Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Dugaan Kamandaka


__ADS_3

Dengan menggunakan kekuatannya diluar nalar, kakek tersebut mulai membuat segel formasi tingkat Dewanya dengan cepat.


Swuuuung!


Langit diatas kakek tua tersebut berdengung dibarengi dengan munculnya puluhan makhluk hewan iblis ditingkat Langit satu hingga dua. Hanya menggunakan tatapan dinginnya, puluhan hewan iblis itu melesat kearah lokasi keberadaan Lasmana Pandya.


***


Lasmana Pandya yang terus mengoceh kepada Sena, pada akhirnya membuat Sena kebingungan bagaimana cara menjawabnya. Namun tiba tiba.


"Tuan muda hati hati," ucap Sena dengan nada panik merasakan puluhan serangan jarak jauh melesat kearah Lasmana Pandya.


Swuuuush! Dhuuaar! Dhuuaar!


Lasmana Pandya yang juga merasakan serangan tiba tiba itu segera bergerak kearah kiri dengan cepat. Sehingga serangan bola bola api yang meleset itu menabrak pohon ditempat pijakan Lasmana Pandya.


Tak berselang lama, muncul puluhan Hewan iblis tingkat Langit satu, serta dua, hewan tersebut merupakan hewan suruhan Kamandaka yang sudah mengetahui keberadaan Lasmana Pandya.


"A-apakah aku harus melawan mereka semuanya," ucap Lasmana Pandya dipikirannya.


Sedikit menahan tawanya, Sena mencoba menenangkan Lasmana Pandya.


"Tuan muda, bukankah anda merasa bosan, lihatlah kini puluhan hewan iblis ingin menghibur anda, jika tuan muda kabur mereka pasti akan kecewa."


Lasmana Pandya hanya bisa tersenyum kecut mendengar ucapan Sena. Namun rasa kepercayaannya yang tinggi tiba tiba muncul setelah Sena memberikan arahan.


Groooaar!


Dua puluh hewan iblis yang terdiri dari singa, harimau, dan ular hitam telah berbaris rapi menatap Lasmana Pandya dengan tatapan membunuh.


"Tuan muda tunggu apa lagi, mereka telah tiba saatnya mengasah kemampuan bertarung." Sena mengucapkannya dengan penuh semangat.


Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu ia melepaskan aura pembunuh, dibarengi dengan aura Kultivasinya ditingkat Grand Master Lima. Tak tanggung tanggung, dua pusaka legendaris telah melengkapi penampilan Lasmana Pandya.


Swuuuush!


Dua puluh hewan iblis itu melesat, dan segera mengepung pergerakan Lasmana Pandya. Sedangkan Lasmana Pandya yang telah bersiap melepaskan seluruh kemampuannya menatap kearah langit.


"Apakah dia yang bernama Kamandaka."


"Benar tuan muda."


Lasmana Pandya mengangguk, sebuah tatapan kekaguman ia perlihatkan melihat seorang bisa melayang diatas langit bagaikan seorang Dewa yang akan menonton pertempurannya.


Swuuuuuush! Baaaaaams! Dhuuuaar!

__ADS_1


Akibat kekagumannya, sebuah bola api melesat kearah tubuh Lasmana Pandya, sehingga Lasmana Pandya kini harus terpukul mundur. Dan untung saja armor Geni Danyang yang telah aktif menyerap semua kekuatan bola api itu yang membuat daya hancur tidaklah sebesar semestinya.


"Jangan lalai!" Sena memperingati Lasmana Pandya.


Swoooosh!


Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia mengerahkan Geni Danyang kearah telapak tangan, sehingga pedang Sangka Geni yang ia genggam mengobarkan api merah kebiruan.


Swuuuuush!


Kibasan ekor ular hitam melesat kearah Lasmana Pandya, dibarengi dengan susulan bola api dari singa hitam yang ikut melepas serangan kearah Lasmana Pandya.


Dhuuaaar! Dhuuuaar!


Serangan cepat itu mampu dihindari oleh Lasmana Pandya, sehingga bola api dan kibasan ekor hewan iblis itu hanya mengenai pohon sekitarnya saja.


"Pedang Bayangan Darah!"


Swoooosh! Dhuuuaar! Dhuuuaar!


Ledakan menggema yang berurutan terdengar di area pertempuran ketika pedang tingkat Dewa menebas sangat cepat seperti bayangan kearah tubuh ular hitam yang ada didepannya. Sehingga sang ular hitam terpukul mundur, dan Lasmana Pandya mengganti targetnya kearah dua singa hitam yang mulai melepaskan cakar mereka kearah tubuh Lasmana Pandya.


Swuuuush! Baaaaams! Dhuuuaar!


