Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Undangan Padepokan Gajah Mada


__ADS_3

Sedangkan Sena yang melihat kecepatan kultivasi Yang Lie menaikan alisnya.


"Sepertinya dia memiliki tipe tubuh unik," gumam Sena.


Lasmana Pandya dan Yang Lie akhirnya melepas rindu mereka dengan cara berbincang panjang lebar. Tak hanya itu saja, Lasmana Pandya memberikan beberapa Pill kultivasi untuk Yang Lie.


"Gege bukankah di pulau ini Pill seperti ini sudah tidak ada yang membuatnya lagi?" Yang Lie bertanya heran.


"Heem benar, aku tidak sengaja menemukannya didalam dunia kecil tempatku berlatih, karena aku tidak membutuhkannya maka ambil saja."


Yang Lie mengangguk tanpa mencurigai Lasmana Pandya sama sekali. Selang beberapa menit, Yang Lie mengatakan informasi yang ia dapat mengenai tantangan Kerajaan Bai Shi.


"Benar kah? Jika begitu ini merupakan tantangan menarik bagiku," ucap penuh semangat Lasmana Pandya.


Yang Lie mengangguk dan menjelaskan semua yang ia ketahui tentang tantangan tersebut. Yang Lie yang masih menyembunyikan identitasnya terlihat khawatir.


"Yang Lie apakah kamu baik baik saja?" Lasmana Pandya menaikan alisnya.


"Aku baik baik saja, hanya saja aku sedikit mengenal nama Jendral Tapak Dewa."


Perbincangan mereka akhiri dengan munculnya walikota Larangan.


"Tuan pendekar!" Walikota yang terkejut segera menghampiri keduanya.


Walikota tersebut juga menceritakan Yang Lie yang terus mengkhawatirkannya, bahkan setiap hari setelah berkultivasi Yang Lie pasti ada dipohon rindang ini untuk menunggu Lasmana Pandya keluar dari dunia kecil. Seketika Lasmana Pandya tersenyum mendengarnya, sekaligus senyuman dibalik topeng Lasmana Pandya membuat wajah memerah Yang Lie terlihat.


"Senior bagaimana kabar kota ini?" Tanya Lasmana Pandya mengganti topik.


"Semuanya telah kembali seperti semula tuan pendekar, oiyaa jauh hari kota kami kedatangan murid utusan padepokan Gajah Mada yang ingin menemui tuan, namun karena tuan sedang berlatih kamipun mengatakan bahwa tuan sudah pergi dari kota."


Lasmana Pandya mengangguk, kini pikirannya berkecamuk mengenai munculnya padepokan yang ingin mencarinya. Karena menurutnya padepokan tidak pernah ikut campur mengenai urusan kota, yang ia tahu mereka hanya meningkatkan kekuatan padepokan dan merebutkan gelar tingkat padepokan.


"Terimakasih informasinya, Senior terimakasih telah menjaga Yang Lie, ini untuk senior. Dan saat ini kami harus melanjutkan perjalanan kami menuju Kerajaan Bai Shi," ucap Lasmana Pandya.

__ADS_1


"Apakah tuan ingin mengikuti pertemuan yang diadakan? Menurutku lebih baik tuan tidak kesana, bagaimanapun acara ini mendadak dibuat, dan sepertinya mereka memancing anda untuk menunjukan identitas. Ataupun membuat tuan kehilangan wajah." Walikota memperingati Lasmana Pandya.


"Senior tenanglah, aku tau harus berbuat apa." Lasmana Pandya berucap.


Walikota yang tidak punya kekuatan untuk menghentikan keinginan Lasmana Pandya akhirnya hanya diam. Setelah memberikan ratusan Pill yang ia buat sendiri, dengan cepat mereka berdua keluar dari kota Larangan menuju barat.


Swuuuush!


Mereka berdua melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh dengan kecepatan yang sama ditingkat Emas Lima milik Yang Lie. Didalam perjalanannya ditengah hutan belantara. Mereka berdua merasakan beberapa pasang mata mengawasi pergerakan mereka.


"Gege...," Ucap lirih Yang Lie.


"Tenanglah, jika mereka berbuat macam macam aku tak segan segan untuk memberi mereka pelajaran," balas Lasmana Pandya yang mengerti kekhawatiran Yang Lie.


Mereka berdua terus menggunakan ilmu meringankan tubuh ke arah barat dan kini masih merasakan lima aura masih mengikuti mereka.


Swuuush!


