlarang tersebut menghisap seluruh kekuatan, serta aura kehidupannya. Dan hal itu sama saja hasilnya mati. Karena itu kini ia berusaha menghancurkan perisai buatannya sendiri. Sedangkan kekuatannya mulai menurun, kulitnya mulai mengkeriput.


Lasmana Pandya yang menatap kegilaan Rontek Ireng didalam perisai mempelajari, jurus yang bisa dikatakan sangat mematikan dan menakutkan, bisa saja memiliki timbal balik yang buruk. Seperti Rontek Ireng contohnya.


Sepuluh menit berlalu, perubahan mengerikan secara cepat terjadi pada tubuh Rontek Ireng. Kini tubuhnya semakin kurus, bahkan tulang tulangnya kini mulai terlihat. Pakaiannya kini sangat jelas kedodoran, atau kebesaran.


Pooooooh!


Suara halus ledakan dari jantungnya yang membuat Rontek Ireng akhirnya terkapar mati didalam perisai. Perisai tersebut juga perlahan menghilang, dan setelah itu tubuh Rontek Ireng meluncur deras kearah tanah.


Lasmana Pandya menghela napas panjang meratapi ketegangan sepuluh menit pertempuran yang bisa membuat nyawanya melayang.


"Akhirnya," ucapnya kemudian melesat menuju kerajaan lainnya.


Didalam perjalanan, ia terus menatap kearah bawah disetiap kota yang ia lihat. Ada beberapa yang masih berdiri ramai akan suasana penduduk yang merasa khawatir akan serangan susulan. Dan banyaknya pasukan kota dan Kerajaan yang ia lihat dari atas langit terus berjaga.

__ADS_1


Tiga hari kemudian, Lasmana Pandya akhirnya selesai dari tugasnya memberantas semua pasukan Kerajaan Bai Shi. Dan karena ia tak ingin serangan susulan terulang. Kini ia menuju Kerajaan Bai Shi sebelum kembali ke Kerajaan Sangsakerta yang telah hancur.


Enam jam perjalanan. Akhirnya ia tiba di Kerajaan Bai Shi. Terlihat satu pasukan besar yang sedang menunggu perintah dari seorang pimpinan diatas panggung.


Lasmana Pandya masih pada posisinya, diatas langit sambil mengedarkan kekuatan jiwanya melacak semua yang dapat ia rasakan.


"Ternyata Dewa Racun, dan Dewa Siluman telah pergi," ucap dalam hati.


Karena itu, ia kini tidak perlu merasa takut untuk memusnahkan sisa pasukan yang ada diKersjaan Bai Shi.


Swuuuuuung!


Segel tangan ia buat secepat kilat, setelah menutup seluruh area Kerajaan. Lasmana Pandya memejamkan matanya. Kini pembantaian akan kembali ia lakukan untuk mengusir para penjajah yang meresahkan.


"Siapa diatas sana!" Ucap menggema Jendral Lao Shi, ia merupakan Jendral Besar kedua di Kekaisaran Yang Lin yang baru tiba.


Mata Lasmana Pandya dan sosok tersebut bertemu, kemudian tak berselang lama. Lao Shi yang memiliki ranah Kultivasi Glory Empat terbang dihadapan Lasmana Pandya dengan tatapan mengejek.


"Bocah! Apa kau ingin bermain main?" Tanyanya sambil menaikan kedua alisnya.


"Tidak..."


"Lalu?"


"Membunuhmu...," Ucap dingin Lasmana Pandya.


Lao Shi yang belum mengenal Lasmana Pandya, dan juga keberadaan Jendral Tapak Dewa yang entah berada dimana tiba tiba tertawa seperti seorang yang kesetanan.


"Hahahaha! Kau jangan bercanda bocah! Dengan ranah Kultivasimu itu ingin membunuhku?" Ejek dengan tatapan sinisnya.


Swuuuuuusssshh! Baaaaaamsss!


Tanpa ingin berdebat, Lasmana Pandya kemudian menggunakan sedikit energi Qinya menampar sosok Lao Shi hingga Lao Shi terpental dan menabrak tanah.


Sosoknya memucat, saat merasakan serangan kecil Lasmana Pandya menampar wajahnya. Kini ia menebak, didepannya bukanlah pemuda, melainkan sosok tua yang menyamar. Dan memang ingin membuat masalah padanya.


"Ka-kau siapa!" Ucapnya.

__ADS_1


Sedangkan pasukannya bersiap siap melepaskan serangan jarak jauh mereka.


"Tanyakanlah diakhirat nanti!" Ucap Lasmana Pandya kemudian mengeluarkan ribuan senjata tingkat Tinggi yang tersisa dari dalam cincin ruangnya.


Swuuuuung!


Menggunakan kesadaran jiwanya, Lasmana Pandya menggerakan ribuan pedang tingkat tinggi. Dan tanpa sepatah kata lagi, ia mengibaskan tangannya. Yang membuat ribuan pedang melesat kearah pasukan Kerajaan Bai Shi yang baru tiba.


Slaaaaash! Slaaaaash!


Mereka yang tidak dapat berbuat apapun hanya bisa pasrah saat pedang cepat melesat dan menusuk tubuh mereka satu persatu. Karena mereka kini tidak bisa melayang layaknya Lasmana Pandya.


Lao Shi yang juga salah satu target sasaran pedang mencoba memahami situasi. Namun ia gagal memahaminya, karena saat ini ia benar benar tidak tahu penyebab pemuda bertopeng tersebut mengamuk dan membunuh mereka semua.


Swuuuuuush!


Lao Shi memberanikan dirinya kembali terbang kearah Lasmana Pandya. Lasmana Pandya dengan tatapan sinisnya menyambut tibanya Lao Shi dengan mencengkeram lehernya.


"Te-tetua apa salah kami!" Ucap Lao Shi memberanikan diri.


"Karena kalian tiba bukan untuk hal yang menguntungkan bagi Kultivator tanah Jawa...," Balas dingin Lasmana Pandya.


Wajahnya memucat, kini Jendral Kedua yang dihormati oleh Kekaisaran Yang Lin memiliki rasa ketakutan yang teramat dalam pada sosok didepannya.


"Te-t..."


"Siapa namamu, maka..."


"La-Lao Shi tuan..."


Lasmana Pandya bertambah gusar mendengar ucapannya dipotong oleh sosok didepannya. Mungkin jika sosok tersebut baik, ia akan menghormatinya. Namun tidak dengan mereka yang jelas jelas membuat kekacauan serta memiliki hati yang kejam. Dan sebenarnya sosok Lao Shi tidaklah sekejam Jendral Tapak Dewa.


"Apa hubunganmu dengan Jendral Tapak Dewa?" Tanya lagi Lasmana Pandya tanpa mempermasalahkan masalah awal.


"A-aku dan pssukanku dikirim kesini oleh Kaisar untuk membantu Jendral Tapak...."


Kraaaackk! Dhuuuuaar!

__ADS_1


###


__ADS_2