Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Lasmana Pandya vs Kabeh


__ADS_3

Senyum kecil disunggingkan oleh Lasmana Pandya.


"Mati!"


Swuuuuuush!


Tapak tangan raksaksa menyambut pimpinan kelompok yang masih terpental.


Baaaaaams! Dhuaaaar!


Pimpinan kelompok itu akhirnya meledak menjadi kabut darah setelah terkena sambaran tapak tangan dari Lasmana Pandya.


Ratusan prajurit menganga, hanya beberapa detik pertarungan pimpinan mereka telah tewas dengan mudahnya. Bahkan tidak meninggalkan luka sedikitpun ditubuh Lasmana Pandya.


"Cepat kepung dan bunuh pemuda itu!" Teriak salah satunya.


Swuuuuuush! Swuuuush!


Prajurit yang terdiri dari Glory empat hingga Saints Glory tingkat tiga mengepung pergerakan Lasmana Pandya yang tetap tenang pada tempatnya menatap santai kesegala penjuru.


"Yang masih ingin hidup silahkan pergi dari sini," ucap tenang Lasmana Pandya.


Namun tanggapan mereka sangat berbeda, mereka mengira Lasmana Pandya meremehkan kekuatan mereka. Sehingga kepercayaan diri mereka muncul untuk membunuh Lasmana Pandya secara bersamaan.


"Seraang!" Teriak.


Swuuuuush! Swuuuuush!


Ratusan energi Qi terbentuk membentuk banyaknya keragaman yang berbeda seperti tangan, asap, energi Qi kecil melesat kearah Lasmana Pandya dengan cepat.


"Jika ingin mati maka aku akan mengabulkannya!" Teriak Lasmana Pandya mengangkat pedangnya.


Swuuuuush!


Lasmana Pandya bergerak menghindari kejaran energi Qi yang terbentuk dari masing masing prajurit dengan kecepatan tak kasat mata. Luo Jian bergerak secara zig zag membuat energi itu saling bertabrakan satu sama lain.


"Sangat cepat!" Ucap salah satu prajurit bergidik ngeri dengan kecepatsn yang ditunjukan oleh Lasmana Pandya.


Disela sela menghindari serangan Qi yang terbentuk, Lasmana Pandya segera membuat segel pedang dengan pedang yang ada digenggamannya.


"Segel kematian!"


Swuuuuuung!


Perisai persegi sejauh lima puluh meter mengurung ratusan prajurit. Perisai itu bergetar, setelah itu memunculkan ribuan pedang Sangka Geni dari tiap sudut segel perisai. Hal itu membuat semua prajurit waspada.


Swuuuuush!


Luo Jian menghilang dari kehampaan lalu keluar dari segel kematian. Setelah itu wajah datarnya ia perlihatkan tanpa rasa bersalah, karena saat ini pembantaian akan segera ia lakukan.


"Mati!"

__ADS_1


Swuuuuush!


Ribuan pedang didalam segel melesat menebas, membunuh prajurit didalam perisai seperti tahu. Para sandera melototkan mata mereka. Karena mereka tidak tahu apa yang menyebabkan sosok pemuda mengerikan didepan mereka membantu melepaskan mereka.


"Segel Jiwa," ucap Lasmana Pandya yang mengerti kenapa kekuatan mereka seperti hilang.


"Tuan muda, apa yang kau lakukan karena nyawamu dalam bahaya jika membantu kami," ucap salah satunya.


"Tuan tuan, kedatanganku saat ini untuk membantu kalian, tapi sebelum melepaskan kalian aku memiliki persyaratan," ucap serius Lasmana Pandya.


Mereka saling berpandangan, dan setelah itu menatap ratusan prajurit yang kini berteriak karena harus mati didalam penjara pedang.


"Apa persyaratannya tuan?" Tanya salah satunya heran.


"Bukankah kalian menolak Kaisar Yang Lin menjadi penguasa? Jika begitu syaratnya sangat mudah, mari kita bangun kekuatan setelah itu kita akan memberontak," ucap Lasmana Pandya membuat mereka melototkan matanya.


"Tuan anda jangan bercanda, bahkan diseluruh benua ini tidak ada satupun yang dapat membunuhnya. Karena dia kini akan menjadi abadi!" Ucap salah satunya kesal dengan tata cara pikir Lasmana Pandya.


Lasmana Pandya menaikan alisnya, setelah itu gelengan kepala ia perlihatkan.


"Lalu apakah kalian hanya akan diam dan menerima kematian kalian tanpa perlawanan?" Jawab Lasmana Pandya.


"Tuan muda benar, dari pada kita mati sia sia, lebih baik mati dalam perjuangan," ucap lainnya yang disetujui oleh banyak pihak.


Slaaaaaash! Slaaaaaash!


