
"Heeem, lebih baik kau tanyakan langsung pada anakmu," balas Lasmana Pandya duduk disebuah kursi kosong sambil menatap santai Ling Yun yang hanya diam.
Setelah itu, Walikota Banyu Biru segera menanyakan permasalahan pada anaknya, namun Kaman Danu tetaplah Kaman Danu, sifatnya yang tak ingin mengalah, ia terus menjelek jelekan Lasmana Pandya, bahkan memfitnahnya sehingga tamparan keras ayahnya selalu mendarat dipipinya, sehingga wajah Kaman Danu kini tidak bisa dikenali lagi. Hingga benar benar Kaman Danu menangis sejadi jadinya, Lasmana Pandya yang merasa cukup melihat wajah Kaman Danu yang bengkak menyuruh mereka pergi dari penginapan Bunga Persik. Setelah kepergian mereka, Lasmana Pandya mengeluarkan ribuan kristal jiwa untuk mengganti kerusakan meja, dan dinding penginapan Bunga Persik yang dibuat oleh Bumi Arta.
"Tuan muda, terimakasih."
Lasmana Pandya hanya mengangguk, dan kemudian menatap Bumi Arta yang wajahnya masih memerah.
"Bumi Arta, lebih baik kau beristirahat," ucap Lasmana Pandya.
"Ta-tapi tuan," ucap Bumi Arta yang tidak ingin keselamatan Lasmana Pandya terancam karena ia beristirahat. Ia terbangun dari tempat peristirahatannya akibat suara Walikota Banyu Biru.
"Tenanglah," balas Lasmana Pandya membuat Bumi Arta kembali kelantai atas.
Setelah itu, ia menatap Ling Yun yang seperti menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Jika ada masalah katakan saja, maafkan temperamental rekanku yang tidak biasa," ucap Lasmana Pandya.
"Tu-tuan itu sudah wajar, namun jika boleh tau kenapa anda selalu bersikap santai disaat berbuat masalah dengan pihak kota?" Tanya Ling Yun yang menebak latar pemuda bertopeng itu tidak biasa, bahkan ia menebak pemuda itu hanya menyamar sebagai anak muda saja.
"Nona tidak perlu heran, tentu saja aku bersikap tenang karena aku tidak memiliki apapun yang aku jaga di kota ini, lagian bukankah nona pemilik penginapan? Tentu nona mengkhawatirkan setiap masalah yang ada terkait dengan penginapan milik Nona ini bukan?" Tanya Lasmana Pandya.
"Hehe, mungkin benar yang dikatakan tuan muda," ucap Ling Yun sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
"Tuan tidak bisa aku pungkiri aku sangat khawatir, karena aku baru membuka penginapan ini sejak dua bulan lalu, " ucap Ling Yun lagi.
Lasmana Pandya mengangguk, tak lama setelah itu pengawas penginapan dan penjaga penginapan kembali ketempat masing masing. Sedangkan beberapa pelayan menyiapkan satu guci arak mewah.
"Tuan muda, bisakah kamu menemaniku minum malam ini?" Tanya Ling Yun serius.
Lasmana Pandya menghela napas sejenak.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Lasmana Pandya kemudian menatap kearah kerusakan yang dibuat oleh Bumi Arta.
"Tuan, sebenarnya aku sangat penasaran dengan identitas tuan, apakah saya..."
"Nona, jika kau bertanya mengenai latar belakangku itu tidaklah penting dimata nona," potong cepat Lasmana Pandya.
Ling Yun mengangguk, kini ia tidak ingin mengambil pusing mengenai latar belakang pemuda bertopeng didepannya, namun ia sudah menebak bahwa pemuda didepannya adalah seorang anak dari kerajaan besar ditanah Jawa.
Selang satu jam menghabiskan arak, Lasmana Pandya yang ingin kembali kekamarnya kemudian dihentikan oleh Ling Yun.
"Tu-tuan," ucap Ling Yun kebingungan ingin mengatakan sesuatu.
"Nona sudah kukatakan, katakan saja jika itu bukan terkait identitasku," ucap Lasmana Pandya sambil memberikan senyumnya. Meskipun wajahnya tertutup topeng, Ling Yun dapat melihat ketampanan, dan kekharismaan yang berbeda pada senyum pemuda bertopeng didepannya.
"Tuan jika anda berpergian keluar tanah Jawa, lebih baik anda menggunakan plat ini untuk keamanan anda," ucap Ling Yun memberikan plat emas bergambar penginapan Bunga Persik.