Dengan lihainya, Lasmana Pandya menghentakan kakinya lalu memutarkan tubuhnya dengan cepat sambil mengayunkan pedang kearah salah satu singa hitam, yang membuat singa hitam ditingkat Langit satu meledak menjadi kabut darah.


Auman serta desisan masing masing hewan iblis terdengar keras ditelinga Lasmana Pandya. Setelah membunuh salah satu singa hitam, tiba tiba kibasan ekor ular hitam berkepala dua melesat kearah tubuh Lasmana Pandya.


Swuuush! Dhuuuaar!


Serangan cepat tersebut membuat tubuh Lasmana Pandya meluncur deras kearah belakang, namun tiba tiba Lasmana Pandya membelalakan matanya, saat merasakan sebuah energi kuat menyapu punggungnya.


Dhuuuuuaaar!


Sambutan bola api dari singa hitam melesat kearah punggung Lasmana Pandya, sehingga daya kejut serta ledakan tidak bisa terlewat begitu saja.


"Arrghh!" Lasmana Pandya berdiri sambil mengelap sedikit darah dibibirnya menatap kawanan hewan iblis dengan tatapan membunuh.


Swooooosh!


Geni Danyang berkobar lebih tinggi menyelimuti pedang Sangka Geni, dua pusaka itu merupakan pasangan yang serasi.


Setelah itu, Lasmana Pandya bersiap melepaskan jurus jurus mematikan yang telah ia rencanakan.


Mengayunkan pedangnya dengan cara memutar, sehingga api berwarna merah kebiruan memutari, dan melindungi tubuh Lasmana Pandya dari serangan hewan iblis yang ingin melukai Lasmana Pandya.

__ADS_1


"Pemusnah Nirwana!" Lasmana Pandya berteriak sambil mengumpulkan sejumlah energi Qi yang besar kearah pedangnya.


Geni Danyang yang masih berputar melindungi tubuh Lasmana Pandya tiba tiba membesar. Geni Danyang terlihat seperti menari nari mengelilingi Lasmana Pandya, sehingga para Hewan Iblis kini hanya bisa menyerang Lasmana Pandya menggunakan serangan jarak jauh mereka.


"Mati!" Teriak Lasmana Pandya.


Swoooosh!


Geni Danyang yang memutar ditubuh Lasmana Pandya menghilang, dibarengi dengan Lasmana Pandya yang mengayunkan pedangnya kesegala arah.


Seuliet tebasan energi pedang melesat kearah Hewan Iblis yang kini mulai membuat perisai pertahanan.


Swuuuush! Dhuuaar! Dhuuuaar!


Ledakan mengguncang pertempuran yang kini semakin kacau, kekacauan itu juga digunakan oleh Lasmana Pandya untuk menyelinap dan keluar dari kepungan para hewan iblis.


Swuuuush! Swuuuush!


Berkelebat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya menghindari kepungan para hewan iblis, setelah berhasil keluar, Lasmana Pandya segera membuat sebuah segel dari pedangnya.


"Segel Kematian!"


Swuuuung! Seketika muncul perisai emas berbentuk kubah mengurung hewan iblis. Dengan sejumlah energi besar, Lasmana Pandya yang tak ingin menyia nyiakan kesempatan untuk membunuh mereka segera menancapkan pedangnya.


Jleeeeb!


"Mati!"


Pedang Sangka Geni segera ia tancapkan kearah tanah, setelah itu didalam kurungan muncul ribuan pedang mengambang disetiap sudut mengintai sembilan belas puluhan hewan iblis yang mencoba keluar dari kurungan atau segel kematian milik Lasmana Pandya.


Namun usaha cakar, bola api, serta kibasan ekor para hewan iblis tak membuahkan hasil, sehingga kini ribuan pedang yang mengambang melesat kearah tubuh mereka dengan cepat.


Dhuuuar! Slaaaash! Dhuuuaar!


Ledakan yang bersahutan mengguncang segel kematian, darah milik hewan iblis juga terlihat keluar dari segel kematian. Para hewan iblis berjuang menghancurkan pedang yang terus menyerbu tubuh mereka hingga mereka harus kehilangan anggota tubuh, bahkan kehilangan nyawa mereka.


****


Kamandaka yang memandangi pertempuran itu menaikan kedua alisnya.


"Siapa pemuda itu? Sepertinya aku mengenal jurus yang telah ia pakai, apalagi api merah kebiruan yang muncul ditangannya." Selama pertempuran Kamandaka mencoba mengingat ingat sesuatu.


Ia terus berpikir keras namun ia hanya teringat dengan sosok rekan lamanya, Ying Lian, serta Sena.


"Mana mungkin fisik Sena berubah menjadi muda dan tampan," Kamandaka terus bergumam pada dirinya.

__ADS_1


"Jangan jangan."


__ADS_2