Mereka berdua menghentikan perjalanan mereka. Setelah itu, Lasmana Pandya menggenggam lengan Yang Lie.


Swuuuush! Swuuuush!


Lima pemuda mengenakan jubah padepokan bergambar gajah segera memberikan hormat mereka secara kompak. Melihat hal tersebut, Lasmana Pandya menaikan kedua alisnya.


"Pendekar bertopeng, kami adalah utusan padepokan Gajah Mada ingin mengundang anda pergi ke tempat padepokan kami berada, jika tuan pendekar berkenan mari ikuti kami," ucap sopan salah satunya.


"Maaf aku tidak tertarik, namun jika boleh tau ada hal apa yang ingin membuat Panatua, serta Ketua padepokan ingin saya mengunjungi padepokan kalian?" Tanya Lasmana Pandya.


Sedikit wajah tegang mereka perlihatkan mendengar ucapan pendekar bertopeng itu, amarah yang tidak bisa mereka perlihatkan mencoba ditahan disekian menitnya.


"Tuan pendekar, jika anda mengetahuinya lebih baik anda mengikuti kami ke padepokan kami," balas salah satunya mencoba masih bersikap ramah.


"Mendengar ucapan kalian, aku benar benar sudah tidak menginginkannya lagi, sampaikan pada Panatua dan ketua kalian, bahwa saya menolak undangan baik mereka." Ucap Lasmana Pandya kemudian membalikan tubuh hendak melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


Namun wajah mereka terlihat suram, dan jengkel, karena bagaimanapun padepokan mereka termasuk padepokan besar dipulau Jawa. dan Bahkan banyak sekali padepokan besar yang menghormati mereka, melihat sendiri bahwa pendekar yang sedang naik daun ini menyepelekan mereka, membuat kelimanya kehilangan akal dan langsung menyerang Lasmana Pandya.


"Yang Lie mundur," ucap Lasmana Pandya kemudian membalikan tubuhnya.


Swuuuuush! Swuuuush!


"Sombong sekali kau pendekar kacang!"


Senyum kecil ia tampilkan dibalik topengnya, sesaat lima tinju yang hampir tiba diwajah Lasmana Pandya akan tersarang.


Baaaaamss! Kraaaack! Kraaaack!


Suara tulang patah terdengar, setelah Lasmana Pandya memukul perut mereka satu persatu, lalu memutar paksa pergelangan lengan mereka berlima.


"Akkhh! Lenganku!" Pekik salah satunya .


"Kalian sebagai murid padepokan putih benar benar bersikap memalukan, lain kali jika kalian datang untuk menggangguku tak segan lagi membuat perhitungan lebih kejam lagi!" Peringatan keras Lasmana Pandya kemudian meninggalkan mereka berlima yang masih berguling guling diatas tanah.


Swuuuush! Swuuuush!


"Gege kenapa kau menolak undangan pa-pa-padepokan!" Tanya Yang Lie yang masih kebingungan dengan arti padepokan.


"Tidak ada hal yang kebetulan di dunia ini, mereka ingin aku mengunjungi padepokan mereka pasti ada maunya, tidak bisa dipungkiri namaku mungkin sudah dikenal banyak kalangan, karena itu aku harus lebih berhati hati lagi."


Yang Lie mengangguk mengerti, mereka terus melanjutkan perjalanan mereka ke Kerajaan Bai Shi, selama perjalanan di hutan Nangrai ini, mereka tidak menemukan sama sekali masalah lagi. Sehingga selama perjalanan mereka telah tiba di kota Sumbang.


"Yang Lie, kita singgah dikota ini dulu, tapi aku rasa kita harus berhati hati, karena dikota ini dikuasai oleh salah satu bandit terkenal akan kekejamannya."


Yang Lie mengangguk, kemudian mereka berjalan memasuki kota Sumbang dengan tenang, sesampainya didalam kota. Hanya terlihat pria kekar berotot, dan wanita bercadar yang berlalu lalang.


"Heeem sepertinya kota ini benar benar tidak bisa disentuh oleh prajurit milik ayah...," Ucap lirih Lasmana Pandya yang melihat ranah kultivasi mereka yang cukup tinggi, dan beragam.


"Yang Lie, lebih baik kita mencari kedai. Aku ingin mengetahui apakah ada Kultivator negeri asing yang singgah dikota ini atau tidak," ucap Lasmana Pandya.

__ADS_1


Yang Lie hanya menanggapi dengan anggukan kepala, setelah itu mereka berdua tiba disebuah kedai yang terlihat ramai akan pelanggan.


__ADS_2