Tanpa menolaknya, Lasmana Pandya menerima plat emas dengan senang hati. Melihat hal tersebut Ling Yun memberikan senyumnya, ada harapan baginya untuk memperluas penginapan cabang di pulau Jawa jika berhubungan dengan salah satu pendekar hebat dipulau Jawa, itu adalah trik usaha penginapannya kenapa selalu ada di seluruh wilayah China, sehingga penginapan Bunga Persik menjadi penginapan nomor 1.
Setelah tiba di kamarnya, Lasmana Pandya mengeluarkan plat emas penginapan Bunga Persik.
Setelah beberapa jam, matahari mulai terbit, Lasmana Pandya kemudian membuka matanya dan menghentikan Kultivasinya menatap jendela kamar yang berembun.
"Saatnya melanjutkan perjalanan," gumam Lasmana Pandya kemudian bergegas kekamar Bumi Arta.
Setelah sesaatnya, keduanya pergi meninggalkan kota Banyu Biru dengan tenang, hingga keluar dari gerbang kota Banyu Biru sejauh satu kilometer, Bumi Arta mengubah wujudnya menjadi seekor naga dan melanjutkan perjalanannya menuju Kerajaan Bai Shi.
Swuuuush!
Dengan kecepatanya, jika Lasmana Pandya menggunakan ilmu meringankan tubuh ditingkatnya, ia membutuhkan waktu satu jam untuk keluar dari hutan itu, namun tidak dengan Bumi Arta yang terbang membutuhkan waktu lima belas menit saja.
Beberapa kota, dan desa kecil ia lewati tanpa berhenti terbang. Disela sela perjalanannya, Bumi Arta yang masih heran dengan arak akhirnya kembali memberikan pertanyaan pada Lasmana Pandya.
__ADS_1
"Tuan muda, sebenarnya mengapa manusia menyukai arak? Bukankah rasanya pait, panas dan setelah itu mata kita menjadi kabur."
"Heeem para manusia menyukainya karena arak bisa membuatmu atau mereka yang mengonsumsinya melupakan masalah mereka. Meskipun hanya berapa waktu saja, itu sudah menjadi tradisi," ucap Lasmana Pandya menjelaskan.
Bumi Arta mengangguk mengerti, hingga tak terasa perjalanan mereka telah tiga jam terbang, dan sebuah perisai emas menghentikan terbang mereka. Namun yang membuat Lasmana Pandya sedikit waspada, perisai tersebut meluas dan mencakup atau menutup tubuh keduanya.
"Tuan muda, sepertinya ada tikus kecil yang ingin menghambat perjalanan tuan," ucap Bumi Arta merasakan ranah Kultivasi Langit lima dibawah mereka yang memasang segel formasi untuk menangkap mereka.
"Tuan muda pegangan yang erat!" Perintah Bumi Arta yang merasakan perisai mulai mengguncah tubuhnya.
Grooooooaarh!
Bumi Arta mengaum keras hingga mnggetarkan bukit kecil didepannya, tak hanya itu saja, perisai yang menutupi tubuh mereka segera hancur berkeping keping setelah terkena gelombang suara Bumi Arta.
Swuuuuush!
Sekali lesatan, Bumi Arta yang diatasnya terdapat Lasmana Pandya muncul didepan lima pria paruh baya.
"Senior, apa yang kalian lakukan?" Tanya sopan Lasmana Pandya, meskipun ia tahu mereka berkulit putih, sebagai orang yang tau aturan ia pun masih dapat bersikap sopan, meskipun didepannya musuh kerajaannya.
"Apa yang kami lakukan? Hahaha! Tentu saja kami menginginkan naga Bumi ini," ucap salah satu pria menunjuk Bumi Arta.
Salah satu alis Lasmana Pandya terangkat sejenak.
"Benarkah?"
"Haiiish! Bocah cepat serahkan atau kamu akan mati jika menolaknya!" Bentak lainnya.
Huuuft!
Dengusan Bumi Arta seketika membuat kelima pria tersebut bergidik ngeri. Namun sesaat setelahnya, mereka kembali tertawa seperti kesetanan.
__ADS_1
"Hahahaha! Akhirnya kita mendapat hewan iblis untuk dijual kepada Jendral Tapak Dewa! Hal ini akan membuat kita kaya!" Ucap salah satu diantaranya.
###