Hanya dua menit yang tadinya terdengar jeritan kematian kini telah reda, karena sudah tidak ada satupun prajurit yang tersisa oleh jurus milik Lasmana Pandya.


"Benar kami setuju!"


Banyaknya suara yang setuju membuat Lasmana Pandya tersenyum penuh kemenangan.


Swuuuuuung!


Lasmana Pandya mempelajari segel milik Kamandaka mengenai penghancur segel jiwa yang mengekang mereka. Setelah berhasil mempelajari, ia segera mempraktikannya dan membuat segel itu dengan rumit.


Swuuuung!


Pyaaaar! Pyaaaaar!


Ratusan segel jiwa pecah dalam sekejap. Ratusan Kultivator yang terdiri dari berbagai kalangan tetua dan leluhur itu kemudian berlutut dihadapan Lasmana Pandya.


"Terima penghormatan kami tuan muda!" Ucap mereka semua kompak.


"Senior berdirilah, aku tidak pantas menerima penghormatan besar kalian," jawab Lasmana Pandya.


Setelah mereka semuanya berdiri, Lasmana Pandya menatap sekitarnya. Setelah itu ia menganggukan kepalanya dengan puas.


"Karena misi kita sangat berbahaya, maka kita memerlukan tempat persembunyian untuk pasukan kita, jadi bagaimana saran senior?" Tanya Lasmana Pandya.


"Tuan muda lebih baik kita menaung dibawah Klan Shu, karena sejak dahulu Klan Shu tidak menyukai Klan Yang," ucap jujur lainnya yang ada juga menyetujuinya.

__ADS_1


Lasmana Pandya menggelengkan kepalanya.


"Saat ini klan Shu sedang mengalami masalah serius dengan Klan Yang, apakah kalian ingin terlibat?" Tanya Lasmana Pandya.


"Jika begitu lebih baik kita segera menemui klan Shu dan membantunya, maka masalah ini akan selesai," ucap lainnya.


"Hahahahahaha!" Lasmana Pandya tertawa melihat pernyataan konyol mereka.


Mereka heran dengan reaksi Lasmana Pandya yang sepertinya tidak menyetujui sarannya.


"Kalian sungguh sangat naif, mungkin peperangan akan menjadi adil jika kita berperang secara terbuka, tapi untuk mengalahkan kekuatan besar kita harus memanfaatkan peluang yang besar."


"Maksud tuan muda?"


"Membiarkan mereka berperang, dan kita akan terus mencari sekutu untuk menambah pasukan."


"Tapi..."


"Senior tenanglah aku sudah merencanakannya, saat ini apakah kalian setuju jika kalian tinggal ditempat ini sebagai tempat naungan persembunyian?" Tanya Lasmana Pandya.


"Tapi setiap tiga hari sekali ratusan prajurit akan bergantian tiba disini dan menyiksa kita," ucapnya serius.


"Bukankah kalian sudah terlepas dari segel jiwa itu?" Tanya Lasmana Pandya yang membuat ratusan orang tahanan itu mengangguk mengerti.


"Jika bisa jangan bunuh mereka yang mau mengikuti kalian, secara diam diam kalian harus menambah sekutu," ucap Lasmana Pandya.


"Baik semua sudah diputuskan, dan aku berharap kalian tidak mengingkari perjanjian kita," ucap Lasmana Pandya akan segera keluar dari tempat dunia kecil itu.


"Perjanjian apa!"


Ucap menggelegar salah satu orang dari balik awan.


Swuuuuuung!


Muncul portal dimensi yang sangat besar diatas langit dengan munculnya lima ratus prajurit berkekuatan Glory Lima hingga Saint Glory empat.


Lasmana Pandya menaikan salah satu alisnya melihat pasukan itu yang sepertinya sudah mengetahui niatnya itu.


"Tuan muda bagaimana ini jumlah mereka..." Ucap salah satunya gentar.


"Tidak ada cara lain selain membantai!"


Swuuuuuung!


Pedang Sangka Geni dan Armor Geni Danyang muncul ditubuhnya. Lasmana Pandya yang tidak ingin berdebat melesat kearah ratusan prajurit itu dengan gagah berani yang membuat para tetua dari berbagai kalangan ikut membantu Lasmana Pandya.


"Bunuh mereka jangan sisakan satu orangpun!" Teriak salah satu prajurit.


Dhuuuuaaar! Dhuuuuaar!


Pertempuran diatas langit akhirnya pecah. Lasmana Pandya bergerak seperti elang yang sedang mengincar mangsanya. Ia terus membunuh setiap prajurit yang ada didepannya tanpa ampun. Pedang emas, armor emas yang dia pakai sangat lah elegan dengan dicampur keberaniannya yang